JIHAD KEMERDEKAAN UNTUK KEJAYAAN INDONESIA

TARBIYAH OF RAMADHAN – TOR (seri ke-11)
Senin, 15 Agustus 2011
Oleh Muhammad Muhtar Arifin Sholeh

A’uudzubillaahi minash-shaithaanir-rajiim
Bismillaahirrahmaanirrahiim

JIHAD KEMERDEKAAN UNTUK KEJAYAAN INDONESIA

Makna Jihad dan Kemerdekaan

What is Jihad?  Kata “jihaad” berasal dari kata Arab: Jahada  – yujaahidu – jihaadan, yang berarti to strive, to struggle, to exert oneself. Jihad, pada intinya, adalah berusaha atau berjuang keras untuk melakukan suatu kebaikan (misalnya, mengamalkan ajaran agama, belajar, dsb.) atau melawan kebathilan. Jihad tidak lepas dari tantangan, cobaan, atau hambatan.
Dalam suatu sumber, makna kata “jihad” disebutkan sebagai berikut:
The word Jihad stems from the Arabic root word J-H-D, which means “strive.” Other words derived from this root include “effort,” “labor,” and “fatigue.” Essentially Jihad is an effort to practice religion in the face of oppression and persecution. The effort may come in fighting the evil in your own heart, or in standing up to a dictator. Military effort is included as an option, but as a last resort and not “to spread Islam by the sword” as the stereotype would have one believe. (Sumber:  http://islam.about.com/od/jihad/f/jihad.htm )

Jihad dibagi menjadi dua, yaitu:

 

  1. Jihaadul-akbar (Jihaadun-nafs, berjuang memerangi hawa nafsu manusia, pengendalian hawa nafsu)

 

  1. Jihaadul-ash-ghar (selain di atas, yaitu, jihaadul-fikr / ijtihaad / jihaadul-’ilm, jihaadul-’amal, jihaadul-maal).

Dalam Kamus Indonesia-Inggris, kata ”merdeka” diartikan sebagai free (bebas), independent (berdiri sendiri), atau liberated / liberation (terbebaskan/kebebasan). Dengan demikian, ”merdeka” diartikan bebas (tidak terikat) dari sesuatu (manusia atau bukan manusia) sehingga diharapkan menjadi mandiri (berdiri sendiri). Ensiklopedi Wikipedia merujuk kata liberation terhadap kata liberty yang diartikan sebagai the condition in which an individual has the ability to act according to his or her own will (lihat di http://en.wikipedia.org/wiki/Liberation). Lebih lanjut ditulis:
Liberty is a concept of political philosophy and identifies the condition in which an individual has the right to act according to his or her own will. Individualist and classical liberal conceptions of liberty relate to the freedom of the individual from outside compulsion or coercion (lihat di http://en.wikipedia.org/wiki/Liberty).

Jadi, “merdeka” itu suatu kondisi di mana seseorang (atau sebuah Negara) yang mempunyai hak untuk melakukan sesuatu (misalnya mengatur kehidupannya) sesuai maunya sendiri tanpa tekanan atau paksaan dari luar dirinya. Merdeka dalam konteks 17 Agustus (1945) lebih diartikan bebas dari penjajahan negara lain (Merdeka dalam konteks politik).

Apakah makna “merdeka” (free, liberation) seperti itu benar-benar terwujud? Pada hakekatnya makna tersebut tidak akan terwujud karena manusia yang hidup di dunia ini, kapan saja, selalu terkait dan terikat dengan Tuhan, orang lain, negara lain, hukum, aturan, norma, dan sebagainya. Jika manusia memaksa untuk mewujudkan makna tersebut, memaksa untuk masuk ke aliran liberalisme, maka kehidupan manusia akan dibanjiri dengan konflik, karena masing-masing manusia (atau Negara) berhak mengatur sendiri-sendiri sehingga sering saling berbenturan. Bahkan, jika liberalisme digabung dengan rasionalisme, kapitalisme, dan materialisme, maka konflik dan problem hidup selalu muncul bagai air bah yang tidak dapat dibendung. Realitas kehidupan sudah membuktikan hal tersebut, seperti penjajahan, perang, sengketa, dominasi pihak asing, hutang-piutang, penindasan, eksploitasi, dan sebagainya.

Liberalisme akan menghasilkan konflik, sifat otoriter, penindasan, dan akibat buruk lainnya. Liberalisme ekonomi akan menghasilkan kemiskinan yang melimpah-ruah. Liberalisme agama akan menghasilkan orang-orang fasik dan munafik. Liberalisme pendidikan akan menghasilkan sekolah atau universitas yang berbiaya sangat tinggi. Liberalisme politik akan menghasilkan pemimpin yang egois, korup dan otoriter. Liberalisme moral akan menghasilkan kemaksiatan yang meraja-lela.

