Cerpen Gus Jakfar

Gus Mus

Gus Mus

Diantara putra-putra Kiai Saleh, pengasuh pesantren “Sabilul Muttaqin” dan sesepuh di daerah kami, Gus Jakfar-lah yang paling menarik perhatian masyarakat. Mungkin Gus Jakfar tidak sealim dan sepandai saudara-saudaranya, tapi dia mempunyai keistimewaan yang membuat namanya tenar hingga ke luar daerah, malah konon beberapa pejabat tinggi dari pusat memerlukan sowankhusus ke rumahnya setelah mengunjungi Kiai Saleh. Kata Kang Solikin yang dekat dengan keluarga ndalem, bahkan Kiai Saleh sendiri segan dengan anaknya yang satu itu.

“Kata kiai, Gus Jakfar itu lebih tua dari beliau sendiri”, cerita Kang Solihin suatu hari kepada kawan-kawannya yang sedang membicarakan putera bungsu Kiai Saleh itu. “Saya sendiri tidak tahu apa maksudnya”
“Tapi, Gus Jakfar memang luar biasa,” kata Mas Bambang, pegawai Pemda yang sering mengikuti pengajian Subuh Kiai Saleh, “Matanya itu lho. Sekilas saja beliau melihat kening orang, kok langsung bias melihat rahasianya yang tersembunyi. Kalian ingat, Sumini anaknya penjual rujak di terminal lama yang dijuluki perawan tua itu. Sebelum dilamar orang sabrang, kan ketemu Gus Jakfar. Waktu itu Gus Jakfar bilang, ‘Sum, kulihat keningmu kok bersinar, sudah ada yang ngelamar ya?!’. Tak lama kemudian orang sabrang itu datang melamarnya.”
“Kang Kandar kan juga begitu,” timpal Mas Guru Slamet, “kalian kan mendengar sendiri ketika Gus Jakfar bilang kepada tukang kebun SD IV itu, ‘Kang, saya lihat hidung sampeyan kok sudah bengkok, sudah capek menghirup nafas ya?!’ Lho, ternyata besoknya Kang Kandar meninggal.”
“Ya. Waktu itu saya pikir Gus Jakfar hanya berkelakar,” sahut Ustadz Kamil, “nggak tahunya beliau sedang membaca tanda pada diri Kang Kandar.”
“Saya malah mengalami sendiri,” kata Lik Salamun, pemborong yang dari tadi sudah kepingin ikut bicara, “waktu itu, tak ada hujan tak ada angin, Gus Jakfar bilang kepada saya, ‘Wah saku sampeyan kok mondol-mondol, dapat proyek besar ya?!’ Padahal saat itu saku saya justru sedang kempes. Dan percaya atau tidak, esok harinya, saya memenangkan tender yang diselenggarakan pemda tingkat propinsi.”
“Apa yang begitu itu yang disebut ilmu kasyaf ?” tanya Pak Carik yang sejak tadi hanya asyik mendengarkan.
“Mungkin saja,” jawab Ustadz Kamil, “makanya saya justru takut ketemu Gus Jakfar. Takut dibaca tanda-tanda buruk saya, lalu pikiran saya terganggu.”
***

