Petikan Dawai Mengalun

Petikan Dawai Mengalun

(DioN)

Sebaris dawai dipetiknya,
Denting irama terangkai dalam alunan merdu,
Tak melenakan tidak meninabobokan
tak ada kebosanan bahkan kejemuan pun sirna

Kian dipetiknya dentingan dawai,
Kian merentakkan kaki untuk menapak,
Melangkah berbaris,
Wajah-wajah laskar biru pun bersemangat
Menghirup keharuman pesonanya,

Mengulur sebilah senyum kesejukan,
Merangkul seikat dekapan kedamaian,
Terucap salam menyapa wajah-wajah ceria,
Hingga menusuk ke relung jiwa

Pada ombak yang menghempas karang,
Pusaran laut kehidupan di palung terdalam,
Atau Taman indah melantunkan tembang pagi hari,
langkah pasti dengan secercah harapannya,
Lewat pahatan halusnya dan ukiran karya indahnya,
Rendaan benang emasnya diatas hamparan bahtera bertanda ‘lebah biru’
Selalu menuangkan aroma kesejukan dan kedamaian,
Disirami dengan pengorbanan dan pengabdian yang dalam,

Walau kita berpisah untuk berganti biduk,
Namun kejujuran yang telah disemai sepanjang karyanya,
Lalu dibungkus dengan keikhlasan yang tulus,
Membuat kami akan selalu bercermin,
terkenang dan terkesan sedalam samudera,
Menyayangi ikatan tali kekeluargaan ini,

Nanti ingin kami utus salam pada angin lalu,
Agar usapannya lembut,
Untuk kami nyatakan rasa rindu.

(buat Pak Sidharta : tuangkanlah kami secangkir air bening untuk kami teguk dan nikmati sekali lagi, jangan biarkan air mata kami menetes tak berhenti).

Semarang, 23 Oktober 2003

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s