Pintu-pintu Surga

Pintu-pintu Surga (1): Istigfar

Oleh: Nasaruddin Umar

KETIKA suatu saat Nabi bersama sahabatnya dalam suatu majelis, tiba-tiba datang seseorang pemuda yang menangis. Nabi bersama para sahabat mempertanyakan apa yang sedang terjadi pada diri pemuda itu, tetapi ia hanya menjawab saya telah berdosa besar.

Ia tidak mau menceritakan dosa apa yang telah dilakukannya. Dia hanya menjawab dosa yang dilakukannya dosa paling besar bahkan maha besar. Nabi bertanya kepada pemuda itu, apakah dosa anda lebih besar dari pada Allah Yang Maha Besar. Di luar dugaan Nabi dan para sahabat, pemuda itu menjawab: “Ia, dosa saya lebih besar daripada Tuhan Yang Maha Besar”.

Akhirnya para sahabat marah dan pemuda itu diusir keluar dari majelis Nabi. Tidak beberapa lama kemudian, Nabi mendapatkan isyarat dari Tuhan kalau si pemuda itu memilikipenyesalan yang amat dalam.

Nabi mencari pemuda itu ke sana ke mari akhirnya ia temukan seorang diri dalam sebuah goa. Ia mengikat dirinya sambil terus menangis. Ketika Nabi menjumpainya, ia menanyakan, apa sesunugguhnya yang sedang terjadi pada diri Anda? Kenapa Anda menganggap dosanya lebih besar dari pada Allah Yang Maha Besar? Ceritakanlah, karena disini tidak ada orang lain selain kita berdua.

Pemuda itu akhirnya menjelaskan: “Ada seorang gadis cantik di desa saya, saya sudah lama jatuh cinta tetapi cinta saya ditolak. Namun gadis itu meninggal. Ketika pengantarnya pulang dari makam, malam-malam saya gali kuburan gadis itu, saya angkat ke atas tanah, lalu aku gauli sepuasnya. Setelah selesai, saya tinggalkan dan membiarkan mayat itu tergeletak.

Setelah berjalan beberapa langkah, tiba-tiba aku mendengarkan suara gadis itu berkata: ‘Ya Allah, dosa apa gerangan yang saya lakukan di masa hidupku, kenapa pemuda itu tega melakukan hajatnya dan membiarkan jasad saya tergeletak di pinggir makam’. Itulah dosa yang paling besar yang baru saya lakukan,”

Dari situ Nabi terus menasehati pemuda itu, bahwa dosa sebesar apapun jika kita datang dengan istigfar dan taubat secara sempurna (taubah nashuha), maka tidak ada dosa yang tidak bisa diampuni Tuhan. Sebesar apapun dosa itu, pengampunan Tuhan jauh lebih besar. Siapapun di antara kita, jangan pernah frustrasi dan putus asa.

Tuhan Maha Tahu bahwa kita bukan malaikat, tetapi kita sebagai manusia yang memiliki potensi dan fasilitas untuk berdosa. Namun pada saat yang sama Tuhan menjanjikan pengampunan bagi para pendosa.

Teruslah kita beristigfar dan bertaubat. Istigfar ialah mengucapkan dan menghayati kalimat istigfar: Astagfirullah al-‘Adhim (Aku memohon pengampunan kepada Allah Yang Maha Besar). Jumlahnya tidak ditentukan namun semakin banyak semakin baik. Rasulullah mengucapkan kalimat istigfar tidak kurang100 kali dalam sehari.

Lafaz istiqfar termasuk kalimat sakral yang sering diwiridkan oleh para praktisi berbagai tarekat. Khasiat di dalam mewiridkan kalimat istigfar berbeda-beda dirasakan bagi setiap orang. Yang jelas siapapun secara konsisten mewiridkan kalimat istigfar siang dan malam maka akan diringankan beban batinnya.

Istigfar belum berarti apa-apa tanpa disertai dengan taubat (akan dibahas dalam artikel mendatang). Istigfar hanya anak tangga pertama pada proses bertaubat. Sebanyak apapun istigfar tanpa diikuti proses pertaubatan tidak akan banyak menolong seseorang.

Namun demikian, orang yang beristigfar dengan penuh kesungguhan penghayatan sudah menjadi bagian penting dari taubat. Orang yang rajin beristigfar akan selalu hidup dalam bimbingan dan pengampunan Allah Swt, sebagaimana disebutkan dalam hadist: “Orang yang beristighfar, tidak dapat dikategorikan sebagai orang yang bergelimang dalam dosa, walaupun ia mengulanginya sampai 70 kali dalam sehari.”

Dalam hadis lain disebutkan: “Tidak ada dosa kecil selama ia tetap melakukannya secara terus menerus, dan tidak ada dosa besar selama ia tetap beristighfar.” [*]

 Masjid

 

Pintu-pintu Surga (2): Taubat

Oleh: Nasaruddin Umar

DALAM sebuah hadis Riwayat Bukhari diceritakan seorang pemuda yang terkenal kejahatannya. Tiba-tiba pemuda ini mendatangi seorang ulama. Ia bertanya masih adakah jalan bagi Tuhan mengampuni dosa-dosanya yang amat besar dan banyak?

Sang ulama bertanya, dosa-dosa apa saja yang pernah dilakukan. Dijawab semua dosa besar, seperti merampok, memperkosa, dan termasuk sudah membunuh 99 orang. Sang ulama terperanjat dan spontanitas mengatakan,subhanallah, jangankan 99 orang, seorang saja yang engkau bunuh pasti engkau akan mendapatkan murka Tuhan dan dimasukkan ke dalam neraka.

Mendengar jawaban itu, sang pemuda menghunus pedangnya dan membunuh ulama ini, maka genaplah 100 orang yang dibunuh. Sehabis membunuh ulama, ia menanyakan kepada orang-orang dimana ada ulama yang bisa memberikan jawaban terhadap keresahan jiwanya.

Salah seorang menunjukkan ulama lain di kota lain. Di tengah perjalanan menuju ke rumah ulama dimaksud, ia terjatuh dan langsung mati. Datanglah malaikat penjaga neraka dengan bengis mengatakan sudah lama ia tunggu-tunggu kematianmu.

Tak lama setelah itu datang lagi malaikat penjaga syurga untuk menjemput mayat itu, karena ia sudah berjalan jauh untuk mencari pertobatan dari seluruh dosa-dosanya kepada seorang ulama. Kedua malaikat itu saling mengklaim kalau pemuda itu miliknya.

Tiba-tiba muncul malaikat ketiga yang berusaha untuk melerai persengketaan kedua malaikat tersebut. Ia mengajak kedua malaikat yang bertikai untuk sama-sama mau menempuh jalan pengadilan.

