Menangkal Dan Mengobati Pengaruh Sihir Dalam Islam

Para ulama menjelaskan bahwa  sihir itu termasuk jenis penyakit yang bisa menimpa manusia dengan izin Allah Azza wa Jalla . Tidaklah Allah menurunkan satu penyakit melainkan Dia juga menurunkan obat penawarnya. Dan seorang muslim dilarang berobat dengan sesuatu yang diharamkan Allah.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda :

مَا أنْزَلَ اللهُ دَاءً إلا أنْزَلَ لَهُ شِفَاءً


“Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, melainkan Allah akan menurunkan pula obat penawarnya”.

Seorang muslim dilarang pergi ke dukun untuk mengobati sihir dengan sihir yang sejenis. Karena hukum mendatangi dukun dan mempercayai mereka adalah kufur. Apatah lagi sampai meminta mereka untuk melakukan sihir demi mengusir sihir yang menimpanya, ataupun untuk menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan jodoh anak dan sanak saudaranya, atau hubungan suami istri dan keluarga, tentang barang yang hilang, percintaan, perselisihan dan sebagainya. Hal itu merupakan perkara ghaib dan hanya Allah Azza wa Jalla saja yang mengetahui. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ أتَى كَاهِنًا أوْ سَاحِرًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَدٍ


“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang sihir, kemudian ia membenarkan (mempercayai) perkataan mereka, maka sungguh ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad”.

Para dukun, paranormal, tukang sihir dan peramal itu hanya mengaku-ngaku mengetahui ilmu ghaib berdasarkan kabar yang dibawa setan yang mencuri dengar dari langit. Para dukun itu, tidak akan sampai pada maksud yang diinginkan kecuali dengan cara berkhidmah, tunduk dan taat serta menyembah tentara iblis tersebut. Ini merupakan perbuatan kufur dan syirik terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

هَلْ أُنَبِّئُكُمْ عَلَى مَن تَنَزَّلُ الشَّيَاطِينُ {212} تَنَزَّلُ عَلَى كُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ { 222} يُلْقُونَ السَّمْعَ وَأَكْثَرُهُمْ كَاذِبُونَ

“Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa setan-setan itu turun? Mereka turun kepada setiap pendusta lagi banyak dosa, mereka menghadapkan pendengaran (kepada setan) itu, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta”. [Asy Syu’ara`: 221-223].

Oleh karena itu, seorang muslim tidak boleh tunduk dan percaya kepada dugaan dan asumsi bahwa cara yang dilakukan para dukun itu sebagai pengobatan, misalnya tulisan-tulisan azimat, rajah-rajah, menuangkan cairan yang telah dibaca mantra-mantra syirik dan sebagainya. Semua itu adalah praktek perdukunan dan penipuan terhadap manusia. Barangsiapa yang rela menerima praktek-praktek tersebut tanpa menunjukkan sikap penolakannya, sungguh ia telah ikut tolong-menolong dalam perbuatan bathil dan kufur.

Lalu apa yang harus kita lakukan sebagai seorang muslim untuk menangkal dan mengobati sihir dalam kehidupan sehari-hari ? Berikut Cara-cara yang diajarkan Nabi kita Muhammad SAW :

Cara menangkal atau mencegah pengaruh sihir

1. Dalam setiap keadaan senantiasa mentauhidkan Allah Azza wa Jalla dan bertawakkal kepadaNya, serta menjauhi perbuatan syirik dengan segala bentuknya. Allah Azza wa Jalla berfirman :

إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ {99} إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُمْ بِهِ مُشْرِكُونَ

“Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasaan atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Rabbnya. Sesungguhnya kekuasaan setan hanyalah atas orang-orang yang menjadikannya sebagai pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah”. [An Nahl : 99-100].

Ketika Menafsirkan ayat di atas, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di berkata : “Sesungguhnya setan tidak memiliki kekuasaan untuk mempengaruhi (mengalahkan) orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Rabbnya semata, yang tidak ada sekutu bagiNya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membela orang-orang mu’min yang bertawakkal kepadaNya dari setiap kejelekan setan, sehingga tidak ada celah sedikitpun bagi setan untuk mencelakakan mereka”. Dan ayat-ayat semisal ini banyak terdapat di dalam Al Qur`an.

2. Melaksanakan setiap kewajiban-kewajiban yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan, dan menjauhi setiap yang dilarang, serta bertaubat dari setiap perbuatan dosa dan kejelekan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhu :

يَا غُلاَمُ ! إنِي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ ، احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ…

“Wahai anak, sesungguhnya aku akan mengajarkanmu beberapa kalimat. Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu…”

Syaikh Nazhim Muhammad Sulthan menyatakan, makna sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam (احْفَظِ اللهَ ) adalah jagalah perintah-perintahNya, larangan-laranganNya, hukum-hukumNya serta hak-hakNya. Caranya, dengan memenuhi apa-apa yang Allah dan RasulNya perintahkan berupa kewajiban-kewajiban, serta menjauhi segala perkara yang dilarang. Sedangkan makna (يَحْفَظْكَ ) ialah, barangsiapa yang menjaga perintah-perintahNya, mengerjakan setiap kewajiban dan menjauhi setiap laranganNya, niscaya Allah k akan menjaganya. Karena balasan suatu amalan, sejenis dengan amal itu sendiri. Penjagaan Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap hamba meliputi penjagaan terhadap dirinya, anak, keluarga dan hartanya. Juga penjagaan terhadap agama dan imannya dari setiap perkara syubhat yang menyesatkan”.

3. Tidak membiarkan anak-anak berkeliaran saat akan terbenamnya matahari. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: “Jika malam telah masuk -jika kalian berada di sore hari-, maka tahanlah anak-anak kalian. Sesungguhnya setan berkeliaran pada waktu itu. tatkala malam telah datang sejenak, maka lepaskanlah mereka”. [HR Bukhari Muslim].

4. Membersihkan rumah dari salib, patung-patung dan gambar-gambar yang bernyawa serta anjing. Diriwayatkan dalam sebuah hadits, bahwa Malaikat (rahmat) tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat hal-hal di atas. Demikian juga dibersihkan dari piranti-piranti yang melalaikan, seruling dan musik.

5. Memperbanyak membaca Al Qur`an dan manjadikannya sebagai dzikir harian. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنْ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ

“Janganlah menjadikan rumah-rumah kalian layaknya kuburan. Sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibaca di dalamnya surat Al Baqarah”.

6. Membentengi diri dengan doa-doa dan ta’awudz serta dzikir-dzikir yang disyariatkan, seperti dzikir pagi dan sore, dzikir-dzikir setelah shalat fardhu, dzikir sebelum dan sesudah bangun tidur, do’a ketika masuk dan keluar rumah, do’a ketika naik kendaraan, do’a ketika masuk dan keluar masjid, do’a ketika masuk dan keluar kamar mandi, do’a ketika melihat orang yang mandapat musibah, serta dzikir-dzikir lainnya.

