Pemalsuan Heboh Bukti Evolusi Jepang

Penipuan arkeolog Jepang Fujimura Shinichi tentang bukti evolusi terbongkar. Dituduh melakukan hal serupa, profesor Kagawa Mitsuo pun gantung diri

Hidayatullah.com–Detik-detik menjelang peringatan hari lahir Charles Darwin yang ke-200 membuat berbagai media massa sibuk memperbincangkan hal-hal seputar Darwin dan teorinya, Darwinisme. Tak terkecuali koran Inggris, The Sunday Times (11/1/2009), yang meliput sikap ilmuwan Inggris yang mendukung maupun menolak Darwinisme dalam tulisan berjudul; “For God’s sake, have Charles Darwin’s theories made any difference to our lives?” (Demi Tuhan, sudahkah teori-teori Charles Darwin membuat hidup kita berbeda?).

Darwin dan ateisme

Bagi pendukung Darwinisme, terutama dari kalangan ilmuwan, Darwinisme dianggap sebagai visi emas ilmu pengetahuan masa kini, kerangka berpijak biologi dan lambang kedigdayaan ilmu pengetahuan dalam mengungkap cara kerja alam materi.

Lain halnya dengan kalangan ilmuwan yang tidak ‘menuhankan’ Charles Darwin dan tidak mengabsolutkan teori yang dianggap ilmiah seperti Darwinisme. Bagi mereka, Darwinisme adalah teori yang dimunculkan di masa ketika sarana penelitian ilmiah masih sangat terbelakang, dan kini sudah ambruk di hadapan temuan ilmiah modern.

Salah satunya adalah dokter medis sekaligus penulis, James Le Fanu. Dalam karya teranyarnya, “Why Us? How Science Rediscovered the Mystery of Ourselves” (Mengapa Kita? Bagaimana Ilmu Pengetahuan Menemukan Kembali Misteri Diri Kita Sendiri) ia menegaskan bahwa temuan-temuan baru di bidang biologi telah merobohkan Darwinisme alias teori evolusinya Darwin mengenai kehidupan.

Darwinisme bukanlah sekedar teori di bidang biologi atau ilmu tentang makhluk hidup. Tapi Darwinisme adalah cara pandang terhadap makhluk hidup, hidup dan kehidupan itu sendiri. Menurut Le Fanu, Darwin telah mengubah dunia secara mendasar. Le Fanu melanjutkan:

“Along with those now fallen idols Marx and Freud, he accounts for the secularisation of western society. Darwinism is the foundational theory of all atheistic, scientific and materialist doctrines and of the notion that everything is ultimately explicable and that there is nothing special about …”

“Bersama dengan berhala-berhala yang kini telah ambruk itu, yakni [Karl] Marx dan [Sigmund] Freud, [Darwin] menyebabkan sekulerisasi masyarakat barat. Darwinisme adalah teori yang melandasi seluruh doktrin-doktrin ateis, ilmiah dan materialis serta gagasan bahwa setiap sesuatu pada akhirnya dapat diterangkan dan bahwa tidak ada yang istimewa mengenai hal itu…”

Sebagaimana ditulis Bryan Appleyard dalam koran The Sunday Times tersebut Charles Darwin sendiri bahkan menyadari bahwa teorinya memiliki dampak besar. Dari karyanya sendiri, Darwin lalu mulai menarik kesimpulan-kesimpulan yang semakin meragukan keberadaan Pencipta, kalaulah bukan dianggap ateis sama sekali. Inilah yang menjadi jurang pemisah antara Charles Darwin dan istri tercintanya yang taat beragama, Emma.

Pemalsuan Demi ’tuhan’ Darwin

Darwinisme bukanlah sekedar teori di bidang biologi, tapi lebih dari itu, landasan ideologi ateisme dan materialisme. Ini adalah fakta nyata yang tidak dipungkiri lagi. Tidaklah mengherankan jika para penganutnya di seluruh dunia berjuang mati-matian mempertahankannya. Sebab jika tidak, maka hal yang sangat mereka takutkan bakal terjadi: ambruknya seluruh tatanan kehidupan materialis-ateis global yang telah mereka bangun dengan susah payah selama ratusan tahun.

Sebagian dari pendukungnya bahkan tidak ragu-ragu membuat penipuan dan kebohongan demi mempertahankan apa yang mereka anggap sebagai landasan ilmu pengetahuan yang menurut mereka harus absolut benar ini. Pemalsuan ini ternyata bukan saja dilakukan di Eropa, benua tempat kelahiran Darwinisme, namun juga di Asia. Sebut saja di Jepang. Pemalsuan memalukan ini mengulang sejarah kebohongan evolusionis akbar tanpa jera di Inggris dan di Jerman yang terkenal di dunia itu: Manusia Piltdown dan Manusia Hahnhöfersand.

