17 AGUSTUS DIISI DENGAN 17 REKA’AT & 17 RAMADHAN

Indonesia

Tujuh Belas Agustus merupakan tanggal terpenting bagi bangsa Indonesia, karena pada hari itu Indonesia diproklamirkan sebagai negara yang merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945. Pada saat itu Indonesia dinyatakan merdeka dari penjajahan Portugis, Belanda, dan Jepang, sehingga dapat mengatur kehidupan sendiri. Apakah bangsa ini benar-benar merdeka ? Apakah rakyat betul-betul merasakan nikmat kemerdekaan ? Merdeka adalah bebas dari penjajahan, eksploitasi, pendudukan, pengaruh, dsb dari orang atau bangsa lain. Itulah masyarakat umum menterjemahkan makna merdeka.

Islam mengajarkan bahwa orang yang merdeka adalah orang yang bertaqwa kepada Allah, orang yang senantiasa menjaga diri untuk tetap bertauhid kepada Allah, tetap tunduk patuh kepada Allah, tetap di jalan Allah, tetap berniat karena Allah, dan tetap bertujuan mencapai ridho Allah. Dia sama sekali tidak terbelenggu oleh manusia dan tidak terjerat oleh kehidupan dunia. Dia bebas; hanya Allah yang mengatur dia dan menentukan nasib hidupnya.

Mayoritas penduduk Indonesia (sekitar 85%) penduduk Indonesia adalah Muslim. Indonesia, katanya, sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia. Kemerdekaan 17 Agustus sudah seharusnya diisi dengan 17 reka’at dan 17 Ramadhan. Kemerdekaan harus diisi dengan menegakkan shalat 17 reka’at ; mengerjakan shalat lima waktu dengan baik-benar dan mengamalkan ajarannya dalam kehidupan sehari-hari. Kemerdekaan harus diisi dengan pedoman al-Quran yang turun pertama pada 17 Ramadhan. Syari’ah Islam sudah seharusnya diterapkan di bumi Indonesia. Syari’ah Islam diterapkan untuk kemaslahatan (kebaikan) ummat manusia, siapapun, bahkan untuk kebaikan seluruh alam (Rahmatan lil’aalamiin).

anak

Shalat mempunyai nilai dan kedudukan yang sangat tinggi dalam agama Islam, yaitu ; Shalat merupakan salah satu dari lima rukun Islam yang wajib dikerjakan orang yang beriman,

QS4-103

“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”.(Q.S. 4:103),

Shalat untuk mengingat Allah dan memohon pertolongan-Nya,

QS2-153

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”.(Q.S. 2:153)

QS20-14

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”.(QS 20:14)

Dengan shalat yang baik akan diperoleh keberuntungan,

QS23-1 QS23-2

“1. Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, 2. (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya”.(Q.S. 23:1-2)

Dengan shalat dapat mencegah keburukan (kemunkaran),

QS29-45

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”.(Q.S. 29:45).

Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa shalat sebagai tiang agama, siapa yang mengerjakannya dia menegakkan agama dan yang tidak mengerjakan dia merubuhkannya. Beliau juga bersabda bahwa shalat merupakan mi’rajul-mu’miniin, shalat menjadi pembatas antara orang yang beriman dan yang tidak beriman, dan shalat adalah amalan yang dihitung pertama kali pada hari kiamat kelak.

Shalat tidak sekedar berdimensi ritual tetapi juga dimensi aktual yang dipancarkan melalui simbol-simbol di dalamnya (syarat, gerakan, bacaan, dan shalat jama’ah). Shalat merupakan simbol kehidupan. Shalat secara wajar (bukan darurat) diwajibkan menghadap ke kiblat di Makkah. Ka’bah menjadi titik sentral dari konfigurasi lingkaran. Konfigurasi lingkaran ini mempunyai makna simbolik yang mendalam. Seluruh isi jagat raya, baik jenis makro¬kosmos maupun mikrokosmos, menunjukkan konfigurasi lingkaran. Seluruh isi alam semesta bergerak melingkar. Dalam skala makro dapat diketahui bahwa bulan mengelilingi bumi sembari dia sendiri berputar pada porosnya. Bulan dan bumi, sembari bumi sendiri berputar pada porosnya, mengelilingi matahari. Planet-planet lain juga melingkari matahari. Dalam skala mikro dapat diketahui bahwa setiap benda mempunyai molekul yang terdiri dari atom-atom. Inti atom yang berupa netron dikelilingi oleh proton dan elektron. Konfigurasi lingkaran dan gerakan orbital merupakan konfigurasi dan gerakan kehidupan alam semesta. Shalat merupakan simbol kehidupan, artinya ajaran shalat harus diterapkan dalam kehidupan nyata.
Jika dihitung secara matematis, maka keseluruhan gerakan shalat menunjukkan angka 360 derajat, angka yang menunjukkan gerakan orbital (melingkar). Penghitungan 360 derajat didapat dari akumulasi lima tahap gerakan shalat. Tahap satu adalah sikap berdiri sempurna, sejajar dengan bidasng vertikal. Tahap ini menunjukkan sudut 0 derajat. Tahap kedua adalah sikap ruku’ sempurna yang akan membentuk proyeksi sudut siku-siku sebesar 90 derajat terhadap bidang vertikal. Tahap ketiga adalah sikap sujud pertama sempurna yang akan membentuk proyeksi sudut tumpul sebesar 135 derajat terhadap bidang vertikal. Tahap keempat adalah sikap duduk sempurna kembali yang akan membentuk sudut sebesar 0 derajat. Tahap kelima adalah sikap sujud kedua sempurna yang juga membentuk sudut 135 derajat terhadap bidang vertikal. Gerakan melingkar adalah gera¬kan alam semesta yang bergerak terus-menerus.