Ibnul Qayyim berkata,”Sesungguhnya sihir para penyihir itu akan bekerja secara sempurna bila mengenai hati yang lemah, jiwa-jiwa yang penuh dengan syahwat yang senanantiasa bergantung kepada hal-hal rendahan. Oleh sebab itu, umumnya sihir banyak mengenai para wanita, anak-anak, orang-orang bodoh, orang-orang pedalaman, dan orang-orang yang lemah dalam berpegang teguh kepada agama, sikap tawakkal dan tauhid, serta orang-orang yang tidak memiliki bagian sama sekali dari dzikir-dzikir Ilahi, doa-doa, dan ta’awwudzaat nabawiyah.”

7. Memakan tujuh butir kurma ‘ajwah setiap pagi hari. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مَنْ تَصَبَّحَ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعَ تَمَرَاتٍ عَجْوَةً لَمْ يَضُرَّهُ فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ سُمٌّ وَلَا سِحْرٌ

“Barangsiapa yang makan tujuh butir kurma ‘ajwah pada setiap pagi, maka racun dan sihir tidak akan mampu membahayakannya pada hari itu”. 

Dan yang lebih utama, jika kurma yang kita makan itu berasal dari kota Madinah (yakni di antara dua kampung di kota Madinah), sebagaimana disebutkan dalam riwayat Muslim. Syaikh Abdul ’Aziz bin Baz berpendapat, seluruh jenis kurma Madinah memiliki sifat yang disebutkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini. Namun beliau juga berpendapat, bahwa perlindungan ini juga diharapkan bagi orang yang memakan tujuh butir kurma, selain kurma Madinah secara mutlak.

Terapi pengobatan setelah terkena pengaruh sihir
1. Metode pertama : Mengeluarkan dan menggagalkan sihir tersebut jika diketahui tempatnya dengan cara yang dibolehkan syariat. Ini merupakan metode paling ampuh untuk mengobati orang yang terkena sihir.
2. Metode kedua : Dengan membaca ruqyah-ruqyah yang disyariatkan. Para ulama telah bersepakat bolehnya menggunakan ruqyah sebagai pengobatan apabila memenuhi tiga syarat.
  • Pertama : Hendaknya ruqyah tersebut dengan menggunakan Kalamullah (ayat-ayat Al Qur`an), atau dengan Asmaul Husna atau dengan sifat-sifat Allah Azza wa Jalla, atau dengan doa-doa yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  • Kedua : Ruqyah tersebut dengan menggunakan bahasa Arab, atau dengan bahasa selain Arab yang difahami maknanya.
  • Ketiga : Hendaknya orang yang meruqyah dan yang diruqyah meyakini, bahwa ruqyah tersebut tidak mampu menyembuhkan dengan sendirinya, tetapi dengan kekuasaan Allah Azza wa Jalla. Karena ruqyah hanyalah salah satu sebab di antara sebab-sebab diperolehnya kesembuhan. Dan Allah-lah yang menyembuhkan.
Selain itu, ada hal sangat penting yang juga harus diperhatikan, bahwa ruqyah akan bekerja secara efektif bila orang yang sakit (terkena sihir) dan orang yang mengobati sama-sama memiliki keyakinan yang kuat kepada Allah, bertawakkal kepadaNya semata, bertakwa dan mentauhidkanNya, serta meyakini dengan sebenar-benarnya bahwa Al Qur`an adalah penyembuh bagi penyakit dan rahmat bagi orang-orang beriman. Jika hal ini tidak terpenuhi, maka ruqyah tersebut tidak akan berefek kepada penyakitnya, karena ruqyah itu sendiri merupakan obat mujarab yang diajarkan oleh syari’at. Namun ibarat senjata, setajam apapun ia, jika berada di tangan orang yang tidak lihai menggunakannya, maka senjata itu tidak banyak manfaatnya.
Dikatakan oleh Ibnu At Tiin: “Ruqyah dengan membaca mu’awwidzat atau dengan nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan pengobatan rohani, (akan bekerja efektif) bila di baca oleh hambaNya yang shalih; kesembuhan pun akan diperoleh dengan izin Allah Azza wa Jalla “.Diantara bentuk pengobatan yang termasuk metode kedua ini ialah sebagai berikut:- Membaca surat Al Fatihah, ayat kursi, dua ayat terakhir surat Al Baqarah, surat Al Ikhlash, An Naas dan Al Falaq sebanyak tiga kali atau lebih dengan mengangkat tangan, tiupkan ke kedua tangan tersebut seusai membaca ayat-ayat tadi, kemudian usapkan ke bagian tubuh yang sakit dengan tangan kanan.

- Membaca ta’awwudz (doa perlindungan diri) dan ruqyah-ruqyah untuk mengobati sihir, di antaranya sebagai berikut:

a. Membaca doa :

 أسْألُ اللهَ العَظِيْمَ رَبَّ العَرْشِ العَظِيْمِ أنْ يَشْفِيَكَ

“Aku mohon kepada Allah Yang Maha Agung Pemilik ‘Arsy yang agung agar menyembuhkanmu (dibaca sebanyak tujuh kali)”.

b. Orang yang terkena sihir meletakkan tangannya pada bagian tubuh yang terasa sakit, kemudian membaca: (بِسْمِ الله) sebanyak tiga kali lalu membaca :

أعُوذُ بِالله وَ قُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أجِدُ وَ أحَاذِرُ

“Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaan-Nya dari setiap kejelekan yang aku jumpai dan aku takuti”.

c. Mengusap bagian tubuh yang sakit sambil membaca doa :

اللهَُّمَ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَأْسَ وَاشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا


“Ya Allah, Rabb Pemelihara manusia, hilangkanlah penyakitku dan sembuhkanlah, Engkau-lah Yang Menyembuhkan, tiada kesembuhan melainkan kesembuhan dariMu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit”

d. Membaca doa:

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ غَضَبِهِ وَ عِقَابِهِ وَشَرِّ عِبَادِهِ وَمِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ وَأَنْ يَحْضُرُونِ


“Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari kemarahanNya, dari kejahatan hamba-hambaNya, dan dari bisikan-bisikan setan dan dari kedatangan mereka kepadaku.

3. Metode ketiga : Mengeluarkan sihir tersebut dengan melakukan pembekaman pada bagian tubuh yang terlihat bekas sihir, jika hal itu memang memungkinkan. Bila tidak memungkinkan, maka ruqyah-ruqyah di atas telah mencukupi untuk mengobati sihir.Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan rahasia pembekaman di bagian yang terkena sihir ini. Bahwa sihir itu tersusun dari pengaruh ruh-ruh jahat dan adanya respon kekuatan alami yang lahir dari ruh jahat tersebut. Inilah jenis sihir yang paling kuat, terutama pada bagian tubuh yang menjadi pusat persemayaman sihir tadi. Maka pembekaman pada bagian tersebut merupakan metode pengobatan yang sangat efektif bila dilakukan sesuai dengan cara yang tepat.

4. Metode keempat : Dengan menggunakan obat-obatan alami sebagaimana disebutkan Al Qur’an dan As Sunnah, dengan disertai keyakinan penuh terhadap kebenaran firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menerangkannya. Di antaranya dengan menggunakan madu, habbahtus sauda` (jinten hitam), air zam-zam, minyak zaitun dan obat-obatan lainnya yang dibenarkan syara’ sebagai obat. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

الشِّفَاءُ فِي ثَلَاثَةٍ شَرْبَةِ عَسَلٍ وَشَرْطَةِ مِحْجَمٍ وَكَيَّةِ نَارٍ وَأَنْهَى أُمَّتِي عَنْ الْكَيِّ


“Pengobatan itu ada dalam tiga hal. (Yaitu): berbekam, minum madu dan pengobatan dengan kay (besi panas). Sedangkan aku melarang umatku menggunakan pengobatan dengan kay”.