Penipuan bukti evolusi manusia di Jepang ini sangatlah menghebohkan dunia ilmu pengetahuan, terutama masyarakat arkeologi Jepang di awal tahun 2000-an. Berita itu sedemikian memalukannya sampai-sampai jurnal ilmiah Harvard Asia Quarterly (Vol. VI, No. 3., 2002) menjulukinya sebagai “Japan’s Worst Archaeology Scandal” (Perbuatan Memalukan Arkeologi Terburuk Jepang).

Dalam skandal ini, pakar arkeologi terkemuka Jepang, Fujimura Shinichi, tertangkap basah oleh bidikan kamera video ketika sedang memalsukan temuan-temuan bukti evolusi nenek moyang orang Jepang. Ia kepergok sedang mengubur benda-benda palsu itu di lubang-lubang yang ia gali sendiri. Rekannya, Kagawa Mitsuo, dituduh memalsukan pula, tapi bukan hal yang terkait dengan pemalsuan Fujimura Shinichi. Tuduhan ini membuat Kagawa Mitsuo, profesor emeritus di Beppu University Jepang, melakukan bunuh diri sebagai protes bahwa ia tidak bersalah.

Salah seorang yang pernah ikut dalam penggalian kepurbakalaan bersama dengan sang pemalsu akbar Shinichi Fujimura adalah Shoh Yamada. Shoh Yamada, doktor lulusan Harvard University, adalah pakar zaman neolitikum, yakni zaman batu muda, di kawasan Asia Barat Daya. Dalam tulisannya di terbitan ilmiah Harvard Asia Quarterly, Vol. VI, No. 3, tahun 2002, ia mengulas aneka peristiwa di balik salah satu pemalsuan terbesar di dunia arkeologi itu dengan judul “Politics and Personality: Japan’s Worst Archaeology Scandal” (Politik dan Kepribadian: Perbuatan Memalukan Arkeologi Terburuk Jepang).

Sebelum pemalsuan itu terbongkar, Shinichi Fujimura dijuluki oleh rekan-rekannya sebagai “God’s Hand” (Sang Tangan Tuhan). Ini lantaran mereka takjub akan keberuntungan hebat Fujimura dalam menemukan keberadaan situs-situs purbakala. Fujimura dulunya adalah direktur senior di Tohoku Paleolithic Institute. Temuannya berupa benda-benda purbakala yang diperkirakan berasal dari Zaman Batu awal (600.000-120.000 tahun lalu) di reruntuhan Kamitakamori, provinsi Miyagi, di tahun 1994 ditetapkan sebagai situs tertua Jepang.

Dipergoki media massa

Sebelum pemalsuannya terbongkar, selama 20 tahun terakhir Fujimura menjadi bintang di dunia ilmu pengetahuan maupun pemberitaan media massa lantaran kepiawaian dan prestasi gemilangnya dalam menemukan benda-benda purbakala yang diyakini berasal dari Zaman Batu Awal dan Pertengahan. Situs Kamitakamori secara khusus menjadi daya tarik seluruh dunia. Ini dikarenakan benda-benda purbakala yang berhasil digali dan ditemukan oleh Fujimura tampak membuktikan sejumlah hal penting. Pertama, bukti itu menyatakan bahwa manusia awal mendiami wilayah tersebut 600.000 tahun lalu. Kedua, manusia awal ini lebih cerdas dibandingkan rekan-rekan sezamannya yang ada di belahan bumi lainnya. Temuan luar biasa ini mendorong seorang pakar arkeologi bertutur bahwa Fujimura tengah “menulis ulang sejarah evolusi manusia.”

Berdasarkan informasi yang berhasil dikumpulkan http://www.hidayatullah.com, ternyata ada pula ilmuwan yang meragukan temuan-temuan Fujimura. Di antaranya adalah Takeoka Toshiki dari Kyoritsu Women’s University. Takeoka berpendapat bahwa sejumlah benda-benda temuan Fujimura itu terlalu modern jika dibandingkan dengan benda-benda lain sezaman yang pernah ia teliti di Prancis. Pendapat Takeoka ini mendorong pihak media massa Mainichi Shinbun untuk melakukan penyelidikan.

Mainichi Shinbun awalnya memberangkatkan sejumlah orang untuk mengintai Fujimura di situs penggalian Fudozaka di Hokkaido pada bulan Agustus 2000, di mana mereka menyaksikan sesuatu yang kemungkinan merupakan pemalsuan di pagi hari. Namun kala itu mereka gagal membidik foto-foto kamera yang jelas.