Shalat dilakukan oleh orang Islam (muslim), yaitu orang yang telah menyatakan dirinya taat, menyerahkan diri, dan tunduk kepada Allah SWT agar terjamin keselamatan hidupnya di dunia dan akhirat. Hal ini berarti bahwa status muslim merupakan status simbol yang menggambarkan keadaan atau apa yang seharusnya dilakukan oleh pemegang status tersebut. Status mahasiswa, dosen, guru, petani, dokter, kepala keluarga, dan lainnya menggambarkan keadaan atau apa yang seharusnya dilakukan oleh pemegang status itu. Shalat merupakan amanat Allah. Orang yang mengerjakannya harus berakal sehat dan dewasa (baligh). Kedewasaan dan akal sehat seseo¬rang mampu mengemban amanat yang ada dalam statusnya secara baik. Amanat hanya bisa diemban oleh orang-orang yang berakal sehat dan dewasa, sedangkan orang yang gila dan masih kanak-kanak tidak dibeba¬ni dengan amanat; mereka bebas dari hukum. Orang yang tidak bisa memegang amanat dengan baik (misalnya amanat rakyat), maka dia itu orang gila atau kekanak-kanakan.

Contoh lain adalah gerakan/posisi sujud, yang minimal 34 kali sehari semalam. Ketika bersujud, kepala yang terletak di paling atas harus diturunkan dan diletakkan di tempat paling bawah sejajar dengan telapak kaki. Sujud mengajarkan ketawadhu’an (rendah hati) – tidak sombong – dan solidaritas sosial. Kepala dalam arti ‘ekonomi’ adalah orang kaya. Posisi sujud mengajarkan bahwa sebagian harta orang-orang kaya harus diberikan ke ‘rakyat bawah’ – wong cilik – (fakir, miskin, yatim, dsb.). Kepala dalam arti ‘politik’ adalah para pejabat dan wakil rakyat. Posisi sujud mengajarkan bahwa para pejabat dan wakil rakyat harus turun ke bawah melihat dan banyak membantu ‘rakyat bawah’ – wong cilik – (fakir, miskin, yatim, gelandangan, anak jalanan, buruh miskin, nelayan miskin, petani miskin, dsb.). Kepala dalam arti ‘ilmu’ adalah orang-orang pandai (ilmuwan, cendekiawan, dsb). Posisi sujud mengajarkan bahwa orang-orang pandai harus juga memandaikan orang-orang awam (tidak pandai). Jika ingin menjadi orang pandai jangan sendirian, pandai bersama. So, sujud memberi pesan; jangan hanya mengkayakan AKU tetapi juga mengkayakan KAU, tidak hanya mensejahterakan AKU tetapi juga mensejahterakan KAU, dan tidak hanya memandaikan AKU tetapi juga meminterkan KAU.

Seorang imam shalat mempunyai kriteria (syarat) tertentu seperti sanggup menunaikan shalat, mengetahui aturan shalat jama’ah, berakal sehat, mampu membaca al-Quran dengan benar, orang yang sholeh (baik, terhindar dari kemaksiatan), disetujui oleh makmum, dan dapat dipilih yang lebih tua. Syarat tersebut dapat direfleksikan pada pemimpin masyarakat. Dengan demikian seorang pemimpin masyarakat sanggup melaksanakan tugasnya, profesional dalam tugasnya, berakal sehat, dapat menjadi contoh yang baik dan disepakati oleh warganya.
Ummat Islam hendaknya tidak hanya “mengerjakan shalat” tetapi harus meningkat pada “menegakkan shalat”, yaitu mengerjakan shalat dengan benar dan kemudian menterjemahkan makna simbolik shalat dalam kehidupan kongkrit. Dengan kata lain, setelah melaksanakan “shalat-shalat ritual” dilanjutkan dengan “shalat-shalat aktual”. Shalat aktual adalah shalat ritual yang telah diterjemahkan dalam realitas empirik.

Kitab
Akhirnya, 17 Agustus harus diisi dengan 17 Ramadhan, yaitu ajaran al-Quraan al-Kariim. Allah berfirman, yang artinya, “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur” (QS. al-Baqarah 2:185).

Last but not least, Sayyid Quthb, dalam kitab tafsirnya yang berjudul Fii Zhilalil-Quran, menyatakan bahwa hidup manusia di bawah naungan al-Quran adalah suatu kenikmatan yang luar biasa. Kenikmatan itu hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yang benar-benar mengimani, menghayati, memahami, dan mengamalkan isi al-Quran. Hal ini berarti bahwa mereka harus betul-betul terhindar dari kekotoran/kemaksiatan hidup di dunia. Kenikmatan itu dapat mengangkat harkat-martabat manusia.

Penulis : Ustadz Muhammad Muhtar Arifin Sholeh

Dosen Unissula, Semarang-Jawa Tengah

(Sumber : FB – https://www.facebook.com/muhammadmuhtararifin.sholeh)

Benarkah Hajar Aswad Superkonduktor?

bismillah2
Saya beberapa kali menerima pesan baik berupa email, FB dan BBM bahkan di Whatsapp tentang sebuah informasi yang menyebutkan bahwa Hajar Aswad (batu hitam/Black Stone yang ada di dekat Ka’bah) merupakan superkonduktor dan menjadi penentu rotasi bumi.

Kutipan informasi tentang Hajar Aswad yang banyak di-copy paste para blogger (tanpa riset dahulu terhadap sumber) dan juga banyak beredar di email dan BBM (BlackBerry Messenger) adalah sebagai berikut :

Encyclopedia Americana menulis : “…Sekiranya orang2 Islam berhenti melaksanakan thawaf ataupun shalat di muka bumi ini, niscaya akan terhentilah perputaran bumi kita ini, karena rotasi dari super konduktor yg berpusat di Hajar Aswad, tdk lg memencarkan gelombang elektromagnetik.

Menurut hasil penelitian dari 15 Universitas : menunjukkan Hajar Aswad adalah batu meteor yg mempunyai kadar logam yg sangat tinggi, yaitu 23.000 kali dari baja yg ada.

Beberapa astronot yg mengangkasa melihat suatu sinar yg teramat terang mememancar dari bumi, dan setetlah diteliti ternyata bersumber dari Bait Allah atau Ka’bah. Super konduktor itu adalah Hajar Aswad, yg berfungsi bagai mikrofon yg sdg siaran dan jaraknya mencapai ribuan mil jangkauan siarannya.