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ia mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ هَذِهِ الْحَبَّةَ السَّوْدَاءَ شِفَاءٌ مِنْ كُلِّ دَاءٍ إِلَّا مِنْ السَّامِ قُلْتُ وَمَا السَّامُ قَالَ الْمَوْتُ

“Sesungguhnya habbah sauda’ ini merupakan obat bagi segala jenis penyakit, kecuali as saam”. Aku (‘Aisyah) bertanya,”Apakah as saam itu?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Kematian.”

Dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhu, ia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ماَءُ زَمْزَمَ لِمَا شُرِبَ لَهُ


“Air zam-zam itu tergantung niat orang yang meminumnya”. 

Dari Umar bin Al Khaththab Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

كُلُوا الزَّيْتَ وَادَّهِنُوا بِهِ فَإِنَّهُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ


“Makanlah minyak zaitun dan minyakilah rambut kalian dengannya, karena sesungguhnya ia berasal dari pohon yang diberkahi”. 

Demikianlah sekilas pembahasan tentang sihir berikut cara mencegah dan mengobatinya. Selayaknya bagi setiap pribadi muslim, terutama para pemimpin keluarga, untuk mengetahui hal ini dan mengajarkan kepada keluarganya. Agar anggota keluarga mampu membentengi diri dari kejahatan sihir. Selayaknya pula bagi pemimpin keluarga, untuk mengkondisikan keluarganya agar senantiasa taat kepada Allah Sang Pemelihara manusia. Membersihkan rumahnya serta menyingkirkan sejauh-jauhnya dari segala sarana yang mengundang kemaksiatan, seperti musik, majalah-majalah porno, gambar makhluk hidup dan sebagainya. Agar keluarganya mendapat curahan rahmat dan perlindungan dari Allah, terjauhkan dari gangguan iblis dan bala tentaranya. Wallahu waliyyut taufiiq.

(Dirangkum dari : Almanhaj.or.id)

 

 

Dibawah ini adalah bacaan ayat-ayat Ruqyah yg bisa dengarkan dengan seksama dan JANGAN mendengarkan sambil menyetir (No Driving). Lakukan setiap hari sekali. Lebih afdol jika terlebih dahulu berwudhu (dalam keadaan suci).

 

IDN 2015 : Digitalisasi Indonesia

IDN 2015 : Digitalisasi Indonesia, Sebuah Keniscayaan Menuju Indonesia Berdaya Saing Global

 Tidak lama lagi kita akan sampai di tahun 2015, dan apa yang bakal terjadi di tahun itu? Di tahun 2015, di Indonesia saat itu pengganti Presiden Susilo Bambang Yudhoyono baru setahun bekerja tetapi Presiden Indonesia tersebut sudah akan menghadapi tantangan yang besar. Beliau harus memimpin Masyarakat Indonesia yang tergabung dalam persaingan di kawasan Asia Pacific bahkan dunia dan ada hal penting yang akan terjadi ini, di 2015 Indonesia akan ikut serta dalam Komunitas ASEAN 2015 dan AFTA (Asean Free Trade), sebuah kompetisi yang akan masuk kedalam segala aspek kehidupan kita.

Indonesia harus bersiap dan menjadikan ini sebuah peluang yang baik, Indonesia harus menjadi lebih kompetitif di kawasan Asia, terutama di Asia Tenggara (Komunitas ASEAN 2015) dan di Asia Pacifik dengan keikutsertaannya dalam APEC, Indonesia seharusnya mampu mengangkat dan menjual potensi-potensinya. Apa yang harus di persiapkan serta dilakukan oleh masyarakat Indonesia guna menyongsong persaiangan di kawasan Asia bahkan dunia? Persaingan ini akan melibatkan masyarakat sebagai faktor utamanya, people-centered dimana aktifitas akan lebih dominan di lakukan oleh masyarakat menggantikan state-centric yang selama ini aktifitas-aktifitas dilakukan oleh perwakilan negara. Dan salah satu faktor penting dalam menghadapi persaiangan global di masa depan, masyarakat Indonesia harus menguasai dan unggul dalam pemanfaatan teknologi informasi. Telkom sendiri telah mempersiapkan dan berkontribusi sejak lama dengan program-program mendigitalkan Indonesia.

Seperti kita ketahui bahwa buruknya infrastruktur di Indonesia mengakibatkan daya saing bangsa secara global masih rendah. Berdasarkan The Global Competitiveness Report 2012-2013 oleh World Economic Forum, daya saing Indonesia berada di peringkat 50 dari 144 negara yang dinilai. Posisi ini menurun dua tingkat dibanding 2011-2012 dan enam tingkat dibanding 2010-2011. Infrastruktur berada di posisi ketiga sebagai masalah utama yang mengganggu kemudahan berbisnis (doing business). Birokrasi yang tak efisien dan korupsi masih menjadi dua penghambat utama.

Hasilnya terlihat dalam survei WEF kategori infrastruktur yang mengalami peningkatan dari peringkat 91 (2012) ke 82 (2013).Secara spesifik, infrastruktur jalan meningkat dari peringkat 90 (2012) ke 78 (2013), perkeretaapian (51 ke 44), pelabuhan laut (104 ke 89), bandar udara (89 ke 68) dan elektrivikasi (98 ke 89). Infrastruktur Indonesia yang bercokol di peringkat 82 masih kalah dibanding Cina (74), Thailand (61) dan Malaysia (25). Indonesia pun tertinggal jauh dari negeri jiran lainnya yakni Singapura yang berada di peringkat kelima.

Daya saing global merupakan wacana yang vital bagi sebuah bangsa, karena daya saing bangsa akan menentukan citra bangsa di mata dunia. Ketika daya saing sebuah bangsa lemah di mata dunia, maka dunia akan memandang adanya ketidakmampuan bangsa tersebut dalam mengelola sumberdaya dan potensi yang dimiliki oleh bangsa tersebut. Sebaliknya, ketika daya saing bangsa kuat di mata dunia, maka hal itu merefleksikan kemampuan kemampuan sebuah bangsa dalam menyejahterakan penduduknya melalui pengelolaan segenap potensi dan sumberdaya yang dimiliki.

Arslan dan Tathdil (2012) mengutip pendapat Haque (1995) bahwa daya saing bangsa merupakan “the ability of a country to produce goods and services that meet the test of the international markets and simultaneously to maintain and expand the real income and also rise the welfare level of its citizens“. (daya saing merupakan kemampuan sebuah negara untuk menghasilkan barang dan jasa yang bisa memenuhi kebutuhan pasar internasional dan secara simultan akan mempertahankan dan menambah pendapatan bangsa dan sekaligus meningkatkan kesejahteraan penduduknya).

