Amazing Kartini

Amazing Kartini!

Oleh Hernowo

 


kartini1

“Panggil aku Kartini saja, itu namaku. Kami orang Jawa tidak punya nama keluarga. Kartini adalah sekaligus nama keluarga dan nama kecilku.”

—Kartini (surat bertanggal 25 Mei 1899)

Saya sudah membaca beberapa buku tentang Kartini. Pahlawan nasional yang belum lama diperingati hari kelahirannya ini dijadikan tema majalah Tempo edisi 22-28 April 2013. Sungguh, ketika membaca (mencermati dengan saksama) edisi majalah Tempo tentang Kartini, saya merasakan ada yang baru dan berbeda serta—mohon maaf…lebay—menakjubkan. Dengan gesit dan cerdas, Tempo menunjukkan sisi-sisi kontroversial Kartini namun hal itu malah membuat sosok Kartini tampil lebih “hidup” dan digdaya. Pikiran-pikiran Kartini, khususnya, masih mampu menembus sekat-sekat era cyberspace dan relevan dengan zaman yang sudah sangat berbeda dengan zaman ketika Kartini hidup.

Mungkin saja Kartini menjadi demikian karena dia meninggalkan warisan berwujud tulisan. Meskipun tulisan Kartini hanya berupa surat-surat yang dikirimkan kepada sahabat penanya di Belanda, surat-surat tersebut ternyata berhasil (dengan baik dan tertata) merekam pemberontakan, penderitaan, dan keinginan Kartini agar kaumnya maju, mandiri, serta terbebas dari “kerangkeng” buatan manusia. Ada dua hal menarik tentang ini. Hal menarik pertama berasal dari Saparinah Sadli yang, bersama Haryati Soebadio, menulis buku Kartini Pribadi Mandiri. Menurut Tempo, berpijak pada pendapat Saparinah Sadli, “…Kartini istimewa karena kritis dan mengangkat isu sosial. Ini yang membedakannya dengan pahlawan lain.” Lebih tegas lagi ditunjukkan bahwa Kartini berbeda karena “ia meninggalkan tulisan.”

Hal menarik kedua datang dari seorang peneliti Kartini bernama Didi Kwartanada. Didi adalah sejarawan dari Yayasan Nabil, Jakarta. Didi mengaku jatuh cinta kepada Kartini sejak 2008. Di yayasan yang berupaya meneguhkan pluralisme dan multikulturalisme itu, Didi menelaah berbagai literatur yang membahas Kartini. “Kartini adalah prototipe manusia Indonesia baru,” kata Didi. Entah apa yang dimaksud dengan “manusia Indonesia baru”. Mungkin saja, menurut saya, Kartini memang memiliki visi. Pandangannya sangat jauh ke depan dan saya kaget karena itu dimiliki oleh seorang perempuan yang masih muda, mengalami masa “pengerangkengan” (pingitan) pada usia sekitar 12 tahun lebih, dan hidup di tengah cengkeraman alam feodal.

kartini4

“Kartini peka menyongsong masa depan, (sementara) yang lain masih terkukung dan tersandera keadaan,” tambah Aristides Katoppo, editor buku Satu Abad Kartini, sebagaimana dikutip Tempo dalam laporannya yang berjudul, “Dia Minta Dipanggil Kartini Saja”. Ketika saya menemukan kata-kataAristides Katoppo tersebut, saya pun spontan berteriak keras, “Amazing!”, seraya membayangkan sosok sutradara Amazing Spiderman, Marc Webb. Webb berhasil menunjukkan kedigdayaan Peter Parker (Andrew Garfield) bukan bertumpu pada “otot kawat, balung wesi” yang dimiliki Spiderman tetapi malah pada kelembutannya dalam memadu kasih dengan Gwen Stacy (Emma Stone). Adegan percintaan Andrew dan Emma dalam film tersebut, ditangan  Webb, menurut saya amazing!

Demikianlah juga Kartini. Perempuan yang mati muda ini menunjukkan kedigdayaannya bukan pada sosoknya tetapi pikirannya. Di balik sosok yang mungkin rapuh, lemah, dan terpinggirkan ternyata ada semacam kekuatan yang dahsyat. Kekuatan dahsyat itu ditunjukkan oleh Kartini lewat surat-suratnya. Surat-surat itu, yang ditulis dalam bahasa Belanda, saya duga masih akan terus mengguncang (siapa saja yang membacanya) dan bertahan lama….[]

 kartini3

Kartini Pribadi yang (Ingin) Merdeka?: Amazing Kartini! (2)

Oleh Hernowo

“Ya, Tuhan, terima kasih! Tuhan, terima kasih! Aku bisakeluar dari penjara sebagai seorang yang bebas.”

