Gus Mus – Aku Merindukanmu, O, Muhammadku

Aku Merindukanmu, O, Muhammadku

Oleh: A Mustofa Bisri

Aku merindukanmu, o, Muhammadku
Sepanjang jalan kulihat wajah-wajah yang kalah
Menatap mataku yang tak berdaya
Sementara tangan-tangan perkasa

Terus mempermainkan kelemahan
Airmataku pun mengalir mengikuti panjang jalan
Mencari-cari tangan
Lembut-wibawamu

 

gus-mus1
Dari dada-dada tipis papan
Terus kudengar suara serutan
Derita mengiris berkepanjangan
Dan kepongahan tingkah-meningkah
Telingaku pun kutelengkan
Berharap sesekali mendengar
Merdu-menghibur suaramu

Aku merindukanmu, o. Muhammadku

Ribuan tangan gurita keserakahan
Menjulur-julur kesana kemari
Mencari mangsa memakan korban
Melilit bumi meretas harapan
Aku pun dengan sisa-sisa suaraku
Mencoba memanggil-manggilmu

O, Muhammadku, O, Muhammadku!

Dimana-mana sesama saudara
Saling cakar berebut benar
Sambil terus berbuat kesalahan
Qur’an dan sabdamu hanyalah kendaraan
Masing-masing mereka yang berkepentingan
Aku pun meninggalkan mereka
Mencoba mencarimu dalam sepi rinduku

Aku merindukanmu, O, Muhammadku

Sekian banyak Abu jahal Abu Lahab
Menitis ke sekian banyak umatmu

O, Muhammadku – selawat dan salam bagimu –

bagaimana melawan gelombang kebodohan
Dan kecongkaan yang telah tergayakan
Bagaimana memerangi
Umat sendiri? O, Muhammadku

Aku merindukanmu, o, Muhammadku

Aku sungguh merindukanmu.

(kumpulan : sajak-sajak bumilangit)

 

 

Puisi Gus Mus – Tadarus

Gus Mus – Tadarus

 

Bismillahirrahmanirrahim

Brenti mengalir darahku menyimak firmanMu

 

Idzaa zulzilatil-ardlu zilzaalahaa

Wa akhrajatil-ardlu atsqaalahaa

Waqaalal-insaanu maa lahaa

(ketika bumi diguncang dengan dasyatnya

Dan bumi memuntahkan isi perutnya

Dan manusia bertanya-tanya: Bumi itu kenapa?

 

Yaumaidzin tuhadditsu akhbaarahaa

Bianna Rabbaka auhaa lahaa

Yaumaidzin yashdurun-naasu asytaatan

Liyurau a’maalahum

(Ketika itu bumi mengisahkan kisah-kisahnya

Karena Tuhanmu mengilhaminya

Ketika itu manusia tumpah terpisah-pisah

‘Tuk diperlihatkan perbuatan-perbuatan mereka)

 

Gus MusFaman ya’mal mitsqaala dzarratin khairan yarah

Waman ya’mal mitsqaala dzarratin syarran yarah

(Maka siapa yang berbuat sezarrah kebaikan pun akan melihatnya

Dan siapa yang berbuat sezarrah kejahatan pun akan melihatnya)

 

Ya Tuhan, akukah insane yang bertanya-tanya

Ataukah aku mukmin yang sudah tahu jawabnya?

Kulihat tetes diriku dalam muntahan isi bumi

 

Aduhai, akan kemanakah kiranya bergulir?

Diantara tumpukan maksiat yang kutimbun saat demi saat

Akankah kulihat sezarrah saja

Kebaikan yang pernah kubuat?

 

Nafasku memburu diburu firmanMu

 

Dengan asma Allah Yang Pengasih Penyayang

Wa’aadiyaati dlabhan

Falmuuriyaati qadhan

Fa-atsarna bihi naq’an

Fawasathna bihi jam’an

(Demi yang sama terpacu berdengkusan

Yang sama mencetuskan api berdenyaran

Yang pagi-pagi melancarkan serbuan

Menerbangkan debu berhamburan

Dan menembusnya ke tengah-tengah pasukan lawan)

 

Innal-insana liRabbihi lakanuud

Wainnahu ‘alaa dzaalika lasyahied

Wainnahu lihubbil-khairi lasyadied

(Sungguh manusia itu kepada Tuhannya Sangat tidak tahu berterima kasih

Sunggunh manusia itu sendiri tentang itu menjadi saksi

Dan sungguh manusia itu sayangnya kepada harta

Luar biasa)

 

Afalaa ya’lamu idza bu’tsira maa fil-qubur

Wahushshila maa fis-shuduur

Inna Rabbahum bihim yaumaidzin lakhabier

(Tidakkah manusia itu tahu saat isi kubur dihamburkan

Saat ini dada ditumpahkan?

