Proses Perkuliahan Bahasa Indonesia

Proses Perkuliahan Bahasa Indonesia di Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STFI) Sadra

Oleh Hernowo

“Inilah kekosongan besar dalam sistem pendidikan kita. Jarang sekali ada orang yang—bahkan yang berpendidikan tinggi sekalipun—pernah diajari teknik-teknik belajar secara efektif dan berpikir secara analitis atau kreatif. Kita lebih sering diajari apa (what) dan tidak bagaimana (how).”

Colin Rose, dalam buku MASTER It Faster

baca2

Saya sangat suka mengutip kata-kata Colin Rose tersebut setiap kali berhadapan dengan para mahasiswa. Tidak secara ekplisit sih; tetapi, setiap kali mengajar, saya senantiasa berusaha keras untuk tidak melulu memberi “what” (materi yang terkait dengan mata kuliah Bahasa Indonesia). Sesekali saya juga memberi “how” (metode-metode belajar). What bisa dibaca di buku-buku. How perlu dilatihkan dan dibiasakan serta demonstrasikan di ruang kelas. Oleh karena itu tugas-tugas—saya lebih senang menyebutnya sebagai “latihan-latihan”—Bahasa Indonesia lebih kerap saya arahkan untuk keperluan melatih how (misalnya bagaimana membaca dan menulis yang melibatkan diri secara total atau bagaimana menjadi pembelajar yang mampu mengolah [memproduksi] dan tak sekadar menerima [mengonsumsi]).

Untuk semester genap yang berlangsung sejak awal Maret 2013 lalu, sebanyak lima kali pertemuan tatap muka dengan mahasiswa sudah saya jalani. Topik pertama dan kedua adalah “Bahasa Indonesia Berbasis Genre” dan “Pengantar Mengikat Makna”. Topik ketiga tentang “Connectivism dan Brain-Based Learning”, sementara topik keempat dan kelima berjudul “Teori Membaca ala Iqra'” serta “Constructivsm dan Knowledge Management”. Seminggu sebelum mengajarkan topik-topik itu, mahasiswa saya minta membaca materi yang saya tayangkan secara online di grup Facebook. Grup di Facebook yang saya namai KIQS ini saya bentuk dan  kemudian, lewat KIQS, mereka saya dorong untuk mengikat makna (menuliskan hasil-hasil pembacaan [baik pemahaman mauun penafsiran] mereka terhadap teks).

buku

“Ikatan makna” setiap mahasiswa, setiap minggu, saya minta dikirimkan via email pribadi ke alamat email saya. Di sela-sela kesibukan saya, hasil tulisan atau “ikatan makna” itu pun saya baca (periksa) lewat laptop atau, lebih kerap, telepon seluler. Untuk kuliah-kuliah awal, saya membebaskan gaya atau corak penulisan. Saya lebih menekankan apa yang mereka peroleh (“ikat”) setelah membaca. Ada yang barukah yang mereka peroleh? Atau mereka sekadar memindah saja sesuatu yang mereka baca tanpa pengolahan? Usai membaca latihan-latihan para mahasiswa, saya kadang hanya memberikan beberapa pertanyaan agar mereka kemudian dapat berinteraksi dengan pikiran saya. Ketika berkesempatan bertemu di kelas, saya tinggal mengulangi pelbagai pertanyaan sembari mempresentasikan materi yang sudah mereka pahami secara personal.

Saya harus bersyukur karena selama lima kali pertemuan tatap muka, saya sempat membangkitkan (semoga benar) “spirit” mencari ilmu lewat ayat-ayat Al-Quran yang turun pertama kali kepada Nabi Muhammad Saw.—yaitu ayat-ayat Iqra’—dan hadis tentang keutamaan para pencari ilmu, serta wasiat guru Imam Syafi’i yang melarang berbuat maksiat dan dosa ketika mencari ilmu. Seluruh teks ayat Al-Quran, hadis, dan wasiat tersebut saya letakkan dalam perspektif pengajaran mata kuliah Bahasa Indonesia. Saya tidak membawa teks-teks agung dan mulia itu ke dalam penafsiran agama—karena saya memang bukan ahli agama dan tidak sedang mengajarkan agama. Saya menggunakan kemampuan membaca dan memaparkan bacaan saya sebagaimaa hal itu menjadi inti pengajara Bahasa Indonesia saya di Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STFI) Sadra.

Saya ingin sekali mata kuliah Bahasa Indonesia dapat saya manfaatkan untuk—mengutip kata-kata Mahsun, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan—dijadikan sarana pengembangan kemampuan berpikir mahasiswa. Menurut Mahsun lebih jauh, “Untuk menjadikan bahasa sebagai sarana berpikir, satuan makna, pikiran, gagasan, pesan, atau konsep secara utuh hanya ditemukan dalam teks yang berwujud teks tulis ataupun lisan.” Dan ini yang menurut saya penting diperhatikan: “Selama ini, pembelajara Bahasa Indonesia tidak dipakai untuk membentuk cara berpikir. Tak heran, jika kita lemah dalam membaca maupun menulis,” kata Mahsun (lihat Kompas edisi Sabtu, 16 Februari 2013, dalam berita berjudul “Pelajaran Bahasa Berubah Arah”).

baca1

Terus terang, saya sendiri belum tahu bagaimana praktik sebenarnya Kurikulum 2013 untuk Bahasa Indonesia di kelas. Selain mencoba memahami apa yang dikatakan Mahsun, saya juga membaca artikel menarik karya Helena Ir Agustien, “Bahasa Indonesia Berbasis Genre” (Kompas edisi Jumat, 1 Maret 2013) dan artikel karya Bambang Kaswanti Purwo, “Kurikulum Bahasa Indonesia” (Kompas edisi Rabu, 20 Maret 2013). Sebagai dosen Bahasa Indonesia, saya kemudian menafsirkan dan menerjemahkan tafsiran saya ke dalam praktik kegiatan belajar-mengajar di STFI Sadra. Saya hanya menambahkan tafsiran dan terjemahan saya tersebut dengan konsep membaca dan menulis saya bernama “mengikat makna”.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s