Mengatasi Anak Sulit Makan

6-12 TAHUN  LO, MAKANANNYA KOK, TAK BERGIZI?

Adanya pergeseran lingkungan kehidupan, dari lingkungan rumah kelingkungan sekolah atau luar rumah, memunculkan problema tersendiri dalam pola makan anak usia 6-12 tahun.

Apa saja masalahnya dan bagaimana mengatasinya? Yuk, kita simak penjelasan dr.  Luciana B. Sutanto, MS, SpGK, spesialis gizi klinik di Jakarta.

dr. Luciana Sutanta Sp GK

USIA 6-8 TAHUN

Jajan makanan tak bergizi

Saat berada di sekolah, teman dapat membawa pengaruh yang sangat penting.  Contohnya soal jajan.  Meskipun di rumah sudah tersedia makanan yang enak dan bersih, bukan tidak mungkin anak tetap ngotot ingin jajan.  Kenapa? Tak lain karena semua temannya juga jajan.  Bisa dipastikan anak akan lebih suka jajan karena rasa makanan yang dijual tadi umumnya lebih enak dan gurih dibanding yang tersaji di rumah.  Mereka sama sekali tidak peduli kalau rasa yang enak dan gurih tersebut berasal dari bumbu penyedap maupun kandungan garam dan lemak yang tinggi.  Selain itu, bagi anak-anak, jajan bersama teman memberikan suasana yang berbeda dibandingkan makan di rumah sehingga terasa lebih mengasyikan.

Sebenarnya, boleh saja anak sesekali jajan.  Namun ajarkan untuk memilih jajanan yang bersih dan menyehatkan, semisal hamburger yang dilengkapi dengan sayuran.  Pasalnya, meski sejak usia 6 tahun anak mengalami pertumbuhan dengan laju pertumbuhan yang tidak terlalu cepat, namun kebutuhan gizinya tetap harus terpenuhi.  Bila kebutuhan gizinya tidak terpenuhi, maka dampak kurang gizi ini dalam jangka panjang dapat menimbulkan gangguan kognitif dan kemampuan akademiknya.  Sayang kan? Selain bisa menyebabkan penurunan aktivitas fisik serta membuatnya berisiko mengalami penyakit infeksi.  Perlu diketahui, kecukupan gizi pada usia ini selain diperlukan untuk pertumbuhan juga dibutuhkan untuk metabolisme basal dan aktivitas fisik.

Masih disuapi

Hal ini terjadi karena di TK anak masih dibolehkan makan sambil disuapi.  Padahal jika tidak pernah dimulai untuk membiasakan makan sendiri, bisa-bisa sampai akhir usia sekolah pun dia belum terampil makan sendiri.  Ingat, orang tua yang tebiasa menyuapi makan sebetulnya tengah “membonsai” kemandirian anaknya.  Akibatnya, si anak hanya mau makan bila disuapi oleh orang tua  atau pengasuhnya.  Lalu bagaimana bila kebetulan orang tua pergi atau pengasuhnya sedang repot? Besar kemungkinan jam makannya terlewati.

Sebagai solusinya, jika anak tak mau makan hanya gara-gara ingin terus disuapi, tegaskan padanya bahwa anak seusianya sudah seharusnya bisa makan sendiri.  Jika anak tetap tak beranjak untuk mengambil piring dan mengisinya dengan nasi dan lauk-pauk, tak usah memaksa.  Sediakan makanan di tempat yang terjangkau dan mintalah ia makan dengan mengambilnya sendiri bila lapar.

Di sisi lain, orang tua jangan terlalu khawatir anaknya bakal kelaparan akibat aktivitas fisiknya yang begitu tinggi.  Anak usia ini umumnya akan mudah merasa lapar dan pasti ingin makan.  Yang mereka inginkan sebetulnya adalah ditunggui atau disuapi saat makan.  Bila ini yang terjadi, berilah pengertian dengan bahasa yang mudah dicerna anak.