Sungguh Tuhan mereka

Terhadap mereka saat itu tahu belaka!)

 

Ya Tuhan,

kemana gerangan butir debu ini ‘kan menghambur?

Adakah secercah syukur menempel

Ketika isi dada dimuntahkan

Ketika semua kesayangan dan andalan entah kemana?

 

Meremang bulu romaku diguncang firmanMu

 

Bismillahirrahmaanirrahim

Al-Quaari’atu

Mal-qaari’ah

Wamaa adraaka mal-qaari’ah

(Penggetar hati

Apakah penggetar hati itu?

Tahu kau apa itu penggetar hati?)

 

Resah sukmaku dirasuk firmanMu

 

Yauma yakuunun-naasu kal-faraasyil-mabtsuts

Watakuunul-jibaalu kal’ihnil-manfusy

(Itulah hari manusia bagaikan belalang bertebaran

dan gunung-gunung bagaikan bulu dihambur-terbangkan)

 

Menggigil ruas-ruas tulangku dalam firmanMu

 

Waammaa man tsaqulat mawaazienuhu

Fahuwa fii ‘iesyatir-raadliyah

Waammaa man khaffat mawaazienuhu faummuhu haawiyah

Wamaa adraaka maa hiyah Naarun haamiyah

(Nah barangsiapa berbobot timbangan amalnya

Ia akan berada dalam kehidupan memuaskan

Dan barangsiapa enteng timbangan amalnya

Tempat tinggalnya di Hawiyah

Tahu kau apa itu?

Api yang sangat panas membakar!)

 

Ya Tuhan

kemanakah gerangan belalang malang ini ‘kan terkapar?

Gunung amal yang dibanggakan

Jadikah selembar bulu saja memberati timbangan

Atau gunung-gunung dosa akan melumatnya

Bagi persembahan lidah Hawiyah?

 

Ataukah,

o, kalau saja maharahmatMu

Akan menerbangkannya ke lautan ampunan

 

Shadaqallahul’ Adhiem

 

Telah selesai ayat-ayat dibaca

Telah sirna gema-gema sari tilawahnya

Marilah kita ikuti acara selanjutnya

Masih banyak urusan dunia yang belum selesai

Masih banyak kepentingan yang belum tercapai

Masih banyak keinginan yang belum tergapai

Marilah kembali berlupa

Insya Allah Kiamat masih lama.

Amien.

 

Love Is A Sweet Torment?

Love is A Sweet Torment?

Di masyarakat, sering kita melihat sebuah interaksi antara dua anak manusia berlainan jenis, antara pria dan wanita yang (katanya) saling mencintai dengan sepenuh hati. Akan tetapi dalam perjalanan kisah cintanya selalu diliputi perasaan cemburu, luka dan kecewa. Dan mengapa cinta seringkali melahirkan cemburu, terlukai dan kecewa? Ah,….itu khan konsekuensi logis karena kita sudah menjatuhkan hati padanya.

Cinta

cinta sejati tak akan lekang oleh waktu, tak akan pupus oleh kesedihan,
tak akan tenggelam dalam deras air mata,

Benarkah ini yang dinamakan Cinta ? Benarkah Cinta akan melahirkan perasaan terlukai?

Mari kita berpikir dan dalami dengan menggunakan akal pikiran dan padukan dengan hati yang terdalam. Benarkah semua itu? Atau jangan-jangan yang dikonotasikan dengan cinta itu hanya sebatas perasaan iba diri yang terbalut nafsu ?

Namun sesungguhnya, cinta sejati tidak akan pernah menelurkan perasaan seperti cemburu, terlukai bahkan timbul kecewa!

Kalau kita mau meneliti lebih dalam sebenarnya yang mengakibatkan penderitaan hanyalah cinta yang didorong nafsu. Cinta nafsu ini, seperti sudah menjadi sifat dan ulah nafsu, ingin memiliki, ingin disenangkan dan ingin mengikat. Karena itu tentu saja kalau orang yang ingin dimiliki dan diikat, orang yang mendatangkan kesenangan itu akan diambil orang lain, berarti kesenangannya hilang.

