Pemimpin

Senin, 21 Juni 2010

… dia menebarkan ketakutan di benak para musuh kami, dia memberi kekuatan yang lebih hebat ketimbang 1.000 bek dan 10.000.000 kiper.”— Ri Myong-guk, penjaga gawang Korea Utara, menjelang pertandingan di Piala Dunia.

Tuhan dan Kim Jong-il tak datang ke Afrika Selatan. Tapi tiap kesebelasan yang bertanding di Sokkerstad yang mirip belanga Afrika itu harus mengerahkan kekuatan apa saja, termasuk yang gaib, untuk menang. Bagi kiper Korea Utara, Ri Myong-guk, yang gaib adalah kepala negaranya, Kim Jong-il. ”Dia pemain terpenting kami,” katanya tentang tokoh sakit-sakitan yang malam itu mungkin sedang terbaring di Istana Presiden di Pyongyang, 12.447 kilometer jauhnya dari Johannesburg.

Syahdan, pada malam dingin menggigit itu, Ri dan 10 kawannya berjuang. Ratusan juta penonton di seluruh dunia menyaksikan bagaimana tim Korea Utara bermain gigih, rapi, efektif.

Tapi mereka melawan Brasil, juara dunia lima kali. Mereka kalah: 2-1—meskipun kalah dengan bangga, karena mereka telah menunjukkan permainan yang mengesankan. Dunga, manajer tim Brasil, mengakui, ”Sangat berat menghadapi lawan yang begitu gigih dan begitu defensif.” Kata Ri, yang memimpin lini belakang, ”Saat menjaga gawang rasanya seperti menjaga gerbang tanah airku.”

Kalimat itu hiperbolik, memang. Kita tak tahu, tuluskah Ri atau tidak. Sepak bola di Piala Dunia punya daya yang ganjil. Ia bisa membuat orang (pemain atau penonton) merasa bagian dari sebuah puak besar yang berapi-api, dari rambut sampai kuku kaki, mendukung sebuah tim nasional. Ketika sebelum pertandingan Aegukka, lagu kebangsaan Korea Utara, dinyanyikan, (”Tekad yang teguh, dipertaut Kebenaran, akan maju tegap ke dunia.”), Jong Tae-se, pemain nomor 8, menangis.

Antara tulus dan tak tulus, antara ekspresi yang berlebihan dan tidak, tampaknya tak ada garis yang jelas di Korea Utara.

Korea Utara bukan lagi sebuah bangsa; ia sebuah umat. Marxisme-Leninisme sudah bertransformasi jadi agama. Sebagaimana agama, ia membentuk struktur yang direkatkan oleh doktrin. Agama juga butuh batu-sangga yang menopang dan mempertautkan bagian-bagian ba ngunan itu. Bagi agama pada umumnya, batu-sangga itu Tuhan; bagi ajaran juche sebagai ideologi Korea Utara, batu itu Kim Il-sung. Setelah Kim tua wafat dan putra nya, Kim Jong-il, menggantikan peran itu.

Maka sejak masa kanak, rakyat Korea dibentuk untuk memuja Kim. Sebuah studi yang dikutip The Christian Science Monitor menunjukkan besarnya dana untuk itu. Sementara pada 1990 biaya untuk pemujaan sang pemimpin meliputi 19 persen anggaran nasional, pada 2004 naik jadi 38,5 persen. Pada masa krisis, ketika alokasi buat pertahanan dan kesejahteraan rakyat diperkecil, dana untuk sekolah ideologi justru naik. Biaya itu meliputi perawatan 30.000 monumen Kim, festival olahraga, film, buku, billboard, mural, dan seterusnya.

Belum lagi buat pendidikan sekolah. Di sini, indoktrinasi untuk memuja sang Ketua sangat intensif: antara 304 dan 567 jam pelajaran. Para murid SD harus mempelajari sejarah masa kecil Kim Il-sung 152 jam dan Kim Jong-il juga demikian. Di Universitas Kim Il-sung di Pyongyang ada enam fakultas yang khusus mengajarkan riwayat dan pemikiran kedua Kim Bapak dan Kim Putra.

Dalam sejarah pemerintahan partai komunis, ini melebihi takaran. Tapi sesuatu yang sebelumnya hanya terdapat pada zaman Nazi Hitler dan Fasisme Mussolini ternyata bisa terjadi di kubu sosialis. Di Uni Soviet, muncul fenomena Stalin, yang memimpin Uni Soviet sejak 1922 sampai wafat pada 1953. Di Cina: Mao Zedong, yang jadi Ketua Partai sejak 1943 hingga 1976.

