DUDUK PERKARANYA atau Duduknya Perkara

Oleh : Sutono Joyosuparto

Keluarga
Seorang kepala keluarga akan berbuat apapun, bahkan korupsi atau perbuatan buruk lainnya, agar bisa memenuhi kebutuhan keluarganya, tanpa menyadari bahwa dia dengan begitu membawa api neraka ke rumahnya. Tapi jaman sekarang ini, tanpa kita melakukan hal burukpun, bahan neraka itu datang sendiri ke dalam rumah. Hah?
Para kakek kita dulu tidak menghadapi situasi seperti yang kita rasakan sekarang. Mereka umumnya masih menikmati sepenuhnya fungsi sebagai kepala keluarga. Dan apakah sesungguhnya fungsi kepala keluarga?

Lingkaran Al Haqq

Untuk memahami fungsi itu, perlu kita membahas sedikit suatu cara untuk menjelaskan makna kuasa Allah, yang secara rumit diungkapkan oleh Ibnu Arabi dalam bentuk lingkaran, The Sufi Enneagram.
Suatu bentuk lingkaran tidak mungkin ada, jika tidak ada titik pusatnya. Hal ini bisa kita amati ketika kita menggambar lingkaran dengan jangka. Kita tetapkan dulu Titik Pusat nya, baru Keliling nya itu dibuat. Artinya titik titik di garis keliling itu tidak mungkin berwujud tanpa adanya Titik Pusat tersebut terlebih dulu. Titik Pusat inilah al Haqqu dan seluruh titik titik. di garis keliling adalah makhluq ciptaan Nya. Setiap titik memiliki hukum yang ditetapkan Pusat baginya, yang harus dijalaninya agar bisa tetap menjadi titik di garis Keliling itu. Jadi The Original Circle (Lingkaran Al Haqqu) menggambarkan hubungan yang khas yang menunjukkan posisi The Center (Pusat) terhadap The Perimeter (Keliling), atau sebaliknya The Perimeter terhadap The Center. Dan garis lurus yang menghubungkan Titik di Pinggiran Itu ke Pusat Itu adalah Jalan atau Thariqat yang harus dilaluinya untuk kembali kepada Pusat Itu. Pusat berkuasa penuh atas Keliling dan Keliling bergantung penuh kepada Pusat tentang keberadaan mereka, kehidupan mereka dan apapun yang terkait dengan mereka.
Lingkaran Turunan : Lingkaran Kebaikan/Lingkaran Rahmat


Allah menugaskan Nabi Muhammad s.a.w. sebagai Rahmat untuk seluruh Alam Semesta. Dengan sendirinya beliau s.a.w diberi wewenang untuk membentuk Lingkaran Rahmat (Kebaikan) guna menampung ummatnya agar dapat membimbing mereka kepada jalan lurus thariqat kembali ke Hadhirat Allah dengan selamat dan gemilang. Anggota Keliling dari Lingkaran Rahmat ini adalah mereka yang sudah dapat menghadirkan pengikutnya ke Hadhirat Nabi s.a.w.. Secara populer mereka disebut Majelis Dzikir.

 

Lingkaran Tiruan

Allah mengispirasikan bentuk hubungan seperti ini kepada manusia dalam mewujukan sebuah organisasi kekuasaan atas wilayah, kekuasaan atas harta/modal dan kekuasaan atas ilmu untuk diterapkan dalam kehidupan keseharian mereka. Ada beberapa bentuk Lingkaran Tiruan.

 Ini Lingkaran buatan manusia.

1.    Lingkaran Kekuasaan Atas Wilayah : Raja dan Kerajaannya, Penyelenggara Negara dengan Negara Demokrasi nya (meliputi juga Wilayah Propinsi, Kabupaten, Wilayah Kota, Kecamatan, Kelurahan, RW, RT).

2.    Lingkaran Kekuasaan Atas Harta : ini adalah Lingkaran Tiruan yang dimodifikasi. Dalam hal ini Pusat nya boleh jadi Pemilik Perusahaan yang berada di luar Lingkaran Tiruan itu. Pemilik Perusahaan menunjuk para profesional untuk melakukan tugas Pusat mewakili para Pemilik Perusahaan.

3.    Lingkaran Kekuasaan Atas Ilmu atau Jasa Soft Ware: berbagai institusi pendidikan, organisasi penelitian, juga Yayasan, Organisasi Politik, dan Organisasi Tanpa Bentuk.