Besarnya sumberdaya manusia yang dimiliki oleh bangsa Indonesia saat ini masih belum sepenuhnya mendukung bangsa Indonesia untuk memiliki daya saing global. Hal ini ditunjukkan dari fakta peringkat Global Competitiveness Indox (GCI) yang diraih oleh Indonesia pada tahun 2012-2013 yang berada di peringkat 50 dengan skor 4,40 (skor 1-7). Jika dibandingkan dengan posisi GCI Indonesia pada tahun 2011-2012 yang mampu mencapai peringkat 46, posisi ini mengalami penurunan sampai empat peringkat. Penurunan GCI ini salah satunya adalah disebabkan oleh masih lemahnya kesiapan negara Indonesia dalam penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), yang meraih skor 3,56 (skor 1-7) dan berada pada peringkat 85 dari 144 negara yang dijadikan sampel.

Gambar 01

Pemerintah Republik Indonesia telah mencanangkan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-20125, dengan tujuan mewujudkan masyarakat yang mandiri, maju, adil dan makmur dengan mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi, berimbang dan berkelanjutan. Sejalan dengan ini, upaya pengembangan jaringan broadband dengan sasaran perwujudan jaringan broadband nasional yang mampu mencakup 30% dari rumah tangga (household) di Indonesia pada 2015 untuk melayani 20 juta pelanggan, jelas merupakan salah satu pilar untuk memberhasilkan MP3EI 2011-2015.

Ring Palapa
Sehubungan keseriusannya untuk mewujudkan digitalisasi Indonesia sebagai salah satu pilar dari memberhasilkan MP3EI 2011-2015 itu pula, Telkom menggelar Indonesia program Indonesia Digital Network (IDN) 2015 merupakan visi pengembangan infrastruktur “true broadband” Telkom secara end to end (user terminal, akses, transport dan service) yang akan dicapai melalui pembangunan tiga infrastruktur utama, yakni Indonesia Digitas Access (ID Access), Indonesia Digital Ring (ID Ring) dan Indonesia Digital Convergence (ID Convergence).
Melalui ID Access yang merupakan pengembangan infrastruktur jaringan akses menjadi high speed broadband access via serat optik dan Wifi, Telkom melakukan penyediaan 15 juta akses broadband ke rumah-rumah serta satu juta akses WiFi.
Sedangkan ID Ring merupakan pengembangan infrastruktur jaringan transport menuju IP based and optical backbone network dan hal ini bisa dilihat pada peran Telkom dalam proyek Palapa Ring dari pemerintah yang menghubungkan seluruh jaringan backbone berbasis serat optik. ID Convergence, meliputi Indonesia Digital Society (IndiSo) dan Indonesia Digital Ecosystem (IndiCo). Lewat IndiSo, Telkom berinisiatif menyediakan layanan dan akses komunikasi bagi komunitas. Sementara dalam IndiCo, melalui ekosistem business-to-business diimplementasikan solusi-solusi dengan penggelaran infrastruktur, manage application services, manage IT services dan value added services yang saling terintegrasi.
Bisa dipahami, pembangunan ketiga infrastruktur utama pencapaian IDN 2015 yang terdiri dari ID Access, ID Ring dan ID Convergence itu oleh Telkom didasari pemikiran seluruh masyarakat Indonesia memiliki hak yang sama untuk mengakses informasi dan diyakni kemudahan masyarakat dalam mengakses informasi akan mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Dengan demikian jelaslah, digitalisasi Indonesia merupakan sebuah keniscayaan untuk meningkatkan daya saing global sebagai kekuatan vital yang harus dipunyai, jika tak ingin terpuruk dalam persaingan di era globaliasi.
Sejalan dengan landasan pikir Telkom dalam membangun ID Access, ID Ring dan ID Convergence sebagai tiga infrastruktur utama pencapaian IDN 2015, kemampuan memiliki daya saing global tentunya tak cukup jika hanya dipunyai pemerintah. Segenap masyarakat Indonesia juga harus — setidaknya mulai berupaya — memiliki daya saing global.

Perlu dicamkan, daya saing global vital bagi sebuah bangsa karena akan sangat menentukan bagaimana respons dunia terhadap bangsa bersangkutan. Demikian juga halnya bagi masyarakat bangsa Indonesia, anggapan positif atau negatif dunia terhadap kita tergantung berhasil atau tidak kita sebagai sebuah bangsa mengelola sumber daya dan potensi yang kita miliki. Kepemilikan terhadap daya saing global menjadi penentu dan untuk ini Telkom telah berkomitmen mewujudkan digitalisasi Indonesia.

IDN
Di era teknologi yang berkembang sangat pesat ini, Indonesia harus mampu menghadapi setiap titik perubahan teknologi agar tidak lagi ketinggalan dari negara-negara lain di dunia. Wie (2005) menjelaskan bahwa dalam rangka meningkatkan daya saing, maka kebijakan makroekonomi yang ditetapkan pemerintah harus didukung dengan adanya upaya perbaikan penggunaan TIK yang diiringi dengan: (1) peningkatan kemampuan sumberdaya manusia agar lebih siap dalam menerima perkembangan teknologi yang pesat; (2) meningkatkan akses terhadap perkembangan teknologi di luar negeri; dan (3) menyediakan layanan yang mendukung pengembangan teknologi.

Ketiga hal tersebut menjadi krusial, karena meskipun selama tiga dekade terakhir pertumbuhan industri di Indonesia telah diiringi dengan peningkatan penggunaan teknologi, namun penggunaan TIK di Indonesia masih tertinggal jika dibandingkan dengan negara-negara di Asia Tenggara, seperti Malaysia, Thailand, dan Philipina. Apalagi jika dibandingkan dengan Macan Asia seperti Korea, China, danTaipei (Wie, 2005).

Bahkan, Simatupang dkk (2012) menyebutkan bahwa jika dibandingkan dengan anggota negara ASEAN seperti Thailand, Indonesia tidak mampu menyerap investasi asing akibat inovasi dan kreativitas yang masih lemah, yang merupakan dampak dari masih kurang siapnya masyarakat Indonesia dalam menggunakan teknologi.

Di sisi lain, Simatupang dkk (2012) menjelaskan bahwa kemampuan sebuah bangsa untuk mampu bersaing di pasar global adalah kesiapannya dalam menggunakan teknologi digital dan membangun global networking (jaringan global), karena penggunaan teknologi digital dan pengembangan jaringan global tersebut akan mengantar bangsa untuk melakukan inovasi dan kreasi dengan lebih cepat.

Oleh karena itu, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom), sebagai penyedia layanan di sektor teknologi informasi dan komunikasi terkemuka di Indonesa mengeluarkan layanan Indonesia Digital Network (IDN) sebagai upaya untuk mendukung program MP3EI (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia) 2011-2025, sebuah program yang dicanangkan oleh Negara Indonesia untuk meningkatkan produktivitas Nasional.

PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) sebagai perusahaan berbasis TIMES (Telecommunication, Information, Media, Edutainment dan Services) terbesar di Indonesia tampak serius terhadap komitmennya untuk mewujudkan masyarakat digital Indonesia dan harus diakui komitmen itu tak cuma wacana yang digadang-gadangkan.

Upaya Telkom mengembangkan jaringan broadband dengan menghadirkan akses informasi dan komunikasi tanpa batas bagi seluruh lapisan masyarakat di Indonesia (digital inclusion), jelas merupakan bagian dari komitmen Telkom untuk mewujudkan masyarakat digital Indonesia, yang tidak bisa tidak harus ada dalam bagian digitalisasi Indonesia.
Program dengan nama Indonesia Digital Network (IDN) akan menjadi indikator kemajuan bangsa dari kondisi penetrasi internet. Indonesia memang jauh tertinggal dan memiliki kesenjangan digital yang sangat tinggi. Sebagai contoh di sebuah negara berkembang akan naik 1,38 persen jika tingkat penetrasi broadbandnya naik hingga 10 persen.