Tentang Stalin, seorang penyair menulis, dengan hi perbol lain:

Wahai, Stalin yang agung

Tuan-lah yang menyuburkan tanah

Tuan-lah yang memulihkan abad

Tuan-lah yang mengembangkan bunga di Musim Semi

Tentang Mao, seorang prajurit yang diangkat jadi manusia tauladan oleh Partai, Li Feng, menulis catatan ha riannya yang terdiri atas 200.000 kata. Hampir semuanya penuh pujaan:

”Bagiku, karya Ketua Mao ibarat makanan, senjata, dan kemudi. Kita harus makan dan dalam berperang kita harus bersenjata. Tanpa kemudi, kita tak dapat mengen darai mobil, dan tanpa mempelajari karya Mao Zedong orang tak dapat menempuh karier revolusioner.”

Barangkali manusia selalu butuh pujaan—Tuhan, Nabi, atau Sang Pemimpin. Mungkin juga kultus itu merupakan respons dari suasana cemas akan terjadinya disintegrasi, yang pada 1960-an tampak juga di Indonesia, dengan Bung Karno sebagai Pemimpin Besar Revolusi.

Tapi ada kombinasi yang ampuh yang menyebabkan kultus sang pemimpin berkembang: paduan antara kekuasaan politik dan kata-kata yang mendukungnya.

Namun ada batas dan bahaya. Ketika untuk meneguhkan sebuah kekuasaan sederet kata jadi doktrin, dan doktrin jadi slogan, dan slogan jadi mantra, manusia hidup terasing dari proses bahasa. Ia hanya menghafal. Ia makin tak pasti dengan makna kata yang diucapkannya. Ia juga makin kurang yakin akan tafsir yang datang dari dirinya sendiri, karena makna ditentukan para penguasa. Pada gilirannya, para penguasa (elite Partai, misalnya) juga mengalami keterasingan, karena dalam keseragaman slogan, mereka tak tahu di mana kata-kata sendiri.

Walhasil, akhirnya perlu satu Kata: apa yang disabdakan Sang Pemimpin.

Dan lahirlah hiperbol: sindrom rasa cemas kepada makna, karena makna tak dikuasai lagi. Dengan kalimat yang berlebihan, seseorang mencoba meyakinkan diri dan pendengarnya bahwa bahasa harus diberi tenaga ekstra, agar sedikit kembali berarti.

Demikianlah Kim Jong-il muncul di kepala dan mulut Ri Myong-guk. Ia Tuhan yang mencemaskan. Ia juga Tuhan yang menenangkan.

Goenawan Mohamad

Iklan

57 Makam Kuno Mesir Ditemukan

57 Makam Kuno Mesir Ditemukan

By Ismoko Widjaya, Mohammad Adam – Senin, 24 Mei

Sebuah mumi dari kuburan di Mesir yang diduga telah berumur 2.600 tahun

VIVAnews – Sebanyak 57 makam kuno Mesir ditemukan. Sebagian besar berupa peti mayat dari kayu berhias corak dengan mumi di dalamnya.

Seperti diberitakan Associated Press (AP) edisi Minggu 23 Mei 2010, penemuan ini memberi pengetahuan baru khazanah kepercayaan kuno Mesir.

Penemuan arkeolog itu disampaikan Dewan Tertinggi Barang Antik Mesir. Dewan menjelaskan, kuburan paling tua bertanggal sekitar 2750 tahun sebelum masehi.

Pada periode itu diperkirakan pada masa dinasti pertama dan kedua Mesir. Sebanyak 12 diantaranya diketahui merupakan makam penguasa dinasti ke-18 yang memerintah Mesir pada abad Kedua sebelum masehi.

Kepala Arkeologi Mesir Zahi Hawass mengatakan, mumi-mumi yang berasal dari dinasti ke-18 ditutupi dalam linen bertuliskan mantra dari Kitab Kematian. Mumi-mumi itu juga diberi gambar sosok dewa-dewa kuno Mesir.

Abdel Rahman El-Aydi, kepala misi penemuan arkeologi mengatakan hal serupa. Bahwa makam-makam itu dihiasi dengan teks religius. Menurut kepercayaan Mesir Kuno, teks itu akan membantu arwah agar tidak tersesat ke alam neraka.

Pada 31 kuburan bertanggal antara 2030-1840 sebelum masehi, arkeolog menemukan gambar dewa-dewa kuno Mesir yang berbeda. Dewa-dewa itu seperti Horus, Hathor, Khnum, dan Amun, sebagai hiasan.