Prof Lawrence E Yoseph – Fl Whiple menulis : “…Sungguh kita berhutang besar kpd orang Islam, shalat, tawaf dan tepat waktu menjaga super konduktor itu…”.

hajar-aswad

Hajar Aswad (Batu Hitam/Black Stone)

  1. Benarkah informasi tersebut dapat dipertanggungjawabkan dan shahih ? atau hanya sekedar HOAX ?
  2. Pada halaman berapa dari Buku Encyclopedia Americana kutipan tersebut tercantum?
  3. Jika benar itu superkonduktor, dan apa hubungannya dengan rotasi bumi dan berfungsi bagai mikrofon yg sdg siaran dan jaraknya mencapai ribuan mil jangkauan siarannya?
  4. Bukti apa yang bisa ditunjukan bahwa tawaf dan sholat berhubungan dengan rotasi bumi? Bagaimana dengan planet lain diluar bumi ?
  5. Dari 15 Universitas yang melakukan penelitian tersebut, Universitas mana saja? Siapa penelitinya? Dimana Jurnal ilmiah tersebut bisa dibaca ?
  6. Karena artikel ini menyinggung masalah sains, haruslah mencantumkan nama peneliti yg bisa dihubungi, dan diumumkan hasil penelitian didepan para ilmuwan dan dibuatkan jurnal ilmiah. Dimana Jurnal ilmiah tersebut bisa dibaca ?

Dan nyatanya tidak ada satu pun postingan blog yang menjelaskan pertanyaan-pertanyaan di atas. Rata-rata hanya copy-paste secara berantai tanpa melakukan klarifikasi atas penelitian dan pernyataan tersebut. Bagi umat muslim kutipan artikel ini sangat menggembirakan seraya bagi pembaca nya pastilah akan mengucap kalimat “Subhanallah, Allahuakbar, Masyaallah” tidak ada salah nya memang ketika kita menemukan sesuatu yang “amazing” dan membuat diri kita merasa heran akan kebesaranNya.

Namun sebagai Muslim, kita musti kritis terhadap berita atau kutipan seperti diatas. Jangan sampai terjebak dalam kekaguman semata. Kita hendaknya check & recheck terhadap berita sebelum turut menyebarluaskan.

neil amstrong

Neil Amstrong

Jangan sampai kita terjebak seperti kejadian belasan tahun yang lalu, dimana sebuah kabar mengenai seorang astronot Amerika Serikat, Neil Armstrong menjadi mualaf usai mendengar suara adzan di bulan, ternyata dibantah oleh pria bersahaja itu. Armstrong menyatakan tidak pernah mendengar suara adzan ketika berada di bulan, apalagi mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai syarat masuk Islam. Bersama dua rekannya Buzz Aldrin dan Michael Collins, Armstrong disebut-sebut sukses mendarat dan berhasil menjejakan kaki di bulan. Lewat misi Apollo 11, trio astronot NASA itu mencatatkan namanya di buku-buku sejarah sebagai manusia pertama yang menginjakkan kaki di bulan tersebut. Tapi, dibalik kesuksesan tersebut, ada cerita yang masih menyisakan misteri, yakni kisah Armstrong menjadi muslim setelah mendengar suara adzan saat berada di orbit bumi.
Entah dari mana kabar bila sekembali dari bulan Armstrong langsung menjadi umat Nabi Muhammad SAW. Apalagi sepanjang hidupnya, Armstrong terkenal sebagai seorang yang tertutup kepada media. Tapi dugaan ia menjadi muslim berawal ketika Armstrong mengunjungi Mesir pada 1970.
Sayangnya, ayah tiga anak itu tidak mengklarifikasi kabar tersebut. Armstrong tidak membenarkan atau menyanggah kabar tersebut. Sejumlah media, seperti answering-islam.org, Jurnal Arabia, dan wiki-islam menulis berita kontroversi Armstrong masuk Islam adalah hoax alias cerita bohong. (http://www.republika.co.id  tgl 29-08-2012).

ka'bah banjir2

Ka’bah kebanjiran, 1941

Barangkali banyak orang belum tahu. Kabah yang menjadi kiblat umat Islam ternyata pernah dilanda banjir pada 1941 setelah hujan deras mengguyur Kota Makkah, Arab Saudi. Situs wikiislam.net melaporkan air setinggi 152 sentimeter menggenangi kompleks Masjid Al-Haram, termasuk Kabah. Musibah itu lantaran sistem pembuangan air belum bagus, apalagi Makkah berada di tengah lembah dikelilingi bukit-bukit batu.
Tidak diketahui berapa jumlah jamaah haji waktu itu. Mungkin tidak banyak sebab pada 1920-an peziarah terus menurun. Pada 1922, jumlahnya 56 ribu orang.
Banjir juga merendam Kabah di masa Khalifah Umar bin Khattab. Bencana itu merusakkan dinding batu yang direkatkan dengan lumpur dan tanah. Sekarang bangunan setinggi 13,1 meter itu diperkuat semen.
Hal yang membuat kita ragu adalah, pada saat itu sedikit ada orang tawaf, atau mungkin tidak ada orang thawaf pada jam-jam tertentu lalu apakah rotasi bumi berhenti? ternyata tidak dan Ka’bah beserta Hajar Aswad yang dibangun oleh Nabi Ibrahim AS; apakah sebelum Nabi Ibrahim AS bumi tidak ber-rotasi ? nyatanya bumi tetap ber-rotasi sesuai Ketentuan Allah dan Kehendak Allah.

Apakah Hajar Aswad Meteorit (batu meteor) ?

Saya dapat info dari Pak Rovicky di blog-nya http://rovicky.wordpress.com/2011/11/18/hajar-aswad-batu-apakah-kalau-bukan-batu-meteor/

