Wiji Thukul : Bongkar! Aku Ingin Jadi peluru

Wiji Thukul

“Mereka Tak Bisa Meremukkan Kata-kataku”: Aku Ingin Jadi Peluru (3)

Oleh Hernowo

pernah bibir pecah

ditinju

tulang rusuk

jadi mainan tumit sepatu

tapi tak bisa mereka

meremuk: kata-kataku!

(Wiji Thukul, “Maklumat Penyair”)

“Dyah Sujirah alias Sipon, istri Thukul, penasaran melihat mata kanan suaminya yang memerah dengan pelipis yang biru. Ketika itu, setahu Sipon, suaminya baru saja ikut aksi mogok buruh Sritex,” tulis Tempo di halaman 101. Di halaman 100, Tempo memajang wajah Thukul yang mata kanannya dibalut perban. Ketika Sipon bertanya kepada Thukul tentang mata kanan suaminya yang memerah, Thukul hanya bilang bahwa dia jatuh dan terbentur. Padahal tidak.

Hari itu Senin, 11 Desember 1995, di sepanjang jalan menuju pabrik garmen PT Sri Rejeki Isman (Sritex) di Desa Jetis, Kabupaten Sukohardjo, belasan ribu buruh memenuhi jalanan. Mereka hanya duduk-duduk dan menolak masuk kerja. Di antara kerumunan buruh tersebut tampak Wiji Thukul. Pagi itu, belum genap pukul tujuh, peserta demonstrasi baru menyiapkan barisan ketika tiba-tiba aparat secara membabi-buta menyerbu mereka.

Buruh yang panik langsung lari tunggang langgang. Beberapa aktivis ditangkap lalu digebuk. “Saya hanya mendengar ibu-ibu menjerit ketakutan. Tapi jeritan itu tak bisa menghentikan pukulan,” kata Thukul, seperti dikutip dalam disertasi “Politik dan Kebudayaan dan Seni Penentangan di Indonesia: Kajian Kes terhadap Penyair Wiji Thukul” karya Muhammad Febriansyah (2012). Dalam huru-hara demonstrasi buruh 11 Desember 1995 itulah Thukul, yang dianggap dalang demonstrasi, ditangkap.

Menurut kabar, puluhan aparat yang sadar bahwa yang ditangkap adalah Wiji Thukul kemudian betubi-tubi memukulnya. Tak cukup bogem mentah dan tendangan sepatu bot ke tubuh Thukul, pukulan rotan juga diempaskan ke jari-jari tangan Thukul. Puncaknya, kepala Thukul dibenturkan di kap mobil aparat. Inilah yang menyebabkan mata kanan Thukul kemudian bengkak dan membiru.

Wiji Thukul yang memiliki nama asli Widji Widodo lahir di Sorogenen, Solo, 26 Agustus 1963, dari keluarga penarik becak.  Ketika bersekolah di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia, Widji Widodo berkenalan dengan Cempe Lawu Warta yang memiliki Teater Jagat. Lawu adalah anggota Bengkel Teater yang diasuh W.S. Rendra. Thukul kemudian masuk menjadi anggota Teater Jagat pada 1981. Oleh Lawu, nama Widodo dihilangkan dan diganti dengan Thukul. Wiji Thukul artinya Biji (yang) Tumbuh.

Setelah bernama Wiji Thukul, Thukul sempat menambahkan nama Wijaya di belakangnya menjadi Wiji Thukul Wijaya. Tapi kemudian dia membuangnya karena sering diledek teman-temannya sebagai nama borjuis. Teater Jagat boleh dibilang sebagai kawah candradimuka bagi proses kesenian dan kepenyairan Thukul. “Dia suka membaca dan menulis. Ketika membaca tulisannya, saya tahu dia punya bakat sebagai pujangga. Karena itu, saya mengarahkan dia untuk membuat puisi,” Lawu menjelaskan.

Lawu tidak setuju ketika, akhirnya, Thukul memilih terjun ke politik praktis. “Saya bilang, Thukul hati-hati memilih. Kalau sudah di politik praktis, ada kemungkinan kamu ditangkap, dibunuh, atau minimal dibuang,” ucap Lawu suatu ketika. Thukul bergeming dan tetap memilih politik, yang dia anggap bisa menjadi alat paling cepat mengubah keadaan. Thukul menganggap sikap Lawu kuno dan tidak progresif.