Dewan juga mengatakan penemuan ini didapat dari penggalian di Lahoun, Fayoum. Lokasinya, berjarak sekitar 70  mil atau sekitar 100 kilometer sebelah selatan Kairo. Tahun lalu, sebanyak 53 makam batu dengan beragam tanggal masa-masa kuno juga ditemukan di wilayah itu. (jn)

(Sumber : Yahoo.Com 24 Mei 2010)

Anggito Abimanyu

Anggito Abimanyu

Oleh : Putu Setia

 

Anggito adalah Abimanyu yang sebenar-benarnya di negeri ini, sekarang. Seperti ayahnya, Arjuna, Abimanyu adalah kesatria penerus Pandawa yang kemayu, polos, tak banyak cakap, tapi cerdas. Mungkin karena ia seniman karawitan alias musik, ia tak pernah menggugat. Dalam ephos Mahabharata, Abimanyu gugur sebagai tumbal dari kebimbangan orang tua dan paman-pamannya dalam Bharatayudha.

Anggito Abimanyu adalah tumbal yang sebenar-benarnya dalam “perang politik” di negeri ini, sekarang. Dalam posisi sebagai Kepala Badan Kebijakan Fiskal, ia dipilih menjadi Wakil Menteri Keuangan. Kontrak politik sudah ditandatangani, dan pelantikan sudah diumumkan, 6 Januari 2010. Kemudian, orang tahu, Anggito batal dilantik.

Alasan pembatalan adalah pangkat tak memenuhi syarat. Jabatan wakil menteri setengah politis setengah karier. Karena Anggito menyandang nama Abimanyu, saya menduga dia tak peduli akan pangkat, karena Abimanyu dalam Mahabharata tak pernah menuntut apa pangkatnya, ia hanya berpikir tentang kerja.

Sampai di sini saya membayangkan, betapa buruknya administrasi Negara di negeri ini. Anggito, ketika ditawari jadi wakil menteri dengan segala proses seleksinya, tentu dilihat atau setidaknya didengar oleh pembantu Presiden. Lo, kok tak ada yang membisiki Presiden bahwa Anggito tak memenuhi syarat?

Oke, soal buruk, banyak yang buruk–tapi mari kita tetap mencintai negeri ini. Kisah saya teruskan, Anggito pun mengurus kepangkatannya. Sepuluh tahun mengabdi sebagai eselon satu, tentu aneh kalau pangkatnya “tak memenuhi syarat”. Syahdan, hanya sekitar seminggu, pangkat itu terpenuhi. Tapi tak ada satu pun kabar yang ia terima setelah itu, apakah jabatan wakil menteri tetap diberikan atau tidak. Adakah presiden dan pembantu presiden bimbang, sebagaimana Arjuna yang bimbang menjelang Bharatayudha?

Saya tak tahu, yang saya tahu adalah gosip yang mengabarkan terjadinya berbagai intrik politik untuk menggagalkan Anggito sebagai wakil menteri. Tuduhan yang berat, tapi tak pernah dibuktikan, Anggito condong ke partai politik tertentu. Masalahnya, Anggito adalah Abimanyu, tak pernah menanyakan hal ini kepada “ayahnya”, berbilang bulan sehingga masalah menggantung.

Tibalah saat itu. Gonjang-ganjing politik membuat Sri Mulyani mundur sebagai Menteri Keuangan. Kesempatan bagi presiden untuk mencari pengganti Srikandi ini, sekalian mengangkat wakil menteri–supaya satu paket dilantik. Menjelang pengumuman menteri dan wakilnya, Anggito banyak menerima ucapan selamat dari sahabatnya. Para sahabat ini tentu berakal sehat: bukankah jabatan itu pernah diumumkan untuk Anggito, bukankah syarat pangkat sudah dipenuhi, bukankah sejak Januari sampai Mei tak pernah ada pembatalan dari istana–baik pemberitahuan lisan maupun tertulis?

Ternyata, akal sehat kalah. Wakil menteri dijabat kolega Anggito, bukan dirinya. Anggito pun memilih mundur dari gelanggang. Ada harga diri dan martabat yang jauh lebih mulia dari jabatan. Dunia kecewa, pemimpin kehilangan etika yang paling dasar, yang oleh orang Jawa disebut “diwongke”. Apa salahnya memberi tahu Anggito bahwa ia tak jadi diangkat sebagai wakil menteri, toh alasan bisa dicari-cari.

Abimanyu & Istrinya

Seorang menteri koordinator membujuk Anggito agar tak jadi mundur, atau menawarkan jabatan lain. Saya terbahak-bahak. Abimanyu bukan Bhuto Cakil, juga bukan anak kecil yang kehilangan permen lalu diberi cokelat. Anggito memang lebih baik pulang ke Yogya–dan Sri Mulyani ke negeri seberang–karena “perang Bharatayudha” belum berakhir.