Dalam suatu pidato, Proklamator Ir. Soekarno menyatakan:

Saudara saudara, apakah yang dinamakan merdeka?” tanya Soekarno berapi-api di hadapan 30 orang lebih anggota Badan Pemeriksa Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Lalu, Soekarno menjawabnya sendiri. ”Tak lain tak bukan ialah suatu jembatan, satu jembatan emas–di seberangnya jembatan itulah kita sempurnakan kita punya masyarakat– di seberang jembatan emas inilah, baru kita leluasa menyusun masyarakat Indonesia merdeka yang gagah, kuat, sehat, kekal, dan abadi.” (Sumber: Republika Online, Selasa 18 Agustus 2009).

Islam mengajarkan bahwa orang yang merdeka adalah orang yang bertaqwa kepada Allah, orang yang senantiasa menjaga diri untuk tetap bertauhid kepada Allah, tetap tunduk patuh kepada Allah, tetap di jalan Allah, tetap berniat karena Allah, dan tetap bertujuan mencapai ridho Allah. Dia sama sekali tidak terbelenggu oleh manusia dan tidak terjerat oleh kehidupan dunia. Dia bebas; hanya Allah yang mengatur dia dan menentukan nasib hidupnya. Orang yang merdeka adalah orang yang hanya Allah Ta’ala yang mengaturnya, jika ada aturan manusia maka aturan itu harus sesuai dengan kemauan Allah Malikin-naas.

Bagi orang yang bertaqwa ikatan pada Allah Ta’ala merupakan ikatan terbesar yang harus mewarnai, menjiwai, dan merefleksi ikatan-ikatan yang lain. Dengan kata lain, ikatan apapun (ikatan orang lain, negara, hukum, aturan, norma, dan sebagainya) harus dilakukan dalam kerangka ikatan kepada Allah swt, dengan motivasi karena ikatan kepada Allah swt. Jadi, pada hakekatnya ikatan itu hanya satu, yaitu ikatan kepada Allah swt, sedangkan ikatan-ikatan lain hanyalah di dalam kerangka ikatan kepada Allah swt. Inilah teori tauhid tentang kemerdekaan, yaitu bertaqwa kepada Allah swt, menjadikan Allah swt dan Rasul-Nya menjadi pertimbangan utama dalam kehidupan dunia.

Jadi, “Jihaad kemerdekaan” adalah berjuang atau berusaha keras untuk mengisi kemerdekaan Indonesia dengan jalan TAQWA, karena Indonesia adalah negara yang berlandaskan kepada Ketuhanan yang Maha Esa yang merefleksi pada kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial. Kemerdekaan adalah “jembatan emas” untuk menuju ke “masyarakat emas” (kejayaan Indonesia)

Mengapa melakukan “jihad kemerdekaan”? Hal ini karena manusia itu “Abdullah” dan “Khalifatullah”, karena kita menjadi warga negara Indonesia, dan karena di Indonesia masih banyak problem hidup (kependudukan, ekonomi, pendidikan, politik, kesehatan, dsb-dsb.). Semua alasan tersebut harus dibungkus dalam alasan karena Allah semata. Sedangkan tujuan “jihad kemerdekaan” adalah untuk mewujudkan Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafuur (Negara baik yang diampuni Tuhan).Siapa yang melakukan jihad kemerdekaan ? Seluruh warga bangsa Indonesia (rakyat, wakil rakyat, dan pejabat pemerintah). Kapan itu dilakukan? Sejak merdeka 17 Agustus 1945, sekarang, sampai nanti hari kiamat. Di Mana dilakukan? Di seluruh wilayah Indonesia; desa atau kota, seluruh pulau besar atau kecil, merata semua penjuru tanah air.

Langkah-langkah “Jihaad Kemerdekaan”:

  1. Seluruh warga bangsa harus benar-benar memahami dan mengamalkan ajaran agama masing-masing, sehingga menjadi taqwa.
  2. Warga bangsa melaksanakan tugas kewajiban masing-masing dengan sebaik-baiknya.
  1. Pembinaan sumber daya manusia (SDM), sehingga menjadi manusia yg bertaqwa, berakhlak mulia, berilmu tinggi, dan terampil.
  2. Oleh karena itu, program pembangunan di bidang pendidikan menjadi prioritas utama, baik SDM, lembaga, maupun sarananya.
  3. Sekolah, keluarga, dan masyaraat harus berkerja sama dengan baik agar dapat mempersapkan anak-anak bangsa yang maju.
  4. Kemandirian ekonomi harus dibangun. Indonesia harus berani mulai mengurangi dan kemudian memutus ketergantungan pengelolaan kekayaan alam oleh “pihak asing”, untuk dikelola sendiri. Impor hasil bumi harus dikurangi, lalu dihentikan.
  5. Indonesia perlu lebih tegas terhadap “kapitalisme internasional”, sehingga bisa terbebas dari “eksploitasi pihak asing” dalam bentuk hutang dan explorasi kekayan alam.
  6. Hendaknya pemerintah bersama seluruh rakyat bahu membahu untuk ‘amar ma’ruf nahi munkar (mengajak ke kebaikan, mencegah kenungkaran)

 

Wallaahu a’lam bish-shawwab,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s