“Lawu, kamu itu tidak berani. Karena itu, kamu dan Teater Jagat sampai kapan pun tidak akan bisa merombak keadaan,” kata Thukul kepada Lawu sebagaimana dikisahkan kembali oleh Lawu. Thukul memang sudah memilih. Dan Thukul pun menerima risiko, sebagaimana puisinya di atas. Namun, merujuk ke puisi “Maklumat Penyair”, Thukul tahu bahwa kata-kata ciptaannya tidak bisa diremukkan oleh siapa pun.[]

wiji thukul

Bongkar!: Aku Ingin Jadi Peluru (4)

Oleh Hernowo

Empat kata dalam bentuk tanya, “Di Mana Wiji Thukul”, dapat bermakna ganda. Makna pertama dialami oleh Nezar Patria yang belasan tahun lalu menjadi aktivis SMID (Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi). “Suara-suara itu kembali menghardik, ‘Di mana Wiji Thukul?’ Yang lain membentak,” demikian tulis Tempo ketika memutar kembali pengalaman Nezar ketika tim penculik menyiksanya bertubi-tubi seraya menanyakan keberadaan Wiji Thukul dalam bingkai bentakan-bentakan.

Makna kedua dialami oleh Jaap Erkelens yang pada waktu itu menjadi Direktur KITLV Jakarta. Sebagaimana diberitakan oleh Tempo, pada awal tahun 2000 Jaap bertanya kepada salah seorang redaktur Kompas agar mengingatkan publik tentang hilangnya Thukul. Saat itu sang redaktur pun memberi saran agar Jaap menuliskannya untuk rubrik “Redaksi Yth.” Jaap pun menulis dan pada 18 Februari 2000, Kompas memuat surat dari Jaap berjudul “Di Mana Wiji Thukul”.

Kapan persisnya Wiji Thukul menghilang memang masih simpang siur. Apakah dia kini masih hidup atau tidak juga masih menjadi misteri. “Kami gagal bertemu senja itu di Kedai Tempo di Jalan Utan Kayu 68-H, Jakarta Timur,” tulis Goenawan Mohamad mengenang Wiji Thukul dalam “Catatan Pinggir”-nya yang berjudul pendek, “Thukul”. “Thukul, yang berminggu-minggu berhasil disembunyikan di sebuah loteng untuk menghindari penangkapan militer, seakan-akan melanjutkan status kaburnya. Saya sedih tiap kali mengingat itu.”

Menurut GM, demikian sapaan akrabnya, sajak-sajak Thukul merekam sepenggal kepolosan. GM lantas membandingkan sajak Thukul dengan sajak Taufiq Ismail yang sama-sama melukiskan keberingasan sebuah rezim. “Sementara tiga anak kecil dalam sajak Taufiq adalah satu device buat menegaskan kontras yang tajam antara kepolosan dan efektifnya kekuasaan, dalam sajak Thukul si anak dan si polos itu tak cuma datang dari luar. Kekuasaan yang laten dan brutal menyengat langsung tubuhnya.”

Aku sendiri tak terlalu paham akan makna sederet puisi. Aku kadang hanya mencoba menikmatinya dan merasakan betapa ajaib getaran rangkaian kata yang hanya sedikit itu ketika memasuki pikiranku. Seperti empat kata yang tersusun rapi dan berbunyi, “Di Mana Wiji Thukul”. Empat kata ini dapat meninju sekaligus membentak diriku secara sangat brutal, sementara itu ia juga dapat hadir ke dalam hatiku dengan tulus dan penuh empati. Aku harus memilih. Aku harus bersikap. Dan, tentu saja, aku harus berdoa agar Wiji Thukul, apa pun yang terjadi dengannya, meraih keadaan yang sangat baik. Bagiku, dia masih dan akan terus “hidup”. Lewat rangkaian kata-kata ciptaannya, dia tidak mungkin musnah. Dan dengan sangat memikat, Robertus Robert, dosen sosiologi Universitas Negeri Jakarta, melukiskan keberadaan Wiji Thukul lewat analisis tajam terhadap sajak-sajaknya:

“Yang khas dari puisi Wiji Thukul adalah bahwa ia bukan puisi tentang protes, melainkan protes itu sendiri. Karena itu, puisinya gampang melebur dalam tiap momen pergolakan dan berbagai aksi protes. Puisinya adalah bagian dari aksi, bukan mengenai aksi, bukan juga ‘gaya’ yang hendak ditambah-tambahkan untuk member kesan ‘estetis’ terhadap suatu aksi.

“Karena itu, puisi Wiji Thukul hidup tanpa memerlukan pengenal siapa seniman pengarangnya. Puisi itu diketahui sebagai puisinya, tapi ia tidak pernah dipersepsikan sebagai ‘tuan’ atau ‘majikan’ dari puisi-puisi itu. Puisinya beredar, hidup ke mana-mana, melampaui dirinya! Puisi Wiji Thukul adalah peristiwa, bukan kata-kata.”

Pabila Iwan Fals dan kelompoknya punya lagu “Bongkar”, Thukul juga punya sajak “Bongkar”:

kita selalu cari keselamatan

aman mapan

cuci tangan

membiarkan semua berjalan

 

mari telanjangi

bongkar

jangan mau lagi alasan-alasan

tanya! tanya!

(Wiji Thukul, “Bongkar”)[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s