(Sumber : Tempointeraktif.Com 23 Mei 2010)

Gigolo in Paradise

Gigolo in Paradise

Penulis : Putu Setia

(ilustrasi : Cowboys In Paradise)

Orang Bali dikesankan lagi resah. Penyebabnya adalah ulah gigolo–anak kecil di Pantai Kuta menyebutnya orang bego gila–yang selama ini gentayangan di pantai, bisa jadi aktor populer. Wajah mereka tiap hari muncul di layar televisi, diambil dari cuplikan film Cowboys in Paradise.

Film dokumenter ini karya Amit Virmani, seorang pelancong yang tinggal di Singapura. Karena film ini berkisah tentang sisi gelap kepariwisataan di Bali, yaitu kehidupan para gigolo, banyak tokoh kebakaran jenggot. Tempat tinggal sang sutradara juga cepat menjadi penyulut terbakarnya jenggot itu, meski para tokoh yang resah tersebut tak berjenggot.

“Film ini sengaja ingin merusak image pariwisata Bali,” kata sejumlah orang. “Ya, Virmani tentu menjelek-jelekkan Bali karena Singapura kalah bersaing dalam menggaet turis asing yang batal ke Thailand,” kata pemilik hotel. “Film ini dibuat tanpa prosedur, tak ada izinnya,” kata Gubernur Bali. “Sang sutradara bisa dihukum pidana. Kami sudah minta bantuan Interpol karena Indonesia dan Singapura tak punya perjanjian ekstradisi,” kata juru bicara kepolisian.

Pokoknya, film yang mudah diunduh di Internet ini sudah menjadi running news–demikian menurut jurnalis televisi lokal. Stasiun televisi nasional pun menayangkan kasus ini berulang-ulang dengan mencuplik adegan dalam film itu sampai memuakkan. Untunglah, belum ada anggota DPR yang berceloteh. Kalau saja ada, ucapannya mungkin begini: “Cowboys in Paradise hanya mengalihkan isu Bank Century.”

Betulkah orang Bali resah? Ah, tidak. Saya sudah memancing pertanyaan lewat sandek (pesan pendek di telepon seluler), dan jawaban yang saya terima: gpp–jika dipanjangkan, maksudnya “gak apa apa”. Para aktor di film itu wajahnya tak asing bagi penggemar Kuta. Mereka tiap hari di sana karena pekerjaannya melatih surfing, menyewakan alat surfing, dan–ini sisi sosialnya–memberi petunjuk kepada orang di mana nyebur yang aman dari sergapan ombak.

Soal gigolo dan turis cewek, memang cerita lama. Banyak yang mengakui hal itu ada, termasuk pemuka adat di Kuta. Saya pun kadang percaya. Tapi saya tak yakin bahwa gigolo yang asli adalah gigolo dalam Cowboys itu. “Saya ditipu, saya bukan gigolo,” kata salah satu dari tiga aktor Cowboys itu di kantor kepolisian.

Apa iya, film secuil ini merusak pariwisata Bali? Ditelaah dari sisi mana pun, saya tetap yakin, film ini tak punya pengaruh apa-apa, baik pada dunia wisata Bali maupun pada citra Bali. Jika wisatawan bisa dipilah, ada tiga kelompok. Wisatawan kelas A, uangnya banyak, belanjanya banyak. Mereka tinggal di Nusa Dua, Jimbaran, Sanur, di hotel dan resor berbintang. Mereka ini bukan pengunjung Kuta, mobilnya saja tak bisa masuk. Tur mereka diatur biro perjalanan, di mana makan, di mana belanja, apa saja yang dikunjungi.

(Ilustrasi : Pantai)

Kelompok kedua, sebut kelas B. Mereka wisatawan religius, tinggal di vila atau pondok wisata pedesaan, berlatih yoga, meditasi, mencari keheningan di alam yang asri. Menetapnya bisa lama, tetapi belanjanya minim–wong kebanyakan vegetarian. Lalu kelompok ketiga, sebut kelas C, itulah penggemar Kuta. Mereka tinggal di hotel tanpa lihat bintang, sewa sepeda motor keluyuran ke mana-mana, belanja di mana saja dia mau.

Pemasukan terbesar untuk pemerintah dan pengusaha–dari pajak dan sebagainya–tentu dari kelompok A, namun yang langsung dirasakan rakyat Bali adalah dari kelompok B dan C. Cowboys in Paradise tak akan menohok kelompok A dan B, sementara bagi kelompok C, film itu justru jadi ajang promosi. Jadi, kenapa resah?


(Sumber : Koran Tempo, tgl 2 Mei 2010)

Pura Besakih