Malaikat ketiga ini mengatakan, mari kita ukur langkah perjalanan pemuda ini, lebih dekat mana antara ulama yang baru dibunuh dan ulama yang dituju. Setelah ketiga malaikat itu mengukur jarak kematian sang pemuda, maka ditemukan selangkah lebih dekat ke rumah ulama yang dituju. Lalu malaikat hakim yang diutus Tuhan memenangkan malaikat penjaga syurga.

Kisah ini menunjukkan kepada kita bahwa ketulusan untuk bertaubat yang muncul dari kesadaran diri yang paling dalam bisa menggugah kasih sayang Tuhan. Sebesar apapun apapun dosa seseorang, kasih sayang Tuhan jauh lebih besar. Tidak ada dosa besar jika yang datang adalah kemahapengasihan Tuhan, dan tidak ada dosa kecil jika yang datang adalah kemahaadilan Tuhan.

Taubat berasal dari akar kata taba-yatubu berarti kembali, yakni kembali ke jalan benar yang dituntunkan Allah swt. Jika seseorang datang dan bertaubat dengan taubat nashuha maka tidak ada mudharatnya bagi Allah Swt untuk mengampuninya.

Bahkan Allah Swt menyatakan: Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (QS Al-Baqarah/2:222). Sebesar apapun dosa seseorang jika ia bertobat sepenuh hati maka ia akan mendapatkan pengampunan dosa Tuhan, sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya: Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS An-Nisa’/4: 110).

Menurut Imam Al-Gazali dalam Ihya’-nya, seseorang dinilai bertaubat sepenuh hati jika memenuhi tujuh syarat taubat, yaitu: mengucapkan istigfar, meninggalkan dan menjauhi dosa atau maksiat, menyesal sedalam-dalamnya akan kekhilafannya, bertekad dan bersumpah untuk tidak akan kembali melakukan dosa itu, mengganti perbuatan dosa itu dengan amal kebajikan, mengembalikan harta atau hak orang lain yang pernah diambil, dan menyampaikan permohonan maaf secara jujur kepada orang yang pernah difitnah atau dibicarakan aibnya.

Jika orang sudah melakukan keseluruhan syarat taubat tersebut maka pengampunan dosa dijamin dari Allah swt, sebagaimana disebutkan dalam hadis: “Orang yang bertaubat seperti orang yang tak berdosa”. [*]

  

lafaz

 

Pintu-pintu Surga (3): Tawwab

Oleh: Nasaruddin Umar

DALAM sebuah riwayat diceritakan ada seorang pemuda yang malang melintang hidupnya selalu tenggelam di dalam doa dan kemaksiatan. Masyarakat mengusir pemuda ini ke luar pengkampungan warga.

Dalam keadaan lemah si pemuda ini merenungi nasibnya di tepi sebuah telaga. Ia menyaksikan ada seekor anjing kehausan dari tadi berusaha untuk menggapai air telaga tetapi terlalu dalam untuk dicapai bagi seeokor anjing.

Akhirnya si pemuda ini didorong rasa iba, ia membuka sepatunya lalu mengambil air dari telaga itu, kemudian diberikan kepada anjing itu. Ia senang sekali menyaksikan anjing itu minum dengan begitu lahapnya dari air yang ada di dalam sepatu pemuda itu. Mendengar cerita ini maka Nabi mengomentari bahwa pemuda itu kelak adalah penghuni surga.

Pelajaran penting dari cerita yang dikisahkan dalam hadis ini menunjukkan kepada kita bahwa dosa sebanyak apapun dan sebesar apapun jika disadari lalu diimbangi dengan perbuatan baik, baik terhadap sesama maupun makhluk hidup Tuhan lain seperti anjing yang baru saja ditolong pemuda tadi, akan menuai ampunan Tuhan.

Pengampunan Tuhan seperti yang ditujukan kepada pemuda tadi disebabkan karena si pemuda itu menyadari seluruh dosa dan kesalahannya. Ia tidak frustrasi terhadap pengampunan Tuhan dan ia pun mengganti perbuatan jahatnya dengan perbuatan baik, meskipun itu baru dilakukan kepada binatang. Apa yang dilakukan pemuda itu sesungguhnya itulah yang disebut dengan tawwab.

Tawwab berasal dari akar kata yang sama dengan taubah, yakni dari kata taba-yatubu berarti kembali. Dari akar kata ini membentuk kata al-taib (ism fa’il) yang dalam istilah agama Islam berarti orang-orang yang kembali ke jalan yang benar setelah malang melintang di dunia kegelapan dosa dan maksiat. Ia kembali kepada jalan Tuhan setelah melakukan zig-zag ke jalan iblis.

Dari akar kata yang sama juga terbentuk kata tawwab dalam istilah tasawuf berarti orang-orang yang bolak-balik kembali ke jalan yang benar karena dipicu oleh penyesalan yang mendalam disertai ketakutan akan murka Tuhan, kemudian mengganti karakter buruknya menjadi karakter baik.

Taib hanya sesekali melakukan pertobatan diri, sedangkan tawwab setiap kali melakukan dosa, termasuk dosa paling ringan sekalipun, ia selalu kembali dan menyerahkan dirinya kepada Tuhan. Ia sadar betul bahwa ajal bisa datang tiba-tiba tanpa persiapan sebelumnya, karena itu, ia selalu berusaha untuk selalu kembali (tawwab) setiap kali melakukan dosa/maksiat.

Di dalam Al-Qur’an Allah menjanjikan cinta dan kasih sayang kepada orang-orang yang bolak-balik selalu bertobat (al-tawwabin), bukannya kepada orang-orang yang sekali atau sesekali bertaubat, sebagaimana firmannya: Innallah yuhib al-tawwabin wa yuhibb al-muthathahhirin(Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang selalu bertaubat dan selalu membersihkan diri). Ayat ini juga menjanjikan cinta kepada orang-orang yang rajin membersihkan diri (al-muthathahhirin), yaitu orang-orang yang selalu mensucikan niat dan tingkah lakunya di hadapan Allah Swt. [*]

 Lafaz2

 

 

Pintu-pintu Surga (4): Tahmid dan Syukur

Oleh: Nasaruddin Umar

DALAM suatu riwayat dikisahkan bahwa salah seorang hamba Tuhan yang paling pandai bersyukur ialah Nabi Ibrahim As. Ia selalu memuji atau bertahmid sepanjang hari-hari perjalanan hidupnya.

Begitu kuat rasa syukur dan tahmid Nabi Ibrahim diceritakan setiap kali makan selalu meminta ada orang lain yang menemaninya. Setiap kali tidak ada orang yang menemani makan setiap itu pula ia pergi ke pasar mencari orang-orang yang belum makan untuk menemaninya makan di rumahnya.