Saya kutipkan, semoga bisa jadi referensi

Beberapa sifat dasar Hajar Aswad, seperti diketahui pada tahun 950 saat Gubernur Makkah Abdullah ibn Akim menguji batu-batu yang diduga Hajar Aswad yang dicuri sekte Ismailiyah Qaramithah 22 tahun sebelumnya, adalah terapung di air dan tidak pecah/terpanaskan meskipun dibakar di nyala api. Terapung di air menandakan densitas (massa jenis) Hajar Aswad lebih kecil dibanding densitas air, sehingga densitas Hajar Aswad kurang dari 1 gram/cc. Sementara tidak terpanaskan tatkala dibakar menunjukkan konduktivitas termal Hajar Aswad rendah dan tidak pecah akibat panas menunjukkan kekuatannya (daya ikat antar penyusunnya) cukup tinggi.
Sifat lainnya, sebagaimana dipaparkan geolog Farouk el-Baz tatkala menunaikan ibadah haji, adalah tingkat kekerasannya yang tinggi (minimal skala Mohs 7 atau setara batu permata). Sifat lainnya lagi adalah warnanya yang putih susu, sebagaimana dipaparkan sejarawan Muhammad ibn Nafi al Khaza’i yang menyaksikan langsung kondisi Hajar Aswad menjelang restorasi Sultan Murad al-Utsmani di tahun 1631.
Sementara meteorit yang ditemukan di Bumi, selalu memiliki densitas lebih dari 1 gram/cc. Meteorit batuan memiliki densitas antara 2 – 4 gram/cc, sementara meteorit besi jauh lebih besar yakni 7,8 gram/cc. Termasuk ke dalam meteorit batu misalnya meteorit palasit, yang unik karena tersusun dari kumpulan kristal berwarna putih susu dan jarang dijumpai. Densitas meteorit yang terkecil yang pernah ditemukan adalah 1,8 gram/cc yakni dari meteorit Tagish Lake yang jatuh di Kanada pada 18 Januari 2000. Tidak ada meteorit yang memiliki densitas lebih kecil dari 1 gram/cc. Selain itu, ketahanan dan kekerasan meteorit berbanding lurus dengan densitasnya. Sehingga jika Hajar Aswad adalah meteorit, dengan kekerasan Mohs 7 maka setidaknya ia harus memiliki densitas di atas 5 gram/cc, satu hal yang tak nyata karena di sisi lain akan menyebabkannya tenggelam ketika ditaruh di air.
Hajar Aswad semula dikira mineral olivine monolitik dalam meteorit palasit. Namun ciri-ciri keduanya sangat berbeda.

meteorit2

Jatuhnya Meteor dari angkasa

Hajar Aswad sebagai superkonduktor yang mempengaruhi rotasi bumi tidak jelas sumbernya dan patut dipertanyakan.
Anggapan bahwa Hajar Aswad sebagai meteorit terbantahkan oleh seorang pakar geologi Indonesia. Dalam blog-nya Pak Rovicky tampaknya senada seperti yang ditulis oleh Pak Ma’rufin Sudibyo bahwa Hajar Aswad bukanlah batu meteor. Kutipan tulisan Pak Ma’rufin Sudibyo bisa dilihat di http://kafeastronomi.com/hajar-aswad-batu-meteor-hoax.html
Kesimpulannya Hajar Aswad sebagai batu meteorit adalah Hoax!

meteorit

Contoh Batuan Meteorit

Benarkah Hajar Aswad, yg berfungsi bagai mikrofon yg sdg siaran dan jaraknya mencapai ribuan mil jangkauan siarannya ?

radio HF

Stasiun Radio Malabar, 1923

satelit

Stasiun Bumi

Sebuah perangkat komunikasi yang berfungsi sebagai Pemancar (Transmiter) haruslah membutuhkan catuan (sumber energi). Apakah catuan itu berupa Arus Bolak-Balik (AC) maupun Arus Searah (DC). Dan untuk bisa memancarkan hingga ribuan mil dengan media perantara udara/angkasa dibutuhkan catuan yang cukup besar.
Perangkat yang pernah digunakan manusia untuk mengirimkan gelombang dengan jarak ribuan mil adalah perangkat HF yang bekerja pada HF (High Frequency : 3 – 30 MHz, 10 – 100 m) dengan memanfaatkan lapisan atmosfir sebagai pantulan-pantulannya (Sky Wave). Di dunia broadcast dikenal dengan siaran SW (Short Wave), seperti BBC, VOA, Radio Australia (era1980-an). Tapi sekarang relative jarang broadcasting yang memanfaatkan frekwensi ini. Di jaman penjajahan Belanda, Dayeuh Kolot Bandung pernah mempunyai perangkat ini pindahan dari Radio Malabar untuk komunikasi ke Madagaskar dan Negeri Belanda. Dengan catuan 2,400 KiloWatt (KW). Spektakuler besarnya.

Yang kedua adalah Komunikasi satelit. Jaraknya bisa mencapai 36,000 Km dari Stasiun Bumi ke Satelit. Dengan catuan 100 Watt, bekerja di Frekwensi 4 Ghz untuk downlink dan 6 GHz untuk Uplink.

Yang menjadi pertanyaan adalah :

  1. Berapa Watt yang dibutuhkan oleh Hajar Aswad untuk memancarkan siarannya?
  2. Jenis catuan apa yang digunakan untuk memancarkan siarannya?
  3. Pada frekwensi berapa Hajar Aswad bekerja ?

Sampai saat ini belum ada penelitian untuk itu dan Batu Hitam Hajar Aswad bukan perangkat telekomunikasi.

Dalam tataran keimanan, kita meyakini bahwa Hajar Aswad saat turun dari surga adalah batu yaqut dari sekian banyak batu yaqut yang berada di sana. Kemudian dihadirkan pada Nabi Ibrahim AS agar dia meletakkannya di salah satu rukun (sendi atau sudut) Ka’bah. Lalu, Rasulullah SAW mengambilnya dengan tangannya yang mulia dan meletakkanya di tempatnya semula saat dilakukan rehabilitasi Ka’bah oleh orang-orang Quraisy. Kemuliaan keutamaannya semakin bertambah karena Rasulullah SAW menciumnya sebagaimana yang dilakukan oleh para nabi sebelumnya.

Musafi bin Syaibah berkata, “Aku mendengar Abdulah bin Amru bin Ash radhiallahu ‘anhu berkata: ‘Aku bersaksi dengan nama Allah! (sambil meletakkan anak jarinya di telinga) aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,‘Sesungguhnya Hajar Aswad dan Maqam adalah dua buah batu di antara batu-batu Yaqut (batu mulia) di surga, yang dihilangkan oleh Allah cahayanya, andaikan Allah tidak menghilangkan cahayanya, niscaya sinarnya menerangi antara timur dan barat’.”

