Sujud Tersungkur di Akhir Ramadhan 2008

Kata orang-orang terdekat, aku adalah yang orang sulit sekali untuk meneteskan air mata, apalagi sampai menangis dengan suara sedu sedan. Seolah-olah ada pantangan yg mengharuskan agar aku tidak boleh menangis sebagai seorang pria. Bahkan istriku pernah suatu hari mengatakan bahwa selama sekian belas perkawinan kami, dia bilang tidak pernah melihat suaminya meneteskan air mata atau menangis, bahkan di saat meninggal Ibunda dan ayahanda tercinta di Magelang.
Tapi sebenarnya tidaklah demikian. Akupun juga bisa meneteskan airmata. Ini beberapa kali aku buktikan yaitu di saat kekusyukan dalam menjalankan sholat hampir ‘memenuhi syarat’ dan ‘memenuhi ruang kalbu’.

Kenapa dan hal tersebut bisa hal itu terjadi ?

sujud

Satu pengalaman yang sangat menarik dan aku ingat adalah di saat memimpin sholat berjamaah di Mushola Nurul Huda. Saat itu adalah hari terakhir melaksanakan sholat sunat Witir setelah sholat sunat tarawih di bulan Ramadhan hari ke-29 2 tahun lalu di tahun 2008/1429 H. Sholat Sunat Witir dilaksanakan dengan 3 rakaat sekaligus. Sebagai Imam dengan kira2 40-an jama’ah sudah barang tentu persiapan dari mulai takbiratul ihram ‘diusahakan’ untuk khusyu.
Rakaat pertama dimulai dengan niat takbiratul ihram. Saat mengucapkan “Allahu Akbar” terasa sekali bahwa yg kurasakan adalah begitu kecilnya aku dihadapan Allah SWT. Takbiratul ihram …Takbir, kebesaran-MU Kekuasaan-MU tanpa ada yg bisa menandinginya. Ihram…haram bagi selain-MU untuk kuingat.
Aku seperti debu di ranah semesta raya yg agung. Begitu sangat-sangat kecilnya diriku sehingga terlintas di benakku adalah aku tidak akan berdaya upaya tanpa adanya pertolongan-MU dan bimbingan-MU …Yaa Allah, yaa Rabbi.

Saat..saat dimulainya sebuah getaran ..berdesirnya darah yg mengalir dalam tubuh..dan hati terasa ikut menghayati irama bacaan Al fatihah. Ayat demi ayat membaca secara jahar (keras) agar jamaah di belakangku mendengar sampe shaf terakhir. Juga dalam hati kuterjemahkan agar arti bacaan bisa kupahami dan kuhayati. Disinilah dimulainya seakan-akan mau tumpah airmataku. Retinaku mulai membasah. Dan saat kubacakan sebuah ayat dari Surat Al Baqarah ayat 285-286 (salah satu ayat favoritku dalam bacaan surat setalah bacaan Al Fatihah) :

Artinya :

“Rasul telah beriman kepada Al Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat”. (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali”.
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo`a): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”.

Di bacaan ayat ini, tak terbendung lagi airmata itu tumpah hingga mempengaruhi suaraku. Dan mungkin makmum akan bertanya-tanya, apakah yang terjadi dengan Imam-nya. Tapi tetap kukuatkan untuk melanjutkan bacaan meski agak terbata-bata, karena seakan-akan tersekat di kerongkongan dari setiap bacaan.

ruku

Bacaan ruku’ kuhayati ketertundukan-ku dan dalam hati kupahami maknanya dan kuhayati dengan sepenuh hati. Apalagi saat momen sujud…aku tersungkur dihadapanmu Yaa Allah, Yaa Rab… “Subhaana Rabbiyyal A’la” … “Maha Suci Engkau Yang Maha Tinggi”, hamba-MU ini sangat kecil dan tak berdaya upaya…tersungkur sujud sebagai bentuk penghambaan terendah searing hamba dgn kepala di posisi sejajar dengan telapak kaki.
Tersungkur bahwa ternyata kuingat sambil mengingat-MU bahwa hari ini adalah hari terakhir di bulan suci Ramadhan untuk bisa melaksanakan sholat tarawih dan Witir bersama Jamaah Mushola Nurul Huda. Malam itu benar-benar tumpah ruah airmataku tak terbendung dengan suara-suara lantunan bacaan sholat tersekat diantara kerongkongan dan pelan-pelan kubaca hingga salam.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh” “Semoga diberikan keselamatan atasmu, dan rahmat Allah serta berkahNya juga kepadamu”, menoleh kekanan dan kekiri dengn bacaan yang sama. Mengingatkan kepada kita agar di “Kanan dan kirii” kita diberi keselamatan dan rahmat dari Allah. Agar langkah kita kepada sesama manusia, terutama kepada sesama Muslim untuk senantiasa menjaga hubungan yang baik dan harmonis. Terutama sekali kepada para tetangga di kanan kiri kita, agar terjaga keamanan dan ketentramannya.

Firman Allah SWT :

Artinya :

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (QS. 4/An-Nisaa’ 36)

Salah satu sabda Rasulullah :
Berbuat baiklah kepada ibu bapamu, nescaya anakmu akan berbuat baik kepadamu. Dan bersikap jujurlah kepada ibu bapamu, nescaya isteri kamu akan bersikap jujur kepada kamu.” (Hadis al-Tabrani)

Dan di hadis lain disebutkan :

Dari Abu Hurairah r.a., bahwa sesungguhnya Nabi Saw. bersabda, “Demi Allah, tidak beriman, demi Allah, tidak beriman, demi Allah, tidak beriman!” Nabi ditanya, “Siapakah dia ya Rasulullah?” Ia menjawab, “Yaitu orang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya”. (HR Bukhari-Muslim).

Dari pengalaman tersebut, dapat aku petik beberapa pelajaran yang berharga :

1. Bahwa Manusia itu sangat kecil dan tidak berdaya upaya tanpa adanya rahmat dari Allah, baik itu lewat pertolongan-NYA, Bimbingan-NYA maupun hidayah-NYA. Siapapun itu manusianya.

2. Bahwa setiap kita melafazkan bacaan dalam Sholat sangat dianjurkan untuk mengetahui arti bacaan dan dengan demikian kita bisa memahami bacaan dan dapat menghayatinya untuk mencapai kekusyukan dalam sholat.

3. Dalam setiap gerakan sholat, apakah saat takbiratul ihram, ruku’, sujud dan duduk tasyahud kita harus selalu tuma’ninah (relaks, penyerahan diri secara total), jangan terburu-buru dan menghayati setiap gerakan sholat.

4. Jika terasa airmata akan tumpah jangan menahan diri untuk tidak menangis, karena pada saat itulah getaran hati, seluruh tubuh kita telah membuat penyerahan diri kepada Allah SWT.
5. Usahakan setiap berdoa dengan posisi sujud, karena di posisi inilah penghambaan kita adalah dalam posisi terendah, ditandai dengan sejajarnya antara posisi kepala dan kaki. InsyaAllah doa kita makbul.

Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s