Menjamu makan orang lain, terutama bagi mereka yang kelaparan, merupakan kebahagiaan tersendiri bagi Nabi Ibrahim. Menjamu orang lain makan merupakan wujud rasa syukur dan tahmid atas rahmat dan karunia yang diberikan

Tahmid ialah ungkapan spontanitas seseorang yang baru saja merasakan nikmat dan karunia Allah Swt dengan mengucapkan kata hamdalah (al-hamdulillah). Tahmid sudah dipopulerkan sebagai bahasa Indonesia seperti halnya kata syukur.

Kata tahmid berasal dari akar kata hamida-yahmadu berarti memuji. Kata hamida digunakan di dalam ayat kedua surah al-Fatihah: Al-hamdu lillahi Rabbil ’alamin (segala puji hanya tertuju kepada Allah, pujian orang-orang yang selalu bertahmid kepada Allah Swt mendapatkan pujian balik dari Allah Swt dengan ilustrasi dan perumpamaan menarik, seperti dalam firman-Nya: “Mereka itu adalah orang-orang yang bertobat, yang beribadah, yang memuji (Allah), yang melawat, yang rukuk, yang sujud, yang menyuruh berbuat makruf dan mencegah berbuat mungkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu”. (Q.S. al-Taubah/1:111-112).

Tahmid bagian dari syukur. Dengan kata lain, syukur cakupannya lebih luas dan lebih jauh. Menurut para ahli hakekat syukur adalah menyandarkan segala nikmat kepada pemberi nikmat dengan sikap rendah diri.

Atas dasar pengertian inilah Allah mempunyai sifat asy-syakr, syukur yang sangat luas. Allah memberikan balasan kepada para hamba-Nya atas kesyukurannya. Al-Junaid mengatakan, syukur ialah engkau tidak memandang dirimu sebagai pemilik nikmat. Sykir adalah orang yang mensykuri atas adanya pemberian, sedang syakr mensyukuri atas penolakan. Ada juga yang mengatakan, sykir adalah orang yang mensyukuri atas nikmat, sedangkan syakr adalah mensyukuri atas musibah yang menimpanya.

Menurut Al-Syibl syukur ialah melihat kepada pemberi nikmat dan bukan kepada nikmatnya. Pernyataan ini diperkuat dengan ucapan Nabi Ayyub AS. yang bersikap sabar terhadap musibah yang menimpanya, sehingga ia disebut sebagai hamba yang sebaik-baiknya.

Demikian juga Nabi Sulaiman AS yang bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah kepadanya sehingga ia disebut juga sebagai hamba yang sebaik-baiknya. Hal ini disebabkan karena keduanya konsentrasi pada pemberi nikmat dan bukan pada musibah dan nikmat itu, sehingga keduanya tidak merasakan sama sekali rasa sakit dan nyaman.

Syukur ada tiga macam; syukur dengan lisan, syukur dengan hati, yaitu menyadari sepenuhnya atas segala apa yang saksikan di bumi yang luas dan tetap konsisten menjaga kehormatan, serta syukur dengan aktualisasi diri.

Syukur kedua mata, adalah menahan dan menghindari dari segala yang diharamkan Allah atas keduanya dan dari segala aib orang. Syukur kedua telinga adalah menyumbat keduanya dari segala aib orang dan yang tidak halal didengarnya. Syukur kedua tangan adalah menahan untuk tidak mengambil hak orang lain. Syukur kedua kaki adalah tidak menjalankannya pada arah yang menuju kemaksiatan.

Harapan kita, tentu ingin meningkatkan kualitas kesyukuran kita, tidak hanya mengucap tahmid dan pujian kepada Allah Swt tetapi bagaimana mengaktualkan rasa syukur kita sehingga, selain kita memperoleh kepuasan batin kita juga menjadi rahmat bagi semesta alam. Itulah wujud pribadi yang bersyukur. [*]

 alquran 

 

Pintu-pintu Surga (5): Syakur

 

Oleh: Nasaruddin Umar

ADA sebuah hasil penelitian ahli anastesia di AS menyimpulkan bahwa orang-orang yang memiliki rasa kepercayaan dan keyakinan agama yang tinggi dan yang rendah tidak sama dalam merasakan derita penyakit.

Orang yang kuat rasa keagamaannya rata-rata merasakan penyakitnya di bawah 80 %, sedangkan mereka yang tidak beragama atau rasa keagamaannya rendah akan lebih berat merasakan penyakit yang dideritanya.

Syekh Ibnu thaillah juga pernah menyatakan bahwa orang yang sadar bahwa segala sesuatu yang dialami pada diri seseorang diyakini sebagai takdir yang berasal dari Tuhan maka jika itu takdir buruk tidak akan membuatnya menjerit. Sebaliknya jika takdir yang baik yang datang kepadanya tidak akan membuatnya mabuk. Akan tetapi mereka yang menganggap segala sesuatu yang menimpa dirinya bukan dari Tuhan maka akan merasa berat menerima takdir buruk dan bisa lupa diri jika menerima takdir baik.

Dalam Islam umatnya diminta untuk bersabar menerima musibah dan bersyukur menerima rezeki. Jika seseorang memiliki keyakinan dan keikhlasan yang dalam terhadap Allah Swt, maka jarak antara musibah dan kenikmatan sudah semakin dekat.

Bahkan kalangan auliya’, kekasih-kekasih Tuhan, tidak hanya mensyukuri nikmat dan karunia tetapi juga mensyukuri apapun yang berasal dari Tuhan, termasuk musibah dan penderitaan. Orang-orang yang termasuk kategori terakhir tidak lagi masuk kategori syukur tetapi sudah masuk ke dalam kategori syakur.

Syukur ketika seseorang merasa senang lalu mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Tuhannya di dalam bentuk memberikan sebagian kenikmatan itu kepada orang lain yang berhak, misalnya dalam bentuk zakat, infaq, dan shadaqah. Sedangkan syakur ketika seseorang dalam keadaan apapun selalu merasa senang, walaupun sedang kena musibah atau kekecewaan.

Ia sudah selalu berbaik sangka kepada Tuhan bahwa semua yang datang kepadanya berasal dari Tuhan dan mesti baik. Kesulitan dan penderitaan tidak mengendorkan dirinya dalam mengungkapkan rasa syukur. Inilah yang disebut di dalam Al-Qur’an: “Orang-orang yang selalu berinfak, baik dalam waktu lapang maupun waktu sempit”. (Q.S. Ali ‘Imran/3:134).

