Doa Iftitah

Doa Iftitah – 01

Doa Iftitah 01

ALLOHUMMA BAA’ID BAINII WABAINA KHOTHOOYAAYA KAMAA BAA’ADTA BAINAL MASYRIQI WALMAGHRIB.
Ya Allah, jauhkan antara saya dengan kejelekan-kejelekan saya sebegaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat.

ALLOHUMMA NAQQINII MINAL KHOTHOOYAAYA KAMAA YUNAQQOTS-TSAUBUL ABYADLU MINAD-DANAS.
Ya Allah, bersihkanlah diriku dari kejelekan-kejelekanku sebagaimana baju putih dibersihkan dari kotoran

ALLOHUMMAGHSIL KHOTHOOYAAYA BILMAA-I WATS-TSALJI WALBARODI.
Ya Allah, basuhlah/cucilah kejelekan-kejelekan saya dengan air, salju dan embun.

(HR. Al-Bukhari no.702).

 

Doa Iftitah – 02 & 03 (combine)

Doa Iftitah

Doa Iftitah 02-03

 

Do’a Iftitah 02

ALLOHU AKBAR KABIIROW WAL_HAMDU LILLAAHI KATSIIROW WASUB_HAANALLOHI BUKRO-TAW WA’ASHIILA.

Allah Maha Besar dengan segala kebesarannya. Segala puji bagi Allah. Maha Suci Allah dipagi dan petang hari.

(HR. An-Nasa’i II/125)

Do’a Iftitah 03

WAJJAHTU WAJHIYA LILLADZII FATHOROS SAMAAWAATI WAL ARDLO, _HANIIFAM MUSLIMAW WAMAA ANA MINAL MUSYRIKIIN.
Kuhadapkan jiwa ragaku pada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan mengakui kebenaran serta berserah diri, dan tidaklah aku termasuk golongan orang-orang yang musyrik

INNA SHOLAATII WANUSUKII WAMA_HYAAYA WAMAMAATII LILLAAHI ROBBIL ‘AALAMIIN,
Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, matiku hanya untuk Allah Tuhan semesta alam

LAASYARIIKALAHU WABIDZAA-LIKA UMIRTU WA ANA MINAL MUSLIMIIN
tiada sekutu bagiNya karena dengan itu aku diperintah. Dan ketahuilah sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim

(HR. Al-Baihaqi II/8)
lihat kitab Al-Adzkaar An-Nawawy halaman 42

 

Footnote :

Coba perhatikan pada Doa Iftitah 03 yg sering digabungkan dengan Doa Iftitah-02, pada kalimat “Wajjahtu“, dibaca tanpa kata “Inni“.

Semoga bermanfaat.

Iklan

Rapat dan Luruskan Shaf Shalat

Sawwuu shufuufakum fainna tashwiyatash shufuufi min iqoomaatish sholaat..!!

Inilah sebuah kebangkitan Umat Islam jika Jamaah Shalat Subuhnya seramai Jamaah Shalat Jum’atnya. Hal ini bisa kita mulai dengan cara merapatkan dan melurusan shaf dalam Shalat.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam ternyata tidak hanya memerintahkan untuk meluruskan dan merapatkan shaf dalam shalat, namun juga beliau mengancam keras orang-orang yang tidak merapikan shaf dalam shalat berjamaah mereka. Perhatikan redaksi hadits sebagai berikut :

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Tidakkah kalian berbaris sebagaimana malaikat berbaris di sisi Rabbnya?” Maka kami berkata, ”Wahai Rasulullah, bagaimana malaikat berbaris di sisi Rabbnya?” Beliau bersabda, “Mereka menyempurnakan shaf-shaf pertama dan mereka rapat dalam shaf. (HR. Muslim no. 430). 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Hendaklah kalian merapatkan dan meluruskan shaf kalian, atau Allah akan mencerai beraikan kalian” [HR Muslim no. 436]

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallau’anhum, beliau berkata, “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengusap pundak kami ketika akan shalat seraya bersabda, “Luruskanlah, dan jangan berselisih sehingga hati kalian bisa berselisih. Hendaklah yang tepat di belakangku adalah orang yang dewasa yang memiliki kecerdasan dan orang yang sudah berakal di antara kalian, kemudian orang yang sesudah mereka, kemudian orang yang sesudah mereka.” (HR. Muslim no. 432)

