Kedudukan Akal Dalam Islam (2/3)

Setelah mengetahui definisi akal, ruang lingkup dan pemuliaan Islam terhadapnya, maka pembahasan selanjutnya mulai mengarah kepada segolongan manusia yang mendewakan akal, mendudukkan akal manusia dengan kedudukan yang sangat tinggi. Siapa-siapa saja mereka ini?

4 Kelompok Rasionalis (Pendewa Akal)

Rasionalisme atau ‘Aqlaaniyyah adalah madzhab filsafat yang memandang segala sesuatu yang tunduk kepada kaidah-kaidah akal, bahkan makna-makna agama jika tidak sesuai dengan kaidah-kaidah akal harus ditolak!!6

Maka hakekat rasionalisme adalah membuang nash syar’i yang tidak sesuai dengan pandangan akal atau hawa nafsu.7

Bapak rasionalisme yang pertama kali adalah Iblis, dia mengandalkan akalnya yang memandang bahwa api lebih mulia dari tanah sehingga menolak perintah syar’i dari Allah untuk sujud kepada Adam.

Pemikiran Iblis ini kemudian diteruskan oleh para penerusnya seperti :

4.1 Kelompok Mu’tazillah

Kelompok ini adalah pioner semua kelompok rasionalis dalam Islam, mereka menjadikan akal sebagai hakim secara mutlak, mereka promosikan akal setinggi-tingginya, mereka mengatakan,

“Akal diciptakan dengan tujuan untuk mengetahui segala sesuatu, dia mampu mengetahui segala sesuatu yang terlihat dan yang tidak terlihat (?!)”

Mereka jadikan akal sebagai penentu kayakinan mereka di semua segi keyakinan mereka.

Karena itu mereka berbondong-bondong mempelajari filsafat Yunani, sekaligus mengikuti para filosof Yunani. Mereka jadikan dalil-dalil akal diatas dalil-dalil syar’i. Mereka dustakan hadits-hadits yang tidak sesuai dengan akal, walaupun hadits-hadits itu shahih! Mereka takwil ayat-ayat yang tidak mencocoki dengan pemikiran mereka, meskipun ayat-ayat itu sangat jelas!, bahkan mereka berusaha menyeret ibarat-ibarat dan tafsir-tafsir Al Qur’an kepada pemikiran mereka.8

Inilah beberapa perkataan gembong-gembong mereka :

Al Qodhi Abdul Jabbar menyebutkan urutan dalil-dalil syar’i menurutnya,

”Yang pertama adalah akal, karena dengannya bisa dibedakan baik dan buruk, dan dengan akallah bahwa kitab adalah hujjah, demikian juga Sunnah dan Ijma’(!!)9

Amr bin Ubaid menyebut hadits Shadiqul Mashduq dan berkomentar,

”Seandainya aku mendengar hadits ini langsung dari A’masy, pasti aku akan dustakan, seandainya aku mendengar dari Rasulullah mengatakannya pasti akan aku tolak! dan seandainya aku mendengar Allah mengatakannya maka akan aku katakan,’Bukan atas ini Engkau mengambil mitsaq (perjanjian) dari kami”!!!

Kami (penulis artikel ini -red. vbaitullah) katakan,” Sesungguhnya ini kesesatan dan kekufuran yang nyata…”

Az Zamakhsyari berkata,

”Berjalanlah dalam agamamu dibawah panji akal, jangan engkau cukup dengan riwayat dari fulan dan fulan!“10

4.2 Kelompok Asy’ariyyah

Kelompok ini tidak berbeda dengan kelompok Mu’tazilah, hanya saja ibarat mereka lebih samar, mereka ini disebut oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah sebagai Makhanits Mu’tazilah “bancinya kelompok mu’tazilah.11

Inilah beberapa perkataan dari gembong-gembong mereka :

1.       Fakhrur Razy berkata,

”Akal adalah landasan naql (dalil syar’i), maka mencela akal untuk membenarkan naql akan membawa pencelaan kepada akal dan naql sekaligus dan ini adalah bathil!”12

2.       Adhudhin Al Lijy berkata,

”Mendahulukan naql diatas akal adalah bathil…”13

Demikianlah ibarat-ibarat mereka menunjukan bahwa sumber pengambilan ilmu menurut kelompok Asy’ariyyah adalah akal.14

4.3 Kelompok Rasionalis Gaya Baru (Pengekor Mu’tazilah)

Mereka adalah gabungan dari aneka ragam pemikiran-pemikiran, diantara mer eka ada yang disebut pemikir muslim(!), ada yang disebut cendekiawan muslim(!), dan ada yang sekadar tukang tulis dan tukang omong dimedia massa!!