MAKA ketika kemudian sikap Gus Jakfar berubah, masyarakat pun geger; terutama para santri kalong, orang-orang kampung yang ikut mengaji tapi tidak tinggal di pesantren seperti Kang Solikin, yang selama ini merasa dekat dengan beliau. Mula-mula Gus Jakfar menghilang berminggu-minggu, kemudian ketika kembali tahu-tahu sikapnya berubah menjadi manusia biasa. Dia sama sekali berhenti dan tak mau lagi membaca tanda-tanda. Tak mau lagi memberikan isyarat-isyarat yang berbau ramalan. Ringkas kata dia benar-benar kehilangan keistimewaannya.
“Jangan-jangan ilmu beliau hilang pada saat beliau menghilang itu,” komentar Mas Guru Slamet penuh penyesalan, “wah, sayang sekali! Apa gerangan yang terjadi pada beliau?”
“Kemana beliau pergi saat menghilang pun, kita tidak tahu,” kata Lik Salamun, “kalau saja kita tahu kemana beliau, mungkin kita akan mengetahui apa yang terjadi pada beliau dan mengapa beliau kemudian berubah.”
“Tapi bagaimana pun, ini ada hikmahnya,” ujar Ustadz Kamil, “paling tidak kini, kita bisa setiap saat menemui Gus Jakfar tanpa merasa deg-degan dan was-was; bisa mengikuti pengajiannya dengan niat tulus mencari ilmu. Maka jika kita ingin mengetahui apa yang terjadi dengan gus kita ini, hingga sikapnya berubah atau ilmunya hilang, sebaiknya kita langsung saja menemui beliau.”
Begitulah, sesuai usul Ustadz Kamil, pada malam Jumat sehabis wiridan salat Isya, dimana Gus Jakfar prei, tidak mengajar, rombongan santri kalong sengaja mendatangi rumahnya. Kali ini hampir semua anggota rombongan merasakan keakraban Gus Jakfar, jauh melebihi yang sudah-sudah. Mungkin karena kini tidak ada lagi sekat berupa keseganan, was-was, dan rasa takut.
Setelah ngobrol kesana-kemari akhirnya Us tadz Kamil berterus terangmengungkapkan maksud utama kedatangan rombongan, “Gus, di samping silaturahmi seperti biasa, malam ini kami datang juga dengan sedikit keperluan khusus. Singkatnya, kami penasaran dan sangat ingin tahu latar belakang perubahan sikap sampeyan.”

“Perubahan apa?” tanya Gus Jakfar sambil tersenyum penuh arti, “Sikap yang mana? Kalian ini ada-ada saja. Saya kok merasa tidak berubah.”
“Dulu sampeyan kan biasa dan suka membaca tanda-tanda orang,” tukas Mas Guru Slamet, “kok sekarang tiba-tiba mak pet, sampeyan tak mau lagi membaca bahkan diminta pun tak mau.”
“O, itu,” kata Gus Jakfar seperti benar-benar baru tahu. Tapi dia tidak segera meneruskan bicaranya. Diam agak lama, baru setelah menyeruput kopi di depannya, dia melanjutkan: “Ceritanya panjang.” Dia berhenti lagi, membuat kami tidak sabar, tapi kami diam saja.
“Kalian ingat, ketika saya lama menghilang?” akhirnya Gus Jakfar bertanya, membuat kami yakin dia benar-benar siap untuk bercerita, maka serempak kami mengangguk.

“Suatu malam saya bermimpi ketemu ayah dan saya disuruh mencari seorang wali sepuh yang tinggal di sebuah desa kecil di lereng gunung yang jaraknya dari sini sekitar 200 km ke arah selatan. Namanya Kiai Tawakkal. Kata ayah dalam mimpi itu, hanya kiai-kiai tertentu yang tahu tentang kiai yang usianya sudah lebih 100 tahun ini. Santri-santri yang belajar kepada beliau pun rata-rata sudah disebut kiai di daerah masing-masing.”
“Terus terang, sejak bermimpi itu, saya tidak bisa menahan keinginan saya untuk berkenalan dan kalau bisa berguru kepada wali Tawakkal itu. Maka dengan diam-diam dan tanpa pamit siapa-siapa, saya pun pergi ke tempat yang ditunjukkan ayah dalam mimpi dengan niat bilbarakah dan menimba ilmu beliau. Ternyata ketika sampai disana, hampir semua orang yang saya jumpai mengaku tidak mengenal nama Kiai Tawakkal. Baru setelah seharian melacak kesana-kemari, ada seorang tua yang memberi petunjuk. ‘Cobalah nakmas ikuti jalan setapak disana itu,’ katanya, ‘Nanti nakmas akan berjumpa dengan sebuah sungai kecil, terus saja nakmas menyeberang. Begitu sampai seberang, nakmas akan melihat gubuk-gubuk kecil dari bambu. Nah kemungkinan besar orang yang nakmas cari akan nakmas jumpai di sana. Di gubuk yang terletak di tengah-tengah itulah tinggal seorang tua seperti yang nakmas gambarkan. Orang sini memanggilnya Mbah Jogo. Barangkali itulah yang nakmas sebut Kiai siapa tadi?’ ‘Kiai Tawakkal.’ ‘Ya, kiai Tawakal. Saya yakin itulah orangnya, Mbah Jogo.’ Saya pun mengikuti petunjuk orang tua itu, menyeberang sungai dan menemukan sekelompok rumah gubuk dari bambu. Dan betul, di gubuk bambu yang terletak di tengah-tengah, saya menemukan Kiai Tawakkal alias Mbah Jogo sedang dikelilingi santri-santrinya yang rata-rata sudah tua. Saya diterima dengan penuh keramahan, seolah-olah saya sudah merupakan bagian dari mereka. Dan kalian tahu? Ternyata penampilan Kiai Tawakkal sama sekali tidak mencerminkan sebagai orang tua. Tubuhnya tegap dan wajahnya berseri-seri. Kedua matanya indah memancarkan kearifan. Bicaranya jelas dan teratur. Hampir semua kalimat yang meluncur dari mulut beliau bermuatan kata-kata hikmah.”
Tiba-tiba Gus Jakfar berhenti, menarik nafas panjang, baru kemudian melanjutkan, “Hanya ada satu hal yang membuat saya terkejut dan terganggu.