Dari Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhu, ia berkata, “Dulu Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- meluruskan shaf kami sehingga seakan beliau meluruskan anak panah (ketika diruncingkan,pen), sampai beliau menganggap kami telah memahaminya. Beliau pernah keluar pada suatu hari, lalu beliau berdiri sampai beliau hampir bertakbir, maka tiba-tiba beliau melihat seseorang yang membusungkan dadanya dari shaf. Maka beliau bersabda, “Wahai para hamba Allah, kalian akan benar-benar akan meluruskan shaf kalian atau Allah akan membuat wajah-wajah kalian berselisih.” (HR.Muslim no. 436) 

 

Rapat dan luruskan Shaf

Rapat dan luruskan Shaf

 

Perhatikan bahwa secara berulang-ulang hadits tersebut menjelaskan tentang betapa pentingnya rapat dan lurusnya shaf dalam shalat. Dijelaskan pula, bahwa rapat dan lurusnya shaf adalah salah satu bentuk dari persatuan umat Islam, karena orang yang tak mau meluruskan dan merapatkan shaf, maka Allah akan mencerai-beraikannya dari barisan orang muslim.

Dari Anas –rodhiyallohu ‘anhu- berkata,”Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,”Sawwuu shufuufakum fainna tashwiyatash shufuufi min iqoomaatish sholaat”; Rapikan (rapat dan lurus) shof kalian, sesungguhnya rapinya shof termasuk bagian menegakkan sholat.” (HR. Bukhori no.723).

Rapat dan luruskan shaf

Posisi Imam dan Makmum Dalam Shalat Berjamaah

Mari kita kita bangun kesadaran umat Islam agar membiasakan untuk “merapatkan dan meluruskan shaf dalam shalat” Come On..!!

Wallahu a’lam bishawab.

17 AGUSTUS DIISI DENGAN 17 REKA’AT & 17 RAMADHAN

Indonesia

Tujuh Belas Agustus merupakan tanggal terpenting bagi bangsa Indonesia, karena pada hari itu Indonesia diproklamirkan sebagai negara yang merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945. Pada saat itu Indonesia dinyatakan merdeka dari penjajahan Portugis, Belanda, dan Jepang, sehingga dapat mengatur kehidupan sendiri. Apakah bangsa ini benar-benar merdeka ? Apakah rakyat betul-betul merasakan nikmat kemerdekaan ? Merdeka adalah bebas dari penjajahan, eksploitasi, pendudukan, pengaruh, dsb dari orang atau bangsa lain. Itulah masyarakat umum menterjemahkan makna merdeka.

Islam mengajarkan bahwa orang yang merdeka adalah orang yang bertaqwa kepada Allah, orang yang senantiasa menjaga diri untuk tetap bertauhid kepada Allah, tetap tunduk patuh kepada Allah, tetap di jalan Allah, tetap berniat karena Allah, dan tetap bertujuan mencapai ridho Allah. Dia sama sekali tidak terbelenggu oleh manusia dan tidak terjerat oleh kehidupan dunia. Dia bebas; hanya Allah yang mengatur dia dan menentukan nasib hidupnya.

Mayoritas penduduk Indonesia (sekitar 85%) penduduk Indonesia adalah Muslim. Indonesia, katanya, sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia. Kemerdekaan 17 Agustus sudah seharusnya diisi dengan 17 reka’at dan 17 Ramadhan. Kemerdekaan harus diisi dengan menegakkan shalat 17 reka’at ; mengerjakan shalat lima waktu dengan baik-benar dan mengamalkan ajarannya dalam kehidupan sehari-hari. Kemerdekaan harus diisi dengan pedoman al-Quran yang turun pertama pada 17 Ramadhan. Syari’ah Islam sudah seharusnya diterapkan di bumi Indonesia. Syari’ah Islam diterapkan untuk kemaslahatan (kebaikan) ummat manusia, siapapun, bahkan untuk kebaikan seluruh alam (Rahmatan lil’aalamiin).