Tiga bulan kemudian, tepatnya di Kamitakamori, mereka berhasil merekam video perbuatan memalukan Fujimura yang sedang mengubur secara sengaja perkakas yang terbuat dari batu. Namun pihak Mainichi Shinbun menunda penerbitan berita dan foto skandal itu hingga setelah Fujimura dan rekan-rekannya sesama penggali situs purbakala mengumumkan temuan penting teranyar mereka. Setelah tersebar luas, berita dan foto-foto yang mengabadikan perbuatan buruk Fujimura ini pun menjadi sebab kehancuran nama baik rekan-rekannya.

Penerbitan berita di bulan November 2000 itu juga menyebabkan pihak berwenang arkeologi Jepang dan masyarakat umum kaget luar biasa. Harian Jepang Mainichi Shimbun memampang gambar-gambar potongan video yang menangkap basah perbuatan memalukan Fujimura. Di gambar itu terlihat sang arkeolog kondang Fujimura dengan cueknya mengubur barang-barang yang dipalsukannya di pagi hari bulan Oktober 2000. Pakar arkeologi Jepang yang dijuluki “Sang Tangan Tuhan” itu kepergok mengubur dengan sengaja perkakas-perkakas batu di situs penggalian Kamitakamori, provinsi Miyagi.

Pemalsuan dua puluh tahun

Pengujian ulang terhadap beberapa situs penggalian tempat Fujimura turut bekerja telah mengungkap barang-barang yang ia palsukan. Sejumlah temuan Fujimura telah dikaji ulang dan menyingkap kerusakan pada bagian permukaan serta sisa-sisa beragam endapan yang berbeda. Ini menunjukkan bahwa benda-benda temuan Fujimura itu telah dipindahkan dari situs yang berbeda. Mulanya Fujimura hanya mengaku telah melakukan dua kasus pemalsuan yang kepergok. Namun pengakuannya di musim gugur tahun 2001 menegaskan bahwa pemalsuannya telah dilakukan sejak tahun 1980, dengan kata lain selama 20 tahun. Tidak berhenti di sini saja, pemalsuan itu ternyata ia lakukan di 42 situs galian purbakala Zaman Batu Bawah dan Zaman Batu Tengah.

Fujimura memiliki karir panjang sebagai arkeolog dan telah terlibat dalam penggalian di lebih dari 180 situs purbakala. Menurut Shoh Yamada, sebagian besar dari situs-situs penggalian di mana Fujimura terlibat mungkin saja tercemari pula oleh pemalsuan Fujimura itu.

‘Tangan Tuhan’ tergoda Setan

Media massa Jepang bersemangat dalam meliput perkembangan terbaru di bidang arkeologi, atau ilmu tentang kepurbakalaan yang sangat terpengaruhi oleh dogma teori evolusi manusia itu. Temuan-temuan penting seringkali menjadi judul utama pemberitaan nasional Jepang. Tidak heran jika temuan-temuan Fujimura sebelumnya sangatlah luas diberitakan, dan temuan-temuannya yang lebih penting lagi dicantumkan pula di buku-buku pelajaran sekolah. Namun rujukan-rujukan kepada temuan-temuan Fujimura itu dihapuskan segera setelah pemalsuan tentang bukti sejarah evolusi manusia yang sangat memalukan itu terbongkar.

Pengakuan Fujimura menggegerkan dunia dan dibeberkan berbagai media massa di luar maupun di dalam negeri Jepang. Salah satunya, The Japan Times, 6 November 2000, meliputnya dengan judul “Renowned archaeologist admits to planting finds” (Arkeolog kondang mengaku mengubur temuan-temuan). Dalam perkataannya sendiri, Fujimura, yang dijuluki Sang Tangan Tuhan, mengaku telah dibujuk setan untuk melakukan perbuatan buruk itu:

“I was tempted by the devil. I don’t know how I can apologize for what I did…I was impatient that the ruins have not produced as much in findings as the Ogasaka Ruins in Saitama Prefecture…”

(Saya tergoda oleh setan. Saya tidak tahu bagaimana saya dapat meminta maaf atas apa yang telah saya perbuat… Saya tidak sabar karena reruntuhan itu tidak menghasilkan temuan sebanyak Reruntuhan Ogasaka di Provinsi Saitama…”).

Demikianlah, Setan telah berhasil menggoda “Sang Tangan Tuhan” itu untuk melakukan pemalsuan bukti-bukti arkeologi evolusi manusia Jepang.