Dalam Shahih Bukhari juga disebutkan bahwa Umar bin Khathab mendatangi Hajar Aswad dan menciumnya. “Sesungguhnya, aku tahu bahwa engkau hanyalah batu biasa yang tidak memberikan manfaat dan mudharat. Andaikata aku tidak melihat Rasulullah menciummu, niscaya aku tidak akan pernah menciummu,” .

hajar aswad

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata bahwa Rasulullah SAW telah bersabda : “Hajar Aswad diturunkan dari surga, dahulu ia berwarna lebih putih dari susu namun berubah menjadi hitam lantaran dosa anak-cucu Adam” (sunan At-Tirmidzi dalam kitab Al-Hajj bab III/226, ia berkata ini hadits hasan shohih, dishohihkan Ibnu Khuzaimah (IV/220)).

Semoga kita bisa menerapkan sikap kehatian-hatian (wara’i) untuk memeriksa dan membuktikan berita-berita yang kita anggap ”amazing”. Tetapi sebenarnya adalah HOAX.

Wallahu ’alam bissawab

Penyusun : DioN Erbe

Referensi :

  1. http://rovicky.wordpress.com/2011/11/18/hajar-aswad-batu-apakah-kalau-bukan-batu-meteor/
  2. http://kafeastronomi.com/hajar-aswad-batu-meteor-hoax.html
  3. Sudibyo. 2012. Ensiklopedia Fenomena Alam dalam al-Qur’an, Menguak Rahasia Ayat-Ayat Kauniyah. Surakarta: Tinta Medina, dalam Bab 5: Gunung Berapi
  4. (Sudibyo. 2012. Sang Nabi pun Berputar, Arah Kiblat dan Tata Cara Pengukurannya. Surakarta: Tinta Medina, dalam Bab 1: Ka’bah) 

hoax

Meraih Khusnul Khatimah

Al hadid 3

Al hadid 4

“Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang dhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas ´arsy Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al Hadiid, 57 : 3-4).

Sebaik-baik umur adalah yang dipanjangkan umur tetapi penuh dengan taat kepada Allah dan amal saleh.
Seburuk-buruk umur adalah yang panjang umurnya tetapi penuh dengan dosa dan maksiyat kepada Allah.

Orang yang akan selamat di alam akhirat adalah yang selamat di alam kubur. Orang yang selamat di alam kubur adalah orang yang selamat ketika di akhir hidupnya.
Akhir hidup yang baik sulit didapat jika kita sehari-harinya tidak taat kepada Allah dan taat kepada Rasul.

 

Doa adalah ibadah

Oleh karena itu, supaya akhir hidup kita menjadi baik (husnul-khatimah) maka mulai sekarang kita harus menjadi orang yang taat kepada Allah, taat kepada Rasul dan selalu beramal saleh. Orang yang doanya akan dimakbul oleh Allah adalah mereka yang beriman, taat, mengamalkan sunnah Rasul, banyak beramal saleh, banyak berjasa kepada orang lain dan menjauhi dosa dan maksiyat kepada Allah. Mintalah kepada Allah untuk akhir hidup kita yang baik.

SIAPA yang tidak ingin hidup bahagia di dunia dan selamat di akhirat? Semua orang pasti mendambakannya. Tak hanya orang beriman saja, bahkan orang tak beragama dan para penjahat-pun, kadang juga memilih mati dalam keadaan baik.
Lihatlah kaos-kaos menyesatkan yang sering digunakan anak-anak muda bertuliskan, “Muda Foya-foya, Tua Kaya-rya, Mati Masuk Surga”. Meski hanya sebatas kaos, sesungguhnya pesan ini telah banyak mempengaruhi jiwa dan pikiran banyak orang, terutama anak-anak muda kita.

Karena itulah, Dr Nurcholis Madjid dalam sebuah forum pernah menanggapi slogan yang sering dijadikan kaos anak-anak muda itu dengan mengatakan, “tak ada yang gratis dalam hidup. Apalagi mau masuk surga.”

Perilaku seperti itu menandakan masih banyak di antara kita yang belum memahami dengan benar arti waktu dan arti hidup yang sebentar ini.
Orang bisa bahagia luar biasa karena kesigapannya mengatur waktu, dan orang bisa menyesal luar biasa karena kelalaiannya terhadap waktu. Jadi, benarlah ungkapan pepatah Arab, bahwa “waktu adalah pedang”.
“L’uomo misura il tempo e il tempo misura l’oumo”. Manusia mengukur waktu dan waktu mengukur manusia, “ ujar sebuah pepatah Italia.

Sayangnya tidak setiap Muslim benar-benar mempersiapkan diri dan paham arti hidup. Sebagian masih sebatas mengetahui kemudian lalai terhadapNya. Sebagian lain tidak lalai namun terkesan apa adanya. Padahal aksioma yang tak terbantahkan suatu saat, entah kapan, kita pasti akan menemui kematian.
Bagi orang yang beriman masih beruntung karena dosa-dosanya akan diampuni oleh Allah. Tetapi bagi mereka yang kafir dan munafiq, sungguh akhirat adalah tempat yang tak pernah mereka harapkan. Sebab di akhirat mereka tak henti-henti minta ampun dan menyesal sejadi-jadinya karena gagal mengisi waktu di dunia dengan menunaikan amal-amal sholeh.

Al Munafiquun 10

Al munafiquun 11

Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shaleh?”
“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Munafiquun 63: 10 – 11).

Tanda Surga


Untuk mengetahui apakah nanti kita akan masuk surga atau tidak, tentu tidak ada jawaban pastinya. Namun Rasulullah saw memberikan pedoman bagi umat Islam bagaimana cerdas mengelola waktu, sehingga bisa mengenali tanda-tanda seorang Muslim mendapatkan surga.
Satu tanda bahwa seorang Muslim akan masuk surga ialah meninggal dalam keadaan khusnul khotimah. Artinya seorang Muslim meninggal dalam keadaan baik (ibadah kepada Allah). Bisa dalam keadaan mendirikan sholat, dzikir, menghadiri majlis ilmu, atau dalam kegiatan atau perjalanan yang diridhai Allah dan rasul-Nya.