Lingkaran Khas/Khusus

Lingkaran yang dimaksud disini adalah keluarga, yang didesain Allah khusus agar pasangan suami isteri dapat membina keluarga untuk membesarkan anak anak shalih dan shaliha. Dianggap (asumsi) calon pasangan tersebut telah dibesarkan orang tua mereka masing masing secara benar, sehingga mereka sendiri pun adalah shalih dan shaliha. Jadi diharapkan Keluarga adalah satuan Lingkaran Terkecil sebagai benteng yang tidak dapat disentuh iblis. Iblis memang diijinkan Allah menggoda dan menyeret manusia bersamanya ke neraka, kecuali orang mukhlish, yang tidak boleh disentuhnya. Lingkaran Khas ini diharapkan menjadi tempat perlindungan anak anak manusia yang tumbuh menjadi dewasa terhadap gangguan dan serbuan iblis.

Lingkaran Setan

Tentu saja iblis tahu tentang konsep Lingkaran ini, baik Lingkaran Sejati di mana Pusat nya adalah al Haqqu dan Keliling adalah ciptaan, maupun berbagai bentuk Lingkaran Lingkaran Tiruan itu. Tentu saja untuk tujuan fungsi dia sebagai musuh manusia, iblis tahu bahwa untuk menguasai manusia secara cepat dan efektif harus dikuasai dulu berbagai bentuk Pusat Tiruan yang ada. Maka dia pun membentuk Lingkaran Setan, satu lingkaran khayal/imaginer yang mengorganisir bala tentaranya melalui pengaruh pada pikiran mereka. Bala tentara iblis adalah orang orang yang duduk di Pusat yang pikiran/qalbunya sudah dikuasai iblis. Dari sinilah budaya korupsi dan bentuk kejahatan lainnya mudah meraja lela, di semua lapisan sosial masyarakat.

Siapakah Iblis Itu?

Sebelum Nabi Adam a.s. diciptakan, iblis sudah malang melintang di alam semesta ini sebagai satu makhluq yang paling menonjol menunjukkan kesetiaannya dalam mengabdi kepada Allah.Tidak ada satu titikpun di alam semesta ini yang belum dipakai iblis sujud kepada Allah. Sungguh tinggi tingkat tawhidnya dan tinggi kemampuannya.

Kemudian Allah menciptakan Nabi Adam a.s., lalu Dia S.W.T. mengumpulkan seluruh ciptaan Nya untuk mendengar dan menyaksikan pernyataan Nya bahwa Dia berniat mengangkat Nabi Adam a.s. dan keturunannya sebagai wakil Nya untuk mengelola dan memakmurkan bumi. Untuk menghormati putusan Nya itu, Allah menyuruh seluruh hadirin untuk bersujud kepada Nabi Adam a.s.
Semua sujud, kecuali iblis. Mendengar perintah sujud itu, iblis pun segera melakukan evaluasi terhadap Nabi Adam a.s., termasuk memasuki raganya dan tidak menemukan apapun yang istimewa. Melihat iblis membangkang terhadap perintah Nya, Allah bertanya kepada iblis: “Kamu membangkang terhadap perintah Ku?” Iblis menjawab : ”Dia tidak pantas saya sujudi. Dia hanya dibuat dari tanah liat, sedang saya Engkau ciptakan dari api. Jadi saya lebih mulia dari padanya.”
Maka dikutuk Allah dan diusirlah iblis keluar dari surga. Namun sebelum keluar surga iblis masih sempat membujuk Nabi Adam a.s., sehingga dia ketularan penyakit iblis, membangkang. Membangkang terhadap perintah Allah untuk tidak mendekati pohon Tin. Maka Nabi Adam a.s. dan isterinya Siti Hawa pun diusir dari surga. Berbeda dari iblis yang tidak mohon ampun kepada Allah atas dosa pembangkangannya, maka Nabi Adam a.s. memohon ampun dan dia sampai di bumi dalam keadaan bebas dari dosa, karena telah diterima permohonan ampunnya.
Tambahan Info Tentang Iblis
Rupanya setelah dikutuk dan diusir dari surga, iblis juga dipenjara dalam tubuh seekor ular di dalam Gua Tsur. Rupanya tugas menggoda manusia diserahkan kepada anak buah atau bala tentaranya yang sudah terbentuk sebelum dia dikutuk.

