KAJIAN AL-QURAN DAN AL-HADITS (Ke-43)

KAJIAN AL-QURAN DAN AL-HADITS (Ke-43)
Senin, 23 Nopember 2009
A’uudzubillaahi minash-shaithaanir-rajiim
Bismillaahirrahmaanirrahiim
 
 
QS AL-KAUTSAR 108:1-3 – SYUKUR & KURBAN
Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus (QS al-Kautsar 108:1-3)
Air yang diminum, udara yang dihirup, nasi yang dimakan, pemandangan indah yang dilihat, suara merdu yang didengar, kesehatan yang dinikmati, dan semua kebutuhan hidup manusia adalah nikmat-nikmat dari Allah, Tuhan yang Maha Pemberi Rejeki. Semua kenikmatan di alam jagat raya ini disediakan oleh-NYA untuk semua mahluq. Mulut yang digunakan untuk makan-minum-berbicara merupakan nikmat yang sangat besar; Bagaimana ia merasakan lezatnya makanan, segarnya minuman, dan digunakan untuk berkomunikasi dengan sesama manusia. Namun demikian, banyak manusia makan-minum semaunya, bahkan tidak peduli halal-haram; minum minuman yang memabukkan, makan dari hasil suap, dan bahkan jatah rakyat disikat.
Keyakinan yang dalam bahwa hanya Allah sajalah sebagai Pemberi Rizqi, Pembuat hukum, Pencipta, Pemimpin, Pemelihara/Penjaga, dan Pengelola mengharuskan manusia untuk selalu bersyukur kepada Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Secara umum bersyukur berarti berterima kasih kepada Allah ar-Razaaq, Sang Pemberi rejeki.
                Allah berfirman, yang artinya, “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur” (QS an-Nahl 16:78). “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS Ibrahim 14:7).
Beberapa tahapan cara bersyukur kepada Allah adalah sebagai berikut:
1.     Meyakini bahwa apa saja yang dipakai dan dinikmati adalah karunia Allah, bersumber dari Allah.
2.     Menghargai apa saja yang datang dari Allah, tidak melecehkannya atau menyia-nyiakannya.
3.     Menggunakan semua karunia Allah sesuai dengan petunjuk-Nya, tidak memenuhi nafsu manusia
4.     Bersyukur dengan lisan (asy-Syukru bil-lisaan) dilakukan dengan mengucapkan hamdalah (adz-dzikru bil-lisaan), berbicara yang baik, sesuai dengan petunjuk Allah
5.     Bersyukur dengan amal dilakukan dengan perbuatan yang baik (amal sholeh) seperti shalat dan bersyukur. Seluruh perbuatan yang baik merupakan perwujudan syukur kepada Allah.
 