Program Indonesia Digital Network (IDN) oleh Telkom ini telah diwujudkan dalam program-program antara lain :

  1. Mobil Pusat Layanan Internet Kecamatan (MPLIK) di wilayah-wilayah terpencil, khususnya di kawasan timur Indonesia. Program MPLIK merupakan bentuk kepedulian Telkom dalam mendukung upaya pemerintah mewujudkan Indonesia Connected, yakni dengan memberikan akses internet yang mudah, murah dan aman bagi masyarakat di wilayah-wilayah terpencil Indonesia. Dalam penyelenggaraan MPLIK, Telkom menggelar sebanyak 6 paket pekerjaan, antara lain:
  • Paket 4 (Jambi, Riau, Kepulauan Riau)
  • Paket 12 (Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Gorontalo)
  • Paket 13 (Sulawesi Barat dan Sulawesi Tenggara)
  • Paket 14 (Sulawesi Selatan), Paket 17 (Kalimantan Tengah)
  • Paket 20 (Papua dan Irian Jaya Barat) (Telkom Indonesia, 2013c).

SMCPS

  1. Pengembangan Maluku Cable System (MCS) yang merupakan bagian dari program pembangunan Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) Sulawesi Maluku Papua Cable System (SMPCS). SMPCS merupakan kelanjutan dari pembangunan Mega Proyek Palapa Ring dan menjadi salah satu program Telkom dalam mewujudkan Indonesia Digital Network (IDN).  Diharapkan pada akhir Agustus 2014 MCS dengan kecepatan data hingga 100 gigabit per detik, sistem ini juga memberikan kapasitas tertinggi hingga sebesar 16 terabit per detik. Sebelumnya pada tahun 2011, Telkom berhasil menggelar Mataram Kupang Cable System.  Komunikasi Kabel Laut SMPCS mencakup penggelaran Kabel Laut sepanjang 5.444 km dan Kabel Darat sepanjang 655 km.

Secara Network Design, SMPCS terdiri dari 3 jalur utama dan 13 cabang. 3 Jalur utama tersebut meliputi:

  • Manado – Ambon – Fakfak – Timika
  • Manado – Sorong – Biak – Jayapura
  • Ambon – Kendari

Sementara itu, 13 cabang tersebut meliputi: Jailolo, Ternate, Labuha, Sorong, Mangole, Sanana, Namlea, Masohi, Banda Neira, Bula, Manokwari, Sarmi, dan Kaimana.

  1. Pembangunan kabel serat optik di Tanah Papua yang ditandai dengan peletakkan batu pertama (ground breaking) proyek pembangunan serat optik yang dikenal dengan nama Papua Cable System (PCS). Jaringan infrastruktur serat optic ini akan dibangun sepanjang 2.000 Km meliputi kabel darat dan laut.

Proyek PCS terdiri dari dua bagian, yaitu pembangunan serat optik di kawasan Papua Bagian Utara dengan rute Sorong-Manokwari- Biak dan Jayapura, sementara kawasan Papua Bagian Selatan meliputi rute Fak-Fak-Kaimana hingga Timika, dengan nilai investasi sebesar USD 71.1 juta. Pembangunan serat optik PCS ditargetkan selesai dan segera beroperasi pada November-Desember 2014 mendatang.

  1. Selain pengembangan jaringan serat optik, Melalui IDN, Telkom siap membangun 15 juta homepass dan 1 juta wifi pada tahun 2015 untuk mewujudkan salah satu pilar utama MP3EI yaitu konektivitas akses internet tanpa kabel (WiFi) di seluruh Indonesia untuk merealisasikan program digitalisasi.

 

FTTH (Fiber To The Home)

FTTH (Fiber To The Home)

  1. Ekspansi bisnis di tingkat regional dan dunia melalui transformasi dan perubahan dengan visi misinya kedepan, The World In Your Hand. Telkom kini ingin menjadi pemain utama di industri Telecommunication, Information, Media, Edutaiment & Services (TIMES) baik di tingkat regional maupun global. Saat ini Telkom telah melakukan ekspansi dan beroperasi di 4 negara yaitu Timor Leste, Singapura, Hong Kong, dan Australia. Telkom berhasil memenangkan tender pengelolaan IP-Transit di Myanmar, dan melalui Telkom Indonesia International, Pte. Ltd (Telin) siap memperluas ekspansinya ke 10 negara diantaranya Myanmar, Malayasia, Taiwan, Macau, Arab Saudi, dan Amerika Serikat. Telkom telah mempersiapkan ekspansi bisnis go international tersebut dengan baik, kebutuhan sumber daya manusia yang berkualitas internasional siap dilahirkan melalui Telkom Corporate University (CorpU) yang telah diresmikan oleh Mendiknas pada akhir Agustus 2013 lalu. Guna memennuhi global standar, Telkom juga meluncurkan Global Talent Program yang akan memberikan international exposure & international experience agar para SDM mampu memahami kondisi dan perilaku bisnis internasional. Telkom Corporate University (CorpU) akan menghasilkan para lulusan yang memiliki kompetensi beragam, mulai dari bidang information technology sampai international marketing yang akan menduduki posisi-posisi penting pada pengembangan bisnis di masa depan.

Sebagai penutup bahwa melalui Program Indonesia Digital Netwok (IDN) 2015 dapat disimpulkan sebagai berikut :

  1.  Tersedia elemen-elemen pembentuk daya saing di pasar global, di antaranya data dan informasi yang tepat, layanan yang memuaskan, dan peningkatan efisiensi
  2. Kualitas dan diseminasi informasi di segala sektor dan jangkauan jaringan informasi bisa diakses di seluruh wilayah Republik Indonesia.
  3. Penyampaian layanan yang memuaskan (Service Excellence) dan terjadinya peningkatan efisiensi, efektivitas, produktivitas, dan stabilitas. Teknologi digital yang kompleks tetapi sederhana dan fleksibel.
  4. Telkom memberikan solusi dalam mendukung digital lifestyle untuk masyarakat Indonesia secara luas dengan varian paket konten yang tak terbatas agar masyarakat Indonesia diharapkan sudah masuk dalam kategori masyarakat Indonesia yang lebih maju dan modern.
  5. Telkom ingin menjadi the Best TIMES Player in the Region. Strategi Quick Wins H1/2013 telah dijalankan yaitu dengan masuknya Telin ke Malaysia, Taiwan, dan Makau.

