Sejarah Kehidupan Nabi Muhammad SAW

PENDAHULUAN.

Nabi Muhammad SAW merupakan nabi terakhir (Khataman Nabiyyin) yang ada di muka bumi ini, dan tidak ada lagi nabi-nabi sesudahnya. Nama Muhammad secara bahasa berasal dari akar kata semistik ‘M-H-M-D’/ ﻣُﺤَﻤّﺪْ (Arab)   (Hebrew) yang dalam bahasa Arab berarti “dia yang terpuji“. Selain itu di dalam salah satu ayat Al-Qur’an, Muhammad juga dipanggil dengan nama Ahmad, yang dalam bahasa Arab juga berarti “terpuji”.

muhammad

Sebelum masa kenabian di usia 35 tahun, Muhammad mendapatkan dua julukan dari suku Quraisy  (suku terbesar di Jazirah Arab) yaitu Al-Amiin yang artinya “ yang dipercaya” dan As-Saadiq yang artinya “yang benar”. Setelah masa kenabian para sahabatnya memanggilnya dengan gelar Rasulullah, kemudian menambahkan kalimat Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam , yang berarti “semoga Allah memberi kebahagiaan dan keselamatan kepadanya“; sering disingkat SAW dibelakang nama beliau..

Selain kedua julukan tersebut, Muhammad juga mendapatkan julukan Abu al-Qasim yang berarti “Ayah Qasim”, karena Muhammad pernah mempunyai anak laki-laki yang bernama Qasim, tetapi meninggal dunia sebelum mencapai usia dewasa.

SEJARAH KELAHIRAN NABI (MAULID NABI)

Terdapat perbedaan pendapat ahli sejarah Nabi Muhammad (sirah) tentang tanggal kelahiran. Satu hal yang pasti, Nabi Muhammad lahir pada bulan Rabiul Awal menurut mayoritas Ahli Sejarah. Para ahli sejarah Nabi sepakat bahwa Nabi Muhammad lahir di Mekah pada hari Senin bulan Rabiul Awal bertepatan dengan tanggal 26 April 570 atau 571 masehi. Namun, ahli sejarah Nabi berbeda pendapat tentang tanggal Arabnya sebagai berikut:

  • Menurut Ibnu Abdil Barr (2 Rabiul Awal)
  • Menurut Amiruddin (5 Rabiul Awal)
  • Menurut Ibnul Qayyim, Ibnu Hazm, Az Zuhri, Ibnu Dihya (8 Rabiul Awal)
  • Menurut Muhammad Suleman Mansurpuri, Mubarakpuri , Shibli Nomani, Mahmud Pasha Falaki, Akbar Shah Najeeb Abadi, Moeen ud din Ahmed Nadvi, Abul Kalam Azad (9 Rabiul Awal)
  • Menurut Tabari, Ibnu Khaldun , Dr hameedullah, Ibnu Hisham, Abul-Hasan ‘Ali ibn Muhammad al- Mawardi, Ibnu Ishaq (12 Rabiul Awal)
  • Menurut Abul Fida, Abu Jafar al Baqir, Al Waqadi , Al Sha’bi  (10 Rabiul Awal)
  • Menurut pandangan golongan Syiah (17 Rabiul Awal) Sedang harinya adalah Jum’at.
  • Menurut pendapat yang diatribusikan ke Ibnu Hazm (22 Rabiul Awal)
  • Menurut Abdul Qadir Jailani (10 Rabiul Awal )

Namun penduduk Mekah sependapat bahwa Nabi Muhammad SAW dilahirkan pada hari Senin bulan Rabiul Awal bertepatan dengan tanggal 26 April 570 atau 571 masehi Awal tahun Gajah (50 hari setelah penyerangan pasukan Gajah dari Yaman).

Dari kitab As-Sirah al-Halabiyah diriwayatkan sebuah hadits bahwa Nabi lahir pada hari Senin

عن قتادة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم سُئل عن يوم الإثنين فقال : ذلك يوم ولدت فيه .

Artinya: Dari Qatadah, bahwa Rasulullah pernah ditanya tentang hari Senin. Nabi berkata: Itu adalah hari aku dilahirkan.

– Al-Bairuni dalam kitab Al-Irsyad mengutip sebuah hadits

أن النبي سُئل عن يوم الإثنين فقال : هذا يوم ولدت فيه ، وبعثت فيه ، وأنزل عليّ فيه ، وهاجرت فيه

Artinya: Nabi pernah ditanya tentang hari Senin. Nabi menjawab: Hari Senin adalah hari aku lahir, diutus sebagai Rasul, turunnya Quran dan hijrahku ke Madinah.

– Syamsuddin bin Salim dalam kitab Al-Ja’far al-Kabir menyatakan

وقد صحّ أن النبي ولد في شهر ربيع الأول في العشرين من نيسان عام الفيل وفي عهد كسرى أنو شروان

Artinya: Adalah sahih (pendapat) bahwa Nabi lahir pada bulan Rabiul Awal tanggal 20 tahun Gajah pada masa kaisar Anu Syarwan.

– Ibnul Amid dalam kitab Mukhtashar at-Tarikh menyatakan

أن النبي ولد ببطحاء مكة في الليلة المسفرة عن صباح يوم الإثنين لثمان خلون من ربيع الأول ، يوافقه من شهور الروم الثاني والعشرين من نيسان سنة 882 للإسكندر

Artinya: bahwa Nabi lahir di Bat’ha, Mekah pada malam dari paginya hari Senin tanggal 8 Rabiul Awal bertepatan dengan bulan Romawi tanggal 22 April tahun 882 tahun Alexander atau tahun 571 Masehi.

SILSILAH NABI

Silsilah Nabi

PERJALANAN HIDUP RASULULLAH

Pada saat masyarakat Arab dalam suasana kegelapan (jahiliyyah), lahirlah seorang bayi pada 12 Rabiul Awal tahun Gajah di kota Mekkah, di bagian Selatan Jazirah Arab, suatu tempat yang ketika itu merupakan daerah paling terbelakang di dunia, jauh dari pusat perdagangan, seni, maupun ilmu pengetahuan. Bayi yang dilahirkan akan membawa perubahan besar bagi sejarah peradaban manusia. Ayah bayi tersebut bernama Abdullah bin Abdul Mutallib meninggal dalam perjalanan dagang di Madinah, yang ketika itu bernama Yastrib, ketika Muhammad masih 7 bulan dalam kandungan ibunya. Ia meninggalkan harta lima ekor unta, sekawanan biri-biri dan seorang budak perempuan bernama Ummu Aiman yang kemudian mengasuh Nabi.. Ibunya bernama Aminah binti Wahab. Kehadiran bayi itu disambut dengan penuh kasih sayang dan dibawa ke ka’bah, kemudian diberi nama Muhammad, nama yang belum pernah ada sebelumnya.

