PUASA ASYURA

Puasa selain merupakan ibadah yang mulia di sisi AllPUASAah Subhanahu wa Ta’ala juga mengandung banyak manfaat yang lain. Dengan berpuasa seseorang dapat mengendalikan hawa nafsu dan syahwatnya. Puasa juga bias menjadi perisai dari siksa api neraka. Disamping itu dapat menghapus dosa-dosa, memberi syafaat di hari Yaumil qiamah, membangkitkan rasa solidaritas kemanusiaan, serta manfaat lainnya yang sudah dimaklumi terkandung pada ibadah puasa ini. Betapa mulianya ibadah yang satu ini.

Pada bulan Muharram ada satu hari yang dikenal dengan sebutan hari ‘Asyura.Orang-orang jahiliyah pada masa pra Islam dan bangsa Yahudi sangat memuliakan hari ini. Hal tersebut karena pada hari ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan Nabi Musa As dan pengikutnya dari kejaran Fir’aun dan pasukannya. Sebagai rasa bersyukur atas karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadanya, Nabi Musa ‘alaihissalam akhirnya berpuasa pada hari ini. Tatkala sampai berita ini kepada Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wassalam, melalui orang-orang Yahudi yang tinggal di Madinah beliau bersabda,

فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوْسَى مِنْكُمْ

Saya lebih berhak mengikuti Musa dari kalian (kaum Yahudi)”.

Yang demikian karena pada saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam sampai di Madinah, beliau mendapati Yahudi Madinah berpuasa pada hari ini, maka beliau sampaikan sabdanya sebagaimana di atas. Semenjak itu beliau Shallallahu’alaihi wasallam memerintahkan ummatnya untuk berpuasa, sehingga jadilah puasa ‘Asyura diantara ibadah yang disukai di dalam Islam. Dan ketika itu puasa Ramadhan belum diwajibkan.

Puasa ‘Asyura pada tanggal 10 Muharram adalah salah satu puasa sunnah yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW dalam beberapa hadits shahih. Namun dalam pelaksanaannya Rasulullah SAW memerintahkan tidak hanya berpuasa pada tanggal 10-nya saja, namun beliau memerintahkan untuk berpuasa pada tanggal 9-nya juga dalam rangka menyelisihi orang-orang Yahudi.

Nabi SAW bersabda :

لئن عشت إلى قابل لأصومن التاسع والعاشر

Kalau aku hidup hingga tahun depan, niscaya aku akan berpuasa tanggal 9 dan 10

Sabdanya lagi :

خالفوا اليهود صوموا يوما قبله أو يوما بعده

Berbedalah dengan orang-orang Yahudi, berpuasalah juga kalian sehari sebelumnya (yakni tanggal 9) atau sehari setelahnya (yakni tanggal 11).” (HR. Ahmad dan Al-Baihaqi)

Dalam lafazh lain :

صوموا يوما قبله ويوما بعده

“Berpuasalah juga kalian sehari sebelumnya (yakni tanggal 9) dan sehari setelahnya (yakni tanggal 11).”

Atas dasar beberapa riwayat di atas, para ‘ulama berbeda pendapat : mana yang lebih utama (afdhal), berpuasa tanggal 9 dan 10 saja, ataukah berpuasa tanggal 9,10,dan 11?
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Berdasarkan hal di atas, puasa ‘asyura 3 tingkatan :
1. Yang paling rendah adalah berpuasa tanggal 10 saja
2. Lebih utama lagi, berpuasa tanggal 9 dan 10.
3. Paling utama, adalah berpuasa tanggal 9, 10, dan 11.

(lihat Fathul Bari IV/246)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Tingkatan puasa ‘asyura ada tiga :

1. Yang paling sempurna adalah berpuasa sehari sebelumnya dan sehari setelahnya (yakni tanggal 9,10, dan 11)
2. Yang berikutnya adalah berpuasa tanggal 9 dan 10. Kebanyakan hadits-hadits menunjukkan pada makna ini.
3. Yang berikutnya adalah berpuasa hanya tanggal 10 saja.

Adapun barangsiapa (memahami dalil-dalil di atas) bahwa (yang disyari’atkan) hanya tanggal 9 saja, maka itu disebabkan karena kurang bisa memahami dalil-dalil yang ada, dan tidak meniliti dengan seksama lafazh-lafazh dan jalur-jalur periwayatan (dalil-dalil tersebut), sekaligus (pemahaman) tersebut jauh dari bahasa dan syari’at. Wallahul Muwaffiq lish Shawab. (lihat Zadul Ma’ad II/72)

Sementara itu Al-‘Allamah ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah berpendapat :

1. Berpuasa tanggal 9 dan 10 adalah paling utama.
2. Jika berpuasa tanggal 10 dan 11 maka itu cukup menunjukkan penyelisihan terhadap Yahudi.
3. Jika berpuasa tanggal 9, 10, dan 11 maka itu tidak mengapa, berdasarkan sebagian riwayat “Berpuasalah juga kalian sehari sebelumnya (yakni tanggal 9) dan sehari setelahnya (yakni tanggal 11).”
4. Adapun berpuasa tanggal 10 saja, maka itu makruh.”

(lihat Majmu’ Fatawa wal Maqalat XV/403-404)

Hal senada juga disampaikan oleh Al-‘Allamah Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah :
Atas dasar itu, yang lebih utama adalah berpuasa tanggal 10 dan sehari sebelumnya (tanggal 9), atau sehari setelahnya (tanggal 11). Namun berpuasa tanggal 9-10 lebih utama daripada berpuasa tanggal 10-11. “ (lihat Fatwa Arkanil Islam 491)

puasa1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s