Pintu-Pintu Surga-Taubat

 

Oleh Ust. Prof. DR. Nasaruddin Umar, MA

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai…

(QS At-Tahrim 8)

2014 - 1 (6)

Banyak pintu menuju surga, tidak bisa kita mengklaim bahwa hanya ada satu pintu menuju surga. Al-Qur’an mengisyaratkan ada pintu-pintu yang berbeda dan kita diminta oleh Allah untuk masuk ke dalam surga melalui pintu yang berbeda-beda tersebut. Masjid ini memiliki banyak pintu dan kita tidak bisa mengklaim bahwa hanya satu-satunya pintu yang benar menuju masjid ini.

Pintu-pintu surga yang dimaksud adalah beberapa hal yang akan kita kaji yang dapat mengantar kita untuk mengenal lebih jauh kepada pintu-pintu surga. Salah satu pintu yang akan kita bahas pada kesempatan kali ini adalah At-Taubah. Umum untuk diketahui bahwa siapapun yang mencari Allah SWT, siapapun yang ingin bertaqarrub kepada Allah SWT, mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada-Nya, maka anak tangga pertama yang harus dilewati bagi para pencari Allah adalah taubat.

Taubat berasal dari kata taaba yatuubu artinya kembali. Kita perlu membedakan bahwa dalam bahasa Arab banyak sekali kosa katanya. Dalam bahasa Arab kata kembali bisa diartikan dengan empat pengertian, misalnya ketika seseorang meninggalkan agama karena mungkin terjebak oleh tipu daya dunia, tergoda oleh dosa dan maksiat sehingga jauh dari rel kehidupan yang benar yaitu jalan yang lurus, namun akhirnya kembali ke rel yang benar dan inilah yang disebut dengan taaba (kembali).

Pengertian kembali dalam bahasa Arab lainnya adalah raaja (kembali), misalnya kita berasal dari suatu tempat atau dari suatu titik yang sama kemudian kita keluar ke perut bumi ini dan suatu saat kita akan kembali ke kampung halaman spiritual kita yang semula yakni akhirat, inilah yang disebut dengan raaja. Oleh karena itu kalau ada orang yang meninggal kita diharuskan mengucapkan kalimat innalillaahi wa inna ilaihi raajiuun.

Pengertian kembali dalam bahasa arab lainnya adalah mardud (kembali), yang seakar kata dengan kalimat murtad artinya kembali. Misalnya ada seseorang yang melamar pekerjaan di sebuah perusahaan, namun sayang perusahaan menolaknya karena mungkin tidak lulus tes dan akhirnya ia kembali dengan tangan hampa, kembalinya ini disebut dengan murtad. Ilustrasi ini sama dengan seseorang yang mencari Allah tetapi ia ditolak Allah, kenapa? Karena ia sudah murtad, dan banyak sekali faktor yang menyebabkan seseorang menjadi murtad.

Pada kesempatan ini kita akan bahas salah satu pintu surga yaitu At-Taubah. Yang dimaksud dengan taubat adalah kembali kepada jatidiri, kembali kepada fitrah yang sebenarnya, setelah sekian lama mungkin kita hidup jauh dari rel kehidupan agama Allah. Jalan pikiran sudah tidak jernih, hati sudah mulai kotor dan terkotori, jiwa sudah tidak karuan, penyakit hati menumpuk dan lekat dalam hati dan banyak lagi yang menyebabkan ia menjadi murtad. Dari genggaman murtad, kita berontak dan melepaskan diri lalu kembali kepada jatidiri, kembali kepada fitrah yang sebenarnya dan kembali kepada agama Allah, “Ya Allah, inilah hamba-Mu yang tidak tahu diri. Hari ini saksikan oleh-Mu ya Allah bahwa saya kembali kepada-Mu, hari ini saya bertafakur menyerahkan diri sepenuhnya kepada Engkau seraya memohon ampun terhadap kealpaan hamba-Mu ini” inilah yang disebut dengan taubat.

Taubat tidak identik dengan istighfar, artinya istighfar berbeda dengan taubat bahkan dari sudut pengertian dan caranya. Begitu seseorang melakukan dosa lalu berucap astaghfirullah, yang demikian adalah istighfar bukan taubat. Taubat dalam kamus-kamus tasawuf persyaratannya ada yang mengatakan lima dan ada pula yang mengatakan tujuh. Tetapi intinya didalam kitab ihya ulumuddin karangan imam Al-Ghazali berpendapat bahwa taubat yang pertama harus dilakukan adalah setelah melakukan dosa itu kita mengucapkan lafadz-lafadz formal pertaubatan dengan beristighfar.