Sebaliknya ialah su’ul khotimah. Keadaan di mana seorang Muslim meninggal dalam keadaan tidak baik. Seperti; meninggal saat berjudi, berzina, mencuri, kikir, korupsi, atau sedang menjerumuskan diri dalam berbagai bentuk kemaksiatan dan kedholiman.
Dalam sejarahnya, tak satu pun manusia yang bisa mengetahui apakah dirinya bisa mati dalam keadaan khusnul khotimah atau su’ul khotimah. Hal ini tiada lain agar kita, sebagai seorang Muslim, benar-benar waspada dalam pemanfaatan waktu. Jangan sampai terlena oleh gemerlap dunia, sehingga lupa akan akhirat dan kemudian mati dalam keadaan su’ul khotimah.

 

Prioritaskan Amal Sholeh

Dalam sebuah hadis rasulullah saw bersabda, “Orang yang cerdas ialah orang yang menahan hawa nafsunya dan berbuat (amal sholeh) untuk (bekal) kehidupan setelah mati.” (HR. Tirmudzi).

Mengapa kriteria orang cerdas dalam Islam seperti itu? Sebab setiap manusia akan menemui kematian. Orang yang paling siap menghadapi kematian dengan memperbanyak amal sholeh jelas orang yang akan bahagia. Dan, siapa orang yang mempersiapkan dirinya untuk meraih kebahagiaan tentu ia adalah orang yang paling beruntung.

Oleh karena itu, al-Qur’an dalam sebuah ayat memberikan satu kriteria lengkap dan jelas bahwa yang dimaksud orang yang berakal (berilmu, cerdas) adalah ulul albab. Yaitu orang yang senantiasa mengisi waktunya dengan dzikir dan fikir agar mendapat keridoan-Nya.

Ali Imran 190

Ali Imran 191

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. Ali Imran 3: 190 – 191).
Itulah orang yang memiliki keimanan yang kokoh, melakukan perbuatan-perbuatan besar, cerdas (berilmu), dan termasuk orang-orang yang diridhoi oleh Allah untuk meraih kebahagiaan dengan anugerah besar berupa akhlak yang mulia.

As Shaad 45

As Shaad 46

As Shaad 47

 

Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi. Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik.” (QS. As Saad: 45-47).
Dengan demikian jelaslah bagi kita untuk mengerti dengan sebenarnya, apakah kita termasuk orang yang cerdas atau tidak. Jika kita ingin cerdas, maka hendaklah kita mencontoh perilaku para kekasih Allah (Nabi dan Rasul). Yaitu senantiasa menghiasi diri dengan akhlak yang mulia, beramal sholeh, dan berorientasi terhadap kehidupan akhirat. Itulah perkara besar yang harus diutamakan, bukan yang lain.

Langkah tersebut akan memberikan dampak positif luar biasa, baik ketika di dunia maupun di akhirat. Sebaliknya, yang tidak cerdas akan mengalami penyesalan luar biasa.

A;l Mu'minun 99

A;l Mu'minun 100

(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) . Maksudnya: orang-orang kafir di waktu menghadapi sakratil maut, minta supaya diperpanjang umur mereka, agar mereka dapat beriman.
Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mu’minun 23: 99 – 100).

 

Waspadai Akhir yang Buruk

Bagaimana agar kita bisa meninggal dalam keadaan khusnul khotimah? Tentu tidak ada jalan lain selain waspada dan konsisten mengisi sisa umur yang kita miliki untuk kebaikan-kebaikan dunia maupun akhirat.

Dengan kata lain kita tidak boleh terlampau santai menyikapi waktu yang kita miliki apalagi merasa umur masih cukup panjang, sehingga suka meremehkan perbuatan dosa dan bangga berbuat maksiat.

Anas ra, pernah bertutur, “Sesungguhnya, kalian melakukan perbuatan-perbuatan yang menurut kalian lebih kecil dari rambut. Padahal kami pada zaman rasulullah saw, sudah menganggapnya sebagai dosa yang membinasakan (dosa besar).” (HR. Bukhari).

Apabila hal itu terjadi maka sirnalah fungsi hati seorang Muslim. Ibn Atha’illah dalam sebuah nasehatnya menyatakan bahwa, di antara tanda matinya hati adalah tidak bersedih atas ketaatan yang terlewat dan tidak menyesal atas dosa yang diperbuat.

Oleh karena itu sebagai upaya waspada kita terhadap akhir yang buruk (su’ul khotimah) hendaknya setiap hari kita melakukan evaluasi terhadap keyakinan kita. Apakah keyakinan yang ada di dalam hati ini telah bersih dari titik-titik keraguan. Jika masih ada keraguan segeralah membersihkannya.

Selanjutnya ialah memeriksa tabiat diri. Apakah kita sudah terbebas dari panjang angan-angan dan gemar menyegerakan kebaikan? Sebab satu faktor utama manusia enggan beramal sholeh dikarenakan panjangnya angan-angan. Akibatnya sebagian besar malah suka menunda-nunda untuk taubat dan akhirnya meninggal dalam keadaan yang sangat buruk.
Jadi, mulai sekarang marilah biasakan diri untuk memperkuat iman, meneguhkan hati untuk konsisten beramal sholeh, dan waspada untuk tidak berbuat dosa. Sebab kita tidak pernah tahu kapan ajal menemui kita.

 

 

Amalan-amalan yang dapat mengantarkan seseorang meraih khusnul khatimah (kematian yang indah)

TIGA hal yang Allah Azza wa Jalla rahasiakan dari kematian seseorang yaitu; waktu, tempat dan cara kita di wafatkan.
Tidak ada satu pun manusia yang mengetahui kapan ia akan mati, di tempat mana ia menemui kematian, dan cara ia meninggal seperti apa. Semua itu tidak lain agar manusia selalu bersikap waspada dan memperbaiki dirinya untuk tidak terbuai dalam perkara duniawi yang hanya sesaat saja.
Berikut amalan-amalan yang dapat mengantarkan kita pada akhir hidup yang indah (khusnul khatimah)

1. Menjaga shalat berjamaah

“Barangsiapa ingin berjumpa dengan Allah Azza wa Jalla dalam keadaan muslim, jagalah shalat lima waktu tatkala diseru untuk mengerjakannya. Allah Azza wa Jalla telah mensyariatkan jalan-jalan petunjuk kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Dan shalat lima waktu termasuk jalan petunjuk itu. Aku tidak menaksir salah seorang dari kalian kecuali pasti memiliki masjid dalam rumahnya yang digunakan untuk shalat.