Pemalsuan menggemparkan oleh Shinichi Fujimura sebenarnya bisa saja dicegah atau setidaknya dapat diungkap sedari awal, jika saja para arkeolog yang berwenang di Jepang tidak bersikap dogmatis dan berpikiran lebih terbuka. Kekakuan mereka dalam menolak pandangan lain yang berseberangan atas temuan purbakala yang dianggap bukti sejarah evolusi nenek moyang bangsa Jepang itu akhirnya justru merugikan Jepang sendiri.

Sebut saja profesor Charles T. Keally, yang bersama rekannya Oda Shizuo pernah mempertanyakan keabsahan ilmiah temuan-temuan Paleolitikum Jepang itu. Keally telah menghabiskan banyak kegiatan akademisnya di Jepang. Ia adalah ilmuwan di bidang Zaman Batu Jepang dan budaya Jomon, yakni masa prasejarah Jepang.

Pada tahun 1986, keduanya menerbitkan tulisan di jurnal ilmiah terkemuka yang mengritik temuan di situs Paleolitikum Muda dan Madya, propinsi Miyagi. Namun yang mereka dapatkan malah cercaan dari arkeolog terkemuka yang mengatakan bahwa pemikiran Keally dan rekannya itu salah dan bahwa kritik itu seharusnya tidak diterbitkan di jurnal ilmiah. Kritik kedua pakar ini pun lantas dilupakan begitu saja.

Namun kebenaran berpihak pada Keally dan rekannya. Empat belas tahun kemudian, pemalsuan Fujimura pun dibongkar media massa ketika ia kepergok sedang mengubur sengaja benda-benda purbakala palsu di dua situs Paleolitikum Muda. Sejak itu, bangunan sejarah Paleolitikum Muda Jepang yang telah disusun sejak 1980 pun hancur berantakan.

Kerugian dunia ilmiah

Menurut jurnal ilmiah Anthropological Science, (Vol. 113, no. 2, 131–139, tahun 2005) setidaknya sejak tahun 1976, atau mungkin lebih awal, Shinichi Fujimura telah memalsukan temuan di kurang lebih 186 tempat galian purbakala di Jepang timur. Fujimura yang dijuluki “Si Tangan Tuhan” itu tidak segan melakukan pemalsuan meskipun penggalian ilmiah tersebut didukung oleh pemerintah daerah setempat dan oleh dua lembaga nirlaba Sekki Bunka Danwakai (Kelompok Penelitian Zaman Batu) dan Tohoku Kyusekki Bunka Kenkyujo (Lembaga Penelitian Paleolitikum Tohoku).

Pemalsuan bukti sejarah evolusi masyarakat Jepang ini mendorong Japanese Archaeological Association (Ikatan Arkeologi Jepang, JAA) menerbitkan laporan akhir hasil penyidikannya setebal 625 halaman. Laporan tersebut membeberkan bahwa tak satu pun benda-benda purbakala temuan Fujimura memiliki nilai ilmiah. Demikian ungkap jurnal Anthropological Science itu dengan judul “For the people, by the people: postwar Japanese archaeology and the Early Paleolithic hoax” (Untuk rakyat, dari rakyat: arkeologi Jepang pasca perang dan pemalsuan zaman batu mula).

Berdasarkan informasi yang diperoleh redaksi hidayatullah.com dari jurnal Archaeology (Vol. 54 No. 1, Jan./Feb. 2001) terbitan Archaeological Institute of America, Museum Nasional Tokyo telah menyingkirkan lebih dari 20 buah pajangan purbakala hasil temuan Fujimura. Museum-museum lain di Jepang pun melakukan hal serupa.

Akibat tindakan tidak terpujinya, Fujimura dipecat dari Institut Tohoku dan Ikatan Arkeologi Jepang (JAA). Wibawa lembaga Institut Tohoku ambruk. “Tidak ada lagi yang dapat Anda katakan… Dengan pembeberan media massa ini, seluruh hasil kerja kami selama bertahun-tahun hancur lebur”, ujar mantan kepala lembaga itu, Toshiaki Kamata, yang mengundurkan diri pasca terkuaknya skandal buruk tersebut.

Tersingkapnya pemalsuan ini memaksa perombakan buku-buku pelajaran sejarah Jepang. Institut Paleolitikum Tohoku, tempat sebelumnya Fujimura menjabat sebagai deputi direktur, juga dibubarkan.

Waktu, dana dan tenaga terbuang sia-sia

Perbuatan Fujimura memalsukan bukti sejarah evolusi manusia Jepang itu tidak hanya merugikan dunia ilmu pengetahuan. Pemalsuan ini juga telah menghambur-hamburkan uang jutaan dolar dalam pembiayaan kegiatan penggalian situs purbakala, penerbitan ilmiah, pertemuan ilmiah, pameran dan museum, serta kucuran dana penelitian dari pemerintah yang diperuntukkan bagi berbagai ilmuwan dan organisasi.