Orang-orang yang sampai ke tingkat syakur masih langka sebagaimana diakui sendiri di dalam Al-Qur’an: “Dan sedikit sekali dari hamba-hamba Ku yang berterima kasih. (Q.S. Saba’/34:13). Yang banyak di antara kita baru sampai ke tingkat tahmid dan syukur. Yang lebih banyak lagi ialah tidak bertahmid apalagi bersyakur.

Bagi orang yang sudah pada derajat syakur, segala bentuk penderitaan dan kemalangan dianggapnya sebagai “surat cinta” Tuhan. Ia sadar bahwa sekian lama dipanggil Tuhan dengan kenikmatan dan kebahagiaan tetapi tidak menyadarinya, bahkan terkadang mabuk dengan kemewahan dan kenikmatan itu.

Ketika musibah dan penderitaan menerpanya, ia tetap bahagia karena nama yang selalu muncul dalam ingatan dan pikirannya hanya Allah Swt. Berbeda ketika diuji dengan kemewahan, sedikit sekali porsi waktu untuk mengingat Allah Swt, itupun kadar intensitasnya kecil.

Orang ini dalam keadaan apapun selalu bersyukur karena ia sadar dan merasakan kebenaran firman Allah Swt: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih“. (Q.S. Ibrahim/14:7).

Orang yang sudah sampai di tingkat syakur dadanya selalu lapang selapang samudra, sehingga betapapun banyak kotoran mengalir dari mana-mana tidak akan pernah bisa mengubah warna air samudra. Sebaliknya jika dada sempit maka ia selalu merasa sumpek, sehingga sekecil apapun keritikan dan makian diterimanya langsung sesak dan stress, seperti dijelaskan dalam Al-Qur’an: “Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” (Q.S. al-An’am/6:125).[*]

 

 amin024

Pintu-pintu Surga (6): Shabr

Oleh: Nasaruddin Umar

IBN Hajar al-‘Asqallani sangat popular sebagai ulama besar, terutama dalam bidang Hadis. Dialah yang meng-syarahatau memberikan annotasi terhadapKitab Shahih al-Bukhari yang disusun Imam Bukhari yang terkenal itu. Ia meninggalkan desanya kenuju kota Mesir menuntut ilmu.

Sekian lama di sana tidak merasa pintar dan akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke kampungnya. Dalam perjalanan ia memotong ginung dan melintasi padang pasir. Karena kelelahan ia mampir istirahat di dalam goa.

Di dalam goa itu ia termenung merenungi nasibnya sebagai orang yang gagal. Dalam keadaan bersedih ia menyaksikan tetesan air terus menerus dari stalastik menimpa batu di bawahnya. Entah berapa lama tetesan itu terjadi sehingga membuat lubang di dalam batu yang ada di bawahnya. Dari situ ia belajar bahwa air yang sedemikian lembut pun berhasil melubangi batu cadas.

Bagaimana dengan dirinya? Akhirnya ia mengurungkan niatnya pulang ke desanya dan memutuskan untuk kembali ke Mesir. Dengan semangat membatu ia berhasil lulus dengan berhasil meraih berbagai prestasi istimewa. Namanya pun diabadikan sebagai Ibnu Hajar (putra batu), yang diambil dari pengalamannya menyaksikan batu cadas di dalam goa.

Sabar adalah salahsatu anak tangga yang mesti dilalui oleh orang-orang yang mendambakan keberuntungan, termasuk keberhasilan mendekatkan diri kepada Allah Swt. Sabar dalam Al-Qur’an tidak identik dengan pendiam, atau tidak melawan ketika dianiaya.

Substansi sabar ialah melakukan pengendalian diri di saat kita memiliki kemampuan. Kemampuan untuk mencekal berbagai keinginan nafsu disaat kita memiliki kemampuan untuk melakukan sesuatu. Misalnya, kita memiliki uang untuk membeli sesuatu tetapi nurani memberikan bisikan bahwa tidak etis membeli sesuatu itu di saat tetangga di sekitar kita sedang menderita. Kita memiliki kemampuan untuk membalas tetapi kita maafkan orang itu. Kita menekan amarah dan mengembalikan segala persoalan kepada Allah Swt.

Sabar selalu banyak ujiannya sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”. (Q.S. al-Baqarah/2:155).

Sabar yang sesungguhnya ialah kemampuan untuk mempertahankan kesabaran di tengah ujian-ujian itu. Sabar seperti inilah yang dapat mengundang anak tangga berikutnya yang kita kenal dengan wara’ yakni sikap proteksi diri yang amat tinggi terhadap dosa dan maksiat.

Orang-orang yang berhasil mempertahankan kesabaran sebagai sikap hidupnya maka mereka akan senantiasa bersama dengan Allah Swt. Orang-orang yang sabar akan memperoleh keutamaan-keutamaan dari Allah Swt.

Secara umum sabar bisa dibagi kepada tiga bagian. Pertama, sabar di dalam melakukan ketaatan, baik ketaatan yang bersifat fardlu atau wajib maupun ketaatan untuk menjalankan sesuatu yang bersifat sunnat. Kedua, sabar di dalam menjauhi dosa dan maksiyat. Ketiga, sabar di dalam menerima cobaan Allah Swt, misalnya cobaan dalam bentuk musibah, kekecewaan, atau penyakit.

Ujung dari setiap kesabaran adalah kebahagiaan, oleh karena itu kita tidak perlu menjalani hidup ini dengan pesimistis. Kita diminta selalu untuk optimis dan berkarya: “Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan“. (Q.S. al-Taubah/9:105). [*]

 Kabaah

 

Pintu-pintu Surga (7): Al-Shabur

Oleh: Nasaruddin Umar

NABI Ayyub orang yang paling sabar di dalam Al-Quran. Ia dicoba oleh Allah Swt dengan penyakit aneh. Sekujur tubuhnya hancur dan membusuk. Bukan hanya itu, luka di sekujur tubuhnya membusuk dan dikerumuni belatung.

Akibatnya ia dikucilkan oleh masyarakat, termasuk isteri yang selama ini mendampinginya. Ia dibuang jauh di luar perkampungan di sebuah pegunungan. Ia hidup di dalam sebuah gua yang gelap dan sepi.

Suatu ketika ia termenung dan memandangi belatung yang sedang menggerogoti tubuhnya. Ia tiba-tiba berubah pandangan terhadap belatung-belatung yang menggerogoti tubuhnya. Ia menjadikan belatung-belatung tersebut sebagai temannya dan mengatakan, wahai para belatung, sahabatku, makanlah sepuas-puasnya dagingku karena kalian semua sekarang sudah menjadi sahabatku.

Kalau hari-hari yang lampau kalian kuanggap musuhku, kemana-mana saya mencari tabib untuk memusnahkan kalian, maka sekarang satu-satunya yang bersedia menemaniku di kegelapan malam di dalam gua ini hanyalah kalian. Semua orang, termasuk anggota keluargaku, membuang aku di tempat yang jauh ini.

