TARBIYAH OF RAMADHAN-UNIVERSALITAS PUASA

TARBIYAH OF RAMADHAN – TOR (ke-3)

Rabu, 18 Juli 2012
Oleh Muhammad Muhtar Arifin Sholeh
 
A’uudzubillaahi minash-shaithaanir-rajiim
Bismillaahirrahmaanirrahiim
 
UNIVERSALITAS PUASA
Orang Indonesia menggunakan kata berpuasa, orang Inggris menggunakan to fast, sedang orang Jawa menggunakan kata poso. Kata tersebut dalam bahasa  al-Quran (Arab) disebut shaum. Secara etimologis, kata shaum berasal  dari kata  shooma-yashuumu  yang berarti menahan  diri dari  sesuatu. Secara terminologis puasa berarti menahan diri dari makan, minum, merokok, hubungan  seksual, dan perbuatan-perbuatan yang tidak baik atau yang membatalkan puasa mulai terbit fajar sampai dengan terbenamnya matahari.
Puasa  pada bulan Ramadhan hukumnya wajib  bagi  orang  beriman.
Firman Allah SWT., “Hai orang-orang yang  beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas  orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” (Q.S. al-Baqarah 2:183).
Puasa telah dilaksanakan sejak lama sebelum  Nabi  Muhammad SAW  menerima wahyu puasa. Dalam sejarah agama-agama besar  puasa sudah tidak asing lagi. Ia merupakan universal institution, suatu lembaga  yang  umum.  Hal itu karena memang Tuhan  telah  pernah mewajibkan puasa kepada ummat-ummat terdahulu di mana  kepadanya diutus  para Rasul. Puasa telah diwajibkan pada jaman Nabi  Musa, Daud,  maupun Isa (Jesus). Bible sendiri banyak menyebut tentang puasa.  Dalam  Perjanjian Lama, puasa dapat  ditemukan  di  Kitab Yesaya 58:3-6 dan Danial 10:2. Dalam perjanjian baru puasa terda­pat  dalam Matius 6:16-17 ; 9:14-17 , Lukas 5:33-38,  dan  Markus 2:18-22 (Nasruddin Razak, “Dienul Islam”, 1981:200-202).
Puasa itu universal, berlaku untuk manusia atau non manusia, di mana saja dan kapan saja. Universalitas puasa bisa dimengerti karena esensi dari puasa itu sendiri  bukannya “mengerjakan”  melainkan  “menahan  diri” (“mengendalikan diri”), yaitu menahan diri dari kebathilan atau nafsu yang menyesatkan, mencegah sifat hewani yang merusak. “Pengendalian diri” itu mencakup seluruh anggota tubuh (karena diri itu mencakup seluruh tubuh). Jadi, puasa (pengendalian diri) itu tidak hanya puasa mulut (mulut atas dan bawah) tetapi juga seluruh tubuh. Pengendalian diri dilakukan selama manusia hidup di mana saja di dunia ini. Jadi, esensi puasa (pengendalian diri) itu tidak hanya dilakukan pada saat bulan Ramadhan saja, tetapi juga di luar Ramadhan, karena manusia itu hidup tidak hanya pada saat Ramadhan saja. Cara pengendalian diri secara efektif dan efisien yang diajarkan oleh Allah swt adalah mengatur makan-minum dan seksualitas (simbol matrialisme dan fisik-biologis manusia).
Pengaturan (menahan) makan-minum dan seksualitas pada saat siang bulan Ramadhan adalah “latihan pengendalian diri” yaitu puasa ritual; sedangkan puasa aktual adalah pengamalan ajaran puasa ritual Ramadhan di luar bulan Ramadhan.
Lapar dan haus yang dirasakan oleh orang yang berpuasa merupakan suatu fenomena universal kemanusiaan; Artinya, setiap manusia di mana saja pasti mempunyai rasa lapar dan haus. Lapar dan haus tidak memandang agama, suku, bangsa, bahasa, warna kulit, status sosial, kekayaan, dan kewarganegaraan. Hal ini berarti bahwa orang yang berpuasa berusaha menyatukan dirinya dengan kesatuan kemanusiaan (unity of mankind) tanpa pandang bulu.