Berdasarkan temuan Fujimura mengenai situs-situs purbakala yang dianggap penting, para pengusaha dan pemerintah daerah tempat digalinya situs purbakala tersebut juga telah terlanjur menanamkan modal untuk membangun sarana pariwisata dan memproduksi cendera mata. Dunia pariwisata yang telah susah payah dikembangkan pun terkena getah pahit perbuatan Fujimura itu setelah terbukti bahwa benda-benda purbakala yang ditemukan di situs-situs tersebut terbukti palsu.

Selain itu para pakar purbakala, kalangan arkeolog profesional yang telah bekerja bersama Fujimura telah membuang-buang waktu lebih dari 20 tahun secara sia-sia. Bahkan karir dan wibawa mereka ini berkemungkinan tercoreng akibat tingkah laku memalukan Fujimura.

Bukan pemalsuan seorang diri

Sejumlah kalangan mempertanyakan, bagaimana mungkin pemalsuan ini bisa berlangsung selama puluhan tahun tanpa diketahui pihak berwenang. Apakah yang menyebabkan Fujimura berani melakukan perbuatan memalukan itu?

Sebuah dugaan muncul bahwa yang mendorong Fujimura melakukan perbuatan buruknya adalah gangguan kejiwaan yang dialaminya. Jurnal ilmiah kondang, Nature (Vol 445, 18 Jan. 2007, hal. 244-245) menuturkan, pasca terungkapnya pemalsuan itu, Fujimura dirawat di rumah sakit karena gangguan jiwa. Ia dilaporkan menikah lagi, mengubah namanya dan kini hidup tenang di kota kecil dekat pantai Pasifik.
Namun dugaan kelainan jiwa ini ditepis oleh profesor Charles T. Keally. Kesaksian dan pengalamannya sebagai pakar arkeologi di Jepang membantah hal itu. Ia menuliskan:

Skandal-skandal yang melibatkan kalangan kelas atas di segitiga-besi Jepang yang terdiri dari para politikus, pejabat pemerintah dan pengusaha berakar dari sistem tertutup di sana juga, dan dari ketaatan yang dipaksakan dalam kelompok, tatanan hirarkis, dan kerahasiaan. Ini hanyalah sebuah sisi dari penyebab, atau penyebab-penyebab utama yang mendasari skandal teranyar di bidang arkeologi ini.

Banyak perbincangan media massa memusatkan perhatian pada hal-hal tentang Fujimura dan kehidupannya yang mendorongnya menguburkan barang-barang tiruan di situs galian. Ia di bawah tekanan untuk mendapatkan hasil – karena berbagai alasan. Ia menari telanjang di pesta-pesta untuk menghidupkan suasana (Aera Nov. 20, 2000, p. 19). Hal ini untuk mengalihkan perhatian. Saya telah menyaksikan banyak arkeolog memalsukan laporan demi mendapatkan anggaran dana. Dalam video yang saya punya, Fujimura bukanlah satu-satunya yang menari telanjang, dan banyak (namun bukan berarti semua) penontonnya terlihat menikmati pertunjukkan tersebut. Dan banyak sekali peserta konferensi menghabiskan keseluruhan malam dengan mabuk-mabukan – untuk menghidupkan suasana – dan datang di keesokan harinya dalam keadaan teler berat atau masih mabuk. Sebagian bahkan tidak mampu membaca makalah [ilmiah] mereka sendiri. Jika perbuatan Fujimura diartikan ia memiliki semacam gangguan jiwa, maka sejumlah besar arkeolog lain juga demikian. Permasalahan utamanya adalah mengapa dibutuhkan [waktu] sedemikian lama untuk mengenali adanya masalah dalam “tangan tuhannya” dan seluruh masalah lain di situs-situs [purbakala] Paleolitikum Mula dan Madya yang ia kerjakan. Mengapa sedemikian banyak arkeolog terkemuka menerima sama sekali keabsahan barang-barang [temuan] yang memiliki sisi-sisi yang patut dipertanyakan itu?