Selepas itu Muhammad disusukan selama beberapa hari oleh Thuwaiba, budak suruhan Abu Lahab sementara menunggu kedatangan wanita dari Banu Sa’ad. Adat menyusukan bayi sudah menjadi kebiasaan bagi bangsawan-bangsawan Arab di Mekah. Akhir tiba juga wanita dari Banu Sa’ad yang bernama Halimah bin Abi-Dhuaib yang pada mulanya tidak mahu menerima karena Muhammad seorang anak yatim. Namun begitu, Halimah membawa pulang juga Muhammad ke pedalaman dengan harapan Tuhan akan memberkati keluarganya. Sejak diambilnya Muhammad sebagai anak susuan, kambing yang diternakan dan susu kambing-kambing tersebut semakin melimpah. Muhammad telah tinggal selama 2 tahun di Sahara dan sesudah itu Halimah membawa kembali kepada Ibunya Aminah dan membawa pulang kembali ke pedalaman.

Pada usia dua tahun, Muhammad didatangi oleh dua orang malaikat yang muncul sebagai lelaki yang berpakaian putih. Mereka bertanggungjawab untuk membedah Muhammad. Pada ketika itu, Halimah dan suaminya tidak menyadari hal tersebut. Hanya anak mereka yang sebaya menyaksikan kedatangan kedua malaikat tersebut lalu mengabarkan kepada Halimah. Halimah lantas memeriksa keadaan Muhammad, namun tak ada tanda-tanda keanehan yang ditemuinya.

Muhammad tinggal di pedalaman bersama keluarga Halimah selama lima tahun. Selama itu Muhammad mendapat kasih sayang, kebebasan jiwa dan penjagaan yang baik dari Halimah dan keluarganya. Sesudah itu dibawa pulang kepada Kakeknya Abdul Mutalib di Mekah. Kakeknya, Abdul Mutallib sangat mencintai Muhammad. Ketika Aminah membawa anaknya itu ke Madinah untuk bertemu dengan saudara-saudaraya, mereka ditemani oleh Ummu Aiman, budak suruhan perempuan yang ditinggalkan oleh ayah Muhammad. Muhammad ditunjukkan tempat wafatnya Abdullah serta tempat dia dikuburkan.

Sesudah sebulan mereka berada di Madinah, Aminah pun bersiap sedia untuk pulang semula ke Mekah. Dia dan rombongannya kembali ke Mekah menaiki dua ekor unta yang memang dibawa dari Mekah semasa mereka datang dahulu. Namun begitu, ketika mereka sampai di Abwa, ibunya pula jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia lalu dikuburkan di situ juga. Muhammad dibawa pulang ke Mekah oleh Ummu Aiman dengan perasaan yang sangat sedih. Maka jadilah Muhammad sebagai seorang anak yatim piatu. Tinggallah Muhammad dengan Kakek yang dicintainya dan saudara-saudara ayahnya.

Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung lalu Dia memberikan petunjuk” (Surah Ad-Dhuha, 93: 6-7)

Kegembiraannya bersama Kakek Muhammad tidak bertahan lama. Ketika Muhammad berusia delapan tahun, Kakeknya meninggal dunia. Kematian Abdul Mutallib menjadi satu kehilangan besar bagi Bani Hashim. Dia mempunyai keteguhan hati, berwibawa, pandangan yang luas, terhormat dan berpengaruh dikalangan orang Arab. Beliau selalu menyediakan makanan dan minuman bagi para tamu yang berziarah dan membantu penduduk Mekah yang dalam kesulitan. Selepas meninggalnya Abdul Mutallib, Pamannya Abu Talib mengambil alih tugas ayahnya untuk menjaga anak saudaranya. Walaupun Abu Talib kurang mampu dibanding saudaranya yang lain, namun dia mempunyai perasaan yang paling halus dan terhormat di kalangan orang-orang Quraisy. Abu Talib menyayangi Muhammad seperti dia menyayangi anak-anaknya sendiri. Dia juga tertarik dengan budi pekerti Muhammad yang mulia.

Ketika Muhammad mencapai usia remaja dan berkembang menjadi seorang yang dewasa, ia mulai mempelajari ilmu bela diri (gulat), berkuda dan memanah, begitupula dengan ilmu untuk menambah keterampilannya dalam perniagaan. Perdagangan menjadi hal yang umum dilakukan dan dianggap sebagai salah satu pendapatan yang stabil. Muhammad sering menemani pamannya berdagang ke arah Utara dan kabar tentang kejujuran dan sifatnya yang dapat dipercaya menyebar luas dengan cepat, membuatnya banyak dipercaya sebagai agen penjual perantara barang dagangan penduduk Mekkah.

Pada suatu hari, ketika mereka berkunjung  ke negeri Syam (Kawasan Syria, Lebanon dan Palestina) untuk berdagang saat Muhammad berusia 12 tahun, mereka bertemu dengan seorang Pendeta Nasrani, Buhaira (Buheira, Bahira) adalah seorang mantan  Yahudi yang menjadi pendeta Kristen Nestorian yang melihat tanda-tanda kenabian Muhammad. Ia tinggal di kota Bushra, Selatan Syam (sekarang Syria). Beliau telah melihat tanda-tanda kenabian pada diri Muhammad. Lalu Buhaira menasihati Abu Talib supaya tidak pergi jauh ke daerah Syam karena dikhawatirkan orang-orang Yahudi akan menyakiti Muhammad seandainya diketahui tanda-tanda tersebut. Abu Talib menuruti nasihat pendeta tersebut dan dia tidak banyak membawa harta dari perjalanan tersebut. Dia pulang segera ke Mekah dan mengasuh anak-anaknya. Muhammad juga telah menjadi bagian dari keluarga tersebut. Muhammad mengikuti mereka ke pusat perdagangan yang berdekatan dan mendengar sajak-sajak dari para penyair terkenal dan pidato-pidato oleh penduduk Yahudi yang anti Arab.

Disamping itu Muhammad juga mendapat tugas sebagai pengembala kambing. Muhammad mengembala kambing keluarganya dan kambing-kambing penduduk Mekah. Muhammad selalu berfikir dan merenung tentang kejadian alam semasa menjalankan tugasnya. Oleh sebab itu Muhammad jauh dari segala pemikiran nafsu manusia dan duniawi. Muhammad terhindar daripada perbuatan yang sia-sia, sesuai dengan gelaran yang diberikan yaitu “Al-Amin”.

Ketika Muhammad mulai menginjak dewasa telah menarik perhatian seseorang yang mendengar tentang kabar adanya anak muda yang bersifat jujur dan dapat dipercaya (Al-Amin) dalam berdagang dengan adalah seorang janda yang bernama Khadijah. Khatijah adalah seseorang yang memiliki status tinggi di kalangan suku Arab. Sebagai seorang pedagang, ia juga sering mengirim barang dagangan ke berbagai pelosok daerah di tanah Arab. Reputasi Muhammad membuat Khadijah memercayakannya untuk mengatur barang dagangan Khadijah, Muhammad dijanjikan olehnya akan dibayar dua kali lipat dan Khadijah sangat terkesan ketika sekembalinya Muhammad membawakan hasil berdagang yang lebih dari biasanya.

