Kata Mutiara 01


Manusia sejati mengerti mana yang benar,

Manusia rendah mengerti mana yang menguntungkan dirinya.

Manusia sejati menyayang jiwanya,
Manusia rendah menyayang hartanya.

Manusia sejati ingat akan hukuman dosa-dosanya,

Manusia rendah ingat akan hadiah jasa-jasanya.

Manusia sejati mencari kesalahan diri sendiri,

Manusia rendah mencari kesalahan orang lain.

Mengerti akan orang lain adalah pandai,

mengerti akan diri sendiri adalah bijaksana.

Menaklukkan orang lain adalah kuat tubuhnya,

menaklukkan diri sendiri adalah kuat batinnya.

Yang puas akan keadaan diri sendiri adalah kaya raya,

yang memaksakan kehendaknya adalah orang nekat.

Yang tahu akan kedudukannya akan berlangsung,

mati dalam kebenaran berarti panjang usia.

Berada di atas tidak menghina yang bawah,

berada di bawah, tidak menjilat atasan

Memperbaiki diri sendiri tidak mengharapkan sesuatu dari orang lain

Ke atas tidak mencela Tuhan,
ke bawah tidak menyalahkan orang

4 thoughts on “Kata Mutiara 01

  1. sebuah kisah semoga mengispirasimu…

    Di siang bolong seorang Darwis masuk-keluar pasar dengan membawa sebuah lilin ditanganya. Ada yang menegur dia, Apa yang sedang engkau cari? Untuk apa pula menyalakan lilin? Tidak cukuplah cahaya matahari?”

    Darwis menjawab,”aku sedang mencari seseorang manusia”

    Seorang manusia? Pasar ini penuh dengan manusia dimana-mana, siapakah yang kau maksudkan?”

    “seorang manusia sejati. Ia yang mampu pertahankan kemanusiaanya dalam dua keadaan.”

    Keadaan apa?”

    “pertama, dalam keadaan marah, Yang “kedua dalam keadaaan lapar. Bila ada yang mampu mempertahankan kemanusiaanya dalam keadaam itu, maka dialah seorang manusia sejati.”

    “engkau sedang mencari sesuatu yang sangat langka, katakana apa yang kan kau lakukan jika bertemu dengan seorang manusia sejati seperti itu?

    “aku akan mengabdi kepadanya, seumur hidup, untuk selama-lamanya.”

    “sungguh engkau sedang mencari ranting. Kenapa tidak mencari akar? Engkau memperhatikan busa menutupi permukaan laut, kenapa tidak memperhatikan laut.

    Cerita diatas adalah kiasan yang diberikan jalaludin rumi dalam karya fenomenalnya, masnawi, jika membaca cerita diatas, paling tidak ada dua makna tersirat yang bisa kita dapatkan.

    Pertama, manusia sejati adalah manusia yang dapat mengendalikan diri saat marah dan lapar. Bagi rumi, saat mengalami dua hal itulah, manusia terkadang kehilangan kesadaranya. Ketika dilanda marah, biasanya manusia kan membabi buta baik perkataanya maupun perbuatanya. Kata-kata orang marah biasnya ngelantur kesana-kemari, caci maki, hinaan, ejekan, sumpah serapah, merendahkan orang, dan yang sejenisnya yang keluar tanpa control.

    Kedua, kita harus menjadi pelaku atas manusia sejati, kita tidak perlu mencari manusia sejati, tetapi kita jadikan diri kita sebagai manusia sejati, rumi mengatakan di akhir ceritanya,”sungguh engkau sedang mencari ranting. Kenapa tidak mencari akar? Engkau memperhatikan busa yang menutupi permukaan laut, kenapa tidak memperhatikan laut?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s