Hal-hal seperti itu sehingga memunculkan perasaan cemburu bahkan terlukai hingga yang terparah adalah timbulnya kebencian, lalu kesedihan dan penderitaan. Cinta nafsu ini pada hakekatnya hanya mencinta dirinya sendiri bukan orang yang dicinta, yang mementingkan kesenangan diri pribadi.

Cinta karena nafsu ini dapat menyelinap dalam cintanya seorang pria atau wanita terhadap kekasihnya sehingga sering terjadi sepasang kekasih yang tadinya bersumpah saling mencinta, setelah menjadi suami istri, timbul perpecahan dan kebencian sehingga mengakibatkan perceraian ! Ini bukti cinta nafsu. Selama masih dapat menikmati kesenangan dari orang yang katanya cinta, makanya sikapnya mesra. Akan tetapi setelah orang yang katanya dicinta itu tidak lagi memberi kesenangan kepadanya, bahkan mendatangkan kesusahan, sikapnya berubah, dari cinta menjadi benci !

Lebih sering pula cinta nafsu seperti ini menyelinap ke dalam rasa cinta seseorang terhadap sahabatnya. Seribu kali sahabat itu mendatangkan kesenangan, maka dicintanya. Akan tetapi sekali saja mendatangkan kesusahan, cintanya melayang dan berubah menjadi benci dan seribu kali kebaikannya itu terlupakan !!, yang diingat hanya satu kali keburukannya itu saja!.

Cinta itu anugerah

Cinta itu anugerah

Biarpun kata orang cinta antara orang tua dan anak itu murni, namun tidak jarang dikotori pula oleh cinta nafsu model demikian. Selama anak penurut, maka orang tuanya sangat mencintainya. Kalau anak membangkang, apalagi durhaka, makan orang tua akan membencinya bahkan memusuhinya. Karena apa? Si anak tidak mendatangkan kesenangan bahkan menyebut tidak mendatangkan kebahagiaan dan mendatangkan kerugian lahir batin atau kesusahan. Demikian pula sebaliknya, kalau orang tua dianggap baik dan menguntungkan, maka si anak akan tetap mencinta dan berbakti. Akan tetapi tidak jarang terjadi, kalau orang tua menentang kehendak si anak dan dianggap merugikan atau menyusahkan, maka cinta dan kebaktian si anakpun berubah menjadi kemarahan, bahkan mungkin kebencian.

Cinta itu memberi kekuatan

Cinta itu memberi kekuatan

Cinta kasih sejati, cinta murni tidak akan ada apabila orang mementingkan diri sendiri. Cinta sejati itu berarti MEMBERI. BERKORBAN! Cinta sejati bagaikan lilin yang memberi penerangan dengan rela mengorbankan dan menghabiskan diri sendiri.. Cinta kasih sejati, terhadap siapapun juga, merupakan ibadah terhadap Allah, Tuhan Yang Maha Esa, selalu hidup dalam hati, tanpa pamrih untuk menguntungkan dirinya sendiri melainkan sebagai kewajiban manusia yang menyalurkan kasih Tuhan kepada manusia lain.

Membuat pernyataan cinta kepada manusia belum tentu dilandasi oleh perasaan cinta yang tulus murni dan gayung bersambut. Namun menyatakan CINTA kepada Allah terlebih dahulu insyaAllah akan dibalas dan mendapat sambutan sebagai Hamba-NYA.

Shiosai – Mayumi Itsuwa 潮騷 — 五輪真弓

Mayumi Itsuwa — Shiosai (Lyrics)
潮騷 — 五輪真弓

誰もいない 港に立ち 潮 騒を聞けば
Dare mo inai minato ni tachi shiosai wi kikeba
寄るべなさに 身も心も やつれたような
Yorubenasai mi mo kokoro mo yatsureta yōna

あー 見知らぬ空 この街に
A~ mishiranu sora kono machi ni
夢を抱いたこの私を 笑って鴎
Yume wo daita kono watashi wo waratte kamome

流れ星が 涙のように ぽつりと落ちたら
Nagareboshi ga namida no yōni potsuri to ochitara
はるか遠い 故郷へと 汽笛が呼ぶよ
Haruka toi furusato he to kiteki ga yobuyo

あー いつか帰る あの街に
A~ itsuka kaeru ano machi ni
今は 元気でいるからと 伝えておくれ
Ima wa genki de iru kara to tsutaete okure

あー いつか帰る あの街に
A~ itsuka kaeru ano machi ni
きっと 土 産 話 などを 聞かせてあげよう
Kitto mitagebanashi nado wo kikasete ageyō