—Kartini

Kartini, secara fisik, mungkin tak bisa bebas. Dia, karena perempuan, dibatasi oleh semacam “tatakrama” pada masa dia hidup. Salah satunya, sebagaimana kita sama-sama mengetahuinya, dia harus mengalami “pingitan” (dikurung di dalam rumah ketika usianya menjelang remaja tanpa boleh berhubungan dengan dunia luar sampai ada seorang pria yang melamarnya). Namun, secara nonfisik, Kartini adalah manusia merdeka. Dia dapat mengembarakan pikirannya ke mana saja sesuai keinginannya. Adakah yang dapat membatasi atau mengerangkeng pikiran?

Kemerdekaan Kartini ditunjukkannya lewat kata-kata yang saya kutip untuk mengawali tulisan ini. Kata-kata itu tercantum di dalam surat pertama Kartini yang dikirimkan kepada gadis Belanda yang dia kenal lewat iklan di majalah De Hollandsche Lelie. Setelah empat tahun terkurung sendirian di balik tembok tebal sebagai gadis pingitan, kata-kata tersebut dapat menunjukkan pribadi Kartini yang tak mau diam dan hanya pasrah dengan keadaan. “Otak Kartini terus mempertanyakan mengapa begitu rendah kedudukan wanita di tanah kelahirannya. Begitu pula soal beraneka tradisi feodal lainnya,” tulis Tempo.

Kartini, tampaknya, memang pribadi yang memiliki jiwa gelisah dan rasa ingin tahu yang besar. Salah satu yang dapat menunjukkan pribadi-gelisah dan rasa ingin tahu Kartini adalah keinginannya untuk mendapatkan sahabat pena lewat iklan. Lewat iklan? Ya. Dikabarkan bahwa Kartini mengirim surat kepada Johanna van Woude (nama pena Sophie Margaretha Cornelia van Eermeskerken), pengasuh majalah DeHollandsche Leliedan salah satu perempuan pertama yang jadi anggota Masyarakat Sastra Belanda. Surat itu berisi permintaan Kartini agar dia dicarikan sahabat pena lewat iklan.

Iklan kecil itu akhirnya terbit di majalah De Hollandsche Lelie edisi 15 Maret 1899. “Raden Ajeng Kartini, putri Bupati Jepara, umur sekian dan seterusnya, ingin berkenalan dengan seorang ‘teman pena wanita’ untuk saling surat-menyurat. Yang dicari ialah seorang gadis dari Belanda yang umurnya sebaya dengan dia dan mempunyai banyak perhatian terhadap zaman modern serta perubahan-perubahan demokrasi yang sedang berkembang di seluruh Eropa,” demikian bunyi iklan itu seperti dikutip Siti-Soemandari Soeroto dalam Kartini: Sebuah Biografi.

Sekali lagi, ada seorang gadis berusia 20 tahun, sekitar 130 tahun lalu, berinisiatif mencari sahabat pena dengan beriklan? Dan sahabat pena yang dicari si gadis adalah sahabat pena yang mau bertukar pikiran tentang perubahan? Apa gerangan yang mendorong Kartini untuk bertukar pikiran secara tertulis? Akhirnya yang dicari Kartini pun muncul. Kartini memanggilnya Stella. Nama lengkapnya Estelle Zeehandelaar, aktivis feminis yang lima tahun lebih tua daripada Kartini. Stella menjawab iklan Kartini dan dimulailah kemudian korespondensi antara keduanya. Krespondensi antara dua gadis berpikiran majudari dua bangsa berbeda yang belum pernah bertemu seumur hidup?

Surat pertama Kartini kepada Stella bertitimangsa 25 Mei1899. “Surat-surat Kartini bernada intim dan menunjukkan dialog yang intens tentang berbagai topik, seperti buku yang dibacanya dan tulisannya di berbagai media. Dia juga membahas tradisi perjodohan, poligami, opium, agama, bahasa Belanda sebagai pembuka pintu pengetahuan, nasib perempuan Jawa yang tertindas, kebijakan politik kolonial yang merugikan pribumi, keinginannya mendirikan sekolah, dan rencananya bersekolah di negeri kelahiran pelukis Rembrandt itu,” papar Tempo.

