Menunggu Obama

Penulis : Putu Setia

Sabtu, 20 Maret 2010

(Ilustrasi : Barrack Obama, Presiden Amerika Serikat)

Presiden Amerika Serikat Barack Obama batal berkunjung bulan ini. Teman saya marah. “Rasanya saya ingin demo untuk menuntut agar Obama tetap datang,” katanya. Ia menyebutkan, alasan pembatalan itu, soal rancangan undang-undang mengenai reformasi kesehatan, sesuatu yang remeh-temeh.

Saya bertanya, apa pentingnya Obama datang? “Sangat penting, supaya saya bisa melakukan aksi unjuk rasa menolak kedatangannya. Saya sudah siapkan beberapa orang yang ikut aksi,” jawabnya.

Saya makin tak paham: “Kamu ini sebenarnya mengharap Obama datang atau tidak?” Teman saya menjawab: “Mengharap Obama datang, sehingga saya bisa melakukan aksi unjuk rasa menolak kedatangannya.” Tak takut dengan pengamanan yang superketat itu? “Ya, aksinya agak jauhlah. Asal pandai memanfaatkan situasi, misalnya adu dorong sedikit dengan polisi, pasti diliput televisi. Televisi kita kan senang dengan liputan begini.”

Saya mulai bingung: “Kalau kamu menolak kedatangan Obama, mestinya kamu senang dong Obama tak jadi datang.” Teman saya tertawa: “Anda ini bagaimana, sih? Kalau Obama tak datang, bagaimana saya bisa melakukan aksi menolak kedatangannya? Saya ini koordinator lapangan aksi demo yang sudah berpengalaman, banyak orang yang mencari-cari saya.”

Saya mulai paham dan tak berani lagi bertanya. Ini masalah sensitif. Mungkin kawan saya tergolong “mardem”–makelar demo. Namun, ada yang saya renungkan dari ucapan teman ini, yaitu alasan Obama menunda kedatangannya ke Indonesia karena kasus remeh-temeh–untuk ukuran Indonesia.

Pertanyaannya, apa betul Amerika Serikat negara adidaya? Tidakkah pemerintah Indonesia lebih “berdaya”? Mari bandingkan. Hanya karena rancangan undang-undang kesehatan yang sulit diloloskan parlemen, Obama menunda lawatannya ke luar negeri. Di Indonesia, rancangan undang-undang kesehatan sama sekali tak jadi masalah. Bahkan rancangan itu tiba-tiba saja sudah disetujui parlemen tanpa banyak perdebatan. Rakyat seperti sengaja tak boleh tahu, apalagi berkomentar. Lalu, setelah disahkan parlemen, undang-undang itu pun masih dipreteli pasal-pasalnya oleh beberapa anggota DPR. Anehnya, kasusnya baru ketahuan sekarang, dan baru pekan lalu dilaporkan ke polisi. Hebat kan pemerintah Indonesia? Tak ada satu pun pemimpinnya yang gusar. Semuanya tenang. Parlemen pun superhebat, pasal undang-undang bisa dipreteli di luar sidang, mungkin di restoran mahal bersama para “pemesan”. Di negeri lain mana ada kasus begini?

Berbagai krisis dialami Indonesia, pemimpinnya tetap saja pergi kalau memang jadwalnya pergi. Bukankah ketika bailout Bank Century dilakukan, Presiden Indonesia sedang ada di Negeri Abang Sam? Ketika kasus Bank Century diramaikan oleh Panitia Khusus, Presiden Indonesia pun melawat ke Australia. Tak ada yang mesti ditakuti. Kenapa Obama takut meninggalkan negerinya hanya lantaran sebuah rancangan undang-undang yang alot untuk disahkan?

Obama terlalu memikirkan rakyatnya. “Tugas saya sebagai Presiden Amerika adalah memastikan rakyat Amerika menikmati biaya kesehatan murah,” katanya. Di Indonesia, biaya kesehatan murah sudah lama ada di puskesmas, obat racikan yang cespleng untuk “segala jenis penyakit”. Kalaupun ada pasien miskin dirujuk ke rumah sakit, pengelola rumah sakit dengan baik hati membiarkan pasien itu tetap tinggal di rumah sakit, meskipun telah dinyatakan sembuh, sebelum keluarganya melunasi “biaya administrasi”.

Rakyat Indonesia layak menunggu Obama, untuk belajar bagaimana menjadi pemimpin yang mau mengurusi hal remeh-temeh.

(Sumber : (http://www.tempointeraktif.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s