anak

Shalat mempunyai nilai dan kedudukan yang sangat tinggi dalam agama Islam, yaitu ; Shalat merupakan salah satu dari lima rukun Islam yang wajib dikerjakan orang yang beriman,

QS4-103

“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”.(Q.S. 4:103),

Shalat untuk mengingat Allah dan memohon pertolongan-Nya,

QS2-153

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”.(Q.S. 2:153)

QS20-14

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”.(QS 20:14)

Dengan shalat yang baik akan diperoleh keberuntungan,

QS23-1 QS23-2

“1. Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, 2. (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya”.(Q.S. 23:1-2)

Dengan shalat dapat mencegah keburukan (kemunkaran),

QS29-45

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”.(Q.S. 29:45).

Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa shalat sebagai tiang agama, siapa yang mengerjakannya dia menegakkan agama dan yang tidak mengerjakan dia merubuhkannya. Beliau juga bersabda bahwa shalat merupakan mi’rajul-mu’miniin, shalat menjadi pembatas antara orang yang beriman dan yang tidak beriman, dan shalat adalah amalan yang dihitung pertama kali pada hari kiamat kelak.

Shalat tidak sekedar berdimensi ritual tetapi juga dimensi aktual yang dipancarkan melalui simbol-simbol di dalamnya (syarat, gerakan, bacaan, dan shalat jama’ah). Shalat merupakan simbol kehidupan. Shalat secara wajar (bukan darurat) diwajibkan menghadap ke kiblat di Makkah. Ka’bah menjadi titik sentral dari konfigurasi lingkaran. Konfigurasi lingkaran ini mempunyai makna simbolik yang mendalam. Seluruh isi jagat raya, baik jenis makro¬kosmos maupun mikrokosmos, menunjukkan konfigurasi lingkaran. Seluruh isi alam semesta bergerak melingkar. Dalam skala makro dapat diketahui bahwa bulan mengelilingi bumi sembari dia sendiri berputar pada porosnya. Bulan dan bumi, sembari bumi sendiri berputar pada porosnya, mengelilingi matahari. Planet-planet lain juga melingkari matahari. Dalam skala mikro dapat diketahui bahwa setiap benda mempunyai molekul yang terdiri dari atom-atom. Inti atom yang berupa netron dikelilingi oleh proton dan elektron. Konfigurasi lingkaran dan gerakan orbital merupakan konfigurasi dan gerakan kehidupan alam semesta. Shalat merupakan simbol kehidupan, artinya ajaran shalat harus diterapkan dalam kehidupan nyata.
Jika dihitung secara matematis, maka keseluruhan gerakan shalat menunjukkan angka 360 derajat, angka yang menunjukkan gerakan orbital (melingkar). Penghitungan 360 derajat didapat dari akumulasi lima tahap gerakan shalat. Tahap satu adalah sikap berdiri sempurna, sejajar dengan bidasng vertikal. Tahap ini menunjukkan sudut 0 derajat. Tahap kedua adalah sikap ruku’ sempurna yang akan membentuk proyeksi sudut siku-siku sebesar 90 derajat terhadap bidang vertikal. Tahap ketiga adalah sikap sujud pertama sempurna yang akan membentuk proyeksi sudut tumpul sebesar 135 derajat terhadap bidang vertikal. Tahap keempat adalah sikap duduk sempurna kembali yang akan membentuk sudut sebesar 0 derajat. Tahap kelima adalah sikap sujud kedua sempurna yang juga membentuk sudut 135 derajat terhadap bidang vertikal. Gerakan melingkar adalah gera¬kan alam semesta yang bergerak terus-menerus.

Shalat dilakukan oleh orang Islam (muslim), yaitu orang yang telah menyatakan dirinya taat, menyerahkan diri, dan tunduk kepada Allah SWT agar terjamin keselamatan hidupnya di dunia dan akhirat. Hal ini berarti bahwa status muslim merupakan status simbol yang menggambarkan keadaan atau apa yang seharusnya dilakukan oleh pemegang status tersebut. Status mahasiswa, dosen, guru, petani, dokter, kepala keluarga, dan lainnya menggambarkan keadaan atau apa yang seharusnya dilakukan oleh pemegang status itu. Shalat merupakan amanat Allah. Orang yang mengerjakannya harus berakal sehat dan dewasa (baligh). Kedewasaan dan akal sehat seseo¬rang mampu mengemban amanat yang ada dalam statusnya secara baik. Amanat hanya bisa diemban oleh orang-orang yang berakal sehat dan dewasa, sedangkan orang yang gila dan masih kanak-kanak tidak dibeba¬ni dengan amanat; mereka bebas dari hukum. Orang yang tidak bisa memegang amanat dengan baik (misalnya amanat rakyat), maka dia itu orang gila atau kekanak-kanakan.