Saya melihat di kening beliau yang lapang, ada tanda yang jelas sekali, seolah-olah saya membaca tulisan dengan huruf yang cukup besar berbunyi ‘Ahli neraka’. Astaghfirullah! Belum pernah selama ini saya melihat tanda yang begitu gamblang. Saya ingin tidak mempercayai apa yang saya lihat. Pasti saya keliru. Masak seorang yang dikenal wali, berilmu tinggi, dan disegani banyak kiai yang lain, disurat sebagai ahli neraka. Tak mungkin. Saya mencoba meyakin- yakinkan diri saya bahwa itu hanyalah ilusi, tapi tak bisa. Tanda itu terus melekat di kening beliau. Bahkan belakangan saya melihat tanda itu semakin jelas ketika beliau habis berwudhu. Gila.”
“Akhirnya niat saya untuk menimba ilmu kepada beliau, meskipun secara lisan memang saya sampaikan demikian, dalam hati sudah berubah menjadi keinginan untuk menyelidiki dan memecahkan keganjilan ini. Beberapa hari saya amati perilaku Kiai Tawakkal, saya tidak melihat sama sekali hal-hal yang mencurigakan. Kegiatan rutinnya sehari-hari tidak begitu berbeda dengan kebanyakan kiai yang lain: mengimami salat jamaah; melakukan salat-salat sunnat seperti dhuha, tahajjud, witir, dan sebagainya, mengajar kitab-kitab (umumnya kitab-kitab besar); mujahadah; dzikir malam; menemui tamu; dan semisalnya. Kalau pun beliau keluar biasanya untuk memenuhi undangan hajatan atau-dan ini sangat jarang sekali mengisi pengajian umum. Memang ada kalanya beliau keluar pada malam-malam tertentu; tapi menurut santri-santri yang lama, itu pun merupakan kegiatan rutin yang sudah dijalani Kiai Tawakkal sejak muda. Semacam lelana brata kata mereka.”

“Baru setelah beberapa minggu tinggal di ‘pesantren bambu’, saya mendapat kesempatan atau tepatnya keberanian untuk mengikuti Kiai Tawakkal keluar. Saya pikir inilah kesempatan untuk mendapatkan jawaban atas tanda tanya yang selama ini mengganggu saya.” “Begitulah, pada suatu malam purnama, saya melihat kiai keluar dengan berpakaian rapi. Melihat waktunya yang sudah larut, tidak mungkin beliau pergi untuk mendatangi undangan hajatan atau lainnya. Dengan hati-hati, saya pun membuntutinya dari belakang; tidak terlalu dekat, tapi juga tidak terlalu jauh. Dari jalan setapakhingga ke jalan desa, kiai terus berjalan dengan langkah yang tetap tegap. Akan kemana beliau gerangan? Apa ini yang disebut semacam lelana brata? Jalanan semakin sepi; saya pun semakin berhati-hati mengikutinya, khawatir tiba-tiba kiai menoleh ke belakang.”
“Setelah melewati kuburan dan kebun sengon, beliau berbelok. Ketika kemudian saya ikut belok, saya kaget, ternyata sosoknya tak kelihatan lagi. Yang terlihat justru sebuah warung yang penuh pengunjung. Terdengar gelak tawa ramai sekali. Dengan bengong, saya mendekati warung terpencil dengan penerangn petromak itu. Dua orang wanita-yang satu masih muda dan yang satunya lagi agak lebih tua dengan dandanan yang menor, sibuk melayani pelanggan sambil menebar tawa genit kesana-kemari. Tidak mungkin kiai mampir ke warung ini, pikir saya; ke warung biasa saja tidak pantas, apalagi warung yang suasananya saja mengesankan kemesuman ini. ‘Mas Jakfar!’ tiba-tiba saya dikagetkan oleh suara yang tidak asing di telinga saya, memanggil-manggil nama saya. Masya Allah, saya hampir-hampir tidak mempercayai pendengaran dan penglihatan saya. Memang betul, mata saya melihat Kiai Tawakkal melambaikan tangan dari dalam warung. Ah. Dengan kikuk dan pikiran tak karuwan, saya pun terpaksa masuk dan menghampiri kiai saya yang duduk santai di pojok. Warung penuh dengan asap rokok. Kedua wanita menor menyambut saya dengan senyumpenuh arti. Kiai Tawakkal menyuruh orang di sampingnya untuk bergeser, ‘Kasi kawan saya ini tempat sedikit!’. Lalu, kepada orang- orang yang ada di warung, kiai memperkenalkan saya. Katanya: ‘Ini kawan saya, dia baru datang dari daerah yang cukup jauh. Cari pengalaman katanya.’ Mereka yang duduknya dekat, serta merta mengulurkan tangan, menjabat tangan saya dengan ramah; sementara yang jauh, melambaikan tangan.”