Setetelah sekian lama Allah Swt menguji Nabi Ayyub, maka suatu ketika ia diperintahkan oleh Allah untuk melakukan sesuatu: “Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum” (Q.S. Shad/38:42). Setelah Nabi Ayyub memukulkan kakinya ke tanah maka tiba-tiba memancar aliran air jernih dan sejuk dari bekas tumit Nabi Ayub.

Nabi Ayyub minum dan mandi dari air itu dan tiba-tiba ia merasakan perubahan yang amat besar di dalam dirinya. Ia tidak menyaksikan lagi luka di dalam tubuhnya dan sahabat-sahabat belatungnya tiba-tiba menghilang entah kemana. Bahkan bekas-bekas luka pun tidak tampak pada diri Nabi Ayyub. Ia lalu sembah sujud kepada Allah Swt dan bersyukur atas diakhirinya seluruh cobaan pada dirinya.

Ketika Nabi Ayub masuk kembali ke perkampungan di dalam kota dengan wajah tampan seperti semula, semua orang memujanya, termasuk isterinya. Namun karena sudah terlanjur bersumpah akan mencambuk isterinya kalau ia kembali sembuh, maka ia diminta Allah Swt untuk menunaikan sumpahnya tanpa menimbulkan rasa sakit pada isterinya.

Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya)”. (Q.S. Shad/38:44).

Yang menarik untuk diperhatikan dari kisah ini ialah, Allah Swt menyebut Nabi Ayyub sebagai orang yang shabir, bukan mashabir, atau shabur. Di dalam Al-Qur’an ada tiga istilah yang sering digunakan Allah, yaitu shabirmashabir, dan shabur.

Kata shabir menunjukkan kepada orang yang sabar, tetapi kesabarannya masih temporer, masih memberi batas, dan sewaktu-waktu masih bisa lepas kontrol sehingga kesabaran menjadi lenyap. Sedangkan kata mashabir berarti orang yang sabar dan kesabarannya bersifat permanen tanpa batas. Kalau ada orang yang membatasi kesabaran dalam kurun waktu tertentu, seperti ungkapan “tapi kesabaran kan punya batas”, maka orang itu belum masuk ketagori mashabir. Sedangkan shabur hanya berlaku untuk Allah Swt.

Karena itu, salah satu sifat Allah yang ditempatkan dalam asma’ yang terakhir ialah al-Sabur. Allah Swt disebut al-Shabur karena Ia sama sekali tidak terpengaruh dengan ulah dan tingkah laku hamba-Nya.

Sekufur dan sedzalim apapun hambanya Ia tetap tidak bergeming dan tetap bersedia untuk memaafkannya. Ini bukti bahwa Allah Swt lebih menonjol sebagai Tuhan Maha Pengasih-Penyayang daripada Tuhan Maha Penyiksa dan Pendendam. [*]

 

anim001

 

Pintu-pintu Surga (8): Tawakkal

Oleh: Nasaruddin Umar

SUATI ketika Rasulullah Saw menerima beberapa tamu dari luar kota di Madina. Salah seorang di antara tamunya ditanya, dimana kamu menambatkan untamu? Sang pemuda menjawab saya tidak menambatkannya karena saya sudah bertawakkal kepada Allah Swt, lalu ia memohon Rasulullah Saw mendoakan agar untanya aman. Rasulullah Saw menegur pemuda itu dengan mengatakan tambatkan dulu untanya baru bertawakkal kepada Allah Swt.

Tawakkal berarti penyerahan diri secara total semua urusan hanya kepada Allah Swt. Tawakkal adalah realisasi keyakinan terhadap adanya Tuhan Yang Maha Kuasa. Pengertian ini sesuai dengan Q.S. al-Ma’idah/5:23: “Dan hanya kepada Allah hendaknya kalian bertawakkal, jika kalian benar-benar orang yang beriman”.

Tawakkal tidak bisa diartikan kepasrahan secara pasif, yang menyiratkan unsur kemalasan, keputusasaan, dan sikap minimalisme, tetapi kepasrahan secara aktif, sesuai kapasitas manusia sebagai hamba dan khalifah yang menuntut tanggung jawab. Tidak bisa berdiam diri dengan pasif saat kita didera penyakit, tetapi kita harus berusaha mencari cara penyembuhan, sebagaimana diperintahkan Rasulullah Saw “Berobatlah wahai hamba Allah, karena Allah menciptakan penyakit dan obatnya.” (HR. al-Tirmidzi).

Jika kita sudah berobat dengan berbagai macam cara tetapi penyakitnya tetap berlangsung, baru kita tawakkal dan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah Sang Maha Penyembuh. Bersabar dari penyakit merupakan suatu hal yang terpuji, bahkan akan berfungsi sebagai pengampunan dosa, sebagaimana sabda Rasulullah Saw: “Demam satu hari menghapus dosa satu tahun.” (HR. Al-Qudha’i dari Ibnu Mas’ud).

Tawakkal disertai keikhlasan akan memberikan banyak keajaiban dalam hidup. Rasulullah Saw memberikan perumpamaan kehidupan orang-orang yang bertawakkal dengan kehidupan burung: “Jikalau kamu bertawakkal kepada Allah dengan tawakkal yang sesunguhnya, niscaya Allah memberi rezeki kepadamu, sebagaimana Allah memberi rezeki kepada burung yang keluar (dari sarangnya) pagi-pagi dengan perut lapar dan kembali pada sore hari dengan perut kenyang. Dan lenyaplah gunung-gunung penghalang dengan sebab do’amu”. (HR. Muhammad bin Nashar dari Muadz bin Jabal dan oleh Baihaqi dari Wuhaib al-Makki).

Dalam sebuah ayat juga menegaskan rezeki bagi setiap makhluk hidup sudah ditentukan oleh Allah Swt dalam Q.S. Hud/11:6: “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah lah yang memberi rezekinya.”

Tawakkal merupakan proses terakhir dalam sebuah rangkaian usaha manusia, sesuai dengan Q.S. Ali ‘Imran/3:159: “…maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun kepada mereka, dan bermusyawaralah dengan mereka dalam urusan itu, kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad (ta’zim) maka bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah menyukai orang yang bertawakkal kepadanya”.

Orang yang bertawakkal, bagaikan menempatkan dirinya ibarat sampah yang hanyut di sungai, ke manapun sungai itu membawanya dia akan pasrah. Sikap pasrah seperti ini akan membersihkan segala macam endapan power struggle di dalam diri. Akhirnya orang itu akan merasa tenang dengan jiwa yang lapang, karena semuanya diserahkan kepada Yang Maha Kuasa, la haula wala quwwah illa billah.