Contoh lain adalah gerakan/posisi sujud, yang minimal 34 kali sehari semalam. Ketika bersujud, kepala yang terletak di paling atas harus diturunkan dan diletakkan di tempat paling bawah sejajar dengan telapak kaki. Sujud mengajarkan ketawadhu’an (rendah hati) – tidak sombong – dan solidaritas sosial. Kepala dalam arti ‘ekonomi’ adalah orang kaya. Posisi sujud mengajarkan bahwa sebagian harta orang-orang kaya harus diberikan ke ‘rakyat bawah’ – wong cilik – (fakir, miskin, yatim, dsb.). Kepala dalam arti ‘politik’ adalah para pejabat dan wakil rakyat. Posisi sujud mengajarkan bahwa para pejabat dan wakil rakyat harus turun ke bawah melihat dan banyak membantu ‘rakyat bawah’ – wong cilik – (fakir, miskin, yatim, gelandangan, anak jalanan, buruh miskin, nelayan miskin, petani miskin, dsb.). Kepala dalam arti ‘ilmu’ adalah orang-orang pandai (ilmuwan, cendekiawan, dsb). Posisi sujud mengajarkan bahwa orang-orang pandai harus juga memandaikan orang-orang awam (tidak pandai). Jika ingin menjadi orang pandai jangan sendirian, pandai bersama. So, sujud memberi pesan; jangan hanya mengkayakan AKU tetapi juga mengkayakan KAU, tidak hanya mensejahterakan AKU tetapi juga mensejahterakan KAU, dan tidak hanya memandaikan AKU tetapi juga meminterkan KAU.

Seorang imam shalat mempunyai kriteria (syarat) tertentu seperti sanggup menunaikan shalat, mengetahui aturan shalat jama’ah, berakal sehat, mampu membaca al-Quran dengan benar, orang yang sholeh (baik, terhindar dari kemaksiatan), disetujui oleh makmum, dan dapat dipilih yang lebih tua. Syarat tersebut dapat direfleksikan pada pemimpin masyarakat. Dengan demikian seorang pemimpin masyarakat sanggup melaksanakan tugasnya, profesional dalam tugasnya, berakal sehat, dapat menjadi contoh yang baik dan disepakati oleh warganya.
Ummat Islam hendaknya tidak hanya “mengerjakan shalat” tetapi harus meningkat pada “menegakkan shalat”, yaitu mengerjakan shalat dengan benar dan kemudian menterjemahkan makna simbolik shalat dalam kehidupan kongkrit. Dengan kata lain, setelah melaksanakan “shalat-shalat ritual” dilanjutkan dengan “shalat-shalat aktual”. Shalat aktual adalah shalat ritual yang telah diterjemahkan dalam realitas empirik.

Kitab
Akhirnya, 17 Agustus harus diisi dengan 17 Ramadhan, yaitu ajaran al-Quraan al-Kariim. Allah berfirman, yang artinya, “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur” (QS. al-Baqarah 2:185).

Last but not least, Sayyid Quthb, dalam kitab tafsirnya yang berjudul Fii Zhilalil-Quran, menyatakan bahwa hidup manusia di bawah naungan al-Quran adalah suatu kenikmatan yang luar biasa. Kenikmatan itu hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yang benar-benar mengimani, menghayati, memahami, dan mengamalkan isi al-Quran. Hal ini berarti bahwa mereka harus betul-betul terhindar dari kekotoran/kemaksiatan hidup di dunia. Kenikmatan itu dapat mengangkat harkat-martabat manusia.