“Saya masih belum sepenuhnya menguasai diri, masih seperti dalam mimpi, ketika tiba-tiba saya dengar kiai menawari, ‘Minum kopi ya?’ Saya mengangguk asal mengangguk. ‘Kopi satu lagi, yu!’ kata kiai kemudian kepada wanita warung sambil mendorong piring jajan ke dekat saya. ‘Silakan! Ini namanya rondo royal, tape goreng kebanggaan warung ini!’ Lagi-lagi saya hanya menganggukkan kepala asal mengangguk.”
“Kiai Tawakkal kemudian asyik kembali dengan ‘kawan-kawan’nya dan membiarkan saya bengong sendiri. Saya masih tak habis pikir, bagaimana mungkin Kiai Tawakkal yang terkenal waliyullah dan dihormati para kiai lain, bisa berada di sini. Akrab dengan orang- orang beginian; bercanda dengan wanita warung. Ah, inikah yang disebut lelana brata? Ataukah ini merupakan dunia lain beliau yang sengaja disembunyikan dari umatnya? Tiba-tiba saya seperti mendapat jawaban dari tanda tanya yang selama ini mengganggu saya dan karenanya saya bersusah payah mengikutinya malam ini. O, pantas di keningnya kulihat tanda itu. Tiba-tiba sikap pandangan saya terhadap beliau berubah. ‘Mas, sudah larut malam,” tiba-tiba suara Kiai Tawakkal membuyarkan lamunan saya, ‘kita pulang, yuk!’ Dan tanpa menunggu jawaban saya, kiai membayari minuman dan makanan kami, berdiri, melambai kepada semua, kemudian keluar. Seperti kerbau dicocok hidung, saya pun mengikutinya. Ternyata setelah melewati kebun sengon, Kiai Tawakkal tidak menyusuri jalan-jalan yang tadi kami lalui, ‘Biar cepat, kita mengambil jalan pintas saja!’ katanya.”