Inilah ibarat-ibarat mereka :

1.       Muhammad Abduh berkata,

”Telah sepakat kelompok-kelompoak islam kecuali sedikit dari orang-orang yang tidak dianggap perkataannya bahwa jika terjadi pertentangan antara akal dan naql maka apa yang diambil apa yang ditunjukkan oleh akal”!!!15

2.       Seorang wartawan yang menganggap dirinya cendekiawan muslim bernama Fahmi Huwaidi menulis sebuah ulasan yang berjudul para penyembah berhala adalah para penyembah nash-nash syar’i, dia katakan bahwa usaha pembekuan akal di depan nash menurut ungkapannya adalah

“Paganisme (penyembahan kepada berhala) gaya baru, karena paganisme tidak hanya menyembah kepada berhala saja, karena ini bentuk paganisme gaya lampau, tetapi paganisme gaya sekarang adalah penyembahan kepada nash-nash syar’i!”16

3.       Muhammad al Ghazaly berkata,

”Hendaknya kita mengetahui bahwa apa saja yang dihukumi bathil oleh akal mustahil kalau dia itu adalah agama… Agama yang benar adalah kemanusiaan yang benar, sedangkan kemanusiaan yang benar adalah akal yang menentukan suatu hakekat… tidak henti-hentinya kita tegaskan bahwa setiap hukum yang ditolak oleh akal… mustahil kalau dia itu adalah agama“(!!)17

Karena inilah kita melihat Muhammad Al Ghazaly begitu berani menolak banyak sekali hadits hadits yang shahih karena tidak mencocoki akalnya, seperti hadits Musa yang menempeleng malaikat maut, hadits sholatnya wanita dimasjid, hadits mayit diadzab karena tangis keluarganya, dan masih banyak lagi yang lainnya. Untuk melihat bantahan kepada Al ghazaly dalam masalah ini bisa dilihat kitab Syaikhuna Al Allamah Rabi’ bin Hadi Al Madkhaly yang berjudul Kasyfu Mauqif Al Ghazaly minass Sunnati wa Ahliha.

4.       Hasan At Turaby As Sudany berkata,

”Adapun rujukan yang wajib bagi kita anggap sebagai rujukan pokok maka adalah akal….”18

Dengan bimbingan akalnya maka dia berkata,

”Boleh bagi seorang muslim sebagaimana seorang masehi untuk mengganti agamanya”19

Dengan akalnya pula ia ingkari hukum rajam kepada pezina dan hukum dera kepada peminum khamr.20

5.       Yusuf Qardhawy tidak berbeda jauh dengan Muhammad Al Ghazaly, dia merasa heran kepada orang-orang yang selalu menyebutkan kepada khalayak ramai hadits lalat (yang shahih) atau hadits (shahih) tentang Musa yang menempeleng malaikat maut…21

Di lain waktu dengan lantang dia berkata,

”Kami tidak memerangi orang-orang Yahudi dengan landasan aqidah tetapi karena masalah tanah, kami tidak memerangi mereka karena kekafiran mereka, tetapi kami memerangi mereka karena mereka merampas tanah-tanah kami…”22


Catatan Kaki

6 Mu’jam Musthalahat Ilmiyyah, Yusuf Khoyyath.

7 Fi Fiqh Waqi’, Abdus-salam Baisuny, hal. 29.

8 Manhaj Madrasah Aqliyyah Hadiitsah fi tafsir, Fahd Ar Rumy, hal. 53-54.

9 Fadhlul I’tizal, hal. 139).

10 Athwaqu Dzahab fil Mawa’izh wal khuthub, hal. 28.

11 Majmu Fatawa, 6/359.

12 Asasut Taqdis, hal. 221.

13 Mawaqif fi Ilmi kalam, hal. 40.

14 Al Aqlaniyyun, hal. 60.

15 Islam dan Nasraniyyah, hal. 59.

16 Majalah Araby, Edisi 235, hal. 34 kanon kedua 1978.

…“(!!)17 Majalah Dauhah, Qathar, Edisi 101 Rajab 1404 H.

18 Tajd Fikr Islamy, Hal. 26.

19 Ceramah dengan judul Tahkim Syari’at, sebagaimana dalamSharim Maslul ala at Turaby Syatimir Rasul, hal.12.

20 Sharim Maslul ala At Turaby Syatimir Rasul, hal. 12.

21 Kaifa Nata’amalu ma’a Sunnah Nabawiyyahm, hal. 86.

22 Wawancara dengan koran Rayah Qathar Edisi 4696, 24 Sya’ban 1415 H.

(Sumber : Blog Vila baitullah)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s