Puasa itu juga mengajarkan kepada manusia tentang rasa kemanusiaan yang reflektif dan universal (universal reflective humanity), sebagaimana istilah bahasa Indonesia “AKU” dan “KAU”. Dua istilah tersebut sama hurufnya dan sama jumlah hurufnya, hanya beda letak saja – aku di sini kau di sana. Artinya, jika “KAU” (fakir miskin, yatim piatu, rakyat bawah, wong cilik) sering merasakan lapar-haus, maka seharusnya “AKU” (orang kaya, kecukupan, pejabat, wakil rakyat, dsb.) juga dapat merasakan lapar-haus mereka. Jika “AKU” (diri ini) berkeinginan dan dapat menjadi pandai, kaya, sehat, sukses (dsb-dsb.), maka diusahakan juga agar “KAU” (orang lain, terutama kaum lemah dan membutuhkan) menjadi pandai, kaya, sehat, sukses (dsb-dsb.). Itulah universal reflective humanity.
Puasa itu universal, artinya mampu menembus seluruh dimensi ruang, dimensi waktu, dan dimensi kemanusiaan. Puasa (dengan rasa lapar dan haus) dapat berlangsung di mana saja, di belahan bumi mana saja. Selain itu, ajaran puasa (ikhlash, sabar, jujur, bersih, sehat, dsb-dsb.) dapat diamalkan di mana saja. Puasa dapat menembus dimensi waktu, artinya, ajaran puasa dapat diamalkan kapan saja. Puasa itu “pengendalian diri” yang seharusnya kapan saja menusia bisa mengendalikan diri. Puasa menembus seluruh dimensi kemanusiaan, artinya, puasa (“pengendalian diri”) itu mencakup seluruh tubuh manusia. Puasa itu tidak hanya berurusan dengan “mulut atas” dan “mulut bawah”, tapi juga seluruh tubuh. Seluruh anggota tubuh dikendalikan. Puasa juga menembusa seluruh dimensi kehidupan manusia seperti ekonomi (“puasa ekonomi”, pengendalian nafsu ekonomi agar tidak rakus-serakah), politik (“puasa politik”, pengendalian nafsu politik agar tidak kotor), kesehatan (“puasa kesehatan”, pengendalian nafsu agar tetap sehat), dsb-dsb.
Marilah berpuasa karena iman (ikhlas karena Allah Ta’ala semata), karena memang puasa membutuhkan iman kepada Allah swt.
Coba koreksi diri: apakah tubuh ini hidup sehat-kuat karena makanan-minuman atau karena Allah swt? Tubuh ini hidup karena Allah yang Maha Hidup (bukan karena makanan-minuman), karena Allah swt telah menentukan bahwa mekanisme hidup manusia itu dengan makan-minum yang halalan-thayyiban, jadi karena Allah swt semata. Nyatanya, karena kehendak Allah swt, puasa – tanpa makan-minum selama sekitar 12-13 jam (atau bahkan sampai 17-18 jam puasa saat summer di Eropa) tubuh manusia masih hidup sehat. Manusia bisa hidup bukan karena materi tetapi karena Allah al-Hayyul-Qayyum semata. Coba juga refleksi diri: apakah bangun sangat pagi (sebelum subuh) pada bulan Ramadhan karena makanan-minuman atau  karena Allah swt semata?  Namun demikian, manusia saat ini sudah amat sangat terbelenggu dengan kehidupan yang materialistis (materialisme), serta mengabaikan Yang Ghaib (Allah Ta’alaa). Ramadhan adalah cara dan media untuk melepaskan belenggu materialisme tersebut.
Firman Allah swt:
  “Hai orang-orang yang  beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas  orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” (Q.S. al-Baqarah 2:183).
 
Sabda Rasulullah saw:
Abi Hurairah ra. menyatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosanya yang telah lampau.” (HR Bukhari)
Akhirnya, puasa itu tidak hanya “puasa ritual” (puasa saat Ramadhan), tetapi juga “puasa aktual” (mengamalkan ajaran puasa – seluruh kebaikan – dalam kehidupan sehari-hari di luar ramadhan).
(Insya Allah, bersambung)
Wallaahu a’lam bish-shawwab,
Fas-aluu ahladz-dzikri inkuntum laa ta’lamuun
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s