Tetapi menurutnya tidak cukup hanya dengan istighfar sebagai langkah pertama, kita perlukan langkah kedua yaitu tinggalkanlah perbuatan dosa dan maksiat, serta langkah ketiga bukan hanya meninggalkan tetapi bertekad didalam dirinya untuk tidak akan pernah melakukan perbuatan itu lagi. “Ya Allah saksikanlah kami, bahwa kami tidak akan jatuh tergelincir ke dalam lubang yang sama”, inilah komitmen hamba yang bertaubat. Namun rupanya tidak hanya cukup dengan komitmen, harus ada dampak yang hidup dalam bathin kita dalam bentuk penyesalan. Menyesal sejadi-jadinya dalam diri bathin, “Ya Allah hamba-Mu benar-benar tidak tahu diri begitu banyak rahmat yang Engkau berikan kepada hamba, tetapi kenapa hamba-Mu ini melakukan dosa dan maksiat”, muncullah perasaan takut, “Ya Allah menyesal hamba-Mu ini mengapa harus melakukan dosa dan maksiat, ampunilah dosa hamba-Mu ini”. Langkah yang kelima adalah gantilah perbuatan dosa dan maksiat itu dengan amal kebajikan, misalnya dengan membaca istighfar seratus kali, bahkan ada yang meriwayatkan jika seseorang telah berbuat zina kemudian melakukan pertaubatan dengan memberi makan kepada enam puluh fakir miskin.

Semoga dengan pergantian amal kebajikan terhadap perbuatan dosa dan maksiat itu Allah meringankan beban bathin kita sendiri, karena percayalah bahwa setiap dosa yang kita lakukan akan memberatkan bathin kita sendiri. Rasakanlah oleh kita yang mungkin pernah melakukan dosa, dari hari ke hari shalat tidak akan pernah khusyu, karena merasa ada yang salah dalam dirinya. Mungkin membutuhkan satu minggu pertaubatan itu baru pulih kembali kedekatan dirinya dengan Allah SWT, itupun kalau kita betul-betul menyesali diri.

Bagaimana kalau sudah bertaubat ketika seluruh rangkaian pertaubatan sudah dilakukan, ternyata keesokan harinya tergelincir lagi kedalam kemaksiatan, apa yang harus kita lakukan? Mestikah kita harus “bunuh diri”? Tidak! Allah telah mengingatkan kita, “Jangan putus asa terhadap rahmat-Ku”. Allah Maha Tahu bahwa kita bukan malaikat, kita manusia biasa dan dikepung oleh kekuatan iblis sekitar kita. Lalu apa yang harus kita lakukan? Yaitu kembali melakukan proses seperti awal dengan beristighfar. Disamping istighfar ada dua kalimat yang penting untuk selalu kita ucapkan selalu yaitu bersyahadat dan beristighfar. Dua kalimat sakral inilah nanti yang akan membersihkan jiwa dan meluruskan jalan pikiran serta mengurai benang kusut dalam bathin kita. Rasulullah SAW bersabda, “Bersyahadat ulanglah kalian…” (Al-Hadist). “Ya Allah mungkin karena keislaman saya ini karena faktor genetik hanya ikut-ikutan saja terhadap kedua orang tua saya, secara otomatis keislaman saya menjadi seperti ini, maka saksikanlah wahai Allah asyhaduanlaa ilaaha illallaah wa asyhaduanna muhammadar rasuulullaah, jadikan hamba menjadi muslim yang baru”.

Syahadat yang maqbul (diterima) memutihkan seluruh dosa masa lampau, kurang apa dosanya Khalifah Umar bin Khatab? Kurang apa dosanya sahabat Nabi saat itu? Boleh dikatakan seluruh dosa-dosa besar “dikoleksi” oleh mereka tetapi begitu mengucapkan syahadat, diputihkan total seluruh dosa dimasa lampaunya, maka ia suci seperti bayi yang baru saja dilahirkan. Tidak ada berat dan tidak ada susahnya Allah jika ingin memutihkan dosa masa lampau seseorang. Oleh karena itu jangan memandang enteng terhadap pintu taubat. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang mampu mengucapkan dua kalimat syahadat diakhir hayatnya pasti masuk ke dalam surga” (Al-Hadist).

Mungkin orang yang tidak tahu ilmu ketika menafsirkan hadist diatas,”Kalau begitu kita tidak usah shalat, tidak usah berbuat kebajikan cukup hafalkan saja syahadatnya”, keliru pernyataan ini. Tidak mudah mengucapkan Kalimat syahadat di akhir hayat, kalimat yang diucapkan dimulut ini mudah tetapi mengucapkan dari dalam bathin yang terdalam sangat sulit dan hanya orang-orang yang beriman serta beramal sholeh yang dekat dengan Allah mampu mengucapkan syahadat dari bathinnya.

Dalam sebuah kisah, tersebutlah sahabat Rasulullah bernama Al-Qomah. Sahabat yang satu ini sedang mengalami sakit hingga akan menemui ajalnya. Ketika detik-detik sakaratul maut akan tiba, Abu Bakar Shidiq sahabat terdekat Rasulullah menuntun Al-Qomah untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Namun apa yang terjadi, bibirnya sangat sulit sekali mengucapkan kalimat tersebut bahkan hanya kalimat-kalimat lain yang bisa diucapkan dengan fasih.