Penulis : Ustadz Muhammad Muhtar Arifin Sholeh

Dosen Unissula, Semarang-Jawa Tengah

(Sumber : FB – https://www.facebook.com/muhammadmuhtararifin.sholeh)

Panduan & Keutamaan Sholat Dhuha

Sholat Dhuha adalah Sholat sunat yang dilakukan/ dikerjakan pada waktu dhuha atau pada waktu pagi hari yang sudah agak meninggi sampai sebelum datangnya Sholat dhuhur (antara pukul 07.00 sampai pukul 10.00 WIB). Jumlah bilangan raka’at Sholat dhuha minimal dua raka’at dan maksimal dua belas raka’at dan dikerjakan setiap dua raka’at satu salam (jumlah raka’at Sholat dhuha bisa dengan 2,4,8 atau 12 raka’at). Manfaat/ faedah Sholat dhuha yang dapat diperoleh dan dirasakan oleh orang yang mengerjakannya/ melaksanakan Sholat dhuha adalah dapat melapangkan dada dalam segala hal, terutama dalam hal rizki, sebab banyak orang yang terlibat dalam hal ini.

Ayat-ayat yang paling baik dibaca dalam Sholat dhuha: surat al-Waqi’ah, surat Asy-Syamsi, surat Adh-Dhuha, surat al-Kafirun, surat al-Quraisy, surat al-Ikhlas, dsb. Cara mengerjakan Sholat dhuha sama seperti mengerjakan Sholat fardhu, baik bacaan maupun cara mengerjakannya.

Niat Sholat dhuha:


Usholli sunnatadh-dhuha rok’ataini lillahi ta’alaa
(Saya niat Sholat dhuha dua raka’at karena Allah ta’ala.)

  1. Pada rakaat pertama setelah Al-Fatihah membaca surat Asy-Syams
  2. Pada rakaat kedua membaca surat Adh-Dhuha

Doa yang selalu dibaca setelah selesai mengerjakan Sholat dhuha:

Allahumma innadh dhuhaa-a dhuhaa-uka, walbahaa-a bahaa-uka, wal jamaala jamaaluka, wal quwwata quwwatuka, wal qudrata qudratuka, wal ishmata ishmatuk, Allahumma inkaana rizqi fis samma-i fa-anzilhu, wa inkaana fil ardhi fa-akhrijhu, wa inkaana mu’assiran fayassirhu, wainkaana haraaman fathahhirhu, wa inkaana ba’idan fa qaribhu, bihaqqi duhaa-ika wa bahaaika, wa jamaalika wa quwwatika wa qudratika, aatinii maa ataita ‘ibaadakash-sholihiin.



Artinya:
Wahai Tuhanku, sesungguhnya waktu dhuha adalah waktu dhuha-Mu, keagungan adalah keagungan-Mu, keindahan adalah keindahan-Mu, kekuatan adalah kekuatan-Mu, penjagaan adalah penjagaan-Mu. Wahai Tuhanku, apabila rizkiku berada di atas langit, maka turunkanlah; apabila berada di bumi maka keluarkanlah; apabila sukar maka mudahkanlah, apabila haram maka sucikanlah, apabila jauh maka dekatkanlah dengan kebenaran dhuha-Mu, kekuasaan-Mu (wahai Tuhanku), datangkanlah padaku apa yang Engkau datangkan kepada hamba-hamba-Mu yang shaleh…

Shalat Dhuha adalah shalat Awwabin

Tersebut dalam hadits Rasulullah saw yang lain bahwa shalat Dhuha adalah shalat Awwabin. Artinya, shalat yang merefleksikan sikap orang-orang yang senantiasa merujuk dan kembali kepada Allahswt dalam segala urusannya. “Shalat Awwabin dilakukan saat anak-anak unta mulai merasakan panasnya pasir sehingga mereka bangkit.” (Hadits shahih, diriwayatkan oleh Muslim [748])

Dalam hadits yang lain, “Tidak konsisten menjaga kontinuitas shalat Dhuha kecuali ia seorang awwab, dan shalat Dhuha adalah shalat Awwabin. (Hadits hasan, diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dan al-Hakim, lihat Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, hadits no. 703)

Shalat Dhuha ini adalah salah satu dari tiga wasiat Rasulullah kepada Abu Hurairah ra.