Ingat, andaikan engkau shalat di rumah kalian dan meninggalkan masjid kalian, berarti kalian meninggalkan sunnah Nabi kalian. Seandainya kalian meninggalkan Sunnah nabi kalian, kalian pasti tersesat. Tidak ada orang muslim yang berwudhu’ dan memperbaiki wudhunya kemudian pergi ke masjid, kecuali Allah Azza wa Jalla menuliskan satu kebaikan bagi setiap langkahnya atau mengangkatnya satu derajat, atau menghapus satu kesalahan darinya dengan langkah tersebut.

Aku menyaksikan diri kami merapatkan langkahnya dan Aku bersaksi bahwa tidak ada yang ketinggalan dari shalat berjamaah kecuali orang munafik yang sudah populer kemunafikannya. Aku juga menyaksikan seorang laki-laki yang dipapah oleh dua orang hingga ia berdiri di shaf (barisan) shalat.” (HR. An Nasai: 840)

Al Ma'arij 34

Al Ma'arij 35

Dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itu (kekal) di surga lagi dimuliakan.” (Al-Ma’arij 70: 34-35)

(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat. Mereka itulah orang-orang yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS Luqman 31: 4-5)
Dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
“Barangsiapa datang ke masjid di pagi dan sore hari, maka Allah akan menyediakan baginya tempat tinggal yang baik di surga setiap kali dia berangkat ke masjid di pagi dan sore hari.” (HR. Bukhari: 622—Muslim: 1073)
2. Mengupayakan untuk baca Al Qur’an (dan terjemahannya agar mengerti artinya) setiap hari, minimal 1-2 ayat.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: “Orang yang membaca Al Qur’an dan ia mahir membacanya, maka ia AKAN BERSAMA GOLONGAN ORANG-ORANG MULIA LAGI BAIK sedangkan orang yang membacanya dengan susah, maka ia akan mendapat dua pahala.” (HR. Tirmidzi: 2829)

Al An'am 155
“Dan Al-Quran itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat. (Al An’aam 6: 155)

3. Menjaga lidah dan silaturahmi

Wahai Rasulullah bagaimana supaya selamat? Beliau menjawab: “Jagalah lisanmu, hendaklah rumahmu membuatmu lapang dan menangislah karena dosa dosamu.” (HR. Tirmidzi: 2330)

“Barangsiapa menjamin apa yang ada diantara dua jambangnya (lisan) dan apa yang diantara kedua kakinya (kemaluan) untukku, aku menjamin surga baginya.” (HR. Tirmidzi: 2332)

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, bersabda: “Barangsiapa ingin dipanjangkan umurnya, dilapangkan reskinya dan di hindarkan dari kematian yang buruk maka hendaknya dia bertaqwa kepada Allah dan menyambung silaturrahim (tali persaudaraan).” (HR. Ahmad: 1150)

Al Furqon 63

“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. (Al-Furqaan 25: 63)

“Berlaku jujurlah, karena kejujuran bersama kebaikan dan keduanya berada di surga, dan jauhilah dusta, karena dia bersama dosa dan keduanya berada di neraka, dan mohonlah keselamatan kepada Allah, karena sesungguhnya tidaklah seseorang diberi sesuatu setelah dia beriman yang lebih baik dari keselamatan. Janganlah kalian saling memutus tali silaturahim, saling menghindar, saling membenci, dan jangan pula saling dengki, akan tetapi jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Ahmad: 17)
Silaturahmi juga dapat menjadi penyebab banyaknya orang yang mau menshalatkan jenazah kita:

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: Tidaklah seorang muslim meninggal dunia, dan dishalatkan oleh lebih dari empat puluh orang, yang mana mereka tidak menyekutukan Allah, niscaya Allah akan mengabulkan do’a mereka untuknya. (HR.Muslim: 1577)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Barangsiapa yang dishalatkan tiga shaf, maka dia wajib (mendapatkan surga) . (HR. Tirmidzi: 949)
4. Selalu mengajak pada jalan-jalan kebaikan, mengerjakan yang sunnah, bersedekah dan beramal jariyah

“Barangsiapa yang menyeru kepada kebaikan maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala-pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa yang menyeru kepada kesesatan maka baginya dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun” (HR. Tirmidzi: 2598)

“Sesungguhnya kebaikan yang akan mengiringi seorang mukmin setelah ia meninggal adalah ilmu yang ia ajarkan dan sebarkan, anak shalih yang ia tinggalkan dan Al Qur`an yang ia wariskan, atau masjid yang ia bangun, atau rumah yang ia bangun untuk ibnu sabil (musafir), atau sungai yang ia alirkan (untuk orang lain), atau sedekah yang ia keluarkan dari harta miliknya dimasa sehat dan masa hidupnya, semuanya akan mengiringinya setelah meninggal.” (HR. Ibnu Majah: 238)

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila salah seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah segala amalannya kecuali tiga perkara; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfa’at baginya dan anak shalih yang selalu mendoakannya. / Sebaik-baik perkara yang ditinggalkan oleh seorang laki-laki sepeninggalnya ada tiga; anak shalih yang mendoakannya, sedekah jariyah yang pahalanya sampai kepadanya serta ilmu yang diamalkan oleh orang sepeninggalnya.”” (HR. Muslim: 3084 / HR. Ibnu Majah: 237)
Amalan sunnah menjadi penyebab kecintaan Allah pada hambanya, dan mewafatkannya dengan baik:

“… Jika hamba-Ku terus menerus mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan sunnah, maka Aku mencintai dia,…, jikalau ia meminta-Ku, pasti Kuberi, dan jika meminta perlindungan kepada-KU, pasti Ku-lindungi. Dan aku tidak ragu untuk melakukan sesuatu yang Aku menjadi pelakunya sendiri sebagaimana keragu-raguan-Ku untuk mencabut nyawa seorang mukmin yang ia (khawatir) terhadap kematian itu, dan Aku sendiri khawatir ia merasakan kepedihan sakitnya.” (HR.Bukhari: 6021)
5. Perbanyak doa memohon akhir hidup yang baik (khusnul khatimah) seperti yang telah diajarkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Allahummaja’al khaira umri akhirau, wa khaira amali khawatimau, wa khaira ayyami yaumallaqaka fihi”
[“Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik umurku adalah umur yang terakhirnya, sebaik-baik amalku adalah amal-amal penutupannya dan sebaik-baik hariku adalah hari saat aku menghadap-Mu.” (HR. Ath-Thabarani )]