Seiring waktu akhirnya Muhammad pun jatuh cinta kepada Khadijah, sebuah Kisah Cinta Suci sepanjang sejarah dan mereka menikah pada saat Muhammad berusia 25 tahun. Saat itu Khadijah telah berusia mendekati umur 40 tahun, namun ia masih memiliki kecantikan yang dapat menawan Muhammad. Perbedaan umur yang jauh dan status janda yang dimiliki oleh Khadijah tidak menjadi halangan bagi mereka, walaupun pada saat itu suku Quraisy memiliki budaya yang lebih menekankan kepada perkawinan dengan seorang gadis ketimbang janda. Meskipun kekayaan mereka semakin bertambah, Muhammad tetap hidup sebagai orang yang sederhana, ia lebih memilih untuk menggunakan hartanya untuk hal-hal yang lebih penting.

MEMPEROLEH GELAR

Ketika Muhammad berusia 35 tahun, bersama kaum Quraisy, beliau ikut dalam perbaikan Ka’bah. Pada saat pemimpin-pemimpin suku Quraisy berdebat tentang siapa yang berhak meletakkan Hajar Aswad, Muhammad dapat menyelesaikan masalah tersebut dan memberikan penyelesaian adil. Saat itu ia dikenal di kalangan suku-suku Arab karena sifat-sifatnya yang terpuji. Kaumnya sangat mencintainya, hingga akhirnya ia memperoleh gelar Al-Amin yang artinya “orang yang dapat dipercaya“.

Diriwayatkan pula bahwa Muhammad adalah orang yang percaya sepenuhnya dengan keesaan Tuhan (Tauhid). Ia hidup dengan cara amat sederhana dan membenci sifat-sifat tamak, angkuh dan sombong yang lazim di kalangan bangsa Arab saat itu. Ia dikenal menyayangi orang-orang miskin, janda-janda tak mampu dan anak-anak yatim serta berbagi penderitaan dengan berusaha menolong mereka. Ia juga menghindari semua kejahatan yang sudah membudaya di kalangan bangsa Arab pada masa itu seperti berjudi, meminum minuman keras, berkelakuan kasar dan lain-lain, sehingga ia dikenal sebagai As-Saadiq yang berarti “yang benar“.

TURUNNYA WAHYU PERTAMA

Pada saat menjelang usianya yang ke-40, Muhammad sering menyendiri dan tafakur ke Gua Hira’ sebuah gua bukit sekitar 6 km sebelah timur kota Mekah, yang kemudian dikenal sebagai Jabal An Nur. Ia bisa berhari-hari bertafakur (merenung) dan mencari ketenangan dan sikapnya itu dianggap sangat bertentangan dengan kebudayaan Arab pada zaman tersebut yang senang bergerombol dan berpesta. Dari sini, ia sering merenung dalam kesunyian, memikirkan nasib umat manusia pada zaman itu secara mendalam, dan memohon kepada Allah supaya memusnahkan kekafiran dan kebodohan.

Muhammad pertama kali diangkat menjadi Nabi dan Rasul pada malam hari tanggal 17 Ramadhan/ 6 Agustus 611 M, diriwayatkan Malaikat Jibril datang dan membacakan surah pertama dari Quran yang disampaikan kepada Muhammad, yaitu surah Al-Alaq. Muhammad diperintahkan untuk membaca ayat yang telah disampaikan kepadanya, namun ia mengelak dengan berkata ia tak bisa membaca. Malaikat Jibril sampai mengulangi hingga tiga kali meminta agar Muhammad membaca, tetapi jawabannya tetap sama. Malaikat Jibril kemudian berkata:

Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dengan nama Tuhanmu yang Maha Pemurah, yang mengajar manusia dengan perantaraan (menulis, membaca). Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS Al-Alaq 96: 1-5)

Muhammad berusia 40 tahun 6 bulan dan 8 hari ketika ayat pertama sekaligus pengangkatannya sebagai rasul disampaikan kepadanya menurut perhitungan tahun Qomariah, atau 39 tahun 3 bulan 8 hari menurut perhitungan tahun syamsiah atau tahun masehi. Setelah kejadian di Gua Hira tersebut, Muhammad kembali ke rumahnya, Dalam suatu riwayat beliau merasakan suhu badannya panas dan dingin  seperti demam akibat peristiwa yang baru saja dialaminya dan meminta istrinya Khadijah agar memberinya selimut. Dalam QS Al Muzzamil ayat 1 Muhammad disebut sebagai Orang yang berselimut (Al Muzzamil).

Kemudian untuk menenangkan hati suaminya, Khadijah mengajak Muhammad mendatangi saudara sepupunya yang juga seorang pendeta Nasrani, yaitu Waraqah bin Naufal. Waraqah banyak mengetahui nubuat tentang nabi terakhir dari kitab-kitab suci Kristen dan Yahudi. Mendengar cerita yang dialami Muhammad, Waraqah pun berkata, bahwa ia telah dipilih oleh Tuhan menjadi seorang nabi. Kemudian Waraqah menyebutkan bahwa An-Nâmûs al-Akbar (Malaikat Jibril) telah datang kepadanya, kaumnya akan mengatakan bahwa ia seorang penipu, mereka akan memusuhi dan melawannya. Fakta sejarah mengakui bahwa di antara wanita, Khodijah adalah wanita yang pertama memeluk Islam, dan pria pertama yang memeluk Islam adalah ‘Ali bin Abi Thalib, anak pamannya. Muhammad menerima ayat-ayat Quran secara berangsur-angsur dalam jangka waktu 23 tahun. Ayat-ayat tersebut diturunkan berdasarkan kejadian faktual yang sedang terjadi, sehingga hampir setiap ayat Quran turun disertai oleh Asbabun Nuzul (sebab/kejadian yang mendasari penurunan ayat). Ayat-ayat yang turun sejauh itu dikumpulkan sebagai Mushaf yang juga dinamakan Al- Qurʾān (bacaan).

Gua Hira

Gua Hira

DAKWAH SECARA TERANG-TERANGAN

Selama tiga tahun pertama sejak pengangkatannya sebagai rasul, Muhammad hanya menyebarkan Islam secara terbatas di kalangan teman-teman dekat dan kerabatnya, hal ini untuk mencegah timbulnya reaksi akut dan masif dari kalangan bangsa Arab saat itu yang sudah sangat terasimilasi budayanya dengan tindakan-tindakan amoral, yang dalam konteks ini bertentangan dengan apa yang akan dibawa dan ditawarkan oleh Muhammad. Kebanyakan dari mereka yang percaya dan meyakini ajaran Muhammad pada masa-masa awal adalah para anggota keluarganya serta golongan masyarakat awam yang dekat dengannya di kehidupan sehari-hari, antara lain Khadijah, Ali, Zaid bin Haritsah dan Bilal. Namun pada awal tahun 613, Setelah turunnya wahyu memerintahkan Muhammad untuk berdakwah secara terang-terangan, maka Rasulullah pun mula menyebarkan ajaran Islam secara lebih meluas.

Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.” (Al-Hijr, 15:94)

Muhammad mengumumkan secara terbuka agama Islam. Setelah sekian lama banyak tokoh-tokoh bangsa Arab seperti Abu Bakar, Utsman bin Affan, Zubair bin Al Awwam, Abdul Rahman bin Auf, Ubaidah bin Harits, Amr bin Nufail yang kemudian masuk ke agama yang dibawa Muhammad. Kesemua pemeluk Islam pertama itu disebut dengan As-Sabiqun al-Awwalun atau Yang pertama-tama. Rasulullah, berbekal kesabaran, keyakinan, kegigihan, dan keuletan dalam berdakwah terus-menerus dan tidak menghiraukan orang-orang musrik yang terus menekannya, menghardik dan mengejeknya.

Banyak yang cara yang dilakukan kaum Quraisy untuk menghentikan dakwah Rasulullah, suatu saat Abu Thalib sedang duduk bersama keponakannya. Juru bicara rombongan yang mendatangi rumah Abu Thalib membuka pembicaraan dengan berkata,” Wahai Abu Thalib! Muhammad mencerai-beraikan barisan kita dan menciptakan perselisihan diantara kita. Ia merendahkan kita dan mencemooh kita dan berhala kita. Jika ia melakukan itu karena kemiskinan dan kepapaannya, kami siap menyerahkan harta berlimpah kepadanya. Jika ia menginginkan kedudukan, kami siap menerimanya sebagai penguasa kami dan kami akan mengikuti perintahnya. Bila ia sakit dan membutuhkan pengobatan, kami akan membawakan tabib ahli untuk merawatnya”. Abu Thalib berpaling kepada Nabi seraya berkata,’”Para sesepuh datang untuk memintamu berhenti mengkritik berhala supaya mereka pun tidak mengganggumu.’ Nabi menjawab,” Saya tidak menginginkan apapun dari mereka. Bertentangan dengan empat tawaran itu, mereka harus menerima satu kata dari saya, yang dengan itu mereka dapat memerintah bangsa Arab dan menjadikan bangsa Ajam sebagai pengikut mereka’. Abu Jahal bangkit sambil berkata, “Kami siap sepuluh kali untuk mendengarnya.” Nabi menjawab,’”Kalian harus mengakui keesaan Tuhan”.  Kata-kata tak terduga dari Nabi ini laksana air dingin ditumpahkan ke ceret panas. Mereka demikian heran, kecewa, dan putus asa sehingga serentak mereka berkata,” Haruskah kita mengabaikan 360 Tuhan dan menyembah kepada satu Allah saja?”. Orang Quraisy meninggalkan rumah Abu Thalib dengan wajah dan mata terbakar kemarahan. Mereka terus memikirkan cara untuk mencapai tujuan mereka.

Banyak sekali contoh penganiayaan dan penyiksaan kaum Quraisy, Tiap hari nabi menghadapi penganiayaan baru. Misalnya, suatu hari Uqbah bin Abi Mu’ith melihat Nabi bertawaf, lalu menyiksanya. Ia menjerat leher Nabi dengan serbannya dan menyeret dia ke luar masjid. Beberapa orang datang membebaskan Nabi karena takut kepada Bani Hasyim. Dan masih banyak lagi. Nabi menyadari dan prihatin terhadap kondisi kaum Muslim. Kendati dia mendapat dukungan dan lindungan Bani Hasyim, kebanyakan pengikutnya budak wanita dan pria serta beberapa orang tak terlindung. Para pemimpin Quraisy menganiaya orang-orang ini terus-menerus , para pemimpin terkemuka berbagai suku menyiksa anggota suku mereka sendiri yang memeluk Islam. Penyiksaan yang dialami hampir seluruh pemeluk Isalam selama periode ini mendorong lahirnya gagasan untuk berhijrah ke Habsyah (sekarang Ethiopia). Negus atau raja Habsyah, yang beragama Nasrani memperbolehkan orang-orang Islam berhijrah ke negaranya dan melindungi mereka dari tekanan penguasa di Mekkah. Muhammad sendiri, pada tahun 622 hijrah ke Yatsrib, kota yang berjarak sekitar 200 mil (320 km) di sebelah Utara Mekah.

HIJRAH KE MADINAH

Masyarakat Arab dari berbagai suku setiap tahunnya datang ke Mekah untuk beziarah ke Baitullah atau Ka’bah, mereka menjalankan berbagai tradisi keagamaan dalam kunjungan tersebut. Rasulullah melihat ini sebagai peluang untuk menyebarluskan ajaran Islam. Di antara mereka yang tertarik dengan ajarannya ialah sekumpulan orang dari Yatsrib. Mereka menemui Rasulullah dan beberapa orang yang telah terlebih dahulu memeluk Islam dari Mekkah di suatu tempat bernama Aqabah secara sembunyi-sembunyi. Setelah menganut Islam, mereka lalu bersumpah untuk melindungi para pemeluk Islam dan Rasulullah dari kekejaman penduduk Mekkah.

Tahun berikutnya, sekumpulan masyarakat Islam dari Yatsrib datang lagi ke Mekkah, mereka menemui  Rasulullah di tempat mereka bertemu sebelumnya. Abbas bin Abdul Muthalib, yaitu pamannya yang saat itu belum menganut Islam, turut hadir dalam pertemuan tersebut. Mereka mengundang orang-orang Islam Mekkah untuk berhijrah ke Yastrib disebabkan situasi kota Mekah yang tidak kondusif bagi keamanan para pemeluk Islam. Rasulullah akhirnya menerima ajakan tersebut dan memutuskan berhijrah ke Yastrib pada tahun 622 M.

Penduduk Yastrib ‘ yang kemudian berganti menjadi nama Madinah – menyambut kedatangan Rasulullah dengan meriahnya oleh para penduduk Madinah. Mereka mengucapkan berbagai macam syair untuk menyambut manusia mulia ini. Disinilah manifestasi sebuah negara Islam pertama kali didirikan. Muhammad menyusun kekuatannya di Madinah bersama keluarga dan sahabat setianya yang rela meninggalkan tanah air dan hartanya untuk Tuhannya, Islam yang masih belia ini menyusun kekuatan untuk menghadapi kekuatan kaum Quraisy yang setiap saat siap untuk menghancurkan Islam yang dibangun ini, perang demi perang mulai dari Badar, Uhud, Khandaq, yang disetiap perang tampillah Al-Washi Muhammad yang selalu menjadi pemberi moral kepada pasukan untuk menghancurkan kafir Quraisy dengan Iman yang membara.