Para ahli haqiqah membagi tawakkal kepada beberapa tingkatan, seperti tawakkal orang awam dan tawakkal khawash. Orang-orang yang menjadikan tawakkal dengan penuh keyakinan sebagai bagian dari hidupnya, maka orang itu akan ditemani dengan keajaiban-keajaiban dalam hidup.

Terlepas dia seorang Nabi, Ibrahim As, dikenal sebagai nabi yang memiliki tawakkal paling kokoh. Dalam Al-Qur’an diceritakan, di depan gunung api yang dipersiapkan oleh Raja Namrud, Nabi Ibrahim tetap tenang sampai ia dilemparkan ke dalam lautan api, ia masih tetap tenang. Sampai lolos dari amukan api ia masih tetap tenang. Ketenangan adalah ciri orang tawakkal. [*]

 kalif03

Pintu-pintu Surga (9): Menangis

Oleh: Nasaruddin Umar

PADA era 1980-an, ada dua orang yang pernah menulis disertasi dengan melakukan penelitian terhadap jenis-jenis air mata. Seorang dari Jerman dan seorang lagi dari Amerika Serikat (AS). Keduanya menyimpulkan dalam penekanan yang berbeda bahwa air mata yang keluar dari mata karena terkena bawang atau cabe komposisi kimianya berbeda jika air mata itu keluar karena kesedihan.

Keduanya menyarankan, menangislah sepuas-puasnya jika Anda sedih karena air mata kesedihan itu berisi toksin atau racun yang bisa membahayakan tubuh jika tersimpan di dalam tubuh.

Dalam perspektif tasawuf, ada dua air mata yang sangat mahal nilainya, yaitu air mata kerinduan terhadap Tuhan dan air mata tobat. Air mata yang keluar karena didorong oleh rasa rindu terhadap Tuhan ini yang paling mahal. Seseorang tidak tahu sebabnya kenapa tiba-tiba mengucurkan air mata kerinduan itu. Linangan air mata tobat akan memadamkan api neraka.

Di dalam Al-Qur’an banyak diungkapkan perihal air mata. Antara lain: “Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis” (Q.S.Al-Isra:109), “Mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis“. (Q.S. Maryam/19:58).

Jika seorang hamba merindukan Tuhannya dan Tuhan pun merindukannya maka tanda utamanya adalah keluarnya air mata rindu dari kedua pelupuk mata seseorang. Terkadang memang sajadah tiba-tiba basah tanpa terasa akibat lelehan air mata, terutama saat-saat sujud tahajjud tengah malam.

Disebutkan dalam sebuah kitab bahwa ada sejumlah hamba Tuhan yang cacad mukanya karena air mata tak pernah berhenti mengalir di pipinya, karena begitu terharu bercampur rindu dan takut pada Tuhannya.

Mata yang tidak pernah menangis karena terharu, rindu, takut, atau rindu kepada Tuhan dikhawatirkan jiwanya kering. Karena itu siramilah jiwanya dengan air mata tobat dan rindu kepada Allah Swt.

Nabi pernah bersabda, ada tiga pasang mata yang diharamkan masuk neraka, yaitu mata yang menangis karena takut kepada Allah, mata yang tidak tidur semalaman dalam perjuangan fi sabilillah, dan mata yang dipejamkan dari sesuatu yang diharamkan Allah atau mata yang dicungkil dalam perjuangan fi sabilillah.

Abu Umamah al-Bahili berkata kepada Rasulullah SAW., apakah keselamatan itu?” Beliau menjawab: “Jagalah lidahmu, lapangkan rumahmu, dan tangisilah dosa-dosamu”.

Dalam hadis lain dikatakan “Ada tiga pasang mata yang diharamkan masuk neraka, yaitu mata yang tidak tidur semalaman dalam perjuangan fi sabilillah dan mata yang menangis karena takutnya kepada Allah”. Hadis lain, “Wahai sekalian manusia! Menangislah, sebab jika tidak menangis, maka kalian akan ditangisi”.

Sesungguhnya penghuni neraka menangis hingga air mata mereka mengalir di wajahnya seperti mengalirnya air sungai. Jika air mata mereka sudah habis, maka yang mengalir lagi dari matanya adalah darah. Andaikata sebuah kapal dilepaskan di aliran darah itu, niscaya kapal itu akan berlayar.

Disebutkan, bahwa Nabi Nuh AS, dinamakan Nuh, sebab ia banyak menangis di dunia atas dirinya. Nabi Nuh seakan menyesal karena akibat doanya sehingga umatnya binasa. Itulah yang membuatnya ia takut menghadap Tuhan di Padang Makhsyar karena ia merasa dirinya pernah bersalah. Ia tidak seperti Rasulullah yang tidak pernah mendoakan umatnya binasa, sekalipun mereka membuatnya berlumuran darah akibat penganiayaannya. Ia bahkan berdoa, “Ampunilah mereka karena mereka tidak tahu siapa saya sebenarnya“.

Menangis karena takut kepada Allah merupakan suatu petunjuk yang sangat jelas atas adanya rasa takut kepada Allah dan itu membuat cenderung semakin cinta akan kehidupan akhirat. Memang kelihatan cengeng, tetapi cengeng kepada kebesaran Allah Swt adalah terpuji dan cengeng terhadap makhluk Allah itulah yang tercela.

Biasanya ada dua hal yang mendorong seseorang untuk menangis, yaitu rasa takut kepada Allah Swt dan rasa penyesalan terhadap masa lalu dalam kehidupan yang jauh dari Allah karena kelalaian. Jika kedua hal ini menjadi penyebab keluarnya air mata maka inilah yang disebutkan dalam ayat-ayat dan hadis-hadis di atas. Berbahagialah orang yang selalu menyuburkan jiwanya dengan menyiraminya dengan air mata tobat dan rindu. [*]

kalif01

 

Pintu-pintu Surga (10): Qanaah

Oleh: Nasaruddin Umar 

ADA seseorang yang kehausan lantas diberi air dengan setengah gelas. Orang itu merasa terhina karena air itu tidak sanggup membasahi tenggerokannya. Air setengah gelas itu habis diminum tetapi betul-betul tidak menyembuhkan dahaganya sedikitpun.

Seorang lagi datang dengan kehausan yang sama dan menyaksikan air setengah gelas. Ia bersyukur, Alhamdulillah walau hanya setengah gelas tetapi lumayan bisa membasahi kerongkongan.

Alhasil orang ini merasa dahaganya terobati walau hanya setengah gelas karena berangkat dari persepsi positif, sedangkan orang yang pertama samasekali tidak terobati dahaganya karena berangkat dari persepsi negatif. Orang yang pertama contoh orang yang tidak Qana’ah dan orang yang kedua contoh orang Qana’ah.

