Nyepi

Nyepi

Penulis : Putu Setia


(ilustrasi : Pura)

Dua hari lagi umat Hindu di Indonesia merayakan Hari Raya Nyepi, tahun baru Saka 1932. Atas nama toleransi, kebinekaan, dan persaudaraan, hari itu dinyatakan sebagai hari libur nasional. Senin besok boleh disebut harpitnas–hari kejepit nasional.

Selamat bagi Anda yang tidak merayakan Nyepi, karena libur jadi panjang. Bagi Anda yang merayakannya, bersiaplah menjalani pantangan di hari itu, agar renungan Anda tentang kehidupan ini lebih tuntas. Ada atau tidak ucapan selamat, Nyepi harus dimaknai sebagai beban, bagaimana kita melakukan introspeksi untuk memperbaiki hidup. Ucapan selamat kadang menimbulkan salah paham, meskipun lucu.

Ada kisah lama, merayakan Nyepi di Jakarta yang riuh. Pintu pagar sudah tertutup ketika siang itu ada yang mengetok, ternyata seorang kawan, pimpinan media massa terkenal. Ia bersama istri dan dua anak yang masih kecil. “Selamat Hari Raya Nyepi, saya baru sadar setelah menonton televisi semalam, ada pidato dari Menteri Agama yang menyampaikan ucapan selamat,” kata kawan itu. Karena langkah kakinya sudah menuju kamar tamu, saya tak bisa berbuat apa-apa.

Kami ngobrol panjang sebelum diakhiri karena ada “insiden”, sang anak menangis. “Haus?” tanya ibunya. Anak itu mengangguk. Terpaksalah dengan memakai kata-kata yang tak membuat teman tersinggung, saya jelaskan bahwa di rumah ini tak ada makanan dan minuman, karena kami puasa total. Teman saya kaget. Dan beberapa hari kemudian dia menelepon meminta maaf, “Saya baru tahu kalau menerima tamu pun tak boleh. Jadi, saya mengganggu, ya?” Saya tertawa untuk menyenangkannya.

(ilustrasi : Suasana di Pura)

Nyepi di Bali memang sangat sepi. Semua orang, apa pun agamanya, dilarang ke jalan umum. Listrik tak boleh menyala, kecuali keluarga itu punya bayi atau orang sakit yang diberi penerangan terbatas. Dulu, listrik dimatikan dari gardu. Belakangan tidak, karena orang memprotes, listrik tak hanya alat penerang, tetapi energi peralatan modern.

Saya pernah mengusulkan ide–ada yang menyebutnya ide gila–membebaskan orang non-Hindu di Bali melakukan kegiatan apa pun saat Nyepi. Alasan saya sebenarnya bukan hanya toleransi atau menghormati perbedaan, tetapi “sangat religius”, yakni pengendalian diri itu tak harus dipaksakan oleh pihak luar, apalagi oleh negara. Pengendalian diri harus muncul dari dalam diri sendiri. Ternyata yang keberatan juga tokoh-tokoh Islam dan Protestan. Mereka mengaku senang, toh setahun sekali, apalagi dengan alasan mengurangi polusi udara. Mereka menyebut, semangat Nyepi menular ke berbagai kota besar dengan adanya bebas kendaraan bermotor pada hari tertentu. Udara menjadi bersih.

Tentu saja sejarah awal adanya Nyepi bukan untuk membersihkan udara, melainkan membersihkan diri. Lewat perenungan intens itu kita jadi tahu apa yang salah selama ini dan bagaimana memperbaikinya di hari mendatang. Nyepi ibarat kembali ke titik nol.

Semua orang menunggu dan memerlukan saat seperti itu, saat jeda untuk introspeksi. Para wakil rakyat di Senayan, misalnya, perlu merenung apa sudah pantas meneriakkan kebenaran dan kejujuran kalau lembaga itu tetap menjadi lembaga terkorup. Pimpinan partai yang berkoalisi perlu merenung apa tak malu hanya menuntut hak (meminta jatah menteri), sementara kewajibannya membantu pemerintahan tak dijalankan, justru pemerintah digerogoti. Para mahasiswa yang anarkistis perlu memahami, ulahnya yang merusak fasilitas umum sangat menyakiti rakyat. Mari kita introspeksi–cukup sehari saja–siapa tahu ada titik cahaya terang esok hari, untuk Indonesia yang lebih baik.
(Sumber :  tempointeraktif.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s