Adapun beberapa hal yang harus diperhatikan sehubungan dengan penyembelihan binatang kurban adalah sebagai berikut:
1.     Orang yang akan berkurban tidak diperkenankan memotong kuku atau rambut sebelum berkurban (mulai tanggal 1 Dzulhijjah sampai berkurban)
Termasuk petunjuk Nabi saw bahwa orang yang ingin menyembelih kurban agar tidak mengambil rambut dan kulitnya walau sedikit, bila telah masuk hari pertama dari sepuluh hari yang awal bulan Dzulhijjah. Berkata An-Nawawi dalam “Syarhu Muslim”, “Yang dimaksud dengan larangan mengambil kuku dan rambut adalah larangan menghilangkan kuku dengan gunting kuku, atau memecahkannya, atau yang selainnya. Dan larangan menghilangkan rambut dengan mencukur, memotong, mencabut, membakar atau menghilangkannya dengan obat tertentu atau selainnya. Sama saja apakah itu rambut ketiak, kumis, rambut kemaluan, rambut kepala dan selainnya dari rambut-rambut yang berada di tubuhnya”
2.     Hewan kurban harus sehat, tidak cacat. Seekor kambing untuk satu orang, seekor sapi//unta utuk tujuh orang
Beliau Rasulullah saw memilih hewan kurban yang sehat, tidak cacat. Beliau melarang untuk berkurban dengan hewan yang terpotong telinganya atau patah tanduknya. Beliau memerintahkan untuk memperhatikan kesehatan dan keutuhan (tidak cacat) hewan kurban, dan tidak boleh berkurban dengan hewan yang cacat matanya, tidak pula dengan muqabalah (hewan yang dipotong bagian depan telinganya), atau mudabarah (hewan yang dipotong bagian belakang telinganya), dan tidak pula dengan syarqa’ (hewan yang terbelah telinganya) ataupun kharqa’ (hewan yang sobek telinganya), semua itu telah pasti larangannya. Hal ini dijelaskan dalam hadits riwayat Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, dan Hakim, dari Ali bin Abi Thalib ra.
Rasulullah saw member petunjuk bahwa satu kambing mencukupi sebagai kurban dari seorang pria dan seluruh keluarganya walaupun jumlah mereka banyak. Sebagaimana yang dikatakan oleh Atha’ bin Yasar, “Aku bertanya kepada Abu Ayyub Al-Anshari : “Bagaimana hewan-hewan kurban pada masa Rasulullah saw ?” Ia menjawab : “Jika seorang pria berkurban dengan satu kambing darinya dan dari keluarganya, maka hendaklah mereka memakannya dan memberi makan yang lain” (HR Tirmidzi, Malik, Ibnu Majah, dan Al-Baihaqi). Hadits dari Jabir ra menyatakan, yang artinya, “Di Hudaibiyah kami menyembelih bersama Nabi saw satu unta untuk tujuh orang dan satu sapi betina untuk tujuh orang” (HR Muslim).
3.     Waktu penyembelihan sesudah shalat Idul Adha sampai tanggal 13 Dzulhijjah (sebelum Maghrib).
Rasulullah saw bersabda, yang artinya, “Siapa yang menyembelih sebelum shalat maka tidaklah termasuk kurban sedikitpun, akan tetapi hanyalah daging sembelihan biasa yang diberikan untuk keluarganya” (HR Buhari Muslim).
Beliau juga bersabda, yang artinya, “Setiap hari Tasyriq ada sembelihan” (HR Ahmad dan Baihaqi).
4.     Secara teknis penyembelihan: pisau harus tajam, memutus leher jalan makanan dan udara, hewan dihadapkan ke kiblat, membaca basmalah dan takbir
Disunnahkan bertakbir dan mengucapkan basmalah ketika menyembelih kurban, karena ada hadits riwayat dari Anas bahwa ia berkata, Artinya, “Nabi berkurban dengan dua domba jantan yang berwarna putih campur hitam dan bertanduk. beliau menyembelihnya dengan tangannya, dengan mengucap basmalah dan bertakbir, dan beliau meletakkan satu kaki beliau di sisi-sisi kedua domba tersebut” (HR Bukhari Muslim).
5.     Imbalan untuk tukang sembelih tidak boleh diambilkan dari hewan kurban.
Hadits dari Ali bin Abi Thalib ra menyatakan, yang artinya, “Rasulullah saw memerintahkan aku untuk mengurus kurban-kurbannya, dan agar aku bersedekah dengan dagingnya, kulit dan apa yang dikenakannya dan aku tidak boleh memberi tukang sembelih sedikitpun dari hewan kurban itu. Beliau bersabda : Kami akan memberikannya dari sisi kami” (HR Muslim, Abu Dawud, Ahmad, Baihaqi, Ibnu Majah).
6.     Daging hewan korban (daging mentah) dibagikan kepada orang yang berhak menerima seperti fakir, miskin dsb.
“Sesungguhnya shadaqah/zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (QS at-Taubah 9:60).
 
Wallaahu a’lam bish-shawwab,
Fas-aluu ahladz-dzikri inkuntum laa ta’lamuun
 
Pengasuh Kajian:
Muhammad Muhtar Arifin Sholeh
Dosen di UNISSULA Semarang
Ph.D Student di Department of Information Studies,
University of Sheffield, United Kingdom
Alumni Aberystwyth University, UK
Alumni Antropologi UGM & Tarbiyah IAIN
Ketua Kibar UK 2009/2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s