Apa pun penjelasan terhadap perbuatan Fujimura pada akhirnya nanti, ini hanyalah penjelasan perkiraan. Penyebab utamanya lebih jauh dari sekedar satu orang ini. Fujimura layak mendapatkan celaan atas perbuatannya. Tapi ia juga patut mendapatkan simpati kita, karena ia pada akhirnya adalah hasil dari sebuah sistem yang telah menghasilkan banyak skandal, stres dan bunuh diri. Dan setiap hari, tampaknya, media massa melaporkan bahwa apa yang kita saksikan sebagai skandal, stres dan bunuh diri hanyalah “sebuah ujung puncak dari gunung es”.” (Japan’s Early Palaeolithic Fabrication Scandal, Japanese Scandals — This Time It’s Archaeology, –A Preliminary Report –, by Charles T. Keally, November 17, 2000)
Apa yang dituturkan Keally ini mirip dengan yang diakui oleh pakar Jepang, Ken Amaksu, sebagaimana dikutip jurnal Archaeology:

Many archaeologists privately questioned Fujimura’s discoveries, but he was rarely publicly challenged. Chairman of the Japanese Archaeological Association Ken Amaksu conceded that Japan’s academic environment may have played a role in the ongoing ruse. (“God’s Hands” Did the Devil’s Work, Archaeology, vol. 54 no. 1, Jan./Feb. 2001)

Banyak arkeolog diam-diam mempertanyakan temuan-temuan Fujimura, tapi ia jarang ditantang secara terbuka. Ketua Ikatan Arkeologi Jepang Ken Amaksu mengaku bahwa lingkungan akademis Jepang mungkin telah turut berperan dalam penipuan yang terus-menerus itu.

Di bagian ke-4 (habis) insya Allah akan dapat dipahami secara lebih rinci, mendalam dan jelas betapa pemalsuan akbar ini bukan disebabkan oleh satu orang saja. Rekayasa yang mendorong didapatkannya bukti sejarah evolusi manusia Jepang ternyata melibatkan banyak kalangan.

Berdasarkan temuan purbakala Shinichi Fujimura, sejarah Jepang sebelumnya diperkirakan berusia 700 ribu hingga 800 ribu tahun. Namun anggapan itu keliru setelah temuan Fujimura terbukti palsu. “Ini berarti peradaban kita hanyalah 70.000 hingga 80.000 tahun. Jadi sejarah Jepang menjadi sepersepuluh dari yang kita duga,” kata Toshiki Takeoka, pakar ilmu purbakala di Kuromitsu Kyoritsu University, Tokyo. (1)

Reruntuhan Kami-Takamori dulunya terkenal sebagai situs Zaman Batu Awal tertua di Jepang. Terlebih penting lagi, temuan-temuan perkakas batu mengisyaratkan manusia awal Homo erectus di tempat tersebut memiliki tingkat kecerdasan simbolik yang jauh melebihi pendapat mana pun yang didasarkan pada temuan di Afrika dan Eropa. (2)

Namun simbol kebanggaan nasional masyarakat Jepang itu kini tidak hanya runtuh, tapi juga berubah menjadi aib memalukan di mata dunia semenjak terkuaknya pemalsuan Fujimura. Keadaan ini digambarkan sendiri oleh Charles T. Keally, pakar purbakala di Sophia University, Tokyo:

“Kini hal itu – dan mungkin keseluruhan Zaman Batu Mula dan Pertengahan Jepang – telah tenggelam ke dalam lumpur perilaku memalukan, sesuatu yang menghiasi halaman-halaman muka surat kabar setiap hari, ketika para politikus, pejabat pemerintah, pengusaha, doktor, pengacara dan pemimpin di hampir setiap bidang kehidupan tampil di halaman-halaman muka dengan kepala mereka tertunduk malu.” (2)

Pemalsuan akbar tersebut memunculkan pertanyaan besar, bagaimana mungkin Fujimura, yang kini dijuluki “Si Penggali Kotor”, tidak kepergok selama 20 tahun? Sejumlah ahli di Jepang berpendapat bahwa si kambing hitamnya adalah Fujimura sendiri, disamping sebab luar. Fujimura diakui sejumlah kalangan sebagai sosok meyakinkan dan memiliki keahlian luar biasa dalam mengubur temuan palsunya. Faktor luar melibatkan berbagai pihak, terutama kalangan akademisi.

Lihai menipu

Shoh Yamada, pakar purbakala yang pernah menggali situs bersama Fujimura, tercengang oleh keterampilan luar biasa Fujimura dalam mengelabui. Berdasarkan pengalamannya sendiri dan pengakuan pakar arkeologi lain, adalah sulit membedakan mana galian purbakala alami yang asli dan mana yang sengaja dipalsukan oleh Fujimura. Apa yang semula mereka duga asli, belakangan diketahui hasil karya “tangan kotor” Fujimura.