Ketika Nabi Muhammad s.a.w. dan shabatnya, Abubakar Shiddiq r.a., hijrah dari Mekah ke Madinah, mereka mengambil jalan memutar untuk mengelabui para pengejarnya. Menjelang malam mereka melihat sebuah gua, Gua Tsur, maka mereka memilih untuk memasuki gua itu dan beristirahat. Sebagai seorang yang sudah berpengalaman melakukan perjalanan di gurun, Abubakar r.a. tahu bahwa gua seperti itu mungkin dihuni ular. Maka untuk melindungi Nabi nya, dia mendahului masuk. Dan ketika dilihatnya ada lubang seperti sarang ular, maka ditaruhnya salah satu tumitnya di mulut lubang itu, baru dia mengundang Nabi s.a.w. masuk.
Dia lalu duduk sambil tetap menaruh tumit di lubang ular. Karena kelelahan Nabi s.a.w. tertidur sambil meletakkan kepalanya di pangkuan Abubakar r.a. Rupanya memang itu lubang ular, karena sesaat kemjudian Abubakar merasa ada gigitan ular terhadap tumitnya itu. Saking sakitnya, air matanya meleleh keluar tanpa berani mengganggu tidur Nabi s.a.w.. Karena merasa ada tetesan air yang jatuh ke pipinya, yaitu air mata Abubakar r.a., Nabi s.a.w. pun terbangun. Ketika melihat shahabatnya itu meringis menahan sakit dan terlihat tumit dan betisnya mulai membengkak karena racun ular, maka diangkatlah tumit Abubakar dari lubang itu.

Lalu terlihatlah ada seekor ular sedang menanamkan taringnya ke tumit shahabatnya itu. Ditepisnya kepala ular itu sambil menghardik :”Beraninya kamu menggigit shahabatku ini, sedangkan api neraka saja tak berani menyentuh dia.” Eh rupanya ular itu mengerti bahasa manusia dan menjawab :”Salah dia mengapa dia menghalangi pandanganku. Saya sudah menunggu untuk melihat wajahmu selama ribuan tahun, karena saya telah mendengar tentang engkau, eh ketika saatnya tiba, dia malah menutupi pandangan ku.”

Nabi berkata:“Baiklah, ini wajahku. Pandanglah sepuasmu!” Sesaat kemudian, setelah puas memandang wajah Nabi s.a.w., ular itu menjadi lunglai lalu mati. Dan keluarlah iblis dari penjara badan ular itu, sambil berkata di dalam hati:”Nah kalau ini memang pantas saya bersujud kepadanya.” Dan diapun menjadi memahami fungsinya sebagai sparring partner bani Adam a.s..

Allah memang menghendaki bani Adam yang mengarungi laut kehidupan harus bisa mengatasi godaan iblis untuk memperagakan kesetiannya kepada Nya. Seperti layaknya pelatih petinju yang melatih jagonya dengan memilih sparring partner yang tangguh, agar jagonya memang betul jagoan yang bisa dibanggakan. Atas pengakuannya (tentang Nabi s.a.w.) itu, Allah S.W.T. menambah fasilitas iblis : setiap kali ada manusia yang bisa dia bujuk untuk mengikuti jalannya, maka maqam negatif nya meningkat, demikian juga ukuran dirinya. Maka dia bertekad untuk mencari mangsa sebanyak banyaknya, supaya badannya menjadi begitu besar sampai mengisi seluruh ruang neraka, sehingga tidak ada lagi ruang tersisa di neraka bagi ummat Muhammad s.a.w., manusia yang dia hormati itu. That is what you think! Allah ‘Alam.

Program Iblis : Merusak Keluarga

Artinya kita harus menerima dan siap menghadapi kehadiran Jaman Jahiliyyah Kedua ini, yang lebih buruk dari Jaman Jahiliyyah Pertama, yaitu masa ketika kelahiran Nabi Muhammad s.a.w. Jaman sekarang ini manusia sudah membuka rahasia senjata pemusnah massal, sehingga bisikan iblis bisa saja mengakibatkan matinya jutaan manusia sekaligus.

Semua Pusat Lingkaran
Kekuasaan Tiruan di atas umumnya dipegang oleh orang yang sudah berkeluarga. Dan menghadapi serbuan iblis itu, benteng pertahanan terakhir manusia terletak di keluarga. Kewajiban ayah sebagai kepala keluarga (rabb dalam bahasa Arab) berkewajiban mempertahankan keutuhan wilayah lingkarannya, termasuk semua isinya. Memenuhi kebutuhan Kelilingnya, yaitu : isteri, anak anak dan penghuni rumah tangga lainnya. Memberikan rasa aman dan keselamatan bagi Keliling nya. Membesarkan anak sehingga tumbuh menjadi anak yang mengerti “mendengar dan patuh” kepada Pusat/Ayah/Rabb, sebuah kesetiaan yang mutlak. Dan selanjutnya memberinya pengertian tentang Rabb al Alamin. Serta mengalihkan sikap “mendengar dan patuh” kepada Rabb/Ayah menjadi “mendengar dan patuh” kepada Rabb al Alamin.
o   Kepala Keluarga/Ayah/Rabb adalah sasaran pertama. Kalau Pusat Lingkaran kecil ini adalah seorang mukhlish, maka dia akan terbebas dari gangguan iblis.o   Iblis berusaha membuat suami isteri bertengkar, anak dan orang tua berseteru, dan sesama saudara bermusuhan.Manusia adalah juga makhluq kebiasaan, maka sejak kecil anak harus dibuat mempunyai kebiasaan yang baik, antara lain dilatih “mendengar dan patuh”. Ini memerlukan pelatihan yang terus menerus. Namun pelatihan ini harus dilaksanakan dengan rasa cinta yang hangat dan mendalam, sambil terus menerus memberi pengertian yang cukup agar anak terhindar dari rasa terpaksa atau bahkan membangkang.

