Zat Besi Cukup, Anemia Takut!

Agar si Kecil Cukup Zat Besi:

  • penuhi kebutuhan gizi si kecil dengan gizi cukup, karena kurang besi biasanya terjadi bersama dengan kurang kalori dan gizi lain.
  • waspadai kesehatan si kecil jika menunjukkan gejala anemia seperti lesu, pucat,mengeluh sering sakit kepala, pusing, sensitif, sering terkena infeksi, kuku pecah-pecah juga nafsu makan menurun.  Ajaklah untuk berkonsultasi dengan dokter Anda.
  • Jika anda tidak yakin dengan kecukupan asupan besi anak, anda bisa berkonsultasi dengan dokter apakah perlu dilakukan rangkaian tes atau pemberian suplemen besi. Jangan memberikan suplemen besi tanpa petunjuk dokter karena kalau salah dosis justru dapat membahayakan diri anak.

Belakangan ini Lina, buah hatiku yang kini menginjak usia 2 tahun terlihat kurang bergairah, wajahnya pucat, nafsu makannya juga menurun. Sedih rasanya! Padahal, anak-anak seusianya terlihat lincah bergerak kesana kemari dengan mimik yang ceria. Apakah ini pertanda si kecil terkena anemia? ’’curhat  Bunda Lina pada surat yang dilayangkan ke redaksi Mom & Kiddie. Hmm, ada apa dengan Lina? Mungkinkah ia kekurangan zat besi?

PENTINGNYA ZAT BESI

Zat besi salah satu mikronutrien penting dalam kehidupan bayi maupun anak. Pasalnya, besi penting untuk membentuk mielin, aktivitas sel saraf, membantu aktivitas berbagai enzim, dan pembentukan neurotransmiter (suatu substansi kimia membawa ‘pesan’ ke otak). Zat besi juga merupakan komponen penting dalam sintesis hemoglobin yang terdapat dalam sel darah merah, mioglobin (zat warna merah daging) serta proses-proses yang berkaitan dengan metabolisme sel.

ZAT BESI MUDAH DIDAPAT

Adapun bahan makanan yang mengandung zat besi seperti: daging sapi, ikan tuna dan salmon, putih telur, tahu, kacang-kacangan, sayuran hijau, roti gandum, sereal dengan tambahan zat besi (sebaiknya yang bahan gandum murni dan rendah gula). Perlu diketahui,  zat besi yang terdapat dalam protein hewani lebih mudah diserap tubuh ketimbang zat besi yang berasal dari tumbuh-tumbuhan.

Nah, untuk kebutuhan zat besi berdasarkan Angka Kecukupan Gizi (AKG) tahun 2004: bayi usia 0-6 bulan membutuhkan 0,5 mg per hari, bayi usia 7-12 bulan membutuhkan 7 mg per hari, sedangkan batita membutuhkan 8 mg per hari.

AKIBAT DEFISIENSI ZAT BESI

Biasanya, bayi dibawah usia setahun memenuhi kecukupan zat besinya antara lain melalui ASI yang kaya akan zat besi atau susu formula – bagi bayi yang tidak menerima ASI. Nah, begitu mereka berusia diatas i tahun, anak-anak itu bisa beresiko kekurangan zat besi  karena  kebutuhan mereka akan susu mulai berkurang, juga tidak lagi makan sereal bayi yang diperkaya zat besi. Bila kebutuhan akan zat besi tersebut tidak dipenuhi dengan mengkonsumsi makanan lain yang juga kaya akan zat besi, tentu saja tubuh lama kelamaan akan mengalami kekurangan zat besi. Jika defisiensi zat besi terjadi, maka pembentukan hemoglobin akan terhambat yang berakibat pada terhambatnya pembentukan sel darah merah hingga dapat berakibat timbulnya anemia.

Anemia biasanya ditandai dengan gejala-gejala seperti lemah atau lesu, pucat, sakit kepala, pusing,sensitif,tangan dan kaki dingin,serak,lidah meradang,mudah terkena infeksi, kuku pecah-pecah juga nafsu makan menurun. Parahnya, jika nafsu makan menurun bisa menyebabkan asupan gizi tidak mencukupi sehingga anak akan mengalami gangguan tumbuh kembang.

PENYEBAB ANEMIA

Faktor-faktor penyebab terjadinya anemia antara lain:

  • Kurangnya zat besi dalam makanan yang dikonsumsi
  • Malabsorbsi zat besi (penyerapan zat besi yang tidak optimal) akibat diare kronis, pembedahan tertentu pada saluran pencernaan lambung. Zat besi diabsorbsi dari saluran pencernaan. Sebagian besar, zat besi diabsorbsi dari usus halus bagian atas terutama duodenum. Bila terjadi gangguan saluran pencernaan, maka absorbsi zat besi dari saluran pencernaan menjadi tidak optimal. Hal itu menyebabkan kurangnya kadar zat besi dalam tubuh sehingga pembentukan sel darah merah terhambat.

AKIBAT DEFISIENSI ZAT BESI

Kecukupan zat besi jagan dipandang sebelah mata! Pasalnya,selain anemia. Defisiensi zat besi juga dapat mempengaruhi gangguan saraf seperti:

  • Gangguan pembentukan mielin
  • Anak yang mengalami gangguan mielin akan menunjukkan keterlambatan motorik, gangguan pendengaran, gangguan penglihatan.
  • Sistem saraf otonom juga terganggu sehingga anak lebih mudah mengalami stres.
  • Kurangnya neurotransmiter menyebabkan anak menjadi hiperaktif, kemampuan belajar menurun, dan keterlambatan perkembangan.
  • Bahkan, bayi yang lahir dengan cadangan besi kurang menunjukkan fungsi mental dan psikomotor yang kurang pada umur 5 tahun.

Tanpa zat besi dan sel darah merah yang cukup maka jaringan dan organ tubuh akan kekurangan oksigen dan tidak berfungsi dengan baik. Padahal, zat besi dibutuhkan untuk membentuk sel darah merah yang mengantar oksigen ke seluruh tubuh.

Dan satu hal yang perlu Moms perhatikan, jika si kecil telah didiagnosis defisiensi zat besi haruslah mendapat terapi dokter yang bersangkutan. Asupan suplemen yang berlebihan dapat bereisiko terhadap penumpukan dalam tubuh yang berdampak pada gangguan hati dan komplikasi lainnya.  Tetapi, asupan zat besi dari makanan hampir tidak pernah menimmbulkan gejala berlebihan sehingga berakibat toksik/keracunan. So, tunggu apa lagi, penuhi kecukupan zat besi si kecil, ya?

Mom & Kiddie, edisi 11 th IV (21 Des 2009 – 3 Jan 2010)

Narasumber: dr Luciana B Sutanto, MS. SpGK.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s