Kelihaian memalsu benda arkeologi itu selain masih menjadi teka-teki, juga cukup membuat pakar arkeologi keheranan. Apalagi jika mengingat Fujimura hanyalah tamatan sekolah atas, pekerja pabrik alat elektronik, dan tidak memiliki latar belakang pendidikan formal di bidang arkeologi. Bagaimana Fujimura yang tidak terdidik profesional di bidang arkeologi bisa menipu sedemikian banyak pakar Jepang dalam rentang waktu lama? “Ini menunjukkan bahwa kita belum tahu semua teknik yang digunakan oleh Fujimura”, kata Shoh Yamada. (3)

Berkekuatan gaib

Sejumlah kalangan tidak menaruh praduga buruk terhadap Fujimura lantaran penampilan dan kepribadiannya yang terlihat meyakinkan. Bahkan ada yang sampai memberi sanjungan berlebihan atas Fujimura. Selain julukan “Sang Tangan Tuhan” lantaran keberuntungannya mendapatkan banyak temuan purbakala (yang di kemudian hari diketahui palsu), Shinichi Fujimura didesas-desuskan memiliki pula kekuatan gaib (4). Bahkan ada ilmuwan Jepang sendiri yang sampai percaya hal gaib itu.

Keiichi Omoto, pakar antropologi biologi terkemuka Jepang, yakin kalau Fujimura punya kekuatan gaib. Sebagaimana dikisahkannya sendiri, ia mengakui bahwa keraguannya sirna saat bertemu langsung dengan Fujimura:

“…beberapa tahun silam saya mulai menjalin hubungan dengan kelompok Serizawa dan benar-benar bertemu dengan Fujimura sendiri. Ketika berbincang seputar beragam hal dengannya, saya berpikir bahwa itu karena pengalaman dan pemikiran [Fujimura] dan, entah bagaimana, percaya bahwa ia mampu memahami ‘arwah’ Homo erectus (genjin no kokoro)” (5)

Melibatkan banyak pihak

Charles T. Keally berpendapat seluruh masyarakat Jepang, terutama akademisi, dan khususnya kalangan arkeologi, pada akhirnya bertanggung jawab atas terjadinya skandal itu. Charles T. Keally telah 30 tahun bekerja di bidang arkeologi Jepang, terutama Zaman Batu Jepang, di dalam negeri Jepang sendiri. Ia secara khusus tertarik dengan masalah Zaman Batu Mula dan Pertengahan di Jepang. Menurutnya, permasalahan ini penuh pertentangan sejak permulaannya di awal 1960-an. Tapi hal itu belum pernah dibahas dengan pendekatan akademis dan ilmiah. (2)

Selain itu, sejumlah arkeolog mengaku pernah curiga atas kemampuan Fujimura yang luar biasa. Tapi rasa hormat terhadap wibawa lembaga akademis Jepang telah mengurungkan niat mereka mengemukakan kecurigaannya. (1)

Peneliti lain mengisahkan bagaimana ia sudah pernah melontarkan keraguan terhadap temuan Fujimura ke khalayak ramai, tapi malah disuruh tutup mulut oleh tokoh senior di lingkungan arkeologi Jepang. Toshiki Takeoka di antara yang memiliki kecurigaan ini. Ia pernah mencoba menerbitkannya di jurnal akademis, tapi editor jurnal itu memaksa agar ia melunakkan kritiknya. (1)

Menurut kepala Dewan Pemerintah untuk Kebijakan Ilmu Pengetahuan, Hideki Shirakawa, permasalahannya terkait dengan budaya Jepang dan penekanan yang lebih mengedepankan kelompok daripada perorangan. “Orang-orang Jepang tidaklah cakap dalam menyanggah atau menilai orang… …Kami asal-usulnya adalah sebuah negeri pertanian, jadi kami suka bergotong-royong, sebagai sebuah kelompok. Perasaan itu masih ada sekarang. Dan itulah mengapa terkadang tidak ada pemeriksaan atau penelaahan yang layak oleh pakar lain dalam ilmu pengetahuan,” kata Shirakawa. (1)

Bukan hanya Jepang

Namun ada satu hal yang tidak diungkap oleh berbagai sumber media massa maupun jurnal ilmiah yang mengungkap latar belakang pemalsuan Fujimura itu. Hal ini secara cermat patut dipertanyakan: Jika budaya masyarakat atau lingkungan akademis Jepang secara khusus dianggap telah mendorong pemalsuan puluhan tahun itu, lalu mengapa pemalsuan serupa juga terjadi di Inggris dan Jerman misalnya, yang memiliki budaya masyarakat dan akademis berbeda dari Jepang?