Referensi :

  1. Rakornas Bidang Kominfo Tahun 2013 “Menuju Era Broadband Ekonomi” Kemenkominfo via http://ppidkemkominfo.files.wordpress.com/2013/10/rakornas-2013.pdf
  2. Arslan, Neslihan dan Hüseyin Tathdil. (2012). Defining and Measuring Competitiveness: A Comparative Analysis of Turkey With 11 Potential Rivals. International Journal of Basic & Applied Sciences IJBAS-IJENS Vol: 12 No: 02, pp. 31-43. © April 2012 IJENS.
  3. Atkinson, Robert D. (August 2013). Competitiveness, Innovation and Productivity: Clearing Up the Confusion. Paper. The Information Technology and Innovation Foundation (ITIF), Washington, D.C.
  4. Badan Pusat Statistik. (2012). Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia. Katalog BPS: 3101015. Jakarta: Badan Pusat Statistik.
  5. Schwab, Klaus dan Xavier Sala-i-Martín. (2012). The Global Competitiveness Report 2012–2013. Insight Report. Geneva: World Economic Forum.
  6. Simatupang, Togar M., Sony Rustiadi dan Dohar Bob M. Situmorang. (2012). ‘Enhancing the Competitiveness of the Creative Services Sectors in Indonesia’ in Tullao, T. S. and H. H. Lim (eds.), Developing ASEAN Economic Community (AEC) into A Global Services Hub, ERIA Research Project Report 2011-1, Jakarta: ERIA, pp.173-270.
  7. Telkom Indonesia. (2013a). Serat Optik Sepanjang 6000 KM Siap Membentang Menyatukan Kawasan Timur Indonesia. Siaran Pers Telkom Indonesia, 28 Mei 2013, via http://www.telkom.co.id/serat-optik-sepanjang-6000-km-siap-membentang-menyatukan-kawasan-timur-indonesia.html.
  8. Telkom Indonesia. (2013c). Membangun Masyarakat Digital Di Kawasan Terpencil Indonesia Dengan MPLIK. Siaran Pers Telkom Indonesia, 28 Mei 2013, dipetik melalui http://www.telkom.co.id/membangun-masyarakat-digital-di-kawasan-terpencil-indonesia-dengan-mplik-2.html.
  9. http://indonesiarayanews.com/read/2013/05/28/67006/news-ekbis-05-28-2013-20-23-2015-layanan-broadband-indonesia-timur-meningkat

 

Pendidikan Antikorupsi Dalam Keluarga

Bangsa ini mesti bersatu melawan korupsi. Untuk mem­berantas korupsi tidak saja dilakukan melalui penegakan hukum, akan tetapi perlu dilakukan upaya preventif berupa pendidikan tentang pemberantasan dan gawatnya korupsi itu sendiri. Semua itu mesti didukung oleh semua lapisan masyarakat.

Pendidikan antikorupsi juga mesti dilakukan di tingkat keluarga. Sebab keluarga me­rupakan lembaga pen­didikan pertama yang dialami dan diterima oleh setiap manusia. Untuk itu, pembentukan ke­pribadian paling efektif dila­kukan di tingkat keluarga.

Dalam perspektif Islam ditegaskan: jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka (Qs. At-Tahrim/66: 6). Pesan ini menunjukkan adanya tang­gung jawab setiap individu untuk mendidik keluarganya agar terhindari dari segala bentuk perilaku yang negatif, tidak bermanfaat atau perilaku yang dapat menimbulkan mudharat.

Orang yang paling ber­tanggung jawab dalam keluar­ga tentu kedua orang tua; ayah dan ibu. Dalam konteks pen­didikan antikorupsi ini, orang tua memiliki tanggung jawab penting dalam mendidik anak-anak dan keluarganya agar terhindar dari korupsi. Dalam hal ini, ada beberapa hal yang patut dilakukan.

Pertama, menyadari bahwa hasil korupsi akan meracuni rohaniah anak dan keluarga. Dalam mindset orang tua mesti terbentuk bahwa korupsi adalah pekerjaan haram. Jika korupsi yang dilakukan itu me­ng­hasilkan uang dan di­gunakan untuk memberi makan anak dan istri, sesungguhnya ia telah membentuk keluarga yang bermental buruk, rohaniahnya rusak, sulit menerima ke­benaran dan cenderung merasa senang dan nyaman melakukan hal-hal yang diharamkan. Te­gasnya mereka jauh dari hidayah Allah.

Mengenai dampak negatif makanan yang haram terhadap perkembangan psikologis anak, juga diceritakan oleh Hamka dalam tafsirnya, al-Azhar. Ia mengutip kisah Abu Muham­mad al-Juwaini, seorang per­muda yang taat beribadah kepada Allah dan sangat ber­hati-hati kepada suata perkara yang subhat. Suatu ketika ia menikahi seorang perempuan yang shalehah, taat beribadah kepada Allah SWT. Dari hasil pernikahan itu lahirlah seorang anak laki-laki yang diberi nama Abdulmalik.

Setelah anak itu lahir, al-Juwaini berpesan sangat kepada istrinya jangan sampai ada perempuan lain yang me­nyusukan anak itu. Namun, suatu ketika istrinya sakit sehingga air susunya kering, sementara Abdilmalik yang masih bayi  itu menangis kehausan. Lalu datanglah tetangganya, seorang perem­puan yang merasa kasi­han mendengar tangisan anak itu. Perempuan itu pun mengambil dan menyusukan anak tersebut. Tiba-tiba datanglah Abu Mu­hammad al-Juwaini. Melihat anaknya disusui oleh perem­puan lain, dia pun tidak senang sehingga perempuan tersebut tahu diri dan bergegas pergi.

Kemudian al-Juwaini me­ngam­bil anak itu lalu me­nong­gengkan kepalanya dan me­ngorek mulutnya, sehingga anak itu memuntahkan air susu perempuan tetangga tadi. Beliau pun berkata: “Bagiku tidak keberatan jika anak ini mening­gal di waktu kecilnya, dari pada rusak perangainya karena me­minum susu perempuan lain, yang tidak aku kenal ke­taatannya kepada Allah.”

Anak yang bernama Ab­dulmalik itu kemudian terkenal dengan nama Imamul Haramain Abdulmalik al-Juwaini, ia adalah seorang ulama mazhab Syafi’i yang masyhur, pengikut teologi al-Asy’ari, guru dari madrasah-madrasah Naisabur dan salah seorang yang men­didik Imam al-Ghazali, sampai menjadi ulama besar pula. Kadang-kadang sedang me­ngajarkan ilmunya pernah beliau marah-marah. Ketika itu, berkatalah dia setelah sadar dari kemarahannya, bahwa “(marah) ini barangkali adalah dari bekas sisa susu perempuan lain itu, yang tidak sempat aku mun­tahkan.”

Hanya air susu dari seorang perempuan yang tak dikenal ketaatannya kepada Allah dapat berakibat mentalitas seseorang sulit mengendalikan emo­sionalnya, padahal orang ter­sebut telah menjadi ulama besar. Lalu bagaimana dengan men­talitas seorang anak yang di­besar­kan dengan hasil ko­rupsi? Dan al-Juwaini adalah prototype orang tua yang sadar bahaya makanan subhat, apalagi haram, terhadap perkembangan men­talitas anaknya.

Kedua, jangan mengukur segala sesuatu dengan materi. Orang tua mesti mengajarkan kepada anaknya bahwa yang materi bukanlah tujuan (goal), tetapi sebagai sarana untuk mencapai tujuan. Namun, ter­kadang orang tua tidak sadar bahwa apa yang ia lakukan telah mengajarkan kepada anaknya bahwa materi meru­pa­kan tujuan dan indikator utama dalam mencapai kesuk­sesan. Misalnya, mem­berikan reward atau peng­hargaan kepada anak hanya dengan materi semata. Jika anak meraih prestasi, maka orang tuanya memberi imbalan berupa uang. Jika anak mau disuruh, juga diberi imbalan uang. Dan seterusnya. Akibatnya, psi­kologis anak akan terbentuk dengan “segala sesuatu diukur dengan uang”.