Tak suka sayur

Penyebanya karena orang tua relatif jarang menghidangkan sayuran dalam menu makanan sehari-hari di rumah.  Solusinya, berikan pengertian dalam bahasa sederhana mengenai pentingnya mengonsumsi sayur bagi kesehatan dan kecerdasan.  Orang tua juga harus pintar-pintar menyiasatinya dengan menyajikan sayur bersama makanan lain yang disukainya, berpenampilan menarik, mudah dinikmati, tidak keras dan liat, tidak pedas, dan memiliki citarasa yang sesuai selera anak.  Bila anak tetap meolak sayuran, pilihkan bahan makanan yang banyak mengandung serat yang bisa diperoleh dari buah-buahan dan agar-agar.

USIA 9-12 TAHUN

Ingin langsing seperti bintang film

Beberapa anak usia 9-12 tahun, terutama praremaja putri, menyadari kegemukan merupakan momok.  Agar tak jadi sasaran empuk untuk  diolok-olok, mereka berusaha keras menjaga kelangsingan tubuhnya.  Tak bisa disangkal bila fenomena di atas muncul akibat kuatnya pengaruh layar kaca yang mempertontonkan tokoh-tokoh cilik yang menjadi “hero”, semisal bidadari nan cantik dan bertubuh langsing.  Nah, itu semua terekam dalam benak anak hingga mereka terobsesi ingin langsing seperti tokoh idolanya tadi.

Akibatnya, tak sedikit yang menjalani diet ketat bahkan menolak makan hanya supaya langsing! Celakanya, anak seusia ini umumnya belum mengerti sepenuhnya dampak buruk dari program diet berlebihan, apalagi tanpa pengawasan dokter.  Padahal arti diet sesungguhnya adalah mengombinasikan makanan dan minuman dalam hidangan yang dikonsumsi sehari-hari.

Ada berbagai jenis diet.  Contohnya, diet seimbang yakni karbohidrat, protein, dan lemak terkandung di dalamnya dengan komposisi seimbang.  Diet rendah lemak, mengandung lemak dalam jumlah lebih rendah dari kebutuhan ideal.  Diet rendah kalori (biasanya diberikan untuk mereka yang sedang menurunkan berat badan).  Yaitu mengandung jumlah kalori yang lebih rendah dari kebutuhan tubuh sehari-hari.

Pada dasarnya, setiap orang disegala umur harus sesuai dengan kebutuhan tubuhnya, termasuk pada usia SD.  Karena itu penanganan sikap enggan makan akan lebih efektif jika dilakukan dengan cara memberi pengertian kepada si anak.  Tekanlah bahwa mereka sedang dalam masa pertumbuhan.  Kalau memaksa diri tidak mau makan hanya karena ingin langsing, mereka sendiri yang akan rugi.  Tubuhnya akan lemas dan cepat lelah yang bukan tidak mungkin akan berakhir di rumah sakit.  Ia juga jadi malas beraktivitas, bahkan kemampuan berkonsentrasinya terganggu.  Di sekolah, akhirnya ia tidak dapat menangkap pelajaran dengan baik dan prestasinya menurun.  Jadi, tetap lakukan pengawasan terhadap perkembangan anak dan susunlah menu bergizi seimbang.

ADA JUGA YANG DOYAN MAKAN

Diusia praremaja aktivitas fisik anak semakin meningkat.  Di samping urusan sekolah, mereka juga disibukkan dengan berbagai kegiatan ekstrakurikuler dan mulai sering ngegang dengan teman-temanya.  Semua kegiatan tadi yang melibatkan aktivitas fisik sebetulnya justru membuat anak jadi doyan makan.

Pada rentang usia ini, pertumbuhan yang dialami anak berlangsung mantap mesti tidak sepesat masa bayi atau masa pubertas.  Dengan demikian konsumsi makan yang berlebihan akan menyebabkan timbulnya kegemukan.  Padahal kegemukan yang terjadi di usia anak bakal sulit dikoreksi setelah yang bersangkutan dewasa.  Lantaran itu, pengaturan pola makan yang baik sudah harus diterapkan sejak dini.  Sementara kegemukan yang tak tertangani dan dibiarkan berlanjut kelak dapat memicu berbagai penyakit degeneratif seperti diabetes dan jantung.  Selain itu, obesitas juga dapat mengganggu citra diri.

(nakita no 318/VII/7 Mei 2005)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s