Abu hurairah berkata, “Kekasihku (maksudnya, Rasulullah saw) berwasiat kepadaku dengan tiga hal, dan aku tidak akan meninggalkannya sehingga aku mati; berpuasa tiga hari setiap bulan, melakukan shalat Dhuha dan melakukan shalat witir sebelum tidur.” (Hadits muttafaqun ‘alaih, lihat Bukhari [1107, 1845], Muslim [1182])

Shalat Dhuha merupakan bagian dari “haji dan umrah” yang sempurna. Bukan haji dan umrah dalam arti pergi ke Mekah, akan tetapi, pahala haji dan umrah. Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang shalat Subuh berjama’ah, lalu duduk dzikir kepada Allah swt sehingga matahari terbit,kemudian shalat dua raka’at, maka untuknya pahala haji dan umrah, sempurna, sempurna, sempurna.” (Hadits Hasan, diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, lihat Shahih wa Dha’if Sunan at-Tirmidzi, hadits no. 586)

Rasulullah melakukan shalat Dhuha

Ummul Mukminin Aisyah ra berkata, “Rasulullah saw melakukan shalat Dhuha 4 raka’at dan menambahnya sesuai dengan kehendak Allah swt. (Hadits shahih diriwayatkan oleh Muslim [1176])

Ummu Hani’ ra bercerita bahwa Rasulullah saw memasuki rumahnya pada hari fathu Makkah(penaklukan kota Makkah), lalu mandi dan shalat 8 raka’at. (Hadits shahih, diriwayatkan oleh Bukhari [1105])

Dan ia menjelaskan lebih lanjut bahwa shalat Dhuha yang dilakukan Rasulullah saw termasuk shalat yang cepat. Maksudnya surat yang dibaca oleh beliau saw adalah surat-surat pendek, ruku’ sujudnya juga pendek-pendek. Hanya saja, ruku’ dan sujudnya dilakukan secara sempurna. (Shahih Bukhari, no. 1105)

Shalat Dhuhanya Asma’ binti Abi Bakar

Imam Nawawi menuturkan kisah Asma’ binti Abi Bakar ra, bahwasanya pada suatu hari Ubadah bin Hamzah memasuki rumahnya. Ia mendapati Asma’ sedang membaca QS At-Thur: 27-28. Selesai membaca ayat ini Asma’ ra berhenti untuk melakukan perenungan dan penghayatan terhadap kandungannya, lalu berdo’a. Membacanya lagi, merenung lagi, berdo’a lagi, membaca lagi, merenung lagi, berdo’a lagi, begitu seterusnya. Ternyata hal ini berlangsung sangat lama, sehingga Ubadah keluar dari rumah dan pergi ke pasar untuk menyelesaikan urusannya di pasar. Lalu ia balik lagi ke rumah Asma’.Ternyata ia masih dalam keadaan seperti saat ditinggalkan. (lihat At-Tibyan fi Adab Hamalatil Qur’anpembahasan tentang mengulang-ulang bacaan ayat dalam rangka melakukan tadabbur). Besar kemungkinan, hal ini dilakukan saat Asma’ ra melakukan shalat Dhuha, sebab Ubadah yang datang kepadanya, lalu pergi ke pasar dan balik lagi.

Riwayat lain mengatakan bahwa kisah ini terkait dengan Ummul Mukminin Aisyah binti Abi Bakar ra, dan bahwasanya do’a yang dibacanya berbunyi: Allahumma munna ‘alaina, waqina adzabas-samum, innaka anta al-Barru ar-Rahimu. Artinya, ya Allah, berikanlah suatu pemberian kenikmatan kepada kami, lindungi kami dari azab neraka, sesungguhnya Engkau adalah Dzat Yang Maha Pemberi Kebajikan dan Dzat Yang Maha Penyayang. (lihat Tafsir Ibn Abi Hatim, saat menafsirkan ayat 27-28 surat Ath-Thur)

Semoga Allah swt memberikan taufiq, hidayah dan kekuatan kepada kita agar bisa konsisten melakukan shalat Dhuha. Amiin.

Panduan Sholat dan Bacaan Sholat :