Apakah dorongan menulis yang ada di dalam diri Kartini memang dikarenakan keinginannya untuk bebas atau ada hal lain? Dikabarkan pula bahwa selain tulisan berupa surat-menyurat itu, Kartini juga menulis sebuah artikel ilmiah. Artikel tersebut berjudul “Het Huwelijk bij de Kodja’s” yang menceritakan upacara perkawinan suku Koja di Jepara. Artikel ini dimuat dalam Bijdragen tot de Taal-Land-en Volkenkundevan Ned-Indie pada 1898. Menurut Didi, artikel ini merupakan karya tulis yang luar biasa. Didi bahkan menyebutnya sebagai karya ilmiah. Dan “Kartini menjadi sangat terkenal karena kefasihannya dan kemahirannya menulis dalam bahasa Belanda,” tulis Tempo.

“Tulisan Kartini yang tajam dan jernih mengguncang Amsterdam ketika diterbitkan pertama kali pada tahun 1911 dalam buku Door Duisternis Tot Licht (HabisGelap Terbitlah Terang) oleh Jacques Henrij Abendanon, direktur di Departemen Pendidikan, Agama, dan Industri Hindia Belanda dan tokoh EthischeKoers (Politik Etis). Buku itu laris dan dicetak berkali-kali. Koran-koran di Hindia Belanda dan Negara Belanda banyak memuat iklan yang menawarkankan buku itu seharga 4,75 gulden,” tambah Tempo.

Sekali lagi, kenapa Kartini suka dan mampu menulis?[]

baca3

Kartini Pribadi yang (Gemar) Membaca: Amazing Kartini! (3)

Oleh Hernowo

“Peduli apa aku dengan segala tata cara itu. Segala peraturan, semua itu bikinan manusia dan menyiksa diriku saja.”

—Kartini (Surat kepada Stella, 18 Agustus 1899)

Kartini suka membaca dan kesukaannya ini membuat pikirannya terbuka dan terus menginginkan perubahan. Tempo menulis,“Kemerdekaan, persamaan, dan persaudaraan, inilah semboyan di masa Revolusi Prancis yang didapat Kartini dari bacaannya.” Apa yang diperoleh Kartini itu kemudian diterapkan ketika bergaul dengan adik-adiknya selepas masa pingitan. Kepada kedua adiknya, Roekmini dan Kardinah, Kartini mulai menerapkan gagasannya tentang persamaan derajat. Dia membebaskan kedua adiknya dari tradisi unggah-ungguh yang berlebihan. Sebagai contoh, dia tak mau adik-adiknya berjalan berjongkok ketika melewatinya. Kartini juga dengan tegas melarang adik-adiknya menyembah, berbahasa kromo inggil, dan melakukan segala etiket feodal lainnya. Kartini bahkan membiarkan Roekmini dan Kardinah memanggilnya “kamu”.

Ketika Kartini mengalami pingitan, menurut Tempo, dia merasa bersyukur karena masih tetap dibolehkan untuk meneruskan kegemarannya sedari kecil. Apa kegemarannya itu? Membaca. Selama dipingit, Kartini melahap habis buku-buku modern kiriman R.M. Panji Sosrokartono, kakak kandungnya yang “lebih beruntung” karena dapat melanjutkan sekolah di HBS Semarang hingga Universitas Leiden, Belanda. Kartini juga memanfaatkan kotak bacaan (leestrommel) langganan ayahnya, yang berisi buku, koran, dan majalah dari dalam dan luar negeri. Bacaan-bacaan bertema sosial, politik, hingga sastra itu membantu Kartini menemukan jawaban atas pertanyaannya selama ini.

baca6

Tanpa disadarinya, segala bacaan itu telah mendidiknya—yang selama ini seakan-akan dia merasa hanya menjadi perempuan muda Jawa yang terbuang dari pendidikan—untuk berjuang mendobrak tradisi yang menindas kaumnya. “Kecerdasan Kartini kian terasah ketika berkorespondensi dengan banyak orang Belanda,” tambah Tempo. Kemampuannya mengungkapkan pikirannya secara tertulis semakin membuat Kartini melejit. Pikiran Kartini yang telah berhasil memasukkan alam pikiran Eropa—lewat pelbagai bacaannya yang kaya itu—kemudian berhasil diakeluarkan lewat menulis setelah hal-hal yang masuk ke dalam pikirannya dikaitkan dengan keadaan diri dan masyarakatnya. Sebuah proses pendidikan (atau belajar) mandiri yang luar biasa.

Apakah Kartini menjadi amazing seperti itu dikarenakan kehidupannya yang mapan (hidup di lingkungan bangsawan Jawa dan dikitari oleh bahan bacaan yang kaya serta pergaulannya dengan bangsa asing) atau malah dikarenakan ketertindasannya?[]

baca5

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s