Ali Imran 193
Rabbana fagfirlana zunubana wa kaffir anna sayyi atina wa tawaffana ma’al abrar”
[ Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti. (Ali-Imran: 193)]

“Allahumma inni audzubika minal hadmi, wa audzubika minat taradi, wa audzubika minal gharaqi, wal haraqi, wal harami, wa audzubika an yatakhabbathanis syaitanu indal mauti, wa audzubika an amuta fi sabilika mudbiran, wa audzubika an amuta ladighan.”
[Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari kehancuran dan aku berlindung kepadaMu dari kebinasaan, aku berlindung kepadaMu dari tenggelam, terbakar dan dari pikun, aku berlindung kepadaMu agar jangan sampai setan menggelincirkanku ketika aku akan mati, dan aku berlindung kepadaMu dari mati dijalanMu dalam keadaan lari dari medan pertempuran, dan aku berlindung kepadaMu dari mati karena tersengat binatang” (HR Abu Daud: 1328)]
Doa nabi Yusuf Alaihis Salam:

Yusuf 101

Rabbi fatirass samawati wal ardhi anta waliyyi fid dunya wal akhirati, tawaffani musliman wa al hiqni bis shallihina
[(Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh. (Yusuf 12: 101)]

Doa ahli-ahli sihir Fir’aun yang telah bertaubat:

doa Al A'raaf 126

“Rabbana afrig alaina sabaran wa tawaffana muslimin
[(Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu)”. (Al-A’raaf 7: 126)]

 

 

Sumber :
http://www.hidayatullah.com
http://sy42.wordpress.com

 

SHALAT JAMA’AH: pelajaran bermasyarakat & berpolitik

oleh : Muhammad Muhtar Arifin Sholeh

Salat jama’ah merupakan simbol atau miniatur kehidupan masyarakat. Imam salat dianalogikan dengan pemimpin masyarakat, sedangkan makmum dianalogikan dengan anggota masyarakat. Salat jama’ah mempunyai aturan-aturan tertentu, masyarakat pun mempunyai aturan. Mekanisme shalat jama’ah menggambarkan mekanisme kehidupan masyarakat.

Sholat Jamaah

Sholat Jamaah

Seorang imam salat mempunyai kriteria (syarat) tertentu seperti sanggup menunaikan salat, mengetahui aturan salat jama’ah, berakal sehat, mampu membaca al-Quran dengan benar, orang yang sholeh (baik, terhindar dari kemaksiatan), disetujui oleh makmum, dan dapat dipilih yang lebih tua. Syarat tersebut dapat direfleksikan pada pemimpin masyarakat. Dengan demikian seorang pemimpin masyarakat sanggup melaksanakan tugasnya, profesional dalam tugasnya, berakal sehat, dapat menjadi contoh yang baik dan disepakati oleh warganya.

Makmum dianalogikan dengan anggota masyarakat atau bawahan seorang pemimpin. Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh makmum antara lain ia di belakang imam (lebih belakang dari imam), meluruskan dan merapatkan barisan salat, mempunyai niat ikhlas untuk selalu mengikuti gerak-gerik imam, makmum pria berada di bagian depan, anak-anak di tengah, dan wanita di bagian belakang (Ghazali, 1988:150-152 ; Shiddieqy, 1977:352-365,396-401).

Dari hal-hal tersebut di atas dapat diketahui bahwa anggota masyarakat atau bawahan menempati posisi lebih bawah dari pada pemimpin. Mereka harus melakukan pekerjaan dengan lurus (benar) dan bersatu (gotong royong). Mereka seharusnya bersedia dengan rela mengikuti aturan yang benar dari pimpinannya. Anggota masyarakat mempunyai posisi (status) masing-masing. Heterogenitas makmum menggambarkan heterogenitas masyarakat.

Gerakan shalat jama’ah merupakan gerakan kolektif, yaitu gerakan yang dilakukan secara bersama-sama setelah imam memberi contoh. Kebersamaan ini merupakan simbol persatuan dan kesatuan manusia yang seharusnya digalang dengan gotong royong dan saling membantu. Gerakan tersebut juga mengindikasikan keteladanan para pemimpin, yaitu ketika imam bergerak terlebih dahulu dari pada makmum. Dengan demikian seorang pemimpin harus ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani (memberi contoh waktu di depan, memberi semangat waktu di tengah, dan memberi doa restu waktu di belakang).

shalat berjamaah

Jika imam melakukan suatu kesalahan bacaan maupun gerakan, maka makmum harus mengingatkannya. Makmum mengingatkan bacaannya bila kesalahan pada bacaan dan jika kesalahannya pada gerakan maka makmum pria mengingatkan dengan mengucap subhaanallaah (Maha Suci Allah) dan makmum wanita mengingatkan dengan tepuk tangan sekali. Hal tersebut merupakan simbol kontrol sosial (kritik sosial) dari rakyat (wakil rakyat) terhadap pemimpinnya. Kontrol (kritik) itu dilakukan dengan “suara” atau gerakan yang tidak menusuk perasaan. Dalam hal ini pemimpin (imam) harus peka.

Apabila imam melakukan sesuatu yang membatalkan salat (misalnya kentut), maka ia harus menyingkir untuk berwudlu, kemudian makmum yang berdiri di belakangnya maju selangkah untuk menggantikan dan melanjutkan kepemimpinannya dalam salat. Hal ini menjadi simbol suksesi atau regenerasi kepemimpinan. Imam batal salatnya berarti dia tidak mampu (tidak sah), memang tidak boleh, melanjutkan kepemimpinan shalatnya.

Jika seorang pemimpin tidak mampu (tidak pantas) memimpin, maka seharusnya ia turun jabatan dengan sadar dan ikhlas. Penggantinya adalah orang yang paling dekat dengannya, yaitu dekat tempat, jabatan, maupun kemampuannya (simbol makmum pengganti yang di belakang imam). Makmum pengganti imam melanjutkan shalatnya; pemimpin barus melanjutkan kepemimpinan yang lama, bukan merombaknya.

shalat jamaah5

Masjidil Haram, Mekah