Janganlah membesarkan calon bala tentara iblis !
Situasi Saat Ini

Nampaknya iblis berhasil menggoyahkan seluruh sendi kehidupan kita. Seluruh Pusat Lingkaran Imitasi telah dikuasainya. Para pemimpin Lingkaran Kekuasaan atas Wilayah di semua level telah terjangkit penyakit korupsi. Bahkan semua personalia bagian pembelian dan pengadaan sudah sangat terbiasa dengan penawaran dari supllier : ”Kwitansinya ditulis berapa?”
Semua Pusat Lingkaran Kekuasaan Atas Harta sudah dikuasai dengan semangat percepatan pertumbuhan atau pembangunan, yang sesungguhnya adalah bentuk lain dari serakah, suatu sifat yang dimanfaatkan dan dibisikkan iblis ke qalbu leluhur kita Nabi Adam a.s.
Negara ini dibangun dengan data ekonomi yang fiktif, dengan penamaan subsidi. Sehingga rakyat terbiasa hidup dengan kebohongan publik. Suatu kehidupan yang didasarkan kepada sesuatu yang fiktif, ya hanya menunggu waktu kehancurannya saja.

Seluruh negeri ini telah menghianati maksud para pendiri negara yang dituangkan dalam Lagu Kebangsaan yang dipilihnya :”Indonesia Tanah Air Ku”, yang artinya mereka dulu memiliki visi bahwa tanah dan air adalah kehormatan negeri ini. Tapi tanah yang seharusnya adalah milik negara, sebagaimana dulunya adalah milik Raja ketika masih menganut sistem kerajaan, dirubah menjadi milik perorangan dan menjadi barang dagangan. Hal inilah yang memicu berkembangnya korupsi secara besar besaran.

Hal yang sama dapat dikatakan tentang air. Bahkan air kini telah diserahkan pengelolaannya kepada orang asing.Indonesiayang 2/3 wilayahnya terdiri atas air, bahkan tidak menjadi anggota Water World, sebuah organisasi yang membahas dan memikirkan tentang air, yang sesungguhnya adalah sumber kehidupan makhluk di bumi ini.

Penduduk negeri ini juga menjadi korban kalimat kedua Lagu Kebangsaannya : “Tanah Tumpah Darah Ku.” Lagu ini yang dinyanyikan bangsa ini ketika memperingati Hari Kemerdekaan mereka dan di acara acara penting lainnya, tidak menyadari bahwa nyanyian adalah doa. Ketika kita menyanyikan Tanah Tumpah Darah Ku, maka para malaikat hanya mengatakan “amiiin” saja. Jadilah negeri ini selalu terlibat tumpah darah dan pertengkaran tiada habis habisnya antara sesama warga. Tawuran antar murid, mahasiswa, penduduk kampung, anggota DPR dan siapa saja, selalu terjadi. Kalau tidak di sini ya di sana. Kalau tidak sekarang ya besok. Mengapa kita membiarkan nyanyian dengan kalimat yang buruk itu bertengger terus di sana. Apa tidak ada kalimat doa yang jauh lebih baik?
Dan yang bentuknya lembut namun langsung menusuk ke jantung keluarga adalah televisi. Siaran televisi ini seluruhnya sudah dikuasai oleh para pemodal yang tujuan utamanya adalah menghasilkan uang sebanyak banyaknya. Dan jelas ini berbau iblis. Dan siaran televisi yang dibuat sangat “menarik”, meskipun banyak yang “bodoh” ini langsung masuk ke ruang tengah keluarga. Dan dia menggantikan peran ayah atau rabb di rumah itu. Semua isi rumah berkiblat ke pesawat televisi. Peran ayah yang digantikan justru adalah yang sifatnya pembinaan software dan silaturrahim. Anak atau isteri hanya menghubungi ayah/suami ketika perlu uang. Itu saja. Peran ayah hanya menjadi kasir.

Wah !!! Lalu apa yang bisa kita perbuat???

(bersambung)

/Sutono Joyosuparto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s