Menghunjam Jantungku

gardenia

Rintik hujan di malam yang sepi masih menyisakan gemericik. Nada tak beraturan yang dirindukan tatkala kemarau telah hampir usai. Bonny duduk termenung, secangkir kopi hangat menemani di balkon tempat kost-nya melepas lelah seusai bekerja. Lagu “Wishes” yg dilantunkan Emi Fujita menambah suasana bayangan seseorang di pelupuk matanya.

Bulan masih sepotong tapi hati Bonny telah bulat untuk menggenggam hati Dita, dengan sepenuh hatinya. Cinta Sejatinya kedua setelah kegagalannya menjalin cinta dengan Lily. Beda agama, itulah penyebab utamanya. Bukan aku yang memutuskan, Lily telah memilih jalannya dengan tepat pikir Bonny. Lily jelas lebih memilih pasangan yang berkelas dan melimpah dalam materi. Sedang dia hanyalah karyawan biasa. Masa depan yang hanya cukup buat menutup kehidupan sehari-hari dan sedikit tabungan buat kebutuhan sekunder lainnya. Keluarga besar menjadi pertimbangannya. Dia khawatir akan tersingkir dari keluarga besarnya lantaran beda agama dan materi yang tidak bisa diharapkan dari pasangan hidupnya kelak.

Ah… dia telah mengorbankan perasaan cintanya. Semoga engkau bahagia, Bonny selalu berdoa buatnya.

Waktu bergulir dengan cepat. Waktu kosong yang demikian lama dilaluinya dengan berbagai kegiatan di lingkungan kerja sebagai Karyawan sebuah perusahaan dan yang terutama dia makin memperdalam agama lewat pengajian atau membaca buku-buku atau mengikuti milis-milis di berbagai group. Selama ini Bonny memang condong kearah sekuler. Tekun belajar agama tapi menjalin cinta juga bukan pantangannya.

“Salahkah aku ? dosakah aku Ya Allah ?” disela-sela sujudnya Bonny bermunajat.”Rabbanaghfirlana watub alaina innaka antawwaburrahiim”.
Bagi Bonny, Cinta adalah sebuah anugerah dari Allah yang suci dan murni. Cinta sejati bukanlah cinta karena nafsu birahi. Tapi cinta yang membahagiakan dan bukan untuk melukai.

“Ton, kayaknya aku demam nih”, kata Bonny kepada Anton rekan sekerjanya.
“udah bawa aja ke dokter Sulistyo”, saran Anton
“Okey deh ntar sore sehabis kerja. Thanks ya..”

Sore sehabis pulang kerja, Bonny bukannya berkunjung ke praktek dokter Sulistyo tapi Bonny malah ke Poliklinik RSUD. Mendaftar ke loket pendaftaran dan menunggu antrian. Hmm.. sudah lebih baik pelayanan Rumah Sakit milik pemerintah daerah ini dibanding beberapa tahun yang lalu, yang masih seenaknya melayani masyarakat. Ternyata telah banyak perubahan yang dilakukan oleh pihak menajemen Rumah sakit, batin Bonny. Ruang Pelayanan sudah representative untuk ukuran sebuah Rumah sakit pemerintah dan tidak kalah dengan rumah sakit swasta di kota besar. Hebat!

“Bapak Bonny…!” panggil seorang Suster
“Yak….!” Bonny berdiri dan memasuki Ruang Pemeriksaan/Tindakan.

Begitu memasuki ruangan Bonny begitu terkesima dengan sosok penampilan seorang dokter. Hmm…. Cantik, manis, sederhana tapi anggun dengan penampilannya sebagai seorang dokter. Dr. Dita Prameswari. Nama yang bagus, piker Bonny.

“Silahkan duduk Pak Bonny, …” sambil tersenyum ramah mempersilahkan. Senyum yang tulus dari Dita.

“Terima kasih dok…” Sekilas Dita juga terkesima dengan penampilan pasien satu ini. Senyumnya, kesederhanaannya, tingkah lakunya yang sopan dan tidak dibuat-buat. Mengingatkan dia ketika di Jogja akan sosok Prima, Cinta sejati pertamanya.

Ah…pantang seorang dokter memperhatikan masalah pribadi dengan pasien. Aku harus menjunjung tinggi kode etik, pikir Dita.

Setelah menanyakan keluhan dan gejala-gejala sakit Bonny, Dita segera membuatkan resep. Seakan-akan ingin berlama-lama dengan pasien yang satu ini baik ketika menanyakan keluhan, memberi advis atau saat menuliskan resepnya.
Bonny memperhatikan gerak-gerik Dita saat menuliskan resep dan menatap dengan pandangan yang menyiratkan ketertarikan secara emosional.
Benarkah dia jatuh cinta lagi? Pikir Bonny bertanya pada diri sendiri.

“Yaa Allah, sekiranya Engkau berkenan, jadikan kami hamba-Mu yang selalu berserah diri untuk mengikatkan dalam buhul Cinta sebagai anugerah dariMu. Aamiin”, doa Bonny dalam hati.

Bonny berpamitan dan meninggalkan Ruang Pemeriksaan dengan senyum dikulum. Hati berbunga dan seakan kebuntuan hatinya mengalir seperti air bah yang mengalir deras. Setelah itu ada tenang dan membayangkan kesejukan wajah Dita. Bayangan wajah Dita tak pernah akan dilupakannya. Strong personality yang dimiliki Dita membawa Bonny dalam alam mimpinya. Seandainya dia menjadi milik-ku, aku akan menjaga dengan sepenuh hati dan berjanji tak akan pernah melukainya, janji Bonny dalam hati.

Sepeninggal Bonny, Dita termenung seorang diri. Mungkinkah dia kembali lagi ke dunia?

“Yaa Allah ampunilah dosa hamba yang telah memikirkan yang bukan hak hamba”, lirih Dita bermunajat
“Hanya Engkau yang Maha Berkehendak dan Maha Mengetahui”.

“Bu Minten…!” panggilan Suster membuyarkan lamunannya.

——————————————————

Betapa ingin mata memandang mesra
Betapa ingin hati menjeritkan Cinta
Tapi mungkinkah Cinta tanpa melukai ?

Purwokerto, Desember 2010
Penulis : @Dion_Erbe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s