Kemudian Abu Bakar mengadukan kejadian ini kepada Rasulullah SAW. Mendengar kejadian ini Rasulullah langsung menemui Al-Qomah yang sedang sakaratul maut, lalu beliau menuntun Al-Qomah untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Rupanya Al-Qomah tidak tersentuh dan masih kesulitan mengucapkan dua kalimat syahadat. Kemudian Rasulullah bertanya, “Dimana ibu Al-Qomah? Apakah hadir?”. Para sahabat berkata, “Ibunda Al-Qomah tidak ada disini wahai Rasulullah”. Kemudian Rasulullah menyuruh untuk mencari ibunda Al-Qomah. Ketika ibunda Al-Qomah datang Rasulullah bertanya, “Wahai ibunda Al-Qomah, sesungguhnya apa yang terjadi dengan anakmu sehingga ia kesulitan mengucapkan dua kalimat syahadat?”. Ibunda Al-Qomah sambil meneteskan air mata berakata, “Ya Rasulullah aku masih sakit hati atas prilaku anakku”. Rasulullah bertanya, “Apa yang menyebabkan engkau sakit hati?”. Ia menjawab dengan terbata-bata, “Sejak anakku menikah, sejak itu anakku yang telah aku besarkan, aku didik, aku rawat meninggalkanku dan lebih mementingkan istrinya daripada aku wahai Rasulullah”.

Mendengar alasan ini, Rasulullah baru faham ternyata masalahnya adalah karena ibunda Al-Qomah tidak mau memaafkan anaknya. Rasulullah berkata, “Wahai ibu, sudikah kiranya engkau memaafkan anakmu ini?” Ibunda Al-Qomah menjawab, ‘Aku masih sakit hati, tidak akan sudi aku memaafkan walaupun ia anakku sendiri”. Rasulullah kemudian menyuruh seluruh sahabat-sahabatnya untuk mengumpulkan kayu bakar, hal ini membuat heran ibunda Al-Qomah, “Wahai Rasulullah untuk apa kayu bakar itu?” Rasulullah menjawab, “Sebelum anakmu dibakar hidup-hidup di neraka, aku akan bakar dulu di dunia berharap di akhirat diringankan bara api neraka ke tubuhnya”, Ibunda Al-Qomah meneteskan air mata dan berteriak , “Jangan engkau bakar anakku, aku masih ibunya aku maafkan kesalahan anakku ya Rasulullah”. Kemudian Rasulullah tersenyum dan berkata, “Baiklah, aku akan kembali tuntun anakmu dengan dua kalimat syahadat”. Sesaat kemudian Al-Qomah mampu mengucapkan dua kalimat syahadat dan matanya mengikuti ruh yang setiap detik lepas dari jasadnya, wafatlah Al-Qomah dengan khusnul khatimah karena bathinnya mampu mengucapkan dua kalimat syahadat.

Kisah ini harus menjadi pelajaran bagi kita semua, karena dosa terhadap kedua orang tua ternyata penyebab lidah ini menjadi kaku tidak bisa mengucapkan lafdzul zalalah. Menghadapi orang yang sedang sakaratul maut banyak umat Islam yang tidak tahu pentingnya menuntun membantu mengucapkan kalimat syahadat. Jangan pernah kita membiarkan anggota keluarga kita meninggal tanpa penuntun. Rasulullah SAW sangat mewanti-wanti terhadap hal ini, maka tuntunlah kepada orang yang sedang sakaratul maut, dekat telinganya dan orang yang disekitarnya membantu dengan membaca QS Yasin. Dan membaca QS Yasin dihadapan orang yang sedang sakaratul maut dianjurkan oleh Rasulullah dan para ulama sepakat mengatakan seperti itu.

Kembali kepada taubat sebagai anak tangga pertama janganlah takut, sekalipun kita tergelincir setiap hari kembalilah kepada Allah SWT. Dialah Allah Yang Maha Penerima Taubat dan Dia bukan pembosan seperti manusia, namun sebaliknya Allah sangat mencintai hamba-Nya yang bertaubat setiap saat. Allah SWT berfirman;

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (QS Al-Baqarah 222)

Jangan terus putus asa ketika melihat dosa yang kita perbuat ternyata dosa yang amat besar. Sebesar apapun dosa dalam diri seseorang jauh lebih besar pengampunan Allah SWT. Mungkin diantara kita pernah melakukan dosa besar, apakah berzina, mengambil hak orang lain, membunuh, memfitnah dan dosa-dosa besar lainnya, janganlah takut serahkan semua kepada Allah maka Dia akan menerima taubat kita. Apalagi kalau diiringi dengan air mata maka air mata inilah nanti yang akan memadamkan api neraka.

Wahai para pendosa, janganlah frustasi, ada sebuah hadist Rasulullah SAW yang sangat indah sekali untuk para pendosa, dalam sabdanya, “Jeritannya para pendosa jauh lebih dicintai Allah daripada gemuruh tasbihnya para ulama” (Al-Hadist). Wallahu a’lam

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s