Ilustrasi Hijrah

Ilustrasi Hijrah

NEGARA ISLAM MADINAH

Penduduk Yastrib ‘ yang kemudian berganti menjadi nama Madinah – menyambut kedatangan Nabi. Mereka mengucapkan berbagai macam syair untuk menyambut manusia mulia ini. Disinilah manifestasi sebuah negara Islam pertama kali didirikan. Muhammad menyusun kekuatannya di Madinah bersama keluarga dan sahabat setianya yang rela meninggalkan tanah air dan hartanya untuk Tuhannya, islam yang muda ini menyusun kekuatan untuk menghadapi kekuatan kaum Quraisy yang setiap saat siap untuk menghancurkan Islam yang dibangun ini, perang demi perang mulai dari Badar, Uhud, Khandaq, yang disetiap perang tampillah Al-Washi Muhammad yang selalu menjadi pemberi moral kepada pasukan untuk menghancurkan kafir Quraisy dengan Iman yang membara.

Negara Islam yang baru dibina di Madinah mendapat tentangan daripada kaum Quraisy di Mekah dan gangguan dari penduduk Yahudi serta kaum bukan Islam yang lain. Namun begitu, Nabi Muhammad s.a.w berjaya juga menubuhkan sebuah negara Islam yang mengamalkan sepenuhnya hukum yang berlandaskan syariat Islam. Muhammad dilantik sebagai ketua agama, tentera dan negara. Semua rakyat mendapat hak yang saksama. Piagam Madinah yang merupakan sebuah kanun atau perjanjian bertulis telah dibentuk. Piagam Madinah (Shahifatul Madinah) juga dikenal dengan sebutan Konstitusi Madinah, ialah sebuah dokumen yang disusun oleh Nabi Muhammad SAW, yang merupakan suatu perjanjian formal antara dirinya dengan semua suku-suku dan kaum-kaum penting di Madinah pada tahun 622. Piagam Madinah ini  disusun sejelas-jelasnya dengan tujuan utama untuk menghentikan pertentangan sengit antara Bani ‘Aus dan Bani Khazraj di Madinah. Untuk itu dokumen tersebut menetapkan sejumlah hak-hak dan kewajiban-kewajiban bagi kaum Muslim, kaum Yahudi, dan komunitas-komunitas pagan Madinah; sehingga membuat mereka menjadi suatu kesatuan komunitas, yang dalam bahasa Arab disebut Ummah. Piagam ini mengandungi beberapa pasal yang melibatkan hubungan antara semua rakyat termasuk kaum bukan Islam dan merangkum aspek politik, sosial, agama, ekonomi dan militer.

Islam adalah agama yang mementingkan kedamaian. Namun begitu, aspek pertahanan amat penting bagi melindungi agama, masyarakat dan negara. Rasulullah telah menyertai 27 kali ekspedisi tentera untuk mempertahan dan menegakkan keadilan Islam. Peperangan yang ditempuhi Muhammad ialah Perang Badar (623 M/2 H), Perang Uhud (624 M/3 H), Perang Khandak (626 M/5 H) dan Perang Tabuk (630 M/9 H). Namun tidak semua peperangan diakhiri dengan kemenangan.

Pada tahun 625 M/ 4 Hijrah, Perjanjian Hudaibiyah telah dimeterai antara penduduk Islam Madinah dan kaum Musyrikin Mekah. Maka dengan itu, negara Islam Madinah telah diikrarkan. Nabi Muhammad SAW juga telah berhasil menguasai kota Mekah pada 630 M/9 H bersama dengan 10.000 orang para pengikutnya. Perang terakhir yang disertai oleh Rasulullah ialah Perang Tabuk dan Muhammad dan pengikutnya berhasil mencapai kemenangan yang gemilang.

Tahun kesebelas Hijrah, haji pertama Nabi dan kaum Muslimin tanpa ada seorang musrik pun yang ikut didalamnya, untuk pertama kalinya pula, lebih dari 10.000 orang berkumpul di Madinah dan sekitarnya, menyertai Nabi melakukan perjalanan ke Mekah, dan .. sekaligus inilah haji terakhir yang dilakukan oleh Nabi. Rombongan haji meninggalkan Madinah tanggal 25 Dzulqaidah . Langit, hingga hari itu, belum pernah menyaksikan pemandangan di muka bumi seperti yang ada pada saat itu. Lebih dari 100.000 orang, laki-laki dan perempuan ‘ dibawah sengatan Matahari yang amat terik dan di padang pasir yang sebelumnya tak pernah dikenal orang ‘ bergerak menuju satu arah. Medan ini merupakan lukisan paling indah dari satu warna yang menghiasi kehidupan manusia.

Nabi disertai semua isterinya, menginap satu malam di Dzi Al-Hulaifah, kemudian melakukan Ihram sepanjang Subuh, dan mulai bergerak… seluruh padang terisi gema suara mereka yang mengucapkan lafadz talbiyah, “labbaika Allahumma labbaik, labbaika laa syarika laka labbaika, innal hamada wanni’mata laka wal mulk laa syarika laka.! Aku memenuhi panggilanMu, ya Allah aku memenuhi panggilanMu. Aku memenuhi panggilanMu, tiada sekutu bagiMu, aku memenuhi panggilanMu. Sungguh segala puji dan nikmat adalah milikMu, begitu juga seluruh kerajaan, tiada sekutu bagiMu”.

Rasulullah juga telah menyampaikan amanat terakhir pada tahun itu juga.

Amanat yang dimaksud adalah :

Wahai sekalian manusia, ketahuilah bahawa Tuhan kamu Maha Esa dan kamu semua adalah daripada satu keturunan iaitu keturunan Nabi Adam a.s. Semulia-mulia manusia di antara kamu di sisi Allah s.w.t. ialah orang yang paling bertakwa. Aku telah tinggalkan kepada kamu dua perkara dan kamu tidak akan sesat selama-lamanya selagi kamu berpegang teguh dengan dua perkara itu, iaitu kitab Al-Quran dan Sunnah Rasulullah.”

Mekkah

Mekkah

WAFATNYA RASULULLAH 

PAGI itu, hari Senin bulan Rabiul Awal tahun 11 H atau bertepatan dengan tanggal 6 Juni 632 M Rasulullah dengan suara terbata-bata memberikan petuah: “Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan Cinta Kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah hanya kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, Sunnah dan Al-Qur’an. Barang siapa yang mencintai Sunnahku berarti mencintai aku, dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku,”.

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca. Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya. Ustman menghela nafas panjang dan Ali menundukan kepalanya dalam-dalam.

Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba “Rasulullah akan meninggalkan kita semua,” desah hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia.

Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar. Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana sepertinya tengah menahan detik-detik berlalu.

Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seseorang yang berseru mengucapkan salam.

“Assalaamu’alaikum… .Bolehkah saya masuk ?” tanyanya.

Tapi Fatimah tidak mengijinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya kepada Fatimah.

“Siapakah itu, wahai anakku?”

“Tak tahulah aku ayah, sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut. Lalu Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak dikenang.

“Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. dialah Malaikat Maut,” kata Rasulullah. Fatimah pun menahan tangisnya.

Malaikat Maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit untuk menyambut ruh kekasih Allah dan Penghulu dunia ini. (sepertinya Malaikat Jibril Tidak Sanggup melihat Rasulullah dicabut nyawanya)

“Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?”  Tanya Rasulullah dengan suara yang amat lemah.

“Pintu-pintu langit telah dibuka, para malaikat telah menanti Ruhmu, semua pintu Surga terbuka lebar menanti kedatanganmu” kata Jibril. Tapi itu semua ternyata tidak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

“Engkau tidak senang mendengar kabar ini, Ya Rasulullah?” tanya Jibril lagi.

“Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”

“Jangan khawatir, wahai Rasulullah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya’,” kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan Ruh Rasulullah ditarik. Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.

“Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini,” ujar Rasulullah mengaduh lirih.

Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.

“Jijikkah engkau melihatku, hingga kaupalingkan wajahmu, wahai Jibril?” tanya Rasulullah pada malaikat pengantar wahyu itu.

“Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direngut ajal,” kata Jibril.

Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik karena sakit yang tak tertahankan lagi.

“Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan kepada umatku.”

Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya.

“Peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah diantaramu”

Di luar pintu, tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan diwajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

“Ummatii. ummatii. ummatii.”

“Wahai jiwa yang tenang kembalilah kepada tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya, maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam jannah-Ku.”

‘Aisyah ra berkata: ”Maka jatuhlah tangan Rasulullah, dan kepala beliau menjadi berat di atas dadaku, dan sungguh aku telah tahu bahwa beliau telah wafat.” 

Dia berkata: ”Aku tidak tahu apa yg harus aku lakukan, tidak ada yg kuperbuat selain keluar dari kamarku menuju masjid, yg disana ada para sahabat, dan kukatakan:

”Rasulullah telah wafat, Rasulullah telah wafat, Rasulullah telah wafat.”

Maka mengalirlah tangisan di dalam masjid, karena beratnya kabar tersebut, ‘Ustman bin Affan seperti anak kecil menggerakkan tangannya ke kiri dan ke kanan.

Adapun Umar bin Khathab berkata: ”Jika ada seseorang yang mengatakan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam telah meninggal, akan kupotong kepalanya dengan pedangku, beliau hanya pergi untuk menemui Rabb-Nya sebagaimana Musa pergi untuk menemui Rabb-Nya.

Adapun orang yg paling tegar adalah Abu Bakar, dia masuk kepada Rasulullah, memeluk beliau dan berkata: ”Wahai sahabatku, wahai kekasihku, wahai bapakku.” 

Kemudian dia mencium Rasulullah dan berkata: ”Anda mulia dalam hidup dan dalam keadaan mati.”

Keluarlah Abu Bakar ra menemui orang-orang dan berkata: ”Barangsiapa menyembah Muhammad, maka Muhammad sekarang telah wafat, dan barangsiapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah kekal, hidup, dan tidak akan mati.”

‘Aisyah berkata: “Maka akupun keluar dan menangis, aku mencari tempat untuk menyendiri dan aku menangis sendiri.”

Innalillahi wainna ilaihi raji’un, telah berpulang ke rahmatullah manusia yang paling mulia, manusia yang paling kita cintai pada saat dhuha ketika memanas di hari Senin 12 Rabiul Awal 11 H tepat pada usia 63 tahun lebih 4 hari. Shalawat dan salam selalu tercurah untuk Nabi tercinta Rasulullah.

(Hingga usai tulisan ini disusun dari berbagai sumber, tak terasa air mata menggenang dipelupuk mataku. Allahumma shali ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad.-@DioN_Erbe)

Sumber :

  1. Sejarah Kelahiran Nabi Muhammad SAW
  2. Sejarah Kelahiran Nabi Muhammad SAW hingga Wafatnya
  3. Muhammad

hijrah2

Pohon Dikeramatkan, Ditebang Oleh Umar bin Khattab

Pohon palem yang sempat ditabrak Ustadz Jeffry Al Buchori di kawasan Pondok Indah Jakarta Selatan.

Pohon palem yang sempat ditabrak Ustadz Jeffry Al Buchori  (Uje) di kawasan Pondok Indah Jakarta Selatan.

Beberapa media on-line memberitakan bahwa pohon bekas tabrakan ustadz Jefri rahimahullah ditaburi bunga.[1] Dan beberapa sumber menyebutkan bahwa sebagian  kecil warga mulai menganggap keramat pohon tersebut. Sumber lain menyebutkan bahwa bunga ditaburkan dipohon tersebut untuk mendoakan beliau[2]. Benarkah cara mendoakan seperti itu?

Yang menjadi potensi kesyirikan disingkirkan

Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu memerintahkan agar pohon di mana dilakukan bai’atur ridwan agar di tebang. Padahal bisa jadi orang beralasan itu adalah situs sejarah Islam yang perlu dilestarikan. Akan tetapi untuk mencegah terjadinya kesyirikan dan anggapan keramat suatu tempat maka beliau memerintahkan agar pohon tersebut ditebang.

Ibnu Waddhah berkata,

سمعت عيسى بن يونس يقول : أمر عمر بن الخطاب ـ رضي الله عنه بقطع الشجرة التي بويع تحتها النبي صلى الله عليه وسلم فقطعها لأن الناس كانوا يذهبون فيصلون تحتها ، فخاف عليهم الفتنة .

“Aku mendengar Isa bin Yunus mengatakan , “Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhu memerintahkan agar menebang pohon yang Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam menerima baiat (Bai’atur ridhwan) kesetiaan di bawahnya (dikenal dengan pohon Syajaratur ridhwan). Ia menebangnya karena banyak manusia yang pergi ke sana dan shalat di bawahnya, lalu hal itu membuatnya khawatir akan terjadi fitnah (kesyirikan) terhadap mereka.”[3]

Jika pohon yang merupakan situs sejarah Islam saja ditebang karena kahwatir jadi potensi kesyirikan, maka bagaimana dengan pohon bekas tabrakan? Semoga tidak terjadi yang kita khawatirkan.

Syaikh Muhammad bin shalih Al-‘Utasimin rahimahullah berkata,

ولا أحد يُتبرك بآثاره إلا محمد صلى الله عليه وسلم ، أما غيره فلا يتبرك بآثاره ، فالنبي صلى الله عليه وسلم يتبرك بآثاره في حياته ، وكذلك بعد مماته إذا بقيت تلك الآثار

“tidak ada seorangpun (baik orang, benda maupun tempat, pent)  yang boleh untuk tabarruk (ngalap berkah) kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, adapun yang lain maka tidak boleh. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam boleh untuk tabarruk (ngalap berkah) dengan atsarnya (misalnya air liur, rambut dan lain-lain) ketika hidup, demikian juga setelah beliau wafat jika masih ada atsar tersebut (adapun meminta-minta di kubur beliau, maka ada dalil yang melarang, pent).”[4]

Kisah pohon dzatu Anwath

Begitu juga dengan kisah pohon dzatu anwath, yaitu pohon milik orang musyrik di mana mereka menggantungkan senjata-senjata mereka di pohon tersebut karena dianggap keramat. Maka Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam melarang hal semacam ini.