Boleh saja reward yang diberikan berupa materi. Namun mesti seimbang de­ngan mengoptimalkan spiri­tualitasnya. Imbalan tidak hanya berupa uang, tetapi bisa berupa pujian, ucapan yang menyenangkan, atau dengan cara berbagi dengan sesama; anak yatim, fakir miskin dan sebagainya.

Begitu pula dengan mem­berikan arti tentang sukses, janganlah diukur dengan materi semata. Ketika mem­bimbing anak untuk bercita-cita, jangan hanya karena besarnya jumlah uang yang dihasilkan dari apa yang dicita-citakan. Tetapi cita-cita tersebut dipilih karena diang­gap profesi itu banyak mem­beri manfaat bagi orang lain, berperan eksis di tengah masyarakat, hidup bernilai dan diridhai Allah SWT.

Ketiga, memberikan kete­ladan kepada keluarga. Orang tua mesti menjadi teladan bagi anak-anaknya untuk tegas mengatakan tidak pada korup­si. Orang tua senantiasa mem­berikan pemahaman kepada anaknya bahwa hidup yang bernilai bukanlah kemewahan, tetapi keteguhan hati dalam menjalankan nilai-nilai ke­benaran.

Selain itu, korupsi tidak saja dipahami dari segi materi seperti mengambil uang yang bukan haknya. Tetapi korupsi juga dapat terjadi pada waktu, atau korupsi waktu. Hidup disiplin, menghargai waktu dan mengisinya dengan kegiatan positif merupakan hal penting yang mesti diajarkan oleh orang tua kepada anak-anak­nya dengan penerapan, bukan teori semata.

Keempat, memberikan pemahaman kepada anak sejak dini bahwa korupsi adalah perbuatan tercela. Orang tua hendaknya menanamkan ke­ben­cian terhadap korupsi. Dalam suatu hadis dijelaskan bahwa ketika seorang sahabat bernama Kirkirah mati di medan perang, Rasulullah saw. bersabda: “dia masuk neraka”. Para sahabat pun bergegas pergi me­nye­lidiki perbekalan pe­rangnya. Mereka mendapatkan mantel yang ia korup dari harta rampasan perang. (H.R Bukhari dalam kitab Jihad wa al-sair). Demikian kerasnya kecaman Islam terhadap para koruptor.

Selain itu, untuk me­nanam­kan kebencian ter­hadap korup­si, orang tua perlu me­negaskan bahwa ke­banggaannya sebagai orang tua bukanlah karena anak-anaknya kelak menjadi orang kaya-raya, tetapi ke­banggaan yang sebenarnya adalah ketika menyaksikan anak-anaknya menjadi orang yang shaleh, teguh memegang prinsip kebenaran. Dengan begitu diharapkan mereka akan menjadi insan yang berprinsip, tidak mudah tergoda oleh pengaruh lingkungan yang rusak, termasuk korupsi yang seakan membudaya.

Terakhir orang tua juga hendaknya senantiasa berdoa kepada Allah agar anak dan keluarganya terhindar dari perbuatan-perbuatan maksiat, terutama perbuatan yang ter­kutuk, seperi korupsi ini. Doa Nabi Ibrahim as patut dicontoh oleh orang tua: “Rabbi habli minashshalihin, Ya Allah anugerahkanlah kepadaku anak yang shaleh”.

Dengan upaya dan doa seperti ini, insya Allah kita mampu melahirkan anak-anak yang anti terhadap korupsi. Mereka tetap istiqamah me­negakkan kebenaran dan me­me­rangi kebatilan. Insya Allah.

MUHAMMAD KOSIM

Sumber : harianhaluan.com

korupsi3

Al-Ghazali dan Pendidikan Anti-Korupsi

Manusia lahir asalnya bersih, kullu maulidin yuladu ‘alal fitrah

Manusia lahir asalnya bersih, kullu maulidin yuladu ‘alal fitrah

Tidak ada bayi baru lahir langsung jadi koruptor. Manusia lahir asalnya bersih, kullu mauludin yuladu ‘alal fitrah, kata Nabi. Kejahatan dan sifat tercela diperoleh dari lingkungan dan intelektualnya

 

Oleh: Dr. Syamsuddin Arif

HAMPIR setiap hari sejak beberapa bulan terakhir, kita dibombardir berita korupsi dari kelas kakap hingga kelas teri. Dari tingkat pusat sampai level kelurahan. Dari pegawai biasa hingga pejabat tinggi. Dari pengusaha hingga politisi. Tak terkecuali jaksa, hakim, dan polisi, bahkan menteri. Sepanjang tahun 2004 hingga 2012 saja, data dari Kemendagri mencatat, ada 2.976 anggota DPRD Tingkat I dan DPRD Tingkat II terlibat tindakan kriminal, dimana 33,2 persen atau 349 kasus adalah korupsi. Umumnya kasus manipulasi anggaran atau mark-up biaya pengadaan barang, fasilitas dan jasa. Juga pemungutan biaya ilegal atas layanan publik, pemberian suap alias gratifikasi dan penyalahgunaan wewenang atau jabatan untuk kepentingan dan keuntungan pribadi maupun relasi.

Di satu sisi, berita-berita tersebut justru menimbulkan frustasi ketimbang harapan. Kepercayaan masyarakat jadi makin surut pada institusi-institusi di negeri ini. Alih-alih prihatin atau malu, publik maupun pelaku kini sama-sama menjadikan korupsi sebagai bahan guyonan, karena kritik dan sindiran setajam apapun tak lagi mempan. Seperti seloroh Mbah Kartolo di TIM Jakarta: “Paling enak numpak motor, paling aman numpak sepur. Paling aman dadi koruptor, nek konangan ya ndek Singapur”. Maksudnya: paling nyaman naik motor, paling aman naik kereta. Paling aman jadi koruptor, kalau ketahuan kabur ke Singapur(a). Maka muncul di sisi lain tanda tanya besar dalam benak kita: Apakah sebab ini semua dan adakah obatnya?

Tiga Teori

Secara umum, penjelasan para ahli mengenai korupsi dapat dikelompokkan menjadi tiga.

Pertama, teori kesempitan yang mengatakan bahwa orang korupsi karena gajinya kecil, pendapatannya rendah, hidupnya susah, kebutuhan banyak. Maka solusinya, menurut teori ini, kesejahteraan perlu ditingkatkan dan gaji dinaikkan. Namun masalahnya, jika teori kesempitan ini benar, mengapa banyak pelaku korupsi itu ternyata orang-orang yang kehidupannya makmur? Maka disodorkanlah dua tipe korupsi: yaitu korupsi karena kesempitan hidup (corruption out of need) dan korupsi karena rakus (corruption out of greed). Seperti hasil penelitian Vito Tanzi (1998, hlm. 572), kenaikan gaji dan kecukupan tidak menjamin orang berhenti atau enggan korupsi.