“Kami melewati pematang, lalu menerobos hutan, dan akhirnya sampaidi sebuah sungai. Dan, sekali lagi saya menyaksikan kejadian yang menggoncangkan. Kiai Tawakkal berjalan di atas permukaan air sungai, seolah-olah di atas jalan biasa saja. Sampai di seberang, beliau menoleh ke arah saya yang masih berdiri mematung. Beliau melambai, ‘Ayo!’ teriaknya. Untung saya bisa berenang; saya pun kemudian berenang menyeberangi sungai yang cukup lebar. Sampai di seberang, ternyata Kiai Tawakkal sudah duduk-duduk di bawah pohon randu alas, menunggu. ‘Kita istirahat sebentar,’ katanya tanpa menengok saya yang sibuk berpakaian, ‘kita masih punya waktu, insya Allah sebelum subuh kita sudah sampai pondok.’ Setelah saya ikut duduk di sampingnya, tiba-tiba dengan suara berwibawa, kiai berkata mengejutkan, ‘Bagaimana? Kau sudah menemukan apa yang kau cari? Apakah kau sudah menemukan pembenar dari tanda yang kau baca di kening saya? Mengapa kau seperti masih terkejut? Apakah kau yang mahir melihat tanda-tanda, menjadi ragu terhadap kemahiranmu sendiri?’ Dingin air sungai rasanya semakin menusuk mendengar rentetan pertanyaan-pertanyaan beliau yang menelanjangi itu. Saya tidak bisa berkata apa-apa. Beliau yang kemudian terus berbicara. ‘Anak muda, kau tidak perlu mencemaskan saya hanya karena kau melihat tanda ‘Ahli neraka’ di kening saya. Kau pun tidak perlu bersusah-payah mencari bukti yang menunjukkan bahwa aku memang pantas masuk neraka. Karena pertama, apa yang kau lihat belum tentu merupakan hasil dari pandangan kalbumu yang bening. Kedua, kau kan tahu, sebagaimana neraka dan sorga, aku adalah milik Allah. Maka terserah kehendak-Nya, apakah Ia mau memasukkan diriku ke sorga atau ke neraka. Untuk memasukkan hambaNya ke sorga atau neraka, sebenarnyalah Ia tidak memerlukan alasan. Sebagai kiai, apakah kau berani menjamin amalmu pasti mengantarkanmu ke sorga kelak? Atau kau berani mengatakan bahwa orang-orang di warung tadi yang kau pandang sebelah mata itu, pasti masuk neraka? Kita berbuat baik karena kita ingin dipandang baik oleh-Nya, kita ingin berdekat-dekat denganNya, tapi kita tidak berhak menuntut balasan kebaikan kita. Mengapa? Karena kebaikan kita pun berasal dari-Nya. Bukankah begitu?’ Aku hanya bisa menunduk. Sementara Kiai Tawakkal terus berbicara sambil menepuk-nepuk punggung saya, ‘Kau harus lebih berhati-hati bila mendapat cobaan Allah berupa anugerah. Cobaan yang berupa anugerah tidak kalah gawatnya dibanding cobaan yang berupa penderitaan. Seperti mereka yang di warung tadi, kebanyakan mereka orang susah. Orang susah sulit kau bayangkan bersikap takabbur, ujub, atau sikap-sikap lain yang cenderung membesarkan diri sendiri. Berbeda dengan mereka yang mempunyai kemampuan dan kelebihan, godaan untuk takabbur dan sebagainya itu datang setiap saat. Apalagi bila kemampuan dan kelebihan itu diakui oleh banyak pihak.’

Malam itu saya benar-benar merasa mendapatkan pemahaman dan pandangan baru dari apa yang selama ini sudah saya ketahui. ‘Ayo, kita pulang!’ tiba-tiba kiai bangkit, ‘Sebentar lagi subuh. Setelah sembahyang subuh nanti, kau boleh pulang.’ Saya tidak merasa diusir; nyatanya memang saya sudah mendapat banyak dari kiai luar biasa ini.”
“Ketika saya ikut bangkit, saya celingukan. Kiai Tawakkal sudah tak tampak lagi. Dengan bingung saya terus berjalan. Kudengar azan subuh berkumandang dari sebuah surau, tapi bukan surau bambu. Seperti orang linglung, saya datangi surau itu dengan harapan bisa ketemu dan berjamaah salat subuh dengan Kiai Tawakkal. Tapi, jangankan Kiai Tawakkal, orang yang mirip beliau pun tak ada. Tak seorang pun dari mereka yang berada di surau itu yang saya kenal. Baru setelah sembahyang, seseorang menghampiri saya, ‘Apakah sampeyan Jakfar?’ tanyanya. Ketika saya mengiyakan, orang itu pun menyerahkan sebuah bungkusan yang ternyata berisi barang-barang milik saya sendiri. ‘Ini titipan Mbah Jogo, katanya milik sampeyan.’ ‘Beliau dimana?’ tanya saya buru-buru. ‘Mana saya tahu?’ jawabnya, ‘Mbah Jogo datang dan pergi semaunya. Tak ada seorang pun yang tahu dari mana beliau datang dan kemana beliau pergi.’ Begitulah ceritanya. Dan Kiai Tawakkal alias Mbah Jogo yang telah berhasil merubah sikap saya itu tetap merupakan misteri.”
Gus Jakfar sudah mengakhiri ceritanya, tapi kami yang dari tadi mendengarkan, masih diam tercenung, sampai Gus Jakfar kembali menawarkan suguhannya.
***

Rembang, Mei 2002

Cerpen Gus Ja’far ini, merupakan bagian dari antologi cerpen Lukisan Kaligrafi yang telah mendapatkan penghargaan Mastera (Majelis Sastra Asia Tenggara). karangan KH. Mustofa Bisri. Cerpen ini pernah dimuat dalam harian KOMPAS edisi 23 Mei 2002. 

