Sisi Lain Istana

Mengapa Yudhoyono Memilih Boediono?

Oleh: J Osdar

Wakil Presiden Boediono

KOMPAS.com — Awal 2009, intelektual Muslim dari Benjeng, Lamongan, Moeslim Abdurrahman, mengatakan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan memilih Boediono menjadi wakilnya untuk pemerintahan 2009-2014. Menurut Moeslim, dibandingkan dengan beberapa orang yang diperkirakan bisa mendampingi SBY, Boediono merupakan orang paling tepat dan tangguh.

Jumat, 15 Mei 2009, malam di Gedung Sasana Budaya Institut Teknologi Bandung (ITB), SBY mengumumkan Boediono menjadi wakilnya untuk periode kedua. Ketika itu, Kang Moeslim berkata, ”Bagus, pasangan ini sulit dikalahkan.”

Boediono-SMI

Dalam pidatonya di ITB, Yudhoyono mengatakan alasannya memilih Boediono. ”Ia seorang Muslim yang lurus, jujur, sederhana, konsisten, dan toleran serta pribadi yang cerdas, ulet, keras bekerja, dan bertanggung jawab. Ia juga koordinator menteri yang utuh, loyal, cermat, dan jauh dari keinginan mencari muka. Di atas segalanya, dalam mengemban tugas, Boediono tidak memiliki konflik kepentingan, seperti bisnis dan motif politik,” kata Yudhoyono.

Saiful Mujani dari Lembaga Survei Indonesia yang sedang berada di Ohio, Amerika Serikat, Minggu subuh waktu setempat, ketika dihubungi lewat telepon mengatakan, ”SBY memilih Boediono, antara lain, karena berdasarkan survei, pasangan ini tertinggi dibandingkan pasangan SBY dengan beberapa orang lainnya.”

Ada tanya

Jumat pekan lalu, ketika menunggu selesainya sidang kabinet terbatas, di ruang jumpa pers Kantor Presiden di kompleks Istana, tiga wartawan memperdebatkan, ”Apa alasan yang tepat SBY memilihnya sebagai wakil presiden.” Perdebatan itu berkaitan dengan kasus Bank Century. Mengapa? ”Coba tanya pada pohon-pohon trembesi itu,” ujar salah seorang wartawan mengakhiri perdebatan.

Moeslim kecewa berat ketika Yudhoyono mengumumkan susunan Kabinet Indonesia Bersatu II. ”Pasangan SBY-Boediono sangat bagus, tetapi kok memilih orang-orang yang tidak pada tempatnya? Dengan kemenangan di atas 50 persen, seharusnya SBY punya kesempatan membentuk kabinet bukan pelangi, tetapi kabinet kerja,” ujar Moeslim di Warung Buncit, Jakarta Selatan, Senin (8/3/2010).

Dalam pidato tanggapan terhadap hasil Rapat Paripurna DPR atas kasus Bank Century, Yudhoyono menegaskan kembali, Boediono adalah anak bangsa yang rekam jejaknya tidak sedikit pun meninggalkan catatan buruk sampai dengan kompetensi, kapabilitas, dan kredibilitas. Namun, berbagai pihak mengatakan, pembelaan Yudhoyono terhadap Boediono terasa terlambat. Mengapa itu terjadi setelah kasus Century semakin riuh dibicarakan orang.

Senja, Minggu (28/2/2010), tiga hari setelah perayaan ulang tahunnya yang ke-67, tiga wartawan datang ke kediaman dinas Wakil Presiden Boediono di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat. Suasananya lengang. Pengawal tampak hanya beberapa orang. Di dalam rumah yang pernah menjadi wisma perusahaan minyak itu dipenuhi banyak sekali karangan bunga yang indah.

Setelah menunggu sekitar 10 menit, Boediono keluar dan menerima jabatan tangan selamat ulang tahun. Ia baru saja mandi. Mengenakan sandal. Sosok yang sederhana sekali. Melihat sosok ini, teringat oleh penulis apa yang dikatakan salah seorang inisiator hak angket kasus Century ketika datang ke Kantor Kompas di Pamerah Selatan, Jakarta Pusat.

Ketika itu berlangsung sebelum pembentukan panitia khusus disetujui. Inisiator yang ”galak” ini dengan tegas mengatakan, ”Kalau disebut bersih, sederhana, dan jujur, Pak Boed tidak diragukan….” Kelanjutan kalimat dari pernyataan sang inisiator ini banyak kata ”tetapi”.

Presiden SBY & Wapres Boediono

Ketika berbincang-bincang tentang sosok Boediono itu kemarin, Kang Moeslim berharap, pasangan SBY-Boediono melakukan perombakan kabinet. ”Cari orang yang tepat untuk kabinet. Lalu, pemerintah berani minta agar pembayaran utang luar negeri ditunda dulu. Lalu, ciptakan banyak lapangan kerja,” ujar Moeslim.

Sementara itu, sineas senior Garin Nugroho mengatakan, Boediono memang birokrat yang bersih dan sederhana. ”Tapi itu masih kurang. Perlu juga tampil sebagai politisi tangguh,” ujar Garin.

Sejak Senin malam, Presiden Yudhoyono akan melawat ke Australia dan Papua Niugini sampai dengan Jumat (12/3/2010). Boediono akan memimpin Indonesia selama empat hari.

(Sumber : Kompas)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s