Secara literal, Qana’ah berarti rela menerima jatah pembagian. Qana`ah adalah merasa tenang dalam menghadapi hilangnya sesuatu yang biasa ada, merasa cukup dengan yang sedikit, dan bersyukur dengan apa adanya. Ada juga yang mengatakan, yaitu merasa kaya dengan yang ada dan meninggalkan apa yang bisa menyebabkan kehilangan.

Nabi SAW bersabda: “Qana’ah merupakan perbendaharaan yang tak pernah akan habis.” Dalam hadis lainnya, beliau bersabda: “Ridhailah apa yang diberikan Allah kepadamu, niscaya kamu akan menjadi manusia yang paling kaya.”

Dalam Kitab Zabur, disebutkan, bahwa orang yang Qana’ah adalah orang yang kaya walaupun ia dalam keadaan kelaparan. Sebagian ahli hikmah berkata: “Barangsiapa yang tebal Qana’ahnya, maka setiap bulu yang ada di tubuhnya akan merasakan kebahagiaan.”

Ada qaul yang mangatakan bahwa Allah Swt meletakkan kemuliaan di dalam lima hal, yaitu: kemuliaan dalam ketaatan, kehinaan dalam kemaksiatan, kekhusyu’an dalam salat malam, kebijaksanaan dalam perut yang kosong, dan kekayaan dalam Qana’ah. Orang yang Qana’ahmerasa tenang dari kesibukan dan berjaya atas segala sesuatu. Dikatakan juga, barangsiapa yang mengarahkan pandangannya kepada apa yang ada pada orang lain, ia akan memperpanjang kesedihannya.

Kalangan arifin berkata, kalian harus memotong segala sesuatu yang mengantarkan kepada kerakusan dengan pedang Qana’ah. Nabi Musa AS. ketika cenderung merasa rakus melalui ucapannya kepada Khidhr: “Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu“. (QS. Al-Kahf/18:77). Maka ia dihukum melalui ucapan Khidhr: “Khidhr berkata: “Inilah perpisahan antara aku dengan kamu.” (QS. Al-Kahf/18: 78).

Dikatakan bahwa Allah mengutus seekor kijang ke hadapan Musa dan Khidhr AS. Ketika Musa mengucapkan ucapannya tadi, di dekat Khidhr ada daging kijang yang sudah terpanggang dan di dekat Musa juga ada daging kijang yang masih mentah. Hal ini memberi isyarat bahwa Khidhr bersikap sabar atas kelaparan, maka ia menyantapnya, sedang Musa AS. yang tidak sabar justru tidak bisa menyantapnya.

Dalam mengomentari ayat 97 surat al-Nahl “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik,” Ikrimah berpendapat kata “kehidupan yang baik” dalam ayat ini adalah Qana’ah.

Demikian juga dalam ayat 58 surat al-Hajj “Benar-benar Allah akan memberikan kepada mereka rezeki yang baik”. Rezeki yang baik dimaksudkan dalam ayat ini adalah Qana’ah. Dalam firman Allah ayat 33 surat al-Ahzab/33 “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, haiahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” Maksud al-Rijs dalam ayat ini kekikiran dan kerakusan. Dan kalimat “wa yuthahhirakum thathhiran” (membersihkan kamu sebersih-bersihnya) dimaksudkan ialah dengan cara dermawan dan Qana’ah.

Ada juga yang berpendapat, maksudnya dengan cara dermawan dan lemah lembut. Firman Allah ayat 35 surat Shad/38 “Ia berkata: “YaTuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku.” Kerajaan yang dimaksud dalam ayat ini ialah sikap Qana’ah yang sempurna.

Orang yang tidak pernah puas dengan jabatannya dan selalu mengincar jabatan orang lain dengan berbagai cara, termasuk meninggalkan Qana’ah dan mengejar kehinaan. Ambisi berlebihan lawan dari Qana’ah.

masjid002

Pintu-pintu Surga (11): Merinding

Oleh: Nasaruddin Umar

UMAR ibn Khaththab lewat di samping rumah Fatimah, ketika itu ia sedang membaca ayat suci Al-Qur’an. Umar berhenti dan menanyakan apa itu yang engkau baca membuat aku merinding. Dijawab saya membaca Al-Qur’an. Sejak itu Umar semakin tertarik terhadap Islam.

Bukan hanya Umar tetapi banyak orang seperti Umar jika mendengarkan Al-Qur’an atau nama Allah Swt disebut maka jiwanya merinding. Hal ini sudah digambarkan di dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal”. (QS al-Anfal/8:2).

“(yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan sembahyang dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka. (Q.S. al-Hajj/22:35).

Orang yang betul-betul merasa takut terhadap Tuhan, ia akan selalu merinding pada saat ia menyaksikan suatu peristiwa yang sulit dicerna akal sehat. Ia kemudian merasa sangat kecil dan kerdil di hadapan Allah Swt. Karena itu ia selalu berdoa kepada Tuhan, seperti digambarkan dalam Al-Qur’an: “Dan mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap”. (QS. Al-Sajdah/32:16). “Dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk”. (QS. Al-Ra’d/13: 21).

Fenomena spiritual seperti ini adalah positif dan banyak dicari orang. Nabi pernah bersabda: “Tidak akan masuk neraka orang yang menangis karena takut kepada Allah selama air susu masih mengalir dari susu seorang ibu.” Dalam hadis lain disebutkan: “Jika tubuh seorang hamba gemetar (karena takut kepada Allah), maka dosa-dosanya akan berguguran sebagaimana bergugurannya daun-daun dari pohon kayu yang sudah kering.”

Orang yang memiliki jiwa sensitif, seperti gampang terharu menyaksikan keajaiban makhluk Allah Swt, gampang menangis ketika mendengarkan ayat Al-Qur’an dan nama Allah Swt, maka bukan saja manusia yang akan segan terhadapnya tetapi juga seluruh makhluk alam raya lain, sebagaimana disabdakan Nabi: “Barangsiapa takut kepada Allah, segala sesuatu akan takut kepadanya. Dan barangsiapa yang tidak takut kepada Allah, justru ia akan takut kepada segala sesuatu.”

Kita bisa melihat banyak contoh lain di dalam Al-Qur’an. Misalnya, lautan tidak tega menengggelamkan kekasih Tuhan bernama Nabi Musa, sehingga dirinya dibelah dua lalu Nabi Musa bersama sahabatnya menyeberang ke daratan sebelah. Tombak besi tidak tega menembus kulitnya Nabi Daud, pisau tajam tidak tega merobek leher Nabi Ismail, api tidak tega membakar kulitnya Nabi Ibrahim, dan virus mematikan tidak tega menyerang Nabi Shaleh. Para wali juga banyak sekali menunjukkan karamahnya seperti berjalan di atas air, tidak mempan dengan benda tajam, dll. Ini semua menunjukkan kebenaran firman Allah dan sabda Rasul-Nya di atas.