Gunung, Tamsil Kaendahan, lan Kapandhitan

Dening Sendang Mulyana

Gunung, Tamsil Kaendahan, lan Kapandhitan

image

WONG wadon sing sinawang saka adoh katon ayu diarani Sri Gunung. Agung, adhem, lan asri dadi kesan sing tumanjem ing ati. Wong lanang ngendi sing ora bakal kepincut nalika nyawang wong wadon sing kadunungan sipat lan watak agung mrebawani, adhem gawe ati tentrem, lan asri sekar ganda wangi?

Gunung lan kahanan sakiwa-tengene, sing rupa alas, kewan, watu, lan liya-liyane manunggal dadi siji nuwuhake kaprebawan. Nalika ketaman tresna, bisa gandrung nganggo macapat ngemu wangsalan iki:

Nimas ayu ingkang milangoni/ buron arum kang saba ing wana/ yen panggih iba rasane/ sumber gung ngisor gunung/ wreksa langking sisaning geni/ yen lega pinarengna/ pun kakang amanut/ darapon tresnaning manah/ surya ratri wong ayu sun kawulani/ sun adhep saben dina/.

Mula ora mokal yen gunung dadi objek wisata andhalan. Wong-wong sing sumpeg mikir butuh saben dina pengin enggar-enggar sarira, playune menyang gunung. Sugih-mlarat, nom-tuwa munggah gunung. Kaendahan gunung dadi objek wisata sing murah lan sehat.

Emane, kaendahan gratis peparinge Gusti Allah kuwi asring dirusak dening wong-wong sugih lan kuwasa sing murka. Rumangsa duwe dhuwit, gunung dituku, dihaki, kanggo senenge dhewe. Yen ora bisa tuku gunung, saora-orane bisa ngedegake omah gedhong, villa ing dhuwur gunung. Yen akeh wong sugih lan kuwasa padha rebutan gawe villa, laladan sing kanggo enggar-enggar sarira wong-wong pas-pasan dadi kurang. Mangkono kuwi bisa uga ngurangi kaendahan alami.

Ora mung kuwi, akehe wewangunan ing dhuwur gunung, ilange wit-witan gedhe bisa nuwuhake banjir lan longsor. Jaman biyen, wong tuwa wanti-wanti yen wit gedhe ana sing nunggu, mbuh dhemit, danyang, gendruwa, jim, lan titah alus liyane. Dadi, kudu ngati-ati, ora kena sawiyah-wiyah dibabat. Nanging, jaman saiki manungsane ora wedi, ngungkuli lan ngluwihi jim lan dhemit.
Jagat Jejeg
Gunung tumrap wong Jawa ora mung dadi objek wisata. Gunung bisa dadi tetenger mobah-mosiking jagat. Yen ana gunung njeblug, wong-wong banjur padha takon, arep ana kedadean apa? Apa kang bakal linakonan?

Apa maneh yen sing njeblug Gunung Merapi. Sajroning mitos, Gunung Merapi kuwi dadi punjere Pulau Jawa. Kacarita, nalika semana jagat Pulau Jawa miring mangulon jalaran ing perangan kulon ana Gunung Jamurdipo. Supaya jejeg lan seimbang, Dewa Krincingwesi duwe iguh pratikel mindhah gunung kuwi ing satengah-tengahing Pulau Jawa. Nanging, ing papan kono ana empu loro aran Rama lan Permadi sing lagi nedheng-nedhenge nggawe pusaka kanggo tanah Jawa.

