Pasar Malam

Pasar Malam

  • Toriq Hadad
  • Pansus Century (ilustrasi)

    Belakangan ini saya sering absen dari forum diskusi, debat, atau acara apa pun yang berbau politik. Bukan apa-apa. Sejak Pansus Century bekerja, saya sering ditanya-tanya, “Sampean ini asal Pasuruan, ya?” Setelah saya jawab, saya sudah tahu akan muncul pertanyaan susulan yang sungguh mati malas saya menjawabnya: “Pasti sampean kenal Misbakhun.”

    Ya, saya tahu Misbakhun, meskipun belum pernah bertemu. Yang saya kenal baik di lapangan sepak bola sekitar akhir tahun 1970-an adalah bapak mertuanya, seorang pegawai pabrik gula sederhana yang kini telah tiada.

    Saya pernah dua kali bicara di telepon dengan Misbakhun, jauh sebelum dia “ngetop” seperti sekarang. Saya tahu dia pernah menjadi ajudan Hadi Poernomo, bekas Dirjen Pajak yang banyak menerima hibah di daftar hartanya. Teman-teman majalah Tempo yang sempat berjumpa dengannya terkesan oleh jam tangan Rolex mahal di tangannya.

    Sahabat-sahabat saya yang tinggal di Pasuruan bercerita tentang “kreativitas” dia semasa kampanye legislatif kemarin. Dia buat stiker untuk ditempelkan di mobil: “Demi Allah, kalau saya terpilih sebagai anggota DPR, 100 persen gaji pokok akan saya serahkan pada masyarakat Pasuruan-Probolinggo.” Dalam hati, saya kagum. Strategi anggota Partai Keadilan Sejahtera ini sangat “menjual”. Pasti banyak orang kepincut. Kalau saya ketemu dia, akan saya tanya berapa sisa penghasilan yang ia nikmati. Sebab, penghasilan anggota DPR mungkin lebih dari dua kali lipat gaji pokoknya.

    Sebelum masuk Senayan, dia sukses menjadi pengusaha rumput laut. Saya tak paham kenapa ia memilih politik. Barangkali dia ingin meniru-niru pengusaha era Orde Baru: bisnis perlu ditopang koneksi politik supaya tumbuh lebih “kencang”. Padahal risikonya juga besar. Contohnya yang ia alami sekarang. Ia terseret kasus letter of credit (L/C) dari Bank Century senilai US$ 22,5 juta untuk perusahaan miliknya. Kalau terbukti L/C itu bodong, dia bisa repot. Saya dengar Jumat pekan lalu Presiden Yudhoyono pun sudah mengeluarkan instruksi agar semua urusan jahat Century dibongkar, termasuk L/C yang disangka bodong itu.

    Di keramaian rapat paripurna DPR, saya melihat Misbakhun setuju dengan opsi yang melawan partai pemerintah. Saya tak tahu apa dia juga ikut jejingkrakan, bernyanyi-nyanyi, berlarian memberikan selamat kepada anggota Dewan yang membelot dari fraksinya.

    Saya tak melihat televisi manakala anggota Dewan saling dorong, adu mulut, menyerbu meja pimpinan sidang. Tapi ada bagian sidang paripurna yang saya tonton: sering kali anggota Dewan celetak-celetuk lewat mikrofon, menyindir ketua sidang, menyindir fraksi lain, bicara apa saja, sak enak udele dhewe (yang tak bisa diterjemahkan menjadi “seenak pusar sendiri”, melainkan “seenak hati”).

    Saya ingat pasar malam di alun-alun Pasuruan, para pedagang obat saling celetuk untuk menarik perhatian. Bedanya, pedagang obat biasanya pakai kaus oblong, sedangkan yang di Senayan berjas-dasi.

    Kalau sekali waktu ketemu, saya akan bilang kepada Misbakhun untuk balik ke bisnis rumput laut saja. Koneksi politik atau cantolan orang penting tak selalu jadi resep sukses yang jitu. Pedagang baiknya tetap saja berdagang, pengacara hendaknya beperkara saja, artis lebih manfaat menghibur rakyat. Serahkan politik kepada ahlinya. Kalau semua mau jadi politikus, akibatnya seperti paripurna kemarin itu: Senayan berubah jadi pasar malam.

    (Sumber : Koran Tempo)

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s