Di Inggris, Charles Dawson terbukti memalsukan fosil tengkorak Manusia Piltdown selama sekitar 40 tahun (6). Tengkorak itu terungkap sebagai pemalsuan yang dilakukan dengan cara melekatkan rahang orang utan pada tengkorak manusia. Di Jerman, prof. Reiner Protsch von Zieten terungkap memalsukan aneka data seputar usia fosil-fosil yang ditemukan di Eropa selama kurang lebih 30 tahun. (7)

Jika ada kemiripan, maka ketiga kasus pemalsuan besar di 3 negara maju itu sama-sama melibatkan bidang ilmu yang sama atau setidaknya sangat terkait erat: asal-usul dan hubungan masyarakat manusia, sejarah dan budaya manusia, dan ilmu fosil. Menariknya, kesemua ilmu tersebut didasarkan pada teori evolusi Darwin!

Dipermalukan dan dibohongi

Kebohongan selama 20 tahun oleh Fujimura kini tercatat sebagai salah satu penipuan ilmiah terbesar di dunia modern. Tindakan Fujimura menambah daftar panjang penipuan memalukan terkait dengan teori evolusi, yang di dalamnya termasuk pemalsuan manusia Piltdown di Inggris oleh Charles Dawson (6) dan pemalsuan beragam data fosil oleh Prof. Reiner Protsch von Zieten dari Jerman (7).

Selain perasaan malu yang mendalam, masyarakat Jepang juga merasa telah dibohongi selama puluhan tahun, khususnya para siswa di sekolah karena buku-buku pelajaran memuat hasil temuan Fujimura. Kurator utama departemen urusan budaya di pemerintahan metropolitan Tokyo, Shizuo Ono, menuturkan:

“Di ruang-ruang kelas sekolah atas dan sekolah menengah atas, para guru telah mengajar tentang situs-situs purbakala ini dengan bangga, sebagai situs tertua bangsa [Jepang]. Saya telah membaca surat-surat kepada editor di mana para guru mengatakan hati mereka terluka, sebab mereka telah dituduh berbohong oleh para siswa mereka.” (8)

(wwn/abc/nytimes/newsweek/haq/anthr.sci./bbc/dw/hidayatullah.com) (habis)

Referensi:

1). Mark Simkin (2001) “Archaeological fraud in Japan”, a transcript from The World Today, ABC local radio, Australia, 19 Nov. 2001. (http://www.abc.net.au/worldtoday/stories/s420235.htm , dikunjungi pada 19 April 2009)
2). Charles T. Keally (2000) “Japanese Scandals – This Time It’s Archaeology”, A Preliminary Report, 17 Nov. 2000. (http://www.t-net.ne.jp/~keally/Hoax/pal-hoax-1.html , dikunjungi pada 19 April 2009).

3). Shoh Yamada (2002) “Politics and Personality: Japan’s Worst Archaeology Scandal”, Harvard Asia Quarterly, Volume VI, No. 3. Summer 2002. (http://www.asiaquarterly.com/content/view/124/5/ , dikunjungi pada 19 April 2009)

4). George Wehrfritz & Hideko Takayama (2001) “Archeology: With A Wave Of God’s Hand. An Amateur Paleontologist Is Discredited, And Japan Loses A Million Years Of Human Prehistory”, Newsweek, 22 Oct. 2001 (http://www.newsweek.com/id/75646 , dikunjungi pada 19 April 2009).

5). Mark J. Hudson (2005) “For the people, by the people: postwar Japanese archaeology and the Early Paleolithic hoax”, Anthropological Science, Vol. 113 (2005) , No. 2 pp.131-139 (http://www.jstage.jst.go.jp/article/ase/113/2/113_131/_html , dikunjungi pada 19 April 2009).
6). Kate Bartlett (2003) “Piltdown Man: Britain’s Greatest Hoax”, BBC Archaeology, Excavations and Techniques, Published: 14 Nov. 2003. (http://www.bbc.co.uk/history/archaeology/excavations_techniques/piltdown_man_01.shtml , dikunjungi pada 19 April 2009).

7). DW Staff (2005) “Professor Resigns Over Misconduct Scandal”, Deutsche Welle, 18 Feb. 2005. (http://www.deutsche-welle.de/dw/article/0,1564,1493421,00.html, dikunjungi pada 19 April 2009)

8). Howard W. French (2000) “Tsukidate Journal; Meet a ‘Stone Age’ Man So Original, He’s a Hoax”, The New York Times, USA, 7 Dec. 2000. (http://www.nytimes.com/2000/12/07/world/tsukidate-journal-meet-a-stone-age-man-so-original-he-s-a-hoax.html , dikunjungi pada 19 April 2009).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s