Dewa Krincingwesi ngangkon Empu Rama lan Permadi supaya pindhah saka papan kono jalaran arep dibregi gunung. Sang empu kekarone ora maelu parentahe Krincingwesi jalaran rumangsa wis antuk palilah saka Bathara Guru. Pisan-pindho parentahe ora digubris, Krincingwesi duka yayah sinipi, muntab, sabanjure empu loro mau dibregi Gunung Jamurdipo. Rama lan Permadi pralaya ketiban gunung. Gunung Jamurdipo banjur diganti jenenge dadi Gunung Merapi jalaran ing papan kono sakawit wujud perapian kanggo sarana gawe pusaka. Rama lan Permadi sabanjure dadi ratuning titah alus, titah kang tan kasat mata ing laladan Gunung Merapi.

Ing jagat pewayangan, jeneng Rama lan Permadi dudu empu, nanging satria lelananging jagat. Rama sing bisa mbengkas kamurkaning Rahwana ing babon Ramayana, ing Mahabarata Permadi minangka agul-aguling Pandhawa mbengkas Kurawa. Kekarone dadi satriatama njejegake adil lan leres.

Yen ditarik benang merah, paraga-paraga mau padha-padha nglungguhi jejeg, adil, lan leres. Mula, yen Gunung Merapi watuk, nesu, apa maneh nganti muntab, bisa dadi pratandha lan pepeling apa ana kahanan sing durung jejeg, adil, lan leres?

Semono uga gunung-gunung liyane sing kaya-kaya antri arep njeblug. Crita lan mitos sing nglingkupi bisa dadi pepeling tumrap sapa wae. Banjur tuwuh pitakonan, kahanan jejeg, adil, lan leres kuwi magepokan utawa dadi urusane panguwasa, geneya kawula sudra sing rata-rata dadi korban?

Pitakonan sing angel diwangsuli. Serat Kalatidha anggitane Ranggawarsita bisa dadi kaca benggala (bahan refleksi). Ratune ratu utama/ patihe patih linuwih/ pra nayaka tyas raharja/ panekare becik-becik/ parandene tan dadi/ paliyasing kalabendu/ malah mangkin andadra/ rubeda kang ngreribedi/ beda-beda hardaning wong sanegara/. Sanajan ratune ratu utama, patihe uga peng-pengan, para nayaka praja uga murih raharjaning negari, nanging kok durung jejeg, adil, lan leres?

Bali marang dhiri pribadi supaya bisa mulat sarira hangrasa wani. Jaman saiki, sing maido lan sing dipaido malah padha-padha dadi tontonan. Ora lucu, nanging malah marakke sirah ngelu!
Papan Mandhita
Gunung sing isih alami bisa dadi papan kanggo reresik jiwa. Yen ratu wis lengser, sabanjure munggah gunung madeg resi, mandhita. Mbomenawa para ratu kuwi rumangsa yen nalika nyepeng panguwasa akeh lepotan perkara sing cengkah karo batine, kapeksa dilakoni jalaran ngemong wong pirang-pirang sing beda-beda hardane. Mandhita, madeg resi, dadi sarana kanggo ngupadi manising pati.

Para resi dadi parang jujugan jejering satria. Para resi dadi wong sing wegig, waskitha, lan wicaksana, jalaran wis ngedohi kadonyan. Para resi kanthi penggalih ingkang wening, bisa nimbang lan nglimbang endi sing jejeg, adil, lan leres. Jejering resi ora bakal turun gunung yen kahanan durung bener-bener kebangeten remuke. Jalaran, pancen ora gampang njejegake adil lan leres.

Apa sing madeg resi kudu dadi ratu luwih dhisik? Apa kudu ngenteni tuwa, sawise jeleh dadi panguwasa lagi mandhita? Apa kawula lumrah ora bisa madeg pandhita?

Tamtune ora kaya ngono. Madeg resi ora kudu ngenteni dadi panguwasa dhsisik. Tur maneh, lepotan perkara lan dosa ora mung cumondhok ing panguwasa, nanging uga kawula lumrah. Manungsa urip, ora idhep panguwasa utawa sudra, kuwi kabeh dununge luput lan lali. Wong cilik sing dosane tumpuk-undhung uga pirang-pirang. Gunung dadi pralambang spiritualitas.