Teori kedua boleh kita namakan teori kesempatan. Menurut teori ini, orang korupsi karena adanya kesempatan, kendati awalnya mungkin tidak punya keinginan atau rencana sama sekali. Namun teori ini pun bermasalah juga. Apakah semua orang yang punya kesempatan pasti korupsi? Bukankah pada kenyataannya tidak sedikit orang berkesempatan korupsi tetapi tidak melakukannya? Teori yang berpijak pada asumsi keliru ini menganggap manusia itu cenderung berbuat jahat. Maka dari itu semua pintu korupsi hendaklah dikunci rapat-rapat. Jangan sekali-sekali memberi ruang atau peluang walau sedikit atau sekecil apapun.

Namun lagi-lagi masalahnya seperti kata Iwan Fals (1986), “Otak tikus memang bukan otak udang.” Otak koruptor tidak sama dengan otak komputer. Jika sudah niat korupsi, ada atau tidak ada kesempatan itu bukanlah persoalan. Kesempatan bisa dicari, bahkan diciptakan. Dimana ada kemauan, disitu ada jalan.

Adapun yang ketiga adalah teori kelemahan. Pendukung teori ini percaya bahwa tindak korupsi merebak akibat lemahnya tata kelola pemerintahan (poor governance), lemahnya sarana penegakan hukum (weak legal infrastructure), dan lemahnya mekanisme pengawasan (weak monitoring system). Namun, teori ini pada gilirannya terjebak dalam logika ‘muter-muter’ alias circular reasoning. Bahwasanya korupsi disebabkan oleh pemerintahan yang lemah, dan pemerintahan yang lemah disebabkan oleh korupsi. Pemerintahan mesti kuat agar korupsi lenyap, dan korupsi baru lenyap bila pemerintahan kuat. Jadilah pertanyaannya sekarang bagaimana memutus lingkaran setan ini.

Perspektif Agama

Karena korupsi adalah tindakan curang untuk mendapatkan uang ataupun keuntungan dengan cara menyalahi, melangkahi, dan mengakali aturan hukum dan undang-undang negara, maka termasuk tindak korupsi itu memberi dan menerima suap (bribery), mencuri (theft) atau menggelapkan (embezzlement), melakukan pemalsuan (fraud), pemerasan (extortion), dan menyalahgunakan wewenang atau jabatan (graft). Semua praktek ini hukumnya jelas haram. Agama melarang keras perbuatan korupsi segala bentuk: ghisysy (menipu), mencuri (sariqah), menggelapkan (ghulul), menyuap (rasywah), dan menerima atau meminta suap (irtisya’).

Siapa bertindak curang [yakni korupsi] niscaya datang dengan kecurangannya itu pada hari kiamat kelak”, firman Allah dalam al-Qur’an (3:161).

Menurut Imam ar-Razi, curang di sini maksudnya mengambil hak [milik negara] secara diam-diam atau sembunyi-sembunyi (at-Tafsir al-Kabir, cetakan Beirut 2005, jilid 3, juz. 9, hlm. 62).

Kanjeng Nabi Muhammad pun telah bersabda: “Wahai manusia, siapapun yang menjalankan tugas untuk kami, lalu dia menyembunyikan dari kami barang sekecil jarum atau lebih, maka apa yang disembunyikannya itu adalah kecurangan [yakni korupsi] yang kelak dibawanya pada hari kiamat”, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Imam Ahmad.

Bahkan dalam hadits lain, “Seutas tali sekalipun akan menjadi api neraka atau dua utas talipun akan menjadi api neraka [seandainya tidak dikembalikan].” (HR: Imām al-Bukhārī).

Kalau secara normatif agama begitu gamblang hukumnya, lantas mengapa faktanya kejahatan korupsi begitu sukar untuk dihentikan? Apabila kita cermati secara mendalam, niscaya jelas bahwa korupsi itu nyaris tidak ada hubungannya dengan status agama pelakunya.

Tindakan korupsi lebih erat kaitannya dengan soal mentalitas daripada identitas agama. Sebagaimana halnya kebersihan, kedisiplinan dan kerja-keras lebih banyak ditentukan oleh sikap dan watak individu ketimbang afiliasi ideologinya.

Nabi mengatakan, “Manusia itu ibarat logam. Kalau aslinya emas, maka apapun bentuknya –cincin, kalung, ataupun gelang– tetap emas.” Jika seseorang itu dasarnya baik, rajin dan jujur, maka dia akan menjadi Muslim, Kristen, Yahudi, Hindu, Buddha yang baik, rajin dan jujur. Sebaliknya jika wataknya buruk, licik, dan pemalas, maka apapun agamanya akan tetap jahat dan buruk perangainya.

Memang betul, manusia bukanlah logam. Manusia lahir asalnya bersih, kullu mawlūdin yūladu ‘alal fitrah, kata Kanjeng Nabi. Tidak ada bayi baru lahir langsung jadi koruptor. Kejahatan dan sifat-sifat tercela seperti halnya akhlak terpuji diperoleh dari lingkungan sosial dan intelektualnya. Jadi tak salah kalau disimpulkan bahwa korupsi itu hasil pembelajaran, pergaulan, dan pendidikan.

Di sinilah langkah kongkrit pemerintah (Kemendiknas) bersama KPK memperkenalkan mata pelajaran dan mata kuliah anti-korupsi di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi patut dipuji dan didukung sepenuh hati.

Betapa besar pengaruh pendidikan terhadap korupsi telah lama disinyalir oleh Ibn Khaldun, pakar sosiologi dan sejarawan Muslim klasik. Masyarakat yang sekian lama mengalami penindasan dan kekerasan biasanya akan menjadi bangsa yang korup. Kezaliman dan penindasan menyempitkan jiwa, menguras semangat, dan akhirnya membuat mereka jadi bangsa pemalas, pembohong dan licik. Meski berlawanan dengan hati nurani, hal itu dilakukan jua demi menghindari penindasan yang lebih berat dari penguasa. Lama-kelamaan, berbuat jahat dan menipu melekat jadi kebiasaan dan karakter mereka (Students, slaves, and servants who are brought up with injustice and tyranny are overcome by it. It makes them feel oppressed and causes them to lose their energy. It makes them lazy and induces them to lie and behave viciously. They contradict their conscience for fear of suffering further oppression. Thus they learn deceit and trickery). Demikian tulisnya dalam kitab ‘al-Muqaddimah’ yang diterjemahkan oleh Franz Rosenthal (1967).

Namun, disamping langkah-langkah legal, politis dan edukatif, pencegahan korupsi juga perlu menggunakan pendekatan spiritual agama. Kalau Anda puasa, jangankan yang haram, sedang yang halal pun tidak Anda makan. Sementara yang tidak puasa punya pilihan memakan yang halal saja, yang syubhat (belum tentu halal dan boleh jadi haram), atau bahkan yang haram.

Pada akhirnya semua ini kembali pada sikap. Menurut Imam al-Ghazālī, paling utama sikap orang sholeh dan wara’ yang menjauhi semua kategori karena zuhud. Yang pertengahan itu sikap orang bertaqwa yang menghindari syubhat dan menolak yang haram. Yang paling rendah adalah sikap tidak peduli halal haram dan sebagainya. Inilah resep Imam al-Ghazali untuk pendidikan anti-korupsi.*

Peneliti INSISTS dan Dosen ISID Gontor