Rasa takut yang membuat orang merinding ada beberapa macam, seperti dikatakan oleh Abu Ali al-Daqqaq: “Takut itu mempunyai peringkat, yaitu peringkat khaufkhasyyah, dan haibah”. Peringkat khauf merupakan syarat iman sebagaimana dinyatakan dalam nas.

Peringkat khasyyah merupakan syarat ilmu, karena Allah SWT berfirman “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. (QS. Fathir/35: 28), dan peringkat haibah merupakan syarat ma’rifahKhauf berawal dari rasa ketakutan, ketika terasa kuat, maka jadilah ia khaufKhauf adalah orang yang anggota tubuhnya kurus karena ketakutannya. Jika anggota tubuhnya sudah kurus, maka jadilah ia haibah (gentar). Jika ia mempunyai pengetahuan yang membuatnya bisa bersikap sabar, maka jadilah ia khasyyah.

Khauf bagi pendosa, rahbah bagi ‘abidin (orang-orang yang tekun ibadah), khasyyah bagi orang-orang yang berilmu, wajal bagi muhabbin (mereka yang telah sampai pada levelmahabbah), dan haibah bagi bagi ‘arifin (orang-orang yang telah sampai pada level ma’rifah). [*]

masjid004

Pintu-pintu Surga (12): Kejujuran (Shidq)

Oleh: Nasaruddin Umar

KETIKA masih kecil, Syekh Abdul Qadir Jailani dikirim ibunya menuntut ilmu ke Bagdad. Untuk bekal selama sekolah, ia dibekali uang yang disimpang di dalam lipatan bawah baju gamisnya supaya sekiranya ada perampok bisa lebih aman.

Sebelum berangkat sang ibu menasehati anaknya dengan satu kalimat: Jangan pernah berbohong! Ia diikutkan oleh ibunya kepada para saudagar yang akan menuju Bagdad dari Mekkah. Di tengah padang pasir ternyata dihadang oleh perampok. Satu persatu rombongan saudagar dijarah. Barang-barang berharga, termasuk unta dan barang dagangannya diambil gerombolan perampok.

Tiba giliran Abdul Qadir Jailani diperiksa, untanya tidak membawa harta dagangan apapun. Ketika ditanya oleh perampok, kenapa kamu tidak bawa harta? Dijawab saya bukan ke Bagdad untuk dagang tetapi untuk sekolah. Di Tanya lagi, apakah engkau tidak membawa barang berharga? Dijawab secara jujur, ada berupa uang yang disembunyikan ibu saya di dalam jahitan lipatan baju saya. Begitu diperiksa ternyata betul ada uang melingkar di dalam jahitan bajunya. Cerita ini dilaporkan kepada pimpinan perampok.

Pimpinan perampok memanggil Abdul Qadir Jailani yang waktu itu masih remaja, mengapa engkau mengatakan ada uang disembunyikan di dalam jahitan bajunya, padahal tadinya kamu sudah lolos, dijawab: Ibuku menasehatiku untuk tidak pernah berbohong kepada siapapun, termasuk kepada tuan-tuan. Mendengarkan kata-kata kejujuran ini maka pimpinan perampok berubah pikiran. Semua harta jarahan dikembalikan kepada pemiliknya. Dia bersama anak buahnya bertobat dan kembali ke kota mencari rezki yang halal.

Kejujuran (al-shidq) adalah menyatakan kebenaran di tempat-tempat yang mengancam kebinasaan, menyatakan kebenaran sama saja di waktu tersembunyi dan terang-terangan, meninggalkan segalanya selain kebenaran, dan menyempurnakan dan mensucikan segala apapun yang dimiliki.

Al-Shiddiq adalah term penekanan (mublaghah) dari kata “al-Shdiq” artinya orang yang benar-benar jujur. Sebagaimana halnya kata “al-Sikkit” dari kata “al-Skit” artinya orang yang benar-benar diam. Al-Shdiq adalah orang yang jujur perkataannya, sedangkan al-shiddiq adalah orang yang benar-benar jujur, baik perkataan, perbuatan, maupun segala tingkah lakunya. Al-Shidq adalah sumber istiqamah dan bersih dari tujuan-tujuan duniawi. Al-Shidq adalah mitra dari al-hurriyah (kebebasan) dan al-futuwwah.

Menurut Al-Junaid, kejujuran ialah bersikap jujur dan menyatakan kebenaran di daerah yang tidak ada orang selamat kecuali berdusta. Abu Ali al-Daqqaq mengatakan kejujuran adalah engkau menganggap dirimu sebagaimana adanya, atau engkau dilihat seperti apa adanya dirimu.

Ada juga yang mengatakan, orang yang jujur adalah orang yang tidak senang dan tidak membenci jika amal dilihat. Ada juga yang mengatakan, orang yang jujur adalah orang yang siap meninggal dan tidak merasa malu jika rahasianya dibeberkan.

Sesungguhnya Allah memuji kejujuran dan memerintahkan supaya bersikap jujur, sebagaimana dalam firmannya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. Al-Taubah/9: 119). Dalam hadis Nabi dijelaskan: “Seorang hamba yang tetap bersikap jujur dan konsekwen dalam kejujurannya, ia akan dicatat sebagai orang jujur di sisi Allah. Dan seseorang yang selalu berdusta dan tetap dalam kedustaannya, ia akan dicatat sebagai pendusta di sisi Allah.”

Nabi menasehatkan: “Tinggalkanlah apa yang meragukan kamu dan ambillah apa yang tidak meragukan, sebab sesungguhnya kejujuran itu adalah ketenangan dan kedustaan adalah kebimbangan.” Ia menambahkan: “Sesungguhnya kejujuran menuntun kepada kebaikan dan kebaikan menuntun kepada surga.”

Kejujuran merupakan deretan kedua setelah derajat kenabian sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Swt: “Mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni`mat oleh Allah, yaitu: para Nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh.” (QS. Al-Nisa’/4: 69).

Kejujuran meliputi kejujuran dalam niat, kejujuran dalam pembicaraan, dan kejujuran dalam perbuatan. Kejujuran dalam niat adalah tidak menghendaki semua perkataan, perbuatan, dan keadaannya kecuali hanya karena Allah. Kejujuran dalam ucapan sudah dimaklumi, dan kejujuran dalam perbuatan adalah bersikap optimis melakukan sesuatu dan tidak dengan asal-asalan. Profesionalisme adalah salahsatu wujud kejujuran. [*]

kabah003

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s