Saliyane dadi panggonan kanggo ngresiki dosa, gunung uga dadi papan mertapa kanggo ngranggeh kasudibyan. Wahyu tumurun, menclok ing jiwanggane wong sing lagi mertapa, uga asring dumunung ing gunung-gunung. Gunung dadi papan kanggo nggembleng dhiri dimen tahan banting, ora cengeng lan ingah-ingih. Pendekar lagi turun gunung yen rumangsa wis cukup bekal kanggo tarung, nguji kepinterane. Tarung sing wigati tamtu ngadhepi urip ing madyaning bebrayan. Wani urip, ora dadi mladehan, benalu, nanging sewalike dadi pribadi sing prigel mrantasi gawe, aweh panguripan.

Nalika rame-ramene suksesi, akeh sesebutan satria:  Satri Kinunjara, Satria Mukti Wibawa, Satria Piningit, lan liya-liyane, salah sijine sebutan Satria Pinandhita Kasinungan Wahyu. Kang pungkasan iki mujudake satria sing jiwane pandhita. Satria, bisa tinegesan panguwasa utawa sarira kang taksih ambyur ing madyaning bebrayan, sing ora nengenake kapentingan dhiri pribadi lan kadonyan, nanging satuhu ngupadi jejeging adil lan leres. Gunung dadi pralambang kawah cadradimukane panggulawenthah kapribaden.

Nanging, yen saiki akeh gunung sing rusak, njeblug, apa kuwi pralambang yen wong-wong sing mertapa wis arang-arang? Apa wong-wong sing ngudi kawegigan, kawaskithan, lan kawicaksanan saya suwe saya sithik? Apa wong-wong sing suka nrabas, ora idhep kawula utawa panguwasa, saya akeh?

(Sendang Mulyana, aktivis budaya manggon ing Semarang /CN27)

Sumber : http://suaramerdeka.com

PUISI DOA ORANG LAPAR (WS RENDRA)



Kelaparan adalah burung gagak
yang licik dan hitam
jutaan burung-burung gagak
bagai awan yang hitam

Allah !
burung gagak menakutkan
dan kelaparan adalah burung gagak
selalu menakutkan
kelaparan adalah pemberontakan
adalah penggerak gaib
dari pisau-pisau pembunuhan
yang diayunkan oleh tangan-tangan orang miskin

Kelaparan adalah batu-batu karang
di bawah wajah laut yang tidur
adalah mata air penipuan
adalah pengkhianatan kehormatan

Seorang pemuda yang gagah akan menangis tersedu
melihat bagaimana tangannya sendiri
meletakkan kehormatannya di tanah
karena kelaparan
kelaparan adalah iblis
kelaparan adalah iblis yang menawarkan kediktatoran

Allah !
kelaparan adalah tangan-tangan hitam
yang memasukkan segenggam tawas
ke dalam perut para miskin

Allah !
kami berlutut
mata kami adalah mata Mu
ini juga mulut Mu
ini juga hati Mu
dan ini juga perut Mu
perut Mu lapar, ya Allah
perut Mu menggenggam tawas
dan pecahan-pecahan gelas kaca

Allah !
betapa indahnya sepiring nasi panas
semangkuk sop dan segelas kopi hitam

Allah !
kelaparan adalah burung gagak
jutaan burung gagak
bagai awan yang hitam
menghalang pandangku
ke sorga Mu

WS Rendra (1995 )


Terbalut Ketulusan

 

Terbalut Ketulusan

 

Rentang waktu tlah terajut benang sutra,

Temaram senja menguak kembali lukisan mesra berbaur gairah,

Terseok-seok diantara otot di keriput kulit coklatku

 

Kusadari sinaran itu pernah memancarkan pesona di kala kuncup baru tumbuh

Kala pagi baru menguakan cahyanya di bayang2 timur

Saat sepeda tua itu terayun langkah  kaki mungil berbalut sepatu pink

Pita merah di rambutnya berkibar dan senyum itu terus mengukir

Terpatri di sudut hati terdalam…….yah hanya senyum itu

Senyum penuh keluguan  beradu lirikan ketulusan…..

 

Kini kau hadir mengisi malam-malam bagai lilin menerangi lorong gelap

Tak kuduga ungkapan tulus terkuak setelah senja tlah menjelang

Telah hampir kering telaga cinta menguap di teriknya sang surya menyengat

 

Ragawi terbias jiwa rentak menghentak

terusik wajah yg mengoles lembar hitam putih perjalanan

Ingin kubisikan kata terindah dalam nyanyian merdu kenikmatan

Rasa ini telah terbalut ketulusan

 

(Buat si pita merah yg tak pernah kau kenakan saat itu)