Dari Abu Waqid al-Laitsi radhiallahu’anhu, dia berkata,

عَنْ أَبِى وَاقِدٍ اللَّيْثِىِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَمَّا خَرَجَ إِلَى خَيْبَرَ مَرَّ بِشَجَرَةٍ لِلْمُشْرِكِينَ يُقَالُ لَهَا ذَاتُ أَنْوَاطٍ يُعَلِّقُونَ عَلَيْهَا أَسْلِحَتَهُمْ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍ. فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « سُبْحَانَ اللَّهِ هَذَا كَمَا قَالَ قَوْمُ مُوسَى (اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ) وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَتَرْكَبُنَّ سُنَّةَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ »

“Dahulu kami berangkat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menuju Khoibar. Lalu, beliau melewati pohon orang musyrik yang dinamakan Dzatu Anwath. Mereka menggantungkan senjata mereka. Lalu mereka berkata, “Wahai Rasulullah! Buatkanlah untuk kami Dzatu Anwath (tempat menggantungkan senjata) sebagaimana mereka memiliki Dzatu Anwath.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Subhanallah! Sebagaimana yang dikatakan oleh kaum Musa: Jadikanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka memiliki sesembahan-sesembahan.” (QS. Al A’raaf: 138). Kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan-kebiasaan orang-orang sebelum kalian. [5]

Salah faidah dari hadits di atas,

بيان أن التبرك بالأشجار والأحجار ، والعكوف عليها ، والتعلق بها ، من الشرك الذي وقع في هذه الأمة ، وأن من وقع فيه فهو تابع لطريق اليهود والنصارى ، تارك لطريق النبي ، صلى الله عليه وسلم .

“Penjelasan bahwa tabarruk (ngalap berkah) dengan pohon dan batu, beri’tikaf di situ dan menggantungkan hati padanya merupakan kesyirikan yang terjadi pada umat ini. Dan mereka yang terjerumus dalam hal ini, maka mereka mengikuti jalannya Yahudi dan Nashrani, mereka meninggalkan jalan/petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”[6]

@Pogung Lor-Jogja, 19 Jumadis Tsani 1434 H

Penyusun: Raehanul Bahraen

Sumber artikel : www.muslimafiyah.com


[3] Al-Bida’u wan-Nahyu ‘Anha, 42. Al-I’tsihâm, 1/346

[4] Majmu’ Fatawa 2/107

[5] HR. Tirmidzi no. 2180. Abu Isa mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Hadits ini dikatakan shahih oleh Al Hafizh Abu Thahir Zubair ‘Ali Zaiy

[6] Fathul Majid syarh kitabit tauhid, 139-147

Bagi Petugas Medis: Menjadi Dokter Hati Dan Dokter Fisik

dokter muslimDokter dan petugas medis cukup sangat berpotensi dalam dakwah. Karena ia bisa menasehati pasien dan umumnya pasien sangat mudah menerima nasehat dari dokter dan petugas medis. Bisa jadi karena psikologis pasien yang “down” ketika sakit (berat), bisa jaga karena status dokter masih memiliki kedudukan di masyarakat dan bisa juga karena pasien sangat menginginkan kesembuhan dan menggantungkan hati kepada dokter.

Kemudian juga tidak sedikit hukum-hukum kedokteran yang  banyak sekali berkaitan dengan hukum agama. Tidak sedikit juga pasien yang bertanya kepada dokter atau petugas medis mengenai hukum suatu hal terkait dengan kesehatan dan penyakitnya. Misalnya:

-apakah infus dan suntikan membatalkan puasa? (baca di sini)

-bagaimana cara qadha shalat jika pingsan? (baca di sini)

-bagaimana shalat dan puasa ibu yang keguguran? (baca di sini)

-bagaimana mengenai transfusi darah dari orang kafir? (baca di sini)

Perhatian ulama terhadap ilmu kedokteran

Oleh karena itu beberapa ulama memberikan perhatian khusus terhadap ilmu kedokteran.  Salah satunya adalah Imam Asy-Syafi’i rahimahullahbeliau berkata,

لا أعلم علما بعد الحلال والحرام أنبل من الطب إلا أن أهل الكتاب قد غلبونا عليه.

“Saya tidak mengetahui sebuah ilmu -setelah ilmu hala dan haram- yang lebih berharga yaitu ilmu kedokteran, akan tetapi ahli kitab telah mengalahkan kita”[1]

Beliau juga berkata,

إنما العلم علمان: علم الدين، وعلم الدنيا، فالعلم الذي للدين هو: الفقه، والعلم الذي للدنيا هو: الطب.

“Ilmu itu ada dua: ilmu agama dan ilmu dunia, ilmu agama yaitu fikh (fikih akbar: aqidah, fikih ashgar: fiqh ibadah dan muamalah, pent). Sedangkan ilmu untuk dunia adalah ilmu kedokteran.[2]

Beliau juga berkata,

لا تسكنن بلدا لا يكون فيه عالم يفتيك عن دينك، ولا طبيب ينبئك عن أمر بدنك

“Janganlah sekali-kali engkau tinggal di suatu negeri yang tidak ada di sana ulama yang bisa memberikan fatwa dalam masalah agama, dan juga tidak ada dokter yang memberitahukan mengenai keadaan (kesehatan) badanmu.[3]

Dokter/petugas medis juga harus dekat dengan ulama

Mengingat sangat berpotensinya dakwah melalui bidang kesehatan, sebaiknya dokter dan petugas medis dekat dengan ulama. Banyak bertanya dan mempelajari hukum dan berdakwah memperjuangkan Agama Islam. Jadilah petugas medis yang bisa mengobati hati dan mengobati fisik, mengobati hati dari keras dan matinya hati dan mengobati fisik yang sakit dengan ilmu kesehatan.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata,

فالطبيب يسأل العلماء في أي مكان، وفي أي مستشفى، وفي أي بلاد، عليه أن يسأل علماء البلاد وقضاتها عما أشكل عليه حتى يفتي به المرضى، فالطبيب عليه أن يسأل، وليس له أن يفتي بغير علم، لأنه ليس من أهل العلم الشرعي، وإنما عليه أن يخبر عما يتعلق بالطب ويتحرى في ذلك وينصح.

“Hendaknya dokter bertanya kepada ulama di mana saja, di rumah sakit, di suatu negeri. Wajib bagi mereka bertanya kepada ulama dan qadhi mengenai masalah yang rancu, hingga ia bisa memberikan fatwa agama kepada orang sakit. Dan hendaknya dokter memberikan berita  yang berkaitan dengan kedokteran, mencarinya dan memberikan nasehat.”[4]

Selain itu hendaknya dokter juga bersemangat belajar ilmu kedokteran dan mengembangkannya. Agar ia bisa menyempurnakan ilmu dan menjadi dokter fisik dan dokter hati. Akan tetapi ilmu kedokteran Islam yang dulu sangat berkembang, sekarang mulai menurun dan dikuasai oleh Yahudi dan Nasrani.

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,

 ضَيَّعُوا ثُلُثَ العِلْمِ وَوَكَلُوهُ إِلَى اليَهُوْدِ وَالنَّصَارَى.

“Umat Islam telah menyia-nyiakan sepertiga Ilmu (ilmu kedokteran) dan meyerahkannya kepada umat Yahudi dan Nasrani.”[5]

Syaikh Muhammad Ast-Syinqitiy rahimahullah berkata menjelaskan perkataan Imam Asy-Syafi’i,

لماذا ثلث العلم؟! لأن علم الشرع على ضربين: علم يتعلق بالاعتقاد، وعلم يتعلق بالأبدان والجوارح، فأصبح علم بالظاهر وعلم بالباطن، علم التوحيد وعلم الفروع التي هي محققة للتوحيد، فهذان علمان فهما طب الروح والجسد، بقي طب البدن من الظاهر وهو العلم الثالث، فقال رحمه الله من فهمه وفقهه: [ضيعوا ثلث العلم ووكلوه إلى اليهود والنصارى] يعني احتاجوا إلى اليهود والنصارى

“Mengapa sepertiga Ilmu? Karena ilmu syar’i ada dua: [1] ilmu yang berkaitan dengan keyakinan [2] ilmu yang berkaitan dengan badan dan anggota badan. Maka menjadi, ilmu dzahir dan ilmu batin. Ilmu tauhid dan cabangnya yang merupakan realisasi dari tauhid. Maka dua ilmu ini adalah pengobatan ruh dan jasad. Tersisa pengobatan badan dari bagian ilmu dzahir yaitu ilmu ketiga. Inilah yang dimaksud oleh perkataan Imam Asy-Syafi’i dari pemahamannya,

“Umat Islam telah menyia-nyiakan sepertiga Ilmu (ilmu kedokteran) dan meyerahkannya kepada umat Yahudi dan Nasrani.”

Yaitu maksudnya butuh terhadap orang yahudi dan nashrani (jika ingin berobat, karena tidak ada/sedikit kaum muslim yang menguasai ilmu kedokteran).”[6]

 

Semoga Allah bisa menjadikan petugas medis muslim sebagai dokter fisik dan dokter hati sekaligus.

Demikian semoga bermanfaat.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush shalihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam

@Gedung RadioPoetro, FK UGM

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

Sumber Artikel : www.muslimafiyah.com


[1] Siyar A’lam An-Nubala 8/528, Darul Hadits, Koiro, 1427 H, syamilah

[2] Adab  Asy-Syafi’i wa manaqibuhu hal. 244, Darul Kutub Al-‘Ilmiyah, Beirut, cet. I, 1424 H, syamilah

[3] idem

[4] Fatawa At-Thibb wal Maridh hal 453, syamilah

[5] Siyar A’lam An-Nubala  Adz-Dzahabi 8/258, Darul Hadits, Koiro, 1427 H, Asy-Syamilah

[6] Durus Syaikh Muhammad Asy-Syinqitiy, sumber:http://islamport.com/w/amm/Web/1583/866.htm

Jadwal Puasa Sunnah Tahun 2014

Berikut ini jadwal puasa sunnah untuk tahun 2014.. Semoga bermanfaat dan kita semua sebagai ummat islam bisa mengamalkannya.

Kalender Puasa Sunah 2014

Jadwal Puasa Sunah 2014

  • Puasa sunnah tiap hari Senin dan Kamis (kalender Hijriyah/Masehi).
  • Puasa Tiga Hari Setiap Bulan (Tanggal 13,14,15 di kalender Hijriyah): 14, 15, 16 Januari 2014/Rabi’ul Awwal 1435 H; 13, 14, 15 Pebruari 2014/Rabi’ul Akhir 1435 H; 14, 15, 16 Maret 2014/Jumadil Awwal 1435 H; 13, 14, 15 April 2014/Jumadil Akhir 1435 H; 12, 13, 14 Mei 2014/Rajab 1435 H; 11, 12, 13 Juni 2014/Sya’ban 1435 H;
  • Puasa (wajib) Ramadhan 1435 H – 28 Juni – 27 Juli 2014: dengan demikian, tidak ada puasa sunnah 3 hari di bulan Ramadhan..***: 9, 10, 11 Agustus 2014/Syawwal 1435 H; 8, 9, 10 September 2014/Dzulqa’idah 1435 H; 7, 8, 9 Oktober 2014/Dzulhijjah 1435 H.
***tgl 7 Oktober = hari terakhir Tasyriq, tidak boleh berpuasa***
  • Puasa Sepertiga Bulan – Yakni di bulan Dzulhijjah (antara 25 September – 24 Oktober 2014).
  • Puasa tanggal 9 Dzulhijjah (Arafah) bagi selain orang yang melaksanakan haji. Tanggal 3 Oktober 2014. Puasa dilakukan antara tanggal 25 September – 24 Oktober 2014, terputus dengan idul Adha dan hari Tasyrik, dilanjutkan lagi tgl 8 Oktober 2014.
  • Puasa Bulan Muharram – ‘Asyura’ selama 3 hari – 9, 10, 11 Muharram (13, 14, 15 November 2013). Sangat dianjurkan puasa tanggal 9 dan 10 Muharram (Tasu’a dan ‘Asyura). Bisa juga dilakukann tgl 10 dan 11. Intinya: TIDAK BOLEH KHUSUS (HANYA) PUASA TGL 10 MUHARRAM! “Puasalah pd hari Asyura dan berpuasalah sehari sebelum dan setelahnya, dan janganlah kalian menyerupai orang Yahudi.” (HR Ath Thahawi)
  • Puasa pada sebagian bulan Sya’ban. Antara 30 Mei – 27 Juni 2014.
  • Puasa pada bulan Syawal – 6 hari. Tidak diperkenankan puasa pada 1 Syawal (28 Juli 2014). Bisa dilakukan antara 29 Juli – 27 Agustus 2014.
  • Puasa Daud – berpuasa selang seling. Berpuasa satu hari lalu berbuka satu hari. *kecuali hari2 yang dilarang berpuasa*

Tidak boleh berpuasa :

  • Hari Idul Adha – 10 Dzulhijjah / 4 Oktober 2014.
  • Hari tasyriq 11, 12, 13 Dzulhijjah / 5, 6, 7 Oktober 2014.

Demikianlah artikel yang membahas mengenai Jadwal Puasa Sunnah 2014, semoga artikel ini tentunya dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi kita semua.[